
Chandresh makan bersama dengan Lintang saling berhadapan seperti biasanya. Tubuh Chandresh ada di hadapannya Lintang, namun, Chandresh benak Chandresh melanglang buana.
Lintang yang selalu ceriwis di meja makan karena, menceritakan hari-harinya di kampus dan saat Lintang bertanya, "Apa dulu, Mas juga seperti itu? Suka ngerjain dosen?"
Chandresh diam seribu bahasa dengan pandangan lurus tertuju pada wajah cantik istrinya.
Lintang menautkan alisnya saat ia melihat suaminya melihat dirinya, namun tidak segera menjawab pertanyannya. Lintang kemudian memanggil Chandresh, "Mas, kenapa melamun?"
Chandresh masih membisu dan membeku.
"Mas!" Lintang meninggikan sedikit nada bicaranya dan Chandresh langsung mengangkat kedua bahunya ke atas karena kaget dan sontak berkata, "Enak banget, Sayang. Masakan kamu enak banget. Mas, sangat suka"
Chandresh tersenyum ke Lintang yang tengah tersenyum di depannya.
Lintang terpaksa tersenyum dan tidak mengulangi lagi cerita dan pertanyannya karena, dia kecewa. Chandresh mulai terasa palsu dan penuh dengan kebohongan.
Chandresh lalu menundukkan kepalanya untuk menatap piringnya dan bergumam di dalam hatinya, untunglah responsku cepat dan tepat.
Dan Lintang terus menatap suaminya dengan tanya di dalam hatinya, ada apa sebenarnya, Mas? Apa yang kau sembunyikan dariku?
Chandresh yang merasa berdosa dan bersalah kepada Lintang, memutuskan untuk tidur terlebih dahulu di saat Lintang masih mempersiapkan barang-barang untuk acara Social gathering di kampusnya Lintang, besok.
Lintang yang masih berharap bisa bermesraan dengan suaminya, kembali menghela napas kecewa saat ia melihat suaminya telah tertidur lelap dengan posisi memunggungi dirinya. Lintang naik ke tempat tidur, menarik selimut untuk menyelimuti suaminya dan mencium pelipisnya Chandresh dengan berbisik lirih, "Selamat tidur, Mas"
Lintang merebahkan tubuh lelahnya dengan posisi miring menatap punggung suaminya. Dia merasakan ada sebuah tembok di antara dia dan suaminya. Suaminya tidak seperti biasanya. Lintang lalu mengusap punggung suaminya sambil berkata, "I'm missing you, Mas. Kamu tidak seperti biasanya. Ada apa sebenarnya?"
Keesokan harinya, Lintang berjalan ke kamar ganti baju untuk mengambil handuk di saat ia mendengar Chandresh berteriak, "Sayang! Tolong ambilkan handuk! Aku lupa bawa handuk!"
Lintang masuk ke dalam kamar mandi dan menaruh handuk di gantungan baju yang ada di sebelah kiri shower. Saat Lintang berbalik badan, Lintang melihat lehernya Chandresh. Lintang refleks menghentikan langkahnya dan mengelus lehernya Chandresh dengan tanya, "Leher kamu kenapa, Mas? Kenapa merah kebiruan begini?"
Chandresh yang tengah mengusap wajah gantengnya dengan sabun wajah, langsung menutup lehernya dengan berucap, "Ah, a.....anu, i....ini digigit ubur-ubur pas aku berenang kemarin"
"Aku akan ambilkan salep kalau gitu. Habis mandi, aku akan oleskan salep ke leher kamu dulu" Lintang berucap sembari terus mengusap lehernya Chandresh dan Chandresh sontak menganggukkan kepalanya dengan rasa bersalah.
Setelah Lintang keluar dari dalam kamar mandi, Chandresh segera membasuh wajahnya dengan air yang mengucur deras dari shower dan langsung melihat lehernya di depan cermin besar yang ada di sebelah kiri shower dan langsung mengumpat kesal sambil mengusap lehernya, "Sial! Dasar wanita gila! Kenapa dia gigit leherku sampai berbekas seperti ini padahal ia tahu kalau aku sudah menikah, sial! sial!"
Chandresh keluar dari kamar mandi dengan langkah pelan dan wajah menunduk sepeti seorang anak kecil yang tengah melakukan suatu kesalahan.
Lintang yang tengah duduk di tepi ranjang menepuk ranjang sambil berkata, "Duduklah di sini, Mas! Aku akan oleskan salep di leher kamu"
Chandresh duduk di sebelahnya Lintang dan langsung menundukkan wajahnya. Dia semakin merasa bersalah dan hampir tercekik mati karena perasaan bersalahnya saat Lintang dengan polosnya berucap, "Kenapa ubur-uburnya jahat banget, sih. Dia menggigit Mas sampai kayak gini"
Lintang bertanya di dalam pelukannya Chandresh, "Kenapa Mas minta maaf?"
Chandresh langsung melepaskan pelukannya, lalu bangkit berdiri sambil berucap dengan wajah dan tingkah gugup, "Ka.....karena Mas nggak hati-hati dan digigit ubur-ubur sampai kayak gini" Chandresh menyentuh lehernya dan tersenyum canggung ke Lintang.
"Untungnya nggak parah, Mas. Tapi, Mas harus minum antibiotik dan obat pereda demam. Ubur-ubur itu beracun, Mas. Untung ya Mas nggak demam semalam" Lintang menyodorkan dua pil ke Chandresh dan tanpa berpikir panjang Chandresh langsung menerima dua pil tersebut dan langsung menelannya sekaligus.
Lintang menautkan alisnya, "Kenapa ditelan sekaligus tanpa minum? Nggak pahit?"
Chandresh menggelengkan kepalanya dan langsung merangkul bahunya Lintang sambil berkata, "Kita berangkat sekarang aja daripada telat. Kalau telat, kita nggak bisa memilih tempat duduk*
Lintang yang cerdas dan memiliki pengetahuan yang luas, sebenarnya tahu kalau tanda merah kebiruan di lehernya Chandresh bukan bekas gigitan ubur-ubur. Namun, Lintang memilih diam dan membiarkan suaminya berkata sekenanya sampai pada saatnya nanti, Lintang akan berbicara saat ia sudah memiliki bukti.
Semoga kecurigaanku kalau Mas Chandresh selingkuh, itu tidak benar. Mas Chandresh tidak mungkin selingkuh karena ia tidak ingin menjadi seperti papanya. Batin Lintang di dalam mobil.
Chandresh meradang penuh kecemburuan di saat ia melihat banyak mahasiswa dan bahkan ada beberapa dosen yang mengagumi kecantikan dan kecerdasan istri kecilnya.
Di saat itu pula, Chandresh sadar bahwa dia sangat mencintai Lintang dan tidak ingin Lintang direbut oleh siapapun.
Aku akan segera memberikan sofa malas hasil karyaku ke Soraya dan setelah itu, aku tidak akan menemui Soraya lagi. Aku akan menjauhinya untuk selamanya, karena aku sangat mencintai Lintang. Aku nggak ingin kehilangan Lintang dan apa yang sudah terjadi padaku dengan Soraya, itu hanyalah suatu kesalahan konyol yang aku perbuat. Batin Chandresh.
Chandresh mengantarkan Lintang pulang ke rumah setelah acara Social Gathering di kampusnya Lintang telah usai. Chandresh mencium keningnya Lintang dan berkata, "Maaf, Mas harus ke bengkel. Ada pesanan sofa malas dan harus segera Mas eksekusi. Jadi, kamu masuk sendiri ke rumah, ya?!" Chandresh tersenyum ke Lintang.
Lintang tersenyum dan berkata, "Iya. Hati-hati di jalan, ya, Mas"
Setelah melihat Lintang masuk ke dalam rumah, Chandresh memutar balik mobilnya dan segera menuju ke bengkel. Sesampainya di bengkel, Chandresh memberikan hasil desainnya ke tukang dan berkata ,"Cepat bikin desain ini dan sebelum sore ini harus sudah selesai! Lalu kirim ke alamat ini!"
"Baik, Pak Chandresh" Sahut tukang itu.
Setelah mengawasi pekerjaan tukang dan dipandangnya udah lancar, maka Chandresh pamit pulang.
Di mobil, dia mencari ponselnya dan dia ingat kalau ponselnya ia titipkan ke Lintang dan ia lupa memintanya tadi. Chandresh yang tidak pernah mengharapkan telepon dari Soraya, karena dia memang sama sekali tidak ada perasaan apapun pada Soraya selain rasa ingin membalas budi.
Lintang keluar dari dalam kamar mandi dan mendengar nada dering yang sangat kencang dari dalam tasnya. Lintang hapal betul kalau yang berdering adalah nada dering ponselnya Chandresh.
Lintang membeliak kaget saat ia mengangkat panggilan telepon dari nomer asing yang belum tersimpan di ponselnya Chandresh. Di saat Lintang belum mengucapkan kata halo, suara wanita pemilik nomer asing itu berkata dengan suara seksi menggoda, "Chandresh Kusuma, kenapa kau tidak meneleponku sama sekali? Cepat pulang, Chan! Aku sangat merindukanmu. Aku rindu belaianmu"
Klik! Tanpa mampu berkata apapun, Lintang langsung mematikan sambungan ponsel itu dan segera menonaktifkan ponselnya Chandresh. Lintang terduduk di tepi ranjang sembari terus menggenggam erat ponsel suami tercintanya.