
Pada awalnya aku mencoba untuk menghubunginya. Tapi semua pesan dan telepon ku pasti diabaikan. Saat aku mencoba untuk melupakannya, ada berita yang sangat mengejutkanku.
Chang Min Jung akan mengakhiri masa lajangnya dan menikahi artis Kim So Ra. Hatiku terluka. Rasanya sakit sekali. Selama tiga hari aku menangis dan tidak masuk kuliah. Saat itu juga kuputuskan menghapus nomor ponselnya.
Berita pernikahannya membuat satu negara merayakannya. Semua media meliput dan menayangkan beritanya setiap saat. Foto dan video kebersamaan mereka juga tersebar di media.
Di hari pernikahan, mereka mengadakan pesta besar di salah satu negara tropis yang dihadiri para pengusaha dan selebritis terkenal. Sedangkan aku harus berada di rumah sakit untuk dirawat selama satu minggu.
Aku mengalami anoreksia karena stress. Ha Young dan A Ri yang menemaniku setiap hari di rumah sakit. Mereka bahkan bergantian menyuapiku agar aku tidak pernah melewatkan makan.
Aku melihat perjuangan mereka untukku dan merasa sangat bersalah. Aku tidak seharusnya menyiksa tubuhku demi orang yang bahkan tidak mengingatku lagi. Aku harus bangun dari kesedihanku dan kembali sehat.
Kesedihan yang ada dalam diriku telah berganti dengan kesenangan saat bekerja dengan temanku. Aku bekerja keras demi membahagiakan keluarga dan temanku.
Bertemu Nyonya Chang di hotel ini kuanggap sebagai kesialan. Kalau Pak Chang juga ada di sini , apa yang harus kulakukan. Apakah aku harus pura-pura baik atau aku harus menghindarinya.
Kakak melihat wajahku yang berubah menjadi pucat dan menggenggam tanganku. Dia mengetahui segalanya karena aku selalu bercerita padanya. Tidak ada orang yang bisa kupercaya selain kakakku.
Ibu kembali ke tempat duduknya dan kami melanjutkan makan malam kami. Ha Na sudah berumur 4 tahun saat ini. Dia keponakan yang sangat cantik dan pintar.
Ketika aku asyik bermain dengan Ha Na, ada suara yang sangat kukenal terdengar. Suara itu sudah lama tidak kudengar. Aku menegakkan punggungku dan terdiam. Kakak melihatku bertingkah aneh dan melihat ke belakangku.
Pak Chang tepat ada di belakangku. Dia berbicara pada ibunya dengan suara yang sama seperti dua tahun yang lalu. Hatiku yang sudah lama kulatih sekarang merasa sakit lagi. Tidak....aku tidak boleh terlihat lemah saat ini.
Aku melanjutkan makanku dan berusaha tidak mendengarkan suara di belakangku. Ketika makanan penutup datang, Ha Na merasa sangat senang dan hampir menumpahkan es krimnya di meja. Aku merasa bahwa dia sangat lucu dan tertawa. Aku tidak tahu kalau Pak Chang melihatku ketika aku tertawa.
"Apa kau tidak berniat mencari pacar Jin Ae?" tiba tiba ibu menanyakan tentang hal itu padaku. Kakak melihatku dengan sedih. "Ibu sudah mengatur beberapa perjodohan untukmu, kau hanya perlu memilih yang kau suka" aku terpaksa tersenyum.
"Kau sudah berumur 25 tahun. Kau juga sudah membuka usaha sendiri. Kami khawatir kalau kau terus berasa di Seoul sendiri. Menikahlah lalu beri kami cucu cantik seperti Ha Na" ayah menambahkan. Kulihat Ha Na tersenyum manis padaku.
Mungkin memang sudah waktunya aku melanjutkan hidupku. Aku juga mengakui beberapa kali merasa kesepian saat Ha Young dan A Ri bersama pacarnya. Aku selalu menonton bioskop dan makan sendirian.
"Baiklah. Ibu atur saja nanti aku akan datang" aku berkata pada hatiku bahwa ini sudah saatnya untuk melangkah ke depan.
Dari foto, sepertinya dia cukup tinggi. Senyum di wajah membuatnya terasa baik. Aku memperbolehkan kakakku untuk memberinya nomor ponselku. Ayah dan ibuku senang akan kemajuanku. Aku tersenyum pada Ha Na yang dibalas dengan kekehan lucu.
Sebelum pulang, aku pergi ke kamar mandi untuk membetulkan make up ku. Sepertinya masih bagus. Aku keluar kamar mandi dan berpapasan dengan Pak Chang. Aku tetap berjalan ke dalam restoran walaupun jantungku serasa berhenti berdetak.
Ayah, ibu, kakak dan Ha Na berada di luar restoran. Mereka terlihat berpamitan pada Nyonya Chang. Sebaiknya kami cepat pergi sebelum Pak Chang kembali dari kamar mandi.
"Ayo pulang Bu" aku memegang tangan ibu, ingin menariknya pergi dari sini. Aku membungkuk pada Nyonya Chang. " Saya pergi dulu Nyonya" aku berpamitan. "Tunggu Jin Ae" Ayah menahanku.
"Anak Nyonya Chang adalah artis terkenal. Ayah akan mengambil gambar dengannya sebelum pulang ke Chuncheon. Lalu Ayah akan menaruhnya di depan pintu penginapan agar penginapan kita semakin ramai" Rasanya aku hampir pingsan mendengarnya.
"Ayah, kita tidak boleh mengganggu Nyonya Chang dan putranya" kakak berusaha mengajak Ayah pergi. "Tidak apa-apa. Min Jun juga pasti ingin melihat Jin Ae karena sudah lama tidak bertemu. Kau juga kan Jin Ae." aku hanya membalasnya dengan tersenyum.
Dan itulah dia. Aktor yang ingin ayah gantung fotonya di depan penginapan. Dia memakai kemeja putih lengkap dengan jas dan mantel. Wajahnya terlihat lebih kurus dari yang kuingat. Tapi dia masih tetap tampan seperti dulu.
Aku membungkuk memberi hormat "Pak Chang" aku mengalihkan pandanganku sesegera mungkin. Ayah mulai menyapanya dan menyuruh kakak mengambil gambar. Aku menggendong Ha Na yang mulai mengantuk.
"Berikan padaku" aku bingung karena dia ada di depanku. Ternyata dia meminta Ha Na. "Tidak perlu Pak, merepotkan saja" kakak berusaha merebut Ha Na kembali. "Tidak apa-apa. Sepertinya Jin Ae tidak kuat menggendong karena terlalu kurus".
Aku menatapnya tajam. Apa yang dia bilang? Orang tuaku dan Nyonya Chang mengangguk setelah melihat tubuhku. Dengan tinggi 169 cm dan berat badan 48 kg, sepertinya tubuhku bisa dibilang ideal. Dia sangat tidak sopan dengan menilai tubuhku.
Pak Chang tetap menggendong Ha Na yang tertidur walaupun ayahku yang meminta Ha Na kembali. Akhirnya kami berjalan bersama menuju mobil di basement. Ketika naik lift Pak Chang tepat ada di sebelahku bersama Ha Na di pundaknya.
Aku menjaga pandanganku tetap kedepan. Sedangkan Pak Chang berusaha menatap mataku lewat cermin di lift. "Apa kau tidak pernah makan?" aku berusaha tidak mendengarnya berbicara. "Apakah kau mengalami depresi saat aku menikah dan berhenti makan?" dia mengatakannya dengan tersenyum.
Aku tidak tahan lagi berdekatan dengannya. Aku mengambil Ha Na dari pelukannya dan maju ke dekat pintu lift. Ketika pintu lift terbuka, aku berjalan dengan cepat ke mobil. Pak Chang tetap mengikuti bersama ibunya.
Aku masuk mobil tanpa berpamitan pada Nyonya Chang. Pak Chang membungkuk hormat pada ayah dan ibuku lalu memegang tangan ibunya untuk pergi dari sana.
Ketika ayah, ibi dan kakak masuk ke mobil. Aku melaju dengan kencang keluar dari tempat parkir. Aku tidak mau terlalu lama berada di tempat yang sama dengan orang itu.