Missing You

Missing You
Ulah Shinta



Lintang langsung menoleh, "Kok belok ke jalan ini, Kak?" saat Lintang melihat Chandresh membelokkan mobil berlawanan arah dengan arah pulang.


Chandesh menoleh ke Lintang sekilas, lalu berkata, "Kakak ingin mengajak kamu ke suatu tempat sebentar"


"Ke mana, Kak?" Tanya Lintang.


"Nanti kamu juga akan tahu" Sahut Chandresh.


Beberapa menit kemudian, Chandesh memarkirkan mobil di pelataran parkir toko emas.


Lintang menoleh ke Chandresh dan bertanya, "Ngapain kita ke sini, Kak?"


Chandesh tersenyum sambil melepaskan sabuk pengamannya Lintang dan sebelum ia turun, ia mencium keningnya Lintang dan berkata di sana, "Aku ingin beli cincin nikah yang sesuai dengan pilihan kamu dan ingin beli kalung buat kamu. Pas kita nikah kemarin, Kakak, kan, nggak kasih apa-apa ke kamu"


Lintang mendorong pelan tubuhnya Chandresh dan berkata, "Nggak usah, Kak. Lintang nggak pengen apa-apa, kok"


Chandesh mengelus pipinya Lintang, "Turun aja, yuk! Kakak pengen belikan Kamu sesuatu. Tolong terima, ya? Demi Kakak, oke?"


Lintang akhirnya menganggukkan kepalanya karena tidak tega melihat wajah memelasnya Chandesh.


Chandesh langsung tersenyum lebar dan mengajak Lintang untuk turun dari dalam mobil. Pengantin baru yang masih sangat baru itu, masuk ke dalam toko emas dengan bergandengan tangan dan sesekali saling tatap dengan senyum penuh cinta. Cinta yang belum terungkapkan secara lisan.


"Kamu pilih gih! Mana yang kamu suka" Chandesh merangkul bahunya Lintang.


Lintang menggelengkan kepalanya, "Kakak yang pilihkan, ya?"


Chandesh berbisik di telinganya Lintang, "Kakak ada uang, kok. Jangan khawatir! Pilih aja yang kamu suka"


Lintang tersenyum canggung dan berkata, "Tapi, Lintang belum pernah beli kalung dan cincin. Kakak bantu pilih, ya?"


Chandresh menganggukkan kepalanya dan dia menjadi asyik memilih sendiri. Lintang tersenyum di sebelahnya Chandresh dan menganggukkan kepala tanda setuju saat Chandresh menunjukkan cincin pilihannya.


Lalu, Chandresh berkata, "Kakak udah pipih cincinnya. Sambil nunggu cincin itu diukir nama kita, kamu pilih kalungnya. Tapi, maaf ya, Kakak nggak bisa belikan kamu yang berlian"


Lintang langsung melambaikan tangannya sambil berkata, "Nggak usah yang berlian. Nggak ada bedanya juga. Yang penting Kakak kasih ke Lintang dengan tulus, Lintang pasti suka. Apa aja pemberian dari Kakak, Lintang pasti terima dengan senang hati"


Chandresh kembali teringat dengan omongannya Shinta pas dia masih berpacaran dengan Shinta, "Kok kasihnya cincin perak? Kenapa nggak emas atau berlian?" Chandresh menjawab Shinta kala itu, "Iya karena, aku masih sekolah. Uang saku aku cuma bisa untuk beli cincin perak"


Chandesh langsung mengelus rambutnya Lintang dengan rasa kagum dan rasa cinta yang semakin besar, dan Chandesh berucap, "Kakak akan selalu tulus sama kamu"


Lintang tersenyum lebar saking bahagianya.


"Kok malah senyum-senyum? Ayok pilih kalungnya!" Chandesh langsung mencium pipinya Lintang setelah berucap saking gasnya melihat ekspresi imutnya Lintang.


"Wah, Kakaknya sayang banget sama adiknya, ya?" Pramuniaga toko emas tersebut yang kebagian melayani Chandesh dan Lintang langsung tersenyum ke pasangan pengantin baru itu.


Chandresh merangkul bahunya Lintang dan berkata, "Jangan salah, Mbak! Ini Istri saya" Sahut Chandresh. "Saya, kan, pilih cincin nikah tadi. Gimana sih, Mbak, kok masih mengira cewek ini adik saya? Cewek ini Istri saya, Mbak"


Lintang menunduk malu saat pramuniaga toko emas itu berkata, "Wah, maaf, Pak. Habisnya Istrinya masih imut dan cantik banget dan Bapak........"


"Tua?" Sahut Chandresh dengan nada kesal.


"Ah, bukan Pak. Maaf, Bapak tampan lebih dewasa" Sahut pramuniaga toko tersebut.


Lintang akhirnya memilih kalung rantai Santa dengan liontin kupu-kupu dan Chandresh langsung memilihkan anting berbentuk kupu-kupu saat Lintang mengatakan kalau ia sangat menyukai kupu-kupu.


Lintang langsung menoleh ke Chandresh, "Kak, kok beli anting juga? Antingnya Lintang masih bagus, nih"


"Biar serasi sama.kalungnya dan biar kamu makin cantik" Sahut Chandresh.


Lintang kembali menunduk karena, malu.


Setelah membayar semua perhiasan emas yang dia beli petang itu, dia mengajak Lintang bertukar cincin, lalu ia memakaikan kalung dan anting ke Lintang. Chandesh kemudian memegang kedua bahunya Lintang dan berkata, " Kamu makin cantik"


Pramuniaga toko emas yang masih berdiri di depan Chandresh dan Lintang menyahut, "Mbaknya emang udah cantik dari sananya, Pak. Bapak beruntung"


Chandesh berkata, "Iya saya beruntung" dengan. terus menatap Lintang.


Mereka berdua kemudian kembali ke mobil dengan bergandengan tangan dan perasaan penuh cinta yang masih tertahan rapi di hati mereka masing-masing. Chandesh mengemudikan mobil menuju ke rumah dengan rasa super bahagia karena, dia akhirnya bisa memberikan sesuatu yang berharga dari hasil keringatnya sendiri untuk wanita yang dia cintai.


Chandesh menoleh sekilas ke Lintang, "Kakak kira kamu suka sama Gajah karena, dari dulu kamu selalu tidur dengan boneka Gajah. Ternyata kamu suka sama kupu-kupu, ya?"


"Aku nggak pernah lepas dari boneka Gajahku karena, boneka itu pemberian dari almarhum Mamaku.Kata Mama, aku mirip Gajah. Aku kuat, tapi menggemaskan"


Sahu Lintang.


Chandesh menoleh sekilas ke Lintang dan sambil tersenyum ia berucap, "Iya. Kamu memang kuat dan menggemaskan. Lalu, kenapa kamu suka sama kupu-kupu?"


"Karena kupu-kupu itu liar, bebas, tapi bisa selalu tampil cantik" Sahut Chandresh.


"Dan itu juga mirip sama kamu. Kamu mirip kupu-kupu" Sahut Chandesh.


Lintang terkekeh geli sembari menepuk pelan bahunya Chandresh.


Shinta terkejut saat pintu kamar kostnya didobrak dan tiga orang pria berbadan kekar tiba-tiba mencekik lehernya dan berkata, "Di mana suami kamu? Katakan cepat!"


Shinta berkata dengan terengah-engah, "Le.....lepaskan dulu!"


Pria itu melepaskan cekikan di leher putihnya Shinta laku kembali bertanya dengan kedua mata melotot, "Di mana suami kamu?!"


Shinta terbatuk-batuk, lalu berucap, "Saya tidak tahu"


"Bohong! Mana mungkin Istrinya tidak tahu" pekik pria berbadan kekar itu.


"Saya bener-bener nggak tahu! Dasar sial!" Shinta mendelik tanpa takut.


"Kalau gitu, bayar hutang suami kamu! Kasih ke kami uang lima ratus juta, cepat!"


"Saya nggak punya. Kalian lihat sendiri, saya tinggal di kostan kayak gini. Kalau saya punya uang sebanyak itu, saya akan tinggal di hotel atau beli rumah, dasar sial!" Shinta memekik kesal.


"Lalu gimana? Apa kau kami bawa aja ke Bos. Aku lihat kau masih muda dan sangat cantik. Kalau dijual di bar pasti masih laku mayan" Sahut pria berbadan kekar itu.


"Tunggu! Jangan bawa saya! Saya kasih tahu rumah Putranya. Putranya orang kaya sekarang dia pasti punya uang segitu" Sahut Shinta.


"Di mana? Cepat kasih tahu!"


Shinta lalu menuliskan alamatnya Chandesh di sebuah kertas lalu menyerahkan kertas itu ke pria berbadan kekar dan dia langsung bernapas lega saat pria berbadan kekar itu pergi meninggalkannya. Shinta bersimpuh di atas santai kamar kostnya dengan bergumam, "Maafkan aku, Chan. Aku terpaksa menggiring para penagih utang itu ke rumah kamu"


Chandresh ingin memandikan Lintang, namun ia harus menahan keinginannya itu di saat ponselnya berdering kencang. Mamanya Chandresh memekik kencang, "Chan! Tolong kamu cepat ke sini, ya?! Ada penagih utang mencari Papa kamu!"


Chandesh membeliak kaget dan langsung berkata, "Iya, Ma. Chandesh meluncur sekarang"


Chandesh bergegas ke pintu kamar mandi dan tersentak kaget saat pintu itu terbuka dan Lintang langsung menabrak dada bidangnya. Chandesh memeluk erat Lintang dan berkata, "Lin, Kakak akan ke rumah Mama bentar, ya"


"Mama kenapa?" tanya Lintang. "Mama ngga sakit, kan?"


"Nggak. Tapi, Papaku emang brengsek. Dia mengirim para penagih hutang ke rumah Mama" Sahut Chandresh.


"Aku ikut" Sahut Lintang.


"Kamu di rumah aja"


"Tapi, bukankah Suami Istri harus selalu bersama.dalm suka dan duka? Lagian Lintang bisa menenangkan Mama, nanti pas Kakak menemui para penagih utang itu"


"Oke" Sahut Chandresh.


Sesampainya di rumah mamanya Chandresh. Lintang langsung memeluk mamanya Chandresh dan mengajak mamanya Chandresh masuk ke dalam kamar sementara Chandresh langsung menyemburkan tanya, "Siapa yang mengirim kalian kemari?"


"Istri Papa kamu yang bernama Shinta. Papa.kamu oke juga, ya, dia kere tapi bisa punya dua istri yang cantik-cantik" sahut salah satu dari pria berbadan besar.


Chandesh langsung menggeram kesal dan mendaratkan bogem mentahnya ke pria berbadan kekar itu.........