Missing You

Missing You
Bab 10



Akhirnya aku tiba di rumah jam 9 pagi. Triiiing...triiing...


"Halo"


"Sudah di rumah?"


Pak Chang yang menghubungi.


"Sudah, baru saja"


"Tidak perlu ke Itaewon hari ini, istirahat saja"


"Tapi Pak"


"Aku sudah sampai Busan" Sepertinya aku tidak bisa membantah keinginannya.


"Baik Pak, Saya istirahat di rumah hari ini"


"Jin Ae...." Kenapa dia tiba-tiba serius dan terdiam.


"Aku......akan merindukanmu"


Aku tersenyum sendiri.


Itu adalah telpon terakhir yang kuterima dari Pak Chang. Selama 2 minggu, dia syuting ke Busan dan tidak pernah ada kabar lagi. Tapi Pak Park sering memberikan kabar terbaru lewat pembaharuan statusnya.


Sudah waktunya aku pulang. Hari ini aku hanya melakukan bersih-bersih dan memasak makanan dari bahan yang hampir kadaluarsa.


Keluar masuk dari pintu belakang sudah menjadi kebiasaanku. Tapi hari ini ada yang aneh. Aku merasa diikuti setelah keluar dari rumah Pak Chang. Aku berjalan dengan cepat ke stasiun kereta dengan sesekali melihat kebelakang. Tapi tidak ada orang dibelakangku.


Aku selalu berangkat kerja pukul 5.30 dan sampai di rumah Pak Chang sekitar pukul 6 pagi. Awalnya memang berat tapi sekarang sudah hampir 4 bulan, aku sudah terbiasa. Pagi ini ada dua orang perempuan yang menunggu di depan rumah Pak Chang. Aku akan lewat pintu belakang. Tapi di depan pintu belakang juga ada 3 orang perempuan yang menunggu.


Aku merasakan hal yang tidak beres. Aku berbalik dan kembali menuju depan rumah Pak Chang. Tapi dua perempuan yang tadi ada di depan rumah sudah mengepungku dari depan.


Aku dikepung oleh mereka. Biasanya pihak keamanan selalu berkeliling. Tapi karena jalan ini adalah area yang agak tersembunyi, mungkin pihak keamanan tidak akan tahu walaupun ada sesuatu yang terjadi disini. Mereka semakin mendekat dan menekanku sampai punggungku menempel di tembok rumah.


"Apa kau wanita yang sedang dekat dengan Min Jung kami?" Salah satu dari mereka mempunyai badan lebih tinggi dariku. "Aku hanya pembantu disini" . Sepertinya mereka tidak menerima jawabanku. "Kau pikir kami percaya? Apa kau fans yang menyamar demi dekat dengan Min Jung?"


Sebelum aku menjawab mereka sudah menarik rambutku. Sakit sekali. Mereka juga mulai memukul perut, tangan dan kakiku. Saat aku sudah tidak bisa menahannya lagi ada bunyi peluit keras yang ditiup. Akhirnya pihak keamanan menemukanku.


Aku dikirim ke kepolisian bersama kelima anak itu. Tangan dan kakiku terasa sakit sekali tapi bisa kutahan. Anak-anak itu menangis meraung saat berhadapan dengan polisi. Padahal aku yang dipukuli tapi mereka yang menangis.


Aku pergi ke rumah sakit tanpa ditemani seorangpun. Ini masih terlalu pagi untuk memanggil temanku. Aku masuk ke UGD, mereka mengobati luka luarku dan melakukan sinar X pada pergelangan kakiku karena terlihat bengkak.


Setelah seluruh pemeriksaan dilakukan aku pergi menunggu di salah satu kursi di depan UGD. Saat itu aku baru sadar kalau rambutku berantakan seperti singa, bajuku dan celanaku kotor terkena lumpur. Aku hanya bisa menghela nafas dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Keluar dari kamar mandi aku mendengar keributan di pintu keluar masuk rumah sakit. Dengan menahan sakit di pergelangan kakiku aku kembali duduk di depan UGD. Aku melihat beberapa orang pergi ke arah keramaian. Aku tidak tertarik. Perutku sakit karena dipukul dan lapar. Kepalaku pusing dan kakiku terasa pedih.


Aku mengambil ponsel dari dalam tas. Ada beberapa panggilan tak terjawab dari Pak Park dan Pak Chang. Pak Chang pasti sedang sibuk, jadi aku menghubungi Pak Park.


"Halo Pak"


"Jin Ae, kamu sekarang ada dimana?" Suara Pak Park terdengar keras sekali. "Saya ada di rumah sakit Pak, tadi staff Bapak yang menyuruh saya kesini."


Tiba-tiba di depan sepatuku yang kotor ada sepatu sneaker yang kukenal.


Aku mendongak dan dia melihatku. "Pak Chang". Pak Chang berjongkok didepanku. Dia melihat kepalaku yang diplester. Dia melihat semua luka di badanku dan terakhir melihat pergelangan kaki kananku yang diperban.


"Mana lagi yang terluka?" Suaranya membuat wajahku memerah. "Cuma ini Pak" Pak Chang menarik nafas panjang. Hari ini dia memakai hoodie abu dan celana hitam dengan sneaker hitam kesukaannya. Wajahnya terlihat tampan.


Dia masih melihat setiap bagian tubuhku. "Jin Ae..." terdengar teriakan Pak Park. Aku melihat Pak Park setengah berlari ke arahku. Pak Chang berdiri lalu duduk tepat disebelahku. "Bagaimana kata dokter?" kata Pak Park dengan sedikit cemas.


"Saya menunggu hasil sinar X, Pak" Pak Park melihat ke setiap plester dan perban yang terpasang di tubuhku. Pak Chang menendang kaki Pak Park "Belikan kopi panas dan makanan untuk Jin Ae" . Aku menggeleng "Tidak usah Pak. Nanti saja kalau hasil dokter sudah keluar" Tapi Pak Park tidak mendengarku. Di berlari mencari minimarket. Aku melihat Pak Chang berniat protes.


Pak Chang memegang tanganku dan memasukkannya ke dalam saku hoodie nya. Hangat. Aku terdiam dan menikmati kehangatan tangan Pak Chang. Tidak kusadari bahwa beberapa orang memandangi kami dari jauh.


"Nona Lee Jin Ae" Suster memanggil namaku. Aku berdiri dan merasakan sakit di kakiku. Tadi tidak sesakit ini. Pak Chang menuntunku ke ruang dokter. Suster yang memanggil namaku terlihat tersipu malu saat melihat Pak Chang. Aku duduk di depan dokter, begitu juga dengan Pak Chang. Suster itu masih terus melihat Pak Chang.


"Pergelangan kakimu terkilir dan mungkin butuh 2 minggu untuk sembuh. Luka yang lain hanya luka kecil dan memar. Kami sudah mengambil gambar dan mengirimkan ke kepolisian. Saya beri beberapa vitamin dan obat penahan rasa sakit. Minggu depan pergelangan kakinya akan diperiksa lagi.


"Terima kasih dokter". Aku bediri dan berjalan ke arah pintu. Pak Chang memegang tangan dan bahuku untuk menopang badanku. "Saya mau langsung pulang" Tapi Pak Chang menyuruhku untuk duduk. Aku melihatnya bingung. "Aku datang tiba-tiba dan membuat keramaian di pintu depan. Kalau wartawan sudah pergi, kita pulang"


Aku lupa kalau orang disampingku adalah orang yang terkenal. Aku melihat sekeliling dan ada beberapa orang termasuk suster yang berbisik melihat kami. Aku menarik tanganku dari pegangan Pak Chang. Pak Park mendekati kami. "Ini Jin Ae" aku menerima kopi panas dan beberapa makanan dari Pak Park.


"Pihak keamanan rumah sakit sudah mengusir wartawan dari depan. Kalian bisa keluar lewat basement dan langsung ke Itaewon. Aku akan pergi ke Kepolisian dan mengurus masalah ini."


Aku melihat kedua orang ini. "Terima kasih Pak Park." Pak Park melihatku dengan tatapan kasihan. "Aku akan siapkan baju ganti di itaewon untukmu Jin Ae" Tapi Pak Chang menyela "Sudah ada, kau pergi saja sana. Ayo Jin Ae"


Pak Chang memapahku ke arah lift. Di Lift hamya ada kami berdua. Pak Chang memelukku dengan erat. Aku menyandarkan kepalaku di dadanya. Lift terbuka. Pak Chang mengangkat badanku dan menggendongku menuju mobil. "Badanmu terlalu kurus" Aku terdiam dan menyandarkan kepalaku di bahunya yang lebar.