Missing You

Missing You
Berdesir Hangat



Chandesh bangun dan terkejut saat ia mendapati tangannya ada di atas perutnya Lintang. Chandresh sontak mengangkat tangannya dari perut rampingnya Lintang lalu ia menatap ke wajahnya Lintang. Chandresh terkejut dengan kecantikan alami yang bersinar di wajahnya Lintang. Darah kelaki-lakiannya kembali berdesir dan ia langsung melompat turun dari kasur dan berlari ke kama mandi untuk mengguyur kepalanya di bawah shower dengan memakai air dingin. Ia kemudian sarapan lebih awal dan berangkat ke sekolah lebih awal karena ia merasa canggung dan belum siap menghadapi Lintang setelah ia tidur dengan memeluk Lintang semalam.


Lintang bangun satu jam berikutnya dan langsung bertanya ke Bi Ijah saat ia sampai di meja makan, "Bi, Kak Chandresh mana?"


"Lho, Bapak udah berangkat. Katanya ada piket pagi dan harus ninggalin, Non" sahut Bi Ijah.


Lintang langsung mengerutkan kening karena, kesal. Chandresh meninggalkannya. Akhirnya Lintang berangkat ke sekolah bersama dengan Marni, supir pribadinya.


Sementara itu, Chandresh melamun di ruang guru. Ia masih sendirian di ruang itu karena para koleganya belum datang. Hari masih terlalu pagi.


Sesampainya di sekolahan, Lintang sengaja mencari Chandresh terlebih dahulu ke ruang guru yang masih sepi. Chandresh melihat Lintang melangkah masuk ke ruangannya dan dia langsung berpura-pura sibuk dengan membaca buku dan membuka laptopnya.


"Kak, kok ninggalin Lintang? Kok berangkat sendiri ke sekolahnya dan nggak pamit sama Lintang?" Tanya Lintang sambil duduk di mejanya Chandresh.


Chandresh berucap di balik bukunya, "Kakak banyak kerjaan dan ada piket hari ini. Maaf kalau Kakak berangkat duluan. Kakak nggak pamit kamu karena, nggak ingin mengganggu tidur nyenyak kamu"


Lintang memajukan wajahnya untuk melihat laptopnya Chandresh dengan tanya, "Kakak ngerjain apa?"


"Masukin nilai. Sampai panas laptop Kakak tuh, coba kamu pegang. Laptop Kakak, Kakak buka terus sedari tadi" sahut Chandresh.


Lintang mengerutkan alisnya karena ia mendapati laptopnya Chandresh tidak menyala sama sekali. Lalu Lintang menatap buku yang Chandresh pegang, ia juga menemukan keanehan di sana. Chandresh memegang bukunya terbalik.


Lintang tersenyum geli tanpa mengeluarkan suara, lalu ia bertanya, "Bukunya juga panas dong, kan, Kakak buka juga sedari tadi"


Tanpa mencerna kalimatnya Lintang, Chandresh bergumam, "Hmm"


"Saking panasnya, buku itu jumpalitan sampai terbalik gitu, ya, Kak?" Lintang menutup mulutnya menahan tawa.


Chandresh sontak mengecek halaman depan bukunya dan dia melihat Lintang menutup mulut menahan tawa. Wajah Chandresh langsung memerah karena malu dan Lintang langsung bangkit berdiri dan berkata, "Laptopnya, pun, saking panasnya bisa mati sendiri"


Chandresh semakin memerah wajahnya karena malu saat ia menoleh ke laptopnya dan laptop itu dalam posisi belum ia nyalakan.


Saat ia menatap ke depan, Lintang telah berputar badan meninggalkannya. Chandresh kemudian tersenyum dan menatap punggungnya Lintang dengan perasaan hangat.


Jam pelajaran akhirnya dimulai dan Chandresh melangkah masuk ke dalam kelasnya. Dia melirik Lintang dan tanpa ia sadari ia mengulas senyum di wajah gantengnya. Salah satu muridnya yang duduk di bangku paling depan nyeletuk, "Pak Chandresh kok senyum-senyum? Habis dapat lotere, ya, Pak?"


Chandresh tersentak kaget dan langsung menoleh ke muridnya itu dengan kata, "Hush! Ngawur kamu"


Dan Chandresh berulangkali meraup wajah gantengnya setiap kali ia tidak bisa menghentikan matanya yang terus tergoda melirik Lintang.


Saat jam istirahat tiba, ia melihat Lintang keluar dari dalam kelas dan setelah menoleh ke kanan dan ke kiri dia tidak melihat ada orang di sekitarnya, Chandresh langsung mengikuti langkahnya Lintang dan terus melangkah pelan mengekor Lintang sampai naik ke lantai dua, lalu belok kanan menuju ke ruang perpustakaan. Lintang masuk ke perpustakaan tanpa merasakan kalau Chandresh mengikutinya dan dia terus melangkah ke tempat yang paling sepi dan tersembunyi yang ada di pojok perpustakaan SMA Bina Kasih untuk mencari buku novel romantis rekomendasi dari Mira sahabatnya.


Chandesh yang berhenti di ujung lorong, bisa mendengarkan gumamannya Lintang karena, lorong tempat Nobel romantis dijejer rapi di atas dua rak yang berhadapan, memang sangat sepi. Chandesh tersenyum lebar menahan tawa saat ia mendengar gumamannya Lintang itu. Lalu, saat ia melihat Lintang mulai berjinjit, Chandresh langsung melangkah lebar mendekati Lintang dan saat buku besar terjatuh dari rak teratas dan hampir mengenai kepalanya Lintang, Chandresh langsung memeluk Lintang, melindungi kepalanya Lintang dengan telapak tangannya dan buku itu jatuh menimpa kepalanya Chandresh, satu, dua, dan tiga buku berjatuhan mengenai kepalanya Chandresh.


Lintang tersentak kaget dan langsung mendongakkan wajahnya untuk bertanya, "Kakak, nggak papa? Buku-buku tadi, jatuh mengenai kepalanya Kakak, kan?" Lintang menunduk ke bawah dan menunjuk ketiga buah buku novel romantis yang cukup tebal walaupun ukurannya tidak sebesar buku kamus, tapi pasti tetap terasa sakit kalau jatuh dari rak paling atas dan mengenai kepala.


Chandresh memegang kedua bahunya Lintang dan bertanya, "Kamu nggak papa, kan?"


"Lho, Kakak yang kena timpuk buku-buku itu kok malah nanya Lintang nggak papa. Lintang nggak papa. Lalu, Kakak?" Lintang tanpa sadar mengangkat kepalanya dan mengelus keningnya Chandresh.


Dada Chandresh berdegup kencang saat ia merasakan tangan hangatnya Lintang menyentuh keningnya dan wajah Lintang berada dekat sekali dengan wajahnya. Bahkan, hembusan napas wanginya Lintang sampai menusuk ke hidungnya dan menimbulkan desiran hangat di hatinya. Tanpa Chandresh sadari, tangannya terangkat ke atas untuk menyentuh tengkuknya Lintang.


Lintang merasakan tangan hangatnya Chandresh di tengkuknya dan ia langsung membeku


Chandesh menarik pelan tengkuknya Lintang, lalu dengan cepat ia menyambar bibirnya Lintang. Chandresh dengan perlahan-lahan mengunci bibir Lintang dan mengikuti arusnya. Dan dahsyatnya rasa manis di bibirnya Lintang, membuat Chandresh mulai meningkatkan gaya berciumannya dengan melibatkan lidah. Pria ganteng suaminya Lintang itu melupakan status dia dan Lintang saat itu dan mulai mengajak berdansa lidahnya Lintang yang membuat hati Lintang kalang kabut dibuatnya. Jantung Lintang berdegup sangat kencang saat Chandresh sedikit dan perlahan menggigit bibirnya. Gigitan di bibirnya Lintang menambah lebih banyak percikan gairah di sekujur tubuhnya Lintang.


Chandesh langsung melepaskan ciumannya saat ia mendengar ada suara langkah kaki menuju ke lorong mereka.


Chandresh dengan cepat berputar badan, lalu memungut tiga buah buku novel yang jatuh di lantai dan membawa ketiga buku novel itu ke meja penjaga perpustakaan. Chandresh berpapasan dengan Mira saat ia keluar dari lorong dan belok ke kanan menuju ke meja penjaga perpustakaan.


Sedangkan Lintang langsung menyandarkan punggungnya di rak buku dan tersentak kaget saat Mira bertanya, "Lin! Kok Pak Chandresh juga ambil buku novel dari sini? Kamu ketemu sama Pak Chandresh, ya?"


Lintang menoleh ke Mira dan sambil berjongkok, ia menganggukkan kepalanya.


"Kok kamu jongkok?" Mira ikutan. berjongkok di depannya Lintang.


Lintang menatap Mira dengan hentakan degup jantung yang melemahkan dirinya dan berkata dengan suara lemas, "Aku capek"


"Capek? Kenapa?" Tanya Mira.


Lintang berpikir kalau belum waktunya bagi Mira, tahu soal pernikahan dia dan Chandresh, dan tahu kalau dia dan Chandresh baru saja berciuman dengan panasnya. Lintang akhirnya berkata, "Capek cari buku yang kau rekomendasikan tadi" Lintang berkata seperti itu untuk mengalihkan perhatiannya Mira karena, Mira terus menatapnya dengan wajah heran.


Mira mengajak Lintang berdiri dan ia menatap bibirnya Lintang, lalu bertanya, "Bibir kamu kok tampak basah dan sedikit bengkak? Kamu sariawan, ya? Habis makan apa kok tiba-tiba sariawan?"


Lintang langsung memalingkan wajahnya dan berkata, "Ayok kita cari buku novel rekomendasi kamu! Keburu jam masuk bunyi"


Lintang kembali mencoba mengalihkan perhatiannya Mira ke dirinya dan berhasil, Mira langsung berkata, "Oke" Dan langsung sibuk mencari buku novel kesukaannya.


Lintang menghela napas lega. Namun, dia mendadak rindu berat dan ingin terus berada di dekatnya Chandresh.