
Aku ingin sekali berkata iya. Menyukainya adalah kesalahan yang kulakukan. Tapi semua terasa indah dan nyaman saat bersamanya. Aku memeluknya tanpa berkata apa-apa. Sepertinya dia sudah tahu jawabanku, dia menghela nafas dan mencium puncak kepalaku.
"Apa Pak Chang ingin makan sesuatu?" Sekarang sudah siang, sebaiknya aku membuatkan makanan untuknya. "Untuk hari ini saja, jangan panggil aku dengan nama itu" aku tertawa mendengar permintaannya.
"Sebaiknya kita makan siang dulu" aku melepas pelukanku. Dia melakukan hal yang sama dan memperbolehkan aku memasak. Lauk yang dibuat ibuku masih banyak di kulkas. Aku membuat telur gulung sebagai lauk pelengkap.
"Ibumu pintar memasak" pujinya pada masakan ibuku. "Jadi, masakan saya selama ini tidak enak ya?" aku merasa cemburu pada ibuku sendiri. Dia tertawa dan mengelus kepalaku dengan tangannya.
Setelah makan dia belum beranjak pergi. Aku mengajaknya tidur siang. "Tidur setelah makan membuat perutmu gendut" aku cemberut dan tidak jadi mengajaknya.
Ketika aku sudah tidur di kasur, dia menyusup ke dalam selimut dan memelukku. Dia meletakkan kepalanya di dadaku dan memelukku erat. Rambutnya sangat harum. "Bagaimana Oppa tahu aku pindah apartemen?"
Dia mengangkat wajahnya dan melihatku. "Kemarin malam di restoran, aku melihatmu" aku mengingat kejadian saat makan bersama orang tuaku. Tidak ada yang aneh dengan malam itu. Tapi itu berarti dia ada di dekat sini semalaman.
Aku merasa bersalah dan mencium bibirnya. Dia hanya tersenyum dan memelukku lebih erat. "Ah sakit" aku mengeluh. Dia melepaskan pelukannya dan melihat perutku dengan khawatir. "Aku baru operasi oppa. hati-hati"
"Apakah sakit sekali?" aku senang dengan perhatiannya. " Iya, sakit sekali. Keluar dari taksi aku tidak bisa berdiri tegak. Lalu Nyonya Chang memanggilku tapi aku tidak mendengar suaranya........." aku terus bercerita padanya tentang operasi hari itu.
Terdengar nafas yang teratur darinya. Pasti sekarang dia sudah tidur. Dia pasti kelelahan menungguku semalaman. Aku memeluknya dan ikut tidur siang.
Aku mendengar bunyi ponsel samar-samar dalam tidurku. Ketika membuka mata aku sendirian di kasur. Di luar sudah gelap, dan sekarang jam 6 malam. Aku meraba tempat dia tidur di sebelahku, masih hangat.
Ada pesan masuk di ponselku. Dari Pak Chang.
Aku akan menunggu hingga kau bisa menerimaku dan berada di sisiku. Aku mencintaimu dan ingin bersamamu. Chang Min Jun.
Apa yang sebenarnya kupikirkan. Bukannya kalau saling mencintai, halangan apapun bisa dilewati. Kenapa aku ragu pada diriku sendiri sedangkan dia rela berkorban untukku. Aku bangun dan lari keluar rumah.
Dia pasti belum jauh dari sini. Aku harus mengatakan padanya kalau aku juga mencintainya.
Aku berlari menuruni tangga dan melihat sekeliling gedung apartemen. Tidak ada. Yang ada hanya orang-orang yang melihatku.
Aku kembali ke apartemen dengan langkah lemah. Kuambil ponselku dan melihat pesan Pak Chang sekali lagi. Aku menghubungi ponselnya tapi tidak tersambung. Dia pasti sudah mematikannya.
Kenapa aku bodoh sekali. Aku mengusir orang yang menyukaiku. Aku mulai menangis dan menyesal.
.
.
.
.
.
.
.
.
Setelah berpisah dengan Pak Chang dua tahun yang lalu, aku pergi ke Universitas untuk membatalkan cuti kuliah. Aku hanya mendapat satu semester yang bisa kubatalkan cutinya.
Selama satu tahun aku masih bekerja paruh waktu di berbagai tempat. Uang yang kudapatkan terkumpul sedikit demi sedikit. Setelah terkumpul, aku dan kedua temanku memiliki ide untuk membuka usaha.
Memang tidak sesuai dengan cita-cita awal. Tapi hingga hari ini aku tidak menyesal melakukannya. Sudah satu tahun, aku dan kedua temanku membuka toko bunga di persimpangan dekat stasiun subway. Toko bunga POENY. Ha young dan A ri yang menangani penjualan di toko dan aku bertugas melayani pemasaran. Kami bertiga lelah bekerja paruh waktu.
Tapi khusus hari ini toko kami tutup karena kami menghadiri acara kelulusan kami sendiri.
Ayah, ibu, kakak dan Ha na juga hadir untuk memberiku selamat. Kami berfoto di depan Fakultas dan universitasku. Tak lupa aku memperkenalkan orang tuaku pada Ha Young dan A ri. Kami berfoto bersama dan akan memasangnya di tembok toko kami.
Saat ini usiaku 25 tahun. Badanku masih kurus sama seperti dua tahun yang lalu. Yang berubah adalah rambutku yang kupotong pendek sebahu. Aku mulai menaruh perhatian pada baju yang kugunakan setiap hari. Aku juga memakai aksesoris yang membuatku tampak lebih feminin.
Karena ini hari kelulusanku, aku mengajak keluargaku pergi makan ke salah satu bintang lima di Seoul. Kami sampai di Lott* hotel pukul 5 sore. Aku memakai terusan pink pucat yang membentuk tubuhku. Pakaian ini membuat kulitku tampak lebih putih.
Kami duduk sesuai dengan pesanan yang kulakukan sebulan yang lalu. "Wah adikku sudah berhasil di Seoul" aku merasa sangat berhutang pada kakakku. "Apakah pekerjaanmu lancar?" Ayah berusaha memotong pembicaraan kami.
"Baik Ayah" aku sangat senang orang tuaku sehat sampai aku mencapai keinginanku. Aku ingin mereka melihat kesuksesanku di Seoul. Semua kucapai dengan kerja keras. Aku tidak mengeluh dan terus melangkah walaupun berat.
Tentu saja semua usaha pada awalnya sangat berat. Tapi dengan keahlian kami bertiga, kami sanggup membawa cukup banyak pelanggan untuk membuat toko bunga kami terus berjalan dengan baik.
Ibu terus melihatku. Aku tersenyum senang melihat ibukku. Tapi tidak. Ternyata ibukku melihat lurus ke arah belakangku. Aku menoleh dan mengenali siapa yang terus dilihat ibuku. Nyonya Chang.
Aku merasa bingung dan tidak tahu harus melakukan apa. Ibuku merasa pasti dengan penglihatannya dan bergerak mendekati meja belakakangku.
"Nyonya Chang. Benar?" Ibuku berkata dengan agak keras, membuat ayah dan kakak menoleh ke arah ibu.
"Ah benar...Anda ibu dari Jin Ae." mereka saling tersenyum dan berpelukan. Karena namaku sudah disebut, mau tidak mau aku harus menyapanya. "Selamat malam Nyonya Chang" aku membungkuk memberi hormat.
"Jin Ae....wah kau cantik sekali." aku tersenyum mendengar pujiannya. Kakak dan Ayah juga datang ke meja Nyonya Chang untuk menunjukkan kesopanan.
"Kami merayakan hari kelulusan Jin Ae dan dia mengajak kami makan di hotel ini" Ibu mengatakan semua yang ada dipikirannya. Tapi aku sangat terkejut saat Ibu mengatakan " Apakah Nyonya sendiri? sebaiknya makan bersama kami agar lebih ramai"
aku menunduk ingin memprotes pembicaraan ibu. "Tidak tidak. Sebaiknya jangan. Saya akan bertemu anak Saya setelah pekerjaannya selesai hari ini". Terasa seperti petir menyerangku secara terus menerus. Tanganku menjadi dingin dan aku mulai berkeringat.
Setelah dua tahun apakah akhirnya aku akan bertemu dengannya?. Laki laki pembohong yang telah mengecewakanku sejak satu tahun yang lalu.
Pemberitaan tentang pernikahannya satu tahun yang lalu membuatku merasa sangat marah, kecewa dan sedih. Dia menikahi pasangan artis di drama terbarunya saat itu.
Wanita itu memang lebih cantik dariku. Aku tidak peduli lagi dengan orang itu. Dunia kami berbeda, dan aku sedang berjuang untuk hidupku. Aku tidak punya waktu mengurus hal-hal semacam percintaan dan kecemburuan.
Pak Chang sudah menjadi bagian masa lalu yang harus kulupakan.