
Aku tidak tahu berapa lama aku tidur. Sepertinya lama sekali, karena di luar jendela tidak ada matahari. Aku mencari ponsel dan kutemukan di meja disamping ranjang. Pukul 7 malam. Aku harus segera bangun.
Tunggu dulu. Aku tadi tertidur di mobil Pak Chang dan sekarang ada di atas kasur yang empuk. Aku menoleh ke kanan dan kiri. Tidak ada tanda-tanda Pak Chang.
Rambut dan wajahku berantakan karena tidur. Aku pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sepertinya sudah cukup rapi untuk keluar kamar. Kubuka pintu perlahan dan terdengar suara Pak Chang dan Pak Park.
"Apa maumu sekarang Min Jung?" Pak Park terdengar emosi.
"Tidak ada, semuanya tetap sama seperti biasanya."
"Kau pikir mengajak seorang wanita lalu melakukan perjalanan yang romantis bisa kaulakukan tanpa ada media yang tahu?"
Apakah kepergian kami siang ini tertangkap media? Aku sudah berusaha menemukan tempat yang paling jarang dilewati orang.
"Bukan Aku yang memilih tempat itu " Jawaban Pak Chang membuatku merasa bersalah.
"Dalam 2 bulan ini berita tentang skandalmu terus keluar media. Dan aku yang harus menjelaskan pada Direktur tentang itu. Apa kau tahu susahnya?"
"Aku tahu"
Ternyata memang tidak bisa. Pak Chang adalah artis terkenal yang semua gerak geriknya selalu diawasi. Akulah yang bersalah dalam hal ini.
"Jin Ae adalah perempuan yang polos. Dia tidak bisa ada disekitarmu. Kalau kau mau berhubungan, lakukan dengan wanita dewasa yang ada di lingkunganmu"
"Aku sudah berusaha menjauhinya. Aku juga sudah mencari cara memutuskan kontrak kerjanya. Untung saja ada kejadian itu, aku jadi bisa melakukannya."
Aku melepas pegangan pintu. Tulang dan ototku seperti tidak mempunyai tenaga. Jadi Pak Chang bersyukur atas kejadian itu.
"Kau masih ada kontrak drama dan film yang harus kau selesaikan. Aku tidak mau ada skandal perempuan lagi. Kau bereskan masalah Jin Ae." Pak Park menghentakkan kaki pergi dari rumah.
Aku dengan cepat menutup pintu kamar dan menguncinya. Aku pergi ke kamar mandi untuk menenangkan diriku sendiri. Apa yang seharusnya kulakukan sekarang.
Pak Chang tidak datang ke kamar. Aku melihat jam di ponsel. Sudah jam 8 malam. Apakah dia pergi dari rumah?
Aku harus pergi dari rumah ini. Aku tidak bisa memikirkan cara lain. Aku harus segera pergi.
Aku membuka pintu kamar dengan perlahan. Setelah memastikan tidak ada orang di luar kamar, aku keluar tanpa memakai sepatu. Rumah sepi. Mungkin Pak Chang ada di atas atau di ruang kerjanya. Aku berlari ke pintu depan.
" Kau sudah bangun?" Aku sangat tidak beruntung. Kenapa keluar rumah saja tidak bisa. Aku berbalik dan menjawab "Iya. Baru saja" . Pak Chang mendekatiku. Aku harus berpura-pura tidak mendengar apa-apa.
"Tidurmu nyenyak sekali tadi, aku tidak tega membangunkanmu" Dia menyentuh rambut dan memelukku. Apa yang harus kulakukan?. Aku terus mengulangi pertanyaan itu dalam kepalaku.
"Kau mau makan apa?" Aku menatap matanya. Secara tidak sadar aku membelai wajahnya. Aku memeluknya tanpa mengatakan apa-apa. Dia menerima pelukanku dan mencium keningku.
Tapi untuk terakhir kalinya, biarkan aku menikmati suasana ini. Pak Chang tersenyum "Kau memanggil apa?" "Oppa........oppa..........oppa" ku ulangi sebanyak apapun agar aku puas memanggilnya.
Pak Chang memelukku semakin erat. Kami berciuman dan saling berpelukan.
"Aku harus pulang" Kataku setelah terlepas dari bibirnya. "Kenapa tidak boleh dilanjutkan?" Aku melihat Pak Chang. "Oppa tahu kalau ini tidak boleh dilanjutkan, terlalu berbahaya baik untukku dan untuk oppa" aku memakai nada lucu agar dia tidak marah.
"Aku antar pulang" aku melepas pelukannya "Tidak usah. Oppa tadi sudah menyetir pulang pergi ke Incheon. Aku bisa naik taksi"
Aku memegang lengannya dan bergelayut manja. Pak Chang terus tersenyum melihatku.
"Lagipula, besok pagi Oppa harus berangkat ke Busan. Aku bisa naik taksi" Akhirnya dia menyetujuinya. Aku memakai tasku. Pak Chang pergi ke kamar atas dan kembali dengan long coatnya. Dia memakaikannya padaku.
"Aku tidak suka kalau kau kedinginan. Sampai rumah kau harus makan." Aku tersenyum dan memeluknya lagi. "Iya baik dan terima kasih untuk hari ini. Aku senang sekali bisa pergi dengan Oppa"
Sebelum aku keluar rumah, Pak Chang menarikku lagi dan menciumku. Aku tersenyum dan pergi keluar. Kali ini benar-benar terakhir kalinya aku berada di rumah ini.
Taksi yang kupanggil menunggu di luar rumah. "Ke Gwanjin-gu Pak" kataku pada sopir taksi. Aku melihat rumah Pak Chang dan mulai menangis.
Mataku bengkak saat aku bangun pagi. Semalaman aku menangis dan terus menangis. Aku harus makan karena semalam aku tidak makan apapun. Aku membuka kulkas dan menemukan kue ikan. Kumasukkan ke microwave sebentar dan memakannya dengan segelas kopi panas.
Hari ini aku hanya ingin tidur dan main game di ponsel sampai punggungku sakit. Tapi nanti aku pasti lapar. Aku mencari ponsel untuk memesan makanan.
Ada pesan dari Pak Chang "Aku ke Busan, pasti merindukanmu. Jangan lupa makan dan tidak boleh keluar memakai pakaian mini. Aku bisa pulang dan melepasnya ❤"
Aku terdiam dan mulai menangis lagi. Kenapa sulit sekali menyukai seorang pria. Aku menangis dan tertidur.
Sore hari aku bangun dengan perut yang sakit. Aku mencari obat dan meminumnya. Sepertinya makan sesuatu yang hangat akan membuat hati dan perutku membaik. Aku memakai baju seadanya dan pergi keluar.
Aku pergi ke restoran Seolleontang atau sup daging. Aku memesan 1 porsi dan gorengan ham. Pemilik restoran sedang melihat berita artis di televisi.
Ketika pesananku datang, aku memakannya dengan lahap. Hampir satu hari penuh aku tidak makan. Sebentar saja sudah habis semua makanan yang ada di depanku. Aku meneguk teh panas dan berniat pulang.
Dari televisi muncul berita tentang Pak Chang. Aku terdiam dan mulai melihat tv.
Dikabarkan Pak Chang menjalin hubungan dengan salah satu artis cantik asal Cina yang menjadi lawan mainnya di drama terakhirnya. Foto-foto mereka ditampilkan satu persatu.
Aku menunduk dan mulai melangkah pulang. Aku ingin sekali minum, tapi takut dengan akibat yang harus kualami nanti. Akhirnya aku membeli beberapa kaleng kola dan meminumnya sampai habis dikamarku.
Aku mulai bersendawa tanpa henti. Aku mulai menertawakan diriku sendiri yang terus bersendawa. Menyedihkan sekali.
Pagi harinya, aku bangun dengan sakit perut yang tidak bisa kutahan. Sakit sekali sampai aku menangis. Aku harus pergi ke rumah sakit. Aku memesan taksi dan mulai berpakaian. Aku keluar rumah dengan menahan sakit. Tak lupa aku menghubungi kakakku dan memberitahunya bahwa aku pergi ke rumah sakit.