Missing You

Missing You
Menata Hidup



Chandresh sontak menegakkan badannya dan menatap istri kecilnya yang sangat cantik sambil terus menangis dan menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu bergumam, "Tidak, tidak. Jangan katakan kata cerai, Sayang. Aku nggak ingin pisah. Aku nggak bisa jauh dari kamu, Sayang. Dan bagaimana dengan Papa Kamu? Apa yang akan Papa kamu katakan kalau kita bercerai?"


"Cih! Kenapa kau tidak pikirkan itu saat kau memutuskan meniduri wanita brengsek itu? Dan, kau tahu Mas, aku sudah tidak bisa memercayai semua omongan kamu lagi" Lintang menatap Chandresh dengan derai air mata.


Chandresh menatap Lintang dengan berlinang air mata dan di sela isak tangisnya dia berkata, "Kenapa kau bisa menjadi sekejam ini, Sayang? Di mana Lintang yang dulu? Lintang yang lembut, penuh kasih, dan ..........."


"Dan di mana Mas Chandresh Kusuma, suamiku yang setia?" Lintang mendelik ke Chandresh dibalik air matanya.


Chandresh menelan kembali semua kata yang ingin dia semburkan ke Lintang. Lalu dengan langkah gontai, ia berbalik badan meninggalkan Lintang masih dengan isak tangis yang sangat dalam dan menyayat hati. Chandresh berjalan dengan melengkungkan tubuhnya ke depan dan dengan kaki diseret. Pria ganteng itu sudah tidak memiliki gairah hidup.


Lintang berjongkok saat Chandresh menutup pintu kamarnya dan wanita berparas cantik itu berteriak histeris sambil mengacak-acak rambutnya.


Chandresh menghentikan langkahnya sejenak saat ia mendengar jerit tangisnya Lintang. Dan dengan bergumam, "Maafkan aku, Lin" Dia melanjutkan langkah gontainya.


Chandresh membereskan semua baju dan barang-barangnya. Dia kemudian keluar dari dalam kamar sambil mencangklong tas punggung dan menarik dua koper besar. Dia kemudian duduk di bangku teras untuk menunggu Erick datang menjemputnya.


Chandresh tidak memiliki keberanian untuk pulang ke rumah ibunya. Dia tidak ingin ibunya menjadi kepikiran dan jatuh sakit karena kecewa dengan kelakuan busuknya yang tega menyelingkuhi istrinya. Istri yang sangat dicintai oleh ibunya. Untuk itulah ia akhirnya menerima tawarannya Erick untuk tinggal di rumahnya Erick sementara waktu.


Sementara itu, Soraya berlari ke kamarnya dan menjejalkan semua baju yang ada di lemari ke dalam koper. Setelah mengecek dompet uang dan dompet kartunya, dia menutup tasnya, lalu mencangklong tas itu sambil menarik kopernya. Soraya keluar dari dalam kamarnya dan tanpa pamit ke papanya, ia pergi ke bandara. Dia nekat menyusul Chandresh. Dia bertekad akan berjuang memenangkan hati Chandresh kembali. Dia akan mengambil kesempatan di saat Lintang kecewa berat dan dia akan segera mendekap Chandresh saat Lintang menceraikan Chandresh. "Pokoknya aku harus menikah dengan Chandresh apapun yang terjadi" Gumam Soraya di jok pesawat VIP-nya.


Keesokan harinya, Bi Ijah menemukan Lintang tidur di atas lantai. Bi Ijah langsung berlari minta tolong Mona, supir pribadinya Lintang, untuk mengangkat Lintang ke atas ranjang.


Mona memegang keningnya Lintang setelah ia berhasil merebahkan Lintang di atas ranjang. Mona menoleh ke Bi Ijah dengan wajah panik, "Non Lintang demam tinggi, nih. Bawakan roti, teh hangat dan obat penurun demam, Bi! Aku akan coba mengompresnya"


"Baik!" Bi Ijah segera berlari ke dapur untuk menyiapkan roti, teh hangat manis dan setelah mengambil obat penurun demam, ia kembali berlari ke kamarnya Lintang.


Mona tengah mengompres Lintang. Dan saat ia melihat Bi Ijah datang dengan membawa nampan berisi roti tawar, teh hangat manis dan obat penurun demam, Mona mencoba membangunkan Lintang dengan pelan, "Non, bangun dulu, ya!? Non makan roti dulu dan minum obat penurun demam"


Lintang membuka kedua pelupuk matanya dengan pelan, lalu dengan bantuannya Bi Ijah dan Mona, Lintang bersandar ke ranjang.


Bi Ijah menyuapi Lintang makan roti sambil berkata, "Pak Chandresh pergi kemarin malam, Non. Pak Chandresh dijemput oleh asisten pribadinya"


"Iya. Saya juga melihatnya kemarin malam, Non" Sahut Mona sembari membantu Lintang minum obat penurun demam.


Lintang berucap, "Iya. Biarkan saja" Lalu, ia kembali merebahkan kepalanya di atas bantal.


"Apa saya perlu menelepon Pak Chandresh, Non? Kasih tahu Pak Chandresh kalau Anda sakit saat ini?" Tanya Bi Ijah sembari menyelimuti Lintang.


"Nggak usah. Aku udah minum obat. Aku akan baik-baik saja sebentar lagi. Makasih banyak atas perhatian kalian, Bi, Mona" Lalu Lintang membetulkan letak kepalanya di atas bantal dan kembali memejamkan matanya.


Bi Ijah mengajak Mona keluar dari dalam kamarnya Lintang sembari berucap, "Biarkan Nona sendirian dan Istirahat"


Mona menganggukkan kepalanya.


Chandresh bangun dengan kepala yang berdenyut-denyut. Dia mendesis dan saat ia turun dari atas ranjang, ia jatuh tersungkur di atas lantai. Chandresh bangkit dan bangun untuk mencoba kembali berjalan sambil mendesis dan memegangi kepalanya.


Chandresh menemukan Erick duduk di meja makan. Chandresh berhasil duduk di depannya Erick dan sambil mendesis dia bertanya, "Apa kau punya obat pereda sakit kepala? Kepalaku sakit sekali, nih"


"Yeeeaahh! Tentu saja kau bangun di pagi ini dengan kepala berdenyut. Kau menangis terus semalaman" Sahut Erick sembari bangkit berdiri untuk mengambil obat pereda sakit kepala.


Erick menatap sahabat yang sekaligus bosnya dengan prihatin, lalu ia berkata, "Kau telah kehilangan semuanya, Bro. Hanya untuk kenikmatan sesaat, kau mengorbankan semua milikmu yang sangat berharga"


"Sial! Kenapa kau ingatkan lagi soal itu" Chandresh meraup wajah gantengnya dengan kasar lalu menatap Erick dengan wajah lelah.


"Kau harus segera menata hidup kamu. Kalau Lintang menceraikan kamu, Papanya Lintang juga pasti akan menendang kamu keluar dari perusahaannya. Apa yang akan kamu lakukan kalau hal itu terjadi?" Tanya Erick.


"Aku akan memulai Bisnisku sendiri mulai detik ini. Aku akan membuka mebel dan sambil menunggu karya-karyaku diakui orang, aku akan nyambi kerja di les-lesan. Aku akan mulai ngelamar kerja di les-lesan hari ini" Sahut Chandresh sambil memijit-mijit kepalanya.


"Dan kau akan buka bengkel mebel kamu, di mana? Di rumah yang baru aja kamu beli?" Tanya Erick.


Chandresh dengan cepat menggelengkan kepalanya sambil berucap, "Nggak. Aku beli rumah itu untuk Lintang. Aku nggak akan ambil rumah itu"


"Lalu?" Tanya Erick.


"Aku akan sekalian cari rumah untuk aku sewa. Dengan uang tabunganku, aku bisa nyewa rumah untuk tiga tahun ke depan" Sahut Chandresh.


"Dan aku?" Tanya Erick.


"Kau kenapa? Kau baik-baik saja, kan? Papa mertuaku nggak akan memecat kamu. Kamu tetap aja bekerja di sana" Sahut Chandresh.


"Oke. Tapi, aku akan siap membantu kamu kapan pun kamu butuh aku" Sahut Erick dengan senyum lebar untuk menyemangati sahabatnya yang tengah terpuruk.


Chandresh mengucapkan kata terima kasih dengan wajah datar dan nada lemas.


Chandresh berhasil mendapatkan pekerjaan sementara di tempat les-lesan dengan gaji yang tidak begitu besar, hanya lima juta rupiah per bulan. Tapi, tetap ia syukuri. Dan dengan naik turun transportasi umum, ia melanjutkan aktivitasnya di hari itu untuk mencari sebuah rumah yang bisa ia sewa.


Saat senja hampir tiba, Chandresh bernapas lega. Pria ganteng itu berhasil mendapatkan sebuah rumah yang sesuai dengan keinginannya. Lalu, Chandresh kembali ke halte bus. Saat ia menunggu bus, dia melihat Lintang di ujung bangku halte bus. Chandresh terkejut dan ia langsung menutupi wajahnya dengan topi sambil bergumam, kenapa Lintang naik bus hari ini?


Lintang masuk kuliah di sore hari dan dia menenggelamkan diri dengan tugas kuliahnya sampai malam tiba dan memilih tidur di lab, karena ia malas pulang.


Tanpa sepengetahuannya Lintang, Chandresh membelikan Lintang burger kesukaannya Lintang dan lemon squash dingin. Chandresh menitipkannya ke teman kuliahnya Lintang.


Teman kuliahnya Lintang langsung bertanya, "Anda, kan, suaminya Lintang, kenapa Anda tidak masuk ke dalam dan menyerahkannya sendiri ke Lintang?"


"Saya tidak bisa. Tolong kasihkan saja ke Lintang" Sahut Chandresh.


"Baik" Sahut teman kuliahnya Lintang dengan wajah heran.


Chandresh berkata, "Terima kasih" Lalu, berbalik badan dan pergi.


Temannya Lintang meletakkan kantong makanan yang terbuat dari kertas tebal berwarna cokelat di atas meja sambil berkata, "Ini dari suami kamu"


Lintang yang tengah meletakkan kepalanya di atas meja, tersentak kaget dan langsung menegakkan kepalanya untuk bertanya, "Apa dia masih di depan?"


"Dia sudah pergi" Sahut temannya Lintang dan Lintang hanya bisa ber-o dengan mengulas senyum kecewa.