Missing You

Missing You
Malu



Dokter Andi Rajendra laku menundukkan wajahnya dan berkata sembari memotong daging steak di atas piringnya, "Kenapa ada ya, di dunia ini, orang yang terus gagal dan tidak pernah belajar dari kegagalannya itu?"


Dave Buana mengambilkan minum untuk Dokter Andi Rajendra dan berkata, "Banyak, Om. Orang seperti itu sangat banyak"


Chandresh langsung tersedak minuman kopi yang ia sesap, karena ia merasa tersindir dengan ucapan mertua dan saingannya.


Lintang langsung mengelus punggung suaminya dan berkata,"Ati-ati kalau minum, Mas"


Dokter Andi Rajendra kembali berkata, "Dan ada ya, orang yang bisa puas dengan hasil sedikit. Orang itu tidak akan pernah maju kalau dia hanya puas dengan hasil yang sedikit. Bukan begitu, Dave?"


Dave Buana tersenyum tipis dan sambil melirik Chandresh dia menyahut, "Bener banget, Om"


Chandresh menghela napas panjang, Lintang langsung menoleh ke suaminya, "Kenapa Mas? Mas nggak suka steak?"


Chandresh menoleh ke Lintang dengan senyum penuh cinta dan ia menggelengkan kepala sambil berucap, "Aku suka makan apapun asal ada kau di sampingku" Chandresh lalu meremas pelan tangan istri cintanya dengan penuh cinta dan Lintang merona malu di depan Chandresh.


Chandresh terus menahan diri dengan sindiran-sindiran yang dilemparkan oleh papa mertua dan Dave Buana. Dia menahan diri karena begitu besarnya rasa cinta dia kepada Lintang. Chandresh berdiam diri karena ia tidak ingin Lintang berada di tengah situasi yang tidak mengenakkan jika Lintang tahu kalau papanya tidak menyukai Chandresh dan papanya tidak pernah memercayai Chandresh.


Keesokan harinya, Chandresh dan Erick, menemani klien mereka bermain golf. Klien mereka adalah seorang wanita muda yang ingin merenovasi apartemennya. Dia ingin berdiskusi tentang furniture yang bagus dan design interior yang tepat bersama dengan Chandresh dengan bermain golf.


Wanita muda itu beberapa kali mencoba menggoda Chandresh dengan bertanya, "Bagaimana posisi kaki yang benar dalam bermain golf? Apa kamu bisa membetulkan letak pinggang dan kakiku?" Namun, Chandresh tidak bersedia menyentuh kaki ataupun pinggang seksi wanita muda itu. Chandresh justru berkata, "Anda mengajak saya bermain golf, jadi secara nalar, Anda pastinya sudah bisa bermain golf dan tahu posisi pinggang dan kaki yang benar dalam bermain golf, kan?"


Wanita muda itu tertawa lepas dan berkata, "Apa kau sudah punya pacar?"


"Saya sudah menikah" Sahut Chandesh dengan cepat."Saya menikah dengan wanita yang sangat hebat dan saya sangat mencintai Istri saya"


Wanita muda itu memukul bola golfnya dan berkata, "Aku menyukaimu. Aku menyukai kejujuran kamu dan aku menyukai kesetiaan kamu pada Istri kamu. Dia wanita yang beruntung memiliki suami yang setia dan sangat mencintainya"


Chandresh tersenyum dan berucap, "Saya yang beruntung memiliki Lintang, emm, Lintang adalah nama Istri saya"


Wanita muda itu tersenyum lebar dan berkata, "Oke, deal! Besok aku percayakan apartemen mewahku padamu" Lalu wanita muda itu melangkah pergi meninggalkan Chandresh dan Erick begitu saja.


Asisten pribadi dari wanita muda itu, memasukkan. semua perayaan golf tuannya ke dalam tas khusus, lalu berkata ke Chandresh dan Erick, "Bos saya sudah membayar semuanya, jadi lanjutkan saja permainan kalian sesuka hati kalian! Tapi besok, jangan lupa mengerjakan apartemen Bos saya"


Chandresh dan Erick mengucapkan terima kasih lalu mereka saling pandang kemudian tertawa lepas bersama sambil mendaratkan tos.


Erick dan Chandresh lalu melanjutkan permainan golf mereka. Erick bertanya ke Chandresh, "Apa kau menggoda wanita tadi pas aku pergi ke toilet?"


"Enak aja! Tentu saja nggak! Aku nggak pandai merayu dan menggoda wanita, Bro!" Sahut Chandresh sambil memukul bola golfnya.


"Tapi, terkadang kamu harus merayu dan menggoda klien jika harus, Bro!" Sahut Erick.


"Kau gila, ya?! Aku udah menikah" Sahut Chandresh dengan mendelik.


Erick langsung memekik kaget, "Astaga Bro! Aku salut sama kamu! Kamu belum pernah selingkuh sejak kamu menikah dengan Lintang?"


Chandresh mengulas senyum lebar, menganggukkan kepalanya dan berucap dengan nada bangga, "Aku punya Istri hebat untuk apa aku cari lagi dan untuk apa aku selingkuh"


"Sial! Perkataan kamu mengingatkan aku akan Istriku yang selingkuh dan meninggalkan aku" Erick mendengus kesal sembari memukul bola golfnya.


"Chandresh tersenyum geli dan berkata, "Maka untuk ke depannya kamu harus lebih teliti memilih pasangan hidup. Kalau kamu sudah menemukan tukang rusuk kamu, maka kamu akan bahagia. Selalu bahagia dan selamanya bahagia"


"Ya, ya, ya, pamer aja terus!" Pekik Erick kesal yang disambut dengan gelak tawanya Chandresh.


"Semoga kita selalu beruntung seperti ini" Sahut Erick.


Petang pun tiba dan Dokter Andi Rajendra beserta istrinya, datang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu ke rumahnya Chandresh.


Chandresh dan Lintang menyambut kedatangan Dokter Andi Rajendra dan mama tirinya Lintang dengan tangan terbuka walaupun mereka tampak terkejut.


"Pa, Ma kok nggak bilang dulu kala mau ke sini?" Ucap Lintang sembari menggandeng lengan mama tirinya untuk ia ajak langsung ke ruang makan.


"Papa dan Mama ingin kasih kejutan dan kebetulan lewat tadi jadi mampirlah kita ke sini" Sahut Dokter Andi Rajendra.


"Mama yang minta mampir lho tadi" Sahut mama tirinya Lintang.


Dokter Andi Rajendra tergelak geli dan berucap ke istri tercintanya, "Iya, Papa ngaku kalah deh"


"Semoga Papa dan Mama cocok dengan masakannya Chandresh. Chandresh yang masak hari ini, Pa, ma. Diajari Lintang, sih"


Sahut Chandresh.


Mama tirinya Lintang menoleh ke Chandresh dan berkata, "Pasti enak"


"Pasti enak dong. Siapa dulu gurunya" Sahut Lintang.


Lintang, Chandresh, dan mama tirinya Lintang tertawa bersama, namun Dokter Andi Rajendra diam saja. Dia mengabaikan Chandresh sedari awal dia datang dan hanya Chandresh yang bisa merasakannya.


Di tengah makan malam penuh obrolan ringan, Chandresh yang kembali dari kamarnya, menyerahkan map ke papa mertuanya.


Dokter Andi Rajendra menerima map tersebut dengan bertanya, "Apa ini?"


"Papa silakan membukanya dan silakan membacanya" Sahut Chandresh.


Dokter Andi Rajendra membuka map itu dan membacanya.


Chandresh menunggu dengan sorot mata girang. Dia menunggu mendapatkan kembali ucapan selamat dan sorot mata bangga dari papa mertuanya yang tidak pernah lagi ia dapatkan, dengan penuh harapan.


Papanya Lintang, Dokter Andi Rajendra mengangkat wajahnya dari berkas di depannya yang berada di dalam map berwarna merah bata, dan terus menatap Chandresh dalam diam.


"Pa? Kok diam?" Tanya Lintang.


Chandresh menatap papa mertuanya dengan senyum lebar dan sorot mata girang, lalu bertanya, "Bagaimana menurut Papa?"


Papanya Lintang menutup map dan meletakannya di atas meja makan, lalu berkata, "Nominal segini aja kamu udah bangga? Dan kamu mengharapkan Papa mengatakan apa ke kamu?"


Chandresh dan Lintang sontak tertegun di depan Dokter Andi Rajendra.


"Kamu selalu saja gagal dalam berbisnis. Kamu udah menimbulkan banyak kerugian baik waktu maupun materi, dan banyak memakan biaya selama kamu mengikuti pelatihan. Harga segini, kau pikir apa, hah?!" Dokter Andi Rajendra melotot ke Chandresh.


Lintang langsung mengelus lengan suaminya dan menatap papanya dengan sorot mata kecewa sedangkan istrinya Dokter Andi Rajendra langsung menoleh ke suaminya, "Udah Pa, makan dulu. Jangan terlalu keras sama anak-anak kita, Pa!"


Chandresh langsung menundukkan wajahnya dengan rasa kecewa dan malu yang sangat besar.