
Aku tidur hingga matahari terbenam. Ketika bangun, aku merasa lebih baik. Perut dan kepalaku tidak sakit lagi. Aku keluar dari kamar dan menemukan kedua orang itu masih ada di apartemenku.
Kenapa mereka masih disini? "Kemarilah Jin Ae, kami memanggang beberapa daging sapi untuk makan malam" kata Ayah sambil membalik daging sapi. Aku duduk tepat di sebelah Ayah.
"Apa tidak sebaiknya kau pergi ke dokter?" Pak Chang terlihat mengkhawatirkanku. Aku melihatnya sekilas dan malas untuk menjawab.
Ibu mengelus rambutku dengan lembut. Aku menyandarkan kepalaku di pundak ayahku. "Kira-kira bulan Desember tahun lalu, Jin Ae harus dirawat di rumah sakit karena anoreksia." aku menoleh pada ibu dan mengharap dia menghentikan ceritanya.
Desember adalah saat Pak Chang menikah. Ayah menambahkan dengan santai "Dia lemah dan kurus sekali waktu itu. Dia juga bekerja paruh waktu di dua tempat. Saat kami ke rumah sakit yang terbaring di sana bukanlah anakku" Ayah menghela nafas berat.
Matilah aku. Ayah dan ibuku sangat senang bercerita. Mereka akan membuka semua rahasiaku. Aku duduk tegak dan mencoba untuk makan. Pak Chang terus melihatku.
"Apa yang menyebabkan kau menjadi seperti ini Jin Ae?" Nyonya Chang ikut mengkhawatirkanku. Aku tersenyum lebar "Saat itu Saya harus mengejar kuliah yang tertunda dan bekerja di dua tempat" aku berusaha tampak ceria.
"Setelah bekerja terkadang Saya malas untuk makan" Pak Chang terlihat kesal mendengar ceritaku. "Karena itu sekarang saatnya untuk menikahkannya" aku terkejut dengan perkataan ayah yang tiba tiba berubah dari pokok permasalahan.
Sepertinya wajahku memerah saat ayah membicarakan pernikahanku. "Apakah kau tidak tertarik dengan pria yang sepuluh tahun lebih tua?" Nyonya Chang melihatku penuh arti. Siapa yang dimaksud Nyonya Chang?
Ayah dan ibu juga melihat Nyonya Chang dengan penuh minat. "Aku juga punya anak yang kembali menjadi lajang. Kalau Jin Ae mau apa tidak sebaiknya kita menikahkan mereka?" aku tersedak mendengar perkataan Nyonya Chang.
Ayah dan Ibu melihat Pak Chang dan mencoba untuk menyeleksinya. Aku tertawa menyembunyikan ketidak nyamanan yang kurasakan. "Istri Pak Chang sebelumnya adalah artis terkenal. Seandainya Saya menjadi istri Pak Chang, maka citra aktor Pak Chang akan menurun drastis"
Ayah dan ibu yang sebelumnya mempertimbangkan Pak Chang menjadi menantunya ikut tertawa mendengar penjelasanku.
Akhirnya makan malam itu berakhir. Aku mengantar Nyonya Chang dan anaknya ke mobil tanpa ayah dan ibu. Nyonya Chang memelukku sebelum masuk ke dalam mobil. "Kau tidak boleh membuat orang tuamu khawatir." aku melepas pelukannya dan membungkuk hormat.
Beliau akan tetap menjadi orang yang kuhormati. Pak Chang melihatku. "Apa nomor ponselmu masih sama?" aku tidak ingin menjawabnya. Pak Chang merasa kesal dan masuk ke dalam mobil. Akhirnya mereka pergi juga.
Kembali ke dalam rumah, suasananya menjadi sepi. Ayah dan ibu sudah tidur karena lelah. Aku membereskan cucian piring dan menyusul ibuku tidur.
Pagi ini aku punya janji dengan klien baru toko kami. Aku memakai kemeja berenda dan rok kerja selutut. Karena mendekati bulan Desember aku memakai mantel panjang berwarna coklat dan penutup telinga.
Sebelum berangkat ibu memaksaku memakan bubur yang dibuatkan Nyonya Chang untukku. Aku naik mobil dan menyalakan pemanas. Klien yang kutemui bekerja di daerah gangnam. Karena kesibukannya dia tidak bisa datang ke toko dan mengharapkan aku menemuinya di kantornya.
Perusahaannya akan mengadakan pesta akhir tahun dan akan menggunakan bunga dari toko kami untuk menghias meja dan pintu masuk. Aku tidak tahu kalau perusahaan yang dimaksud adalah perusahaan label Pak Chang.
Aku naik lift ke lantai 8 sesuai arahan recepsionist. Ternyata pukul 10 pagi merupakan jam sibuk di perusahaan ini. Banyak yang mengantri di depan lift.
"Jin Ae" aku mendengar namaku disebut. Aku melihat sekeliling dan tidak mengenali semua orang ini. "Kau sudah melupakanku?" ada pria yang menyapaku. Aku berusaha mengingat wajahnya. "Pak Park????"
Aku tidak menyangka akan bertemu manajer Pak Chang yang sangat membenciku. "Wah , kau cantik sekali sekarang Jin Ae" Aku membungkuk memberi hormat. "Apa kabar Pak Park".
"Sudah dua tahun kita tidak bertemu dan aku kaget bisa bertemu denganmu disini" Semua orang melihat kami. Mereka berpikir kalau aku adalah trainee baru di perusahaan ini. "Saya ada janji dengan Bu Kang di lantai 8" aku menjelaskan padanya
"Kupikir kau akan menemui Min Jun di sini. Dia menceritakan pertemuan kalian di hotel malam itu" kata-kata Pak Park penuh dengan misteri. Hal itu membuat semua orang memandangku aneh. Tepat saat itu Pak Chang datang di tempat kami berdiri sambil meminum es kopi.
Apa aku harus naik tangga ke lantai 8. Aku tidak ingin berada disini saat ini. "Jin Ae, kenapa kau ada disini. Kita baru bertemu kemarin malam" Mata yang melihatku semakin bertambah.
Mereka mulai berbisik berita terbaru tentang Chang Min Jun. "Katanya Jin Ae ada janji dengan Bu Kang sekarang" Pak Park menjelaskan. Aku tersenyum dan merasa tidak nyaman.
Ketika pintu lift membuka, Pak Park menaikinya dan disusul oleh Pak Chang. Aku memilih menunggu lift lainnya. "Ayo masuk" Pak Chang menahan pintu lift untukku. Orang -orang melihatku penasaran. Terpaksa aku masuk lift dengan dua orang yang kubenci.
"Bagaimana badanmu hari ini?" aku melihatnya dan tidak berniat menjawabnya. Pak Park tersenyum melihatku. Pak Chang mengulurkan tangannya dan menempelkannya di keningku. Aku terkejut dan mundur selangkah.
"Saya baik baik saja hari ini. Terima kasih sudah menanyakan kabar Saya" Akhirnya sampai juga di lantai 8. Aku turun dan meninggalkan mereka berdua.
Aku harus fokus pada pekerjaanku. Bu Kang ternyata adalah orang yang sangat manis dan baik. Dia menyetujui semua usulanku untuk pesta akhir tahun. Tanggal 20 Desember nanti adalah hari besarnya. Dia memberi peringatan padaku agar melakukan yang terbaik.
Aku mencatat di buku agendaku dan menghubungi Ha Young. "Tanggal 20.......pukul 3 sore.........Iya.......Aku akan pergi ke pasar besok memeriksa persediaan bunga untuk tanggal itu." Aku menutup teleponku dan berencana pergi ke toko.
"Sudah selesai?" aku melihat Pak Chang berdiri di dekat lift. "Sudah" aku menjawab karena takut menarik perhatian. "Apakah kau membawa mobil?" aku mengangguk dan masuk ke dalam lift yang terbuka.
Ada orang lain di dalam lift. Tapi Pak Chang tetap mengikutiku. "Apa kau sudah makan tadi pagi?" dia seperti tidak peduli pada sekitarnya. Aku melihat wajahnya dan mengangguk pelan. "Apa bubur yang ibuku buatkan masih ada?" aku tidak tahan lagi.
Ketika pintunya membuka di lantai 5 aku keluar dari lift dan mencari tangga darurat. Dia mengikutiku keluar lift.
Sampai di tangga darurat aku berbalik menghadapnya. "Apa sebenarnya yang kau inginkan?" aku merasa kesal karena dia terus mengikutiku hari ini.