Missing You

Missing You
Masakan



Lintang keluar dari dalam kamar mandi dan mendapati Chandresh merokok di balkon. Lintang menghela napas panjang dan segera membuka pintu balkon untuk memeluk Chandresh dari arah belakang dan saat ia mencium lehernya Chandresh, ia bertanya di sana, "Kenapa merokok lagi? Ada yang mengganggu pikiran kamu, Mas?"


Chandresh terkejut dan sontak mematikan rokoknya di atas asbak dan menaruh puntungnya di sana. Kemudian, pria ganteng bertubuh atletis itu memutar badan, memeluk pinggang ramping istri kecilnya yang sangat cantik untuk menggelengkan kepala dengan berkata, "Aku hanya ingin merokok saja, kok. Nggak memikirkan apapun. Aku bahagia ada kamu di sini dan kalau kamu tanya adakah yang mengganggu pikiranku? Aku jawab ada dan itu kamu" Chandresh menyentil pelan pucuk hidungnya Lintang.


"Kok aku? Aku salah apa kok sampai bisa menggangu pikiran kamu, Mas?" Lintang menautkan alisnya di depan Chandresh.


Chandresh tersenyum penuh cinta, lalu berkata, "Salah kamu adalah, kamu itu terlalu imut, terlalu cantik, terlalu baik, dan terlalu menggoda. Semua yang ada di kamu, terus mengganggu pikiranku untuk melakukan ini" Chandresh lalu mencium lehernya Lintang, "Dan ini" Chandresh lalu mencium keningnya Lintang, "Ini dan ini" Chandresh mencium kedua pipinya Lintang dan saat ia mempererat pelukannya, ia berkata, "Dan ini" ia mencium bibirnya Lintang.


Suami Istri itu kemudian berciuman dengan penuh gairah dan mereka kemudian bercinta di atas kursi yang ada di balkon dengan posisi Lintang berada di atas pangkuannya Chandresh.


Setelah menyelesaikan satu ronde penyatuan raga mereka, Lintang bangkit berdiri dari pangkuannya Chandresh untuk memakai kembali pakaian dalamnya dengan berkata, "Mas! Kok nekat banget sih?! Kalau tadi ada yang lihat gimana?"


Chandresh menarik Lintang ke pangkuannya kembali dan berkata sambil mengelus pipinya Lintang, "Ini di lantai enam, Sayang. Nggak bakalan ada yang lihat. Oh, iya, nanti jam tujuh malam, kita diundang Pak Rama ke pesta barbekyu"


Lintang tekekeh malu-malu sambil menepuk pelan dada bidangnya Chandresh, lalu ia memainkan jari jemarinya di sana sambil berkata, "Mas, temani aku menemui Pak Rama bisa?"


Chandresh langsung panik dan sontak bertanya dengan nada tinggi dan wajah tegang, "Untuk apa?" Karena, Chandresh mengira kalau Lintang tahu soal dia dan Soraya dan dia berpikir kalau Lintang akan melaporkannya ke Rama.


Lintang menautkan kedua alisnya di depa. Chandresh dengan wajah heran, "Kenapa Mas langsung panik kayak gitu? Aku cuma mau minta ijin ke Pak Rama, apa boleh aku memasak di acara pesta barbekyu jam tujuh nanti. Karena, aku merasa nggak enak kalau cuma datang dan nggak ngapa-ngapain. Masakanku nanti juga sebagai wujud rasa terima kasihku untuk Pak Rama, karena beliau sudah berbaik hati memilih desainnya Mas ur um proyek besarnya"


Chandresh langsung mengurai ketegangan di wajah gantengnya dan menghela napas lega. Kemudian ia berkata sembari mengajak Lintang bangkit berdiri, "Sekarang aja, yuk!"


"Hmm" Sahut Lintang dengan wajah ceria.


Pak Rama menyambut niat baiknya Lintang dengan tawa.renyah dan wajah ramah dan Pak Rama kemudian berkata, "Istri Anda bukan hanya sangat cantik secara fisik Pak Chan, tapi wanita di samping Anda ini juga cantik hatinya. Anda harus selalu bersyukur memilikinya dan harus selalu baik padanya. Jangan pernah berselingkuh"


Chandresh tersenyum canggung di saat kata jangan berselingkuh yang terlontar dari mulutnya Pak Rama kembali menyulut rasa bersalahnya karena, diam-diam dia telah berselingkuh dengan putri tunggalnya Pak Rama. Walaupun perselingkuhan. itu hanya singkat dan sudah ia akhiri, namun rasa bersalah masih saja terus membayangi langkah, hati dan pikirannya.


Lintang tersenyum manis dan berkata, "Bapak terlalu menyanjung saya. Putri Bapak juga sangat cantik dan hebat"


Rama tertawa renyah lalu bertanya, "Kamu pernah bertemu dengan Soraya?"


"Iya. kemarin di restoran pas kita bertemu dengan Pak Rama. Pak Rama akan makan siang dengan Putri Bapak, kan, kemarin siang dan........"


"Maaf. Kami harus segera berganti baju dan bersiap-siap. Anda juga perlu bersiap-siap, kan, Pak Rama? Ayo Sayang, pamit sama Pak Rama!" Chandresh langsung memotong kalimatnya Lintang dan langsung mengajak Lintang pamit dan keluar dari dalam ruangannya Rama.


Rama menatap pintu ruang kerjanya yang telah ditutup oleh Chandresh dan menautkan alisnya, "Kapan Soraya makan siang denganku? Soraya, kan, nggak pernah makan siang di luar? Anakku itu selalu makan siang di rumahnya kalau nggak di dalam resort. Kenapa Istrinya Chandresh dan Chandresh bisa bertemu dengan Soraya di restoran kemarin siang? Apa Soraya sudah punya pacar?"


"Kenapa kamu memotong kalimatku, Mas?" Lintang bertanya ke Chandresh saat mereka melangkah masuk ke dalam kamar.


Lintang menatap tingkah lakunya Chandresh dengan wajah yang penuh tanda tanya dan penuh kecurigaan.


Chandresh menghela napas lega dan saat ia bersandar di pintu kamar mandi, dia mengelus dadanya dan bergumam lirih, "Untung aku cepat memotong ucapannya Lintang tadi. Kalau nggak, Pak Rama bisa curiga"


Lintang tampak sangat cantik dan seksi dengan balutan baju pantai jumpsuit. Rambut Lintang yang dikepang asal-asalan menambah kesan seksi pada diri Lintang sehingga membuat Chandresh suaminya Lintang, berbisik di telinganya Lintang, "Aku belum pernah melihatmu memakai baju pantai"


Lintang menoleh ke Chandresh dengan wajah panik dan langsung menyemburkan tanya, "Apa jelek? Apa nggak pantas aku pakai baju pantai ini?"


Chandresh mempererat pelukannya di pinggang rampingnya Lintang, mencium pipinya Lintang, lalu berbisik di telinganya Lintang setelah ia mengecup telinga itu, "Kamu sangat pantas pakai baju pantai. Kamu tampak lain. Sangat menggoda dan dengan melihatmu begini saja, ular kobraku terus menggeliat nggak nyaman, nih" Chandresh lalu mencium lehernya Lintang dan saat ia menarik wajahnya dari lehernya Lintang, dia mendapati senyum manis istrnya yang menatapnya dengan penuh cinta.


Chandresh tidak tahan untuk tidak mencium bibirnya Lintang dan tanpa malu-malu lagi, Chandresh mengajak Lintang berciuman di depan orang banyak.


Dan saat Chandresh akhirnya menarik bibirnya dari bibirnya Lintang, ia mendengar gemuruh tepuk tangan dan decak kagum dari semua tamu undangannya Rama, semua memuji kemesraan yang ditunjukan oleh Chandresh kepada Lintang, kecuali Soraya.


Soraya mengepalkan kedua tangannya di atas meja dan Laura langsung menggenggam tangannya Soraya, lalu memajukan wajahnya sampai ke tengah meja untuk berkata dengan setengah berbisik, "Tenang! Kamu nggak ada hak untuk marah. Kamu juga, kan, yang bilang ke Chandresh kalau kamu hanya ingin bersenang-senang dan kalau Chandresh ingin mengakhirinya, ya, sudah berakhir dan kamu juga sudah menyetujuinya, kan?"


Soraya menarik tangannya dari dalam genggaman tangan Soraya dengan kasar dan tanpa berkata-kata, ia mendengus kesal, bersandar di kursi, lalu bersedekap dengan wajah merah padam dan napas menderu menahan amarah.


Lintang dikerubuti banyak orang saat istri mungilnya Chandresh itu, memasak cumi goreng cola. Lintang yang sebelumnya sudah meminta ijin kepada sang pemilik resort untuk memasak, memutuskan untuk memasak cumi goreng cola resep kreasinya sendiri yang belum pernah dicoba oleh Chandresh dan oleh siapa pun juga.


Soraya diajak Papanya untuk bangkit berdiri dan ikutan melihat kehebatannya Lintang di dalam hal memasak.


Soraya tanpa sadar berkata lantang karena terbakar cemburu melihat kebersamaannya Lintang dan Chandresh, "Kenapa harus repot-repot memasak kayak gitu kalau bisa beli. Sungguh merepotkan!"


Semua orang sontak mengalihkan pandangan mereka ke Soraya dengan wajah tidak suka.


Chandresh pun menatap Soraya dengan pandangan tidak suka.


Lintang menghentikan sejenak kegiatannya memasak untuk menatap Soraya dan sambil tersenyum ia berkata dengan nada santai, "Semua wanita harus bisa memasak kalau menurut saya, sih. Karena, cinta itu datangnya dari perut bukan dari mata. Dan saya belajar memasak karena saya berpikiran, jangan sampai suami saya ini jajan di luar rumah. Jajan di luar rumah itu, selain nggak bersih juga nggak sehat"


Semua wanita yang hadir di pesta barbeque tersebut sontak menggemuruhkan tepuk tangan mereka dan meneriakkan kata, "Setuju!" Dengan kompak.


Chandresh yang berdiri di sebelahnya Lintang langsung mencium pipinya Lintang dan meneriakkan kata ke semua tamu undangannya Rama, "Iya benar! Saya jatuh cinta kepada Istri saya ini dan semakin jatuh cinta di setiap harinya, karena kelezatan masakannya"


Salah seorang tamu undangan berteriak, yakni seorang wanita berumur empat puluh tahunan, "Ah, bohong! Pasti Pak Chandresh jatuh cinta pertama kali pada wajah cantiknya Istri Bapak, ya, kan? Secara Istri Bapak itu sangat imut dan sangat cantik!"


"Hahahahahaha, itu untuk pertama kalinya, saya akui, iya. Tapi, masakannya membuat saya tidak bisa berpaling sama sekali darinya. Saya sangat mencintai Istri saya ini. Istri saya ini hebat di dalam segala hal" Chandresh kembali mencium pipinya Lintang dengan penuh rasa bangga dan cinta. Soraya langsung mengepalkan kedua tangannya dengan napas menderu penuh amarah dan kecemburuan.