
Chandresh sama sekali tidak memiliki perasaan untuk Soraya Adhitya. Namun, sebagai seorang laki-laki yang terbiasa bersikap sopan dan baik, dia merasa perlu untuk melakukan sesuatu buat Soraya karena, Soraya telah melayani gairahnya semalam dengan sangat baik dan tidak bisa Chandresh pungkiri, Soraya telah berhasil membantu Chandresh untuk melepaskan stresnya. Stres yang ia dapatkan dari papa mertuanya yang terus menekannya secara mental.
Chandresh membuat sketsa gambar sebuah kursi malas. Pria ganteng bertubuh atletis itu, ingin membuatkan Soraya sebuah kursi malas karena, Soraya tipe wanita yang sangat manja dan sangat suka bermalas-malasan.
Chandresh membuat sketsa gambar kursi malas itu di dalam ruang kerjanya dan saking asyiknya menggambar, Chandresh tersentak kaget saat kedua lengan Soraya tergelung di lehernya Chandresh dari arah belakang dan sambil mengelus dada bidangnya Chandresh, Soraya menciumi leher kokohnya Chandresh.
Chandresh sontak mengerang dan berkata lirih, "Soraya! Jangan begini! Orang-orang bisa melihat dan memergoki kita"
Soraya memutar kursi kerjanya Chandresh yang beroda dan dia langsung duduk di atas pahanya Chandresh, untuk berkata, "Kaca yang mengelilingi ruangan sempit ini reflektif. Orang-orang nggak akan bisa melihat kita dari luar dan aku sudah kunci pintunya" Setelah menyelesaikan kalimatnya, Soraya langsung memagut bibirnya Chandresh.
Chandresh menarik wajahnya dan bibirnya otomatis terlepas dari bibirnya Soraya. Suaminya Lintang Rajendra itu langsung mendelik dan berkata, "Jangan lakukan lagi!"
Soraya mengusap bibirnya Chandresh dengan ibu jarinya sambil berkata, "Tapi, aku sangat merindukanmu"
"Kita baru bertemu beberapa jam yang lalu" Chandresh menautkan alisnya.
"Tapi, bayangan kamu, rasa bibir kamu di sekujur tubuhku semalam, tidak bisa aku hilangkan dari pikiranku dan aku ingin mengulanginya lagi" Soraya menyusupkan wajahnya ke lehernya Chandresh.
Chandresh langsung mengerang dan memejamkan kedua kelopak matanya karena, sebagai laki-laki normal ia tidak bisa menolak godaannya Soraya, namun dia juga merasakan frustasi di saati dia mengingat Lintang di rumah. Tidak bisa ia pungkiri, dia juga ingin mengulang lagi semua yang manis yang ia kecap semalam. Soraya mencium kedua kedua kelopak matanya Chandresh yang terpejam dan Chandresh semakin mengerang frustasi dan di sisa tenaganya dan di sisa akal sehatnya, di mendorong pelan kedua bahunya Soraya sembari berkata, "Aku nggak bisa. Cukup sekali saja aku khilaf. Aku sangat mencintai Istriku. Dan jika kita melakukannya lagi, aku merasa bersalah padamu. Aku tidak bisa memberikan apapun padamu, Soraya. Ini nggak adil untukmu"
Soraya tersenyum dan berkata, "Tapi, aku tidak merasa dirugikan. Dan aku tidak ingin apapun darimu. Aku hanya ingin bersenang-senang. Sekarang diamlah dan cium aku!"
Chandresh bergumam lirih untuk dirinya sendiri, "Apakah ini tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa. Aku yang menginginkan ini dan aku tidak meminta apapun darimu" Sahut Soraya, lalu wanita berparas cantik dan bertubuh molek itu kembali berucap, "Jangan banyak bicara lagi dan cium aku!"
Chandresh mengerang di saat akal sehatnya telah lenyap dan dia menarik tengkuknya Soraya untuk memagut bibirnya Soraya. Mereka berciuman dengan sangat liar dan panas dan akhirnya menyatukan raga mereka di atas kursi kerjanya Chandresh dengan posisi Soraya ada di atas pahanya Chandresh.
Setelah melepaskan pekik kepuasannya mereka secara bersamaan, Soraya melompat turun dari atas pahanya Chandresh. Saat Soraya merapikan roknya, ponselnya Chandresh berbunyi dan Soraya merasakan ada gelitikan aneh di hatinya saat ia melirik ponselnya Chandresh dan ada tulisan istriku di layar ponselnya Chandresh. Soraya langsung melangkah pergi meninggalkan Chandresh di saat Chandresh menjawab panggilan ponsel itu dan berkata, "Sayang, ada apa?"
Lintang langsung menyahut, "Apa Mas bisa pulang sore ini?"
"Ada apa? Kamu sakit?" Tanya Chandresh sembari merapikan kemejanya dan menarik ke atas ristleting celananya.
"Emm, besok siang ada acara kampus. Untuk mengakrabkan mahasiswa lama dan mahasiswa baru. Aku ingin kamu menemani aku. Apa kamu bisa?"
"Bisa! Aku akan pulang setelah makan siang. Nggak usah menunggu sore tiba" Chandresh langsung bangkit berdiri dengan penuh semangat karena, ia merasa sangat bersalah sama Lintang. Dia sudah dua kali menyatukan raganya dengan wanita lain.
"Ada tamu tadi. Aku nggak enak kalau melakukan Video Call denganmu. Maafkan aku!" Sahut Chandresh.
"Ooooo, gitu. Ya, udah Mas, nggak apa-apa. Kenapa harus minta maaf?" Lintang lalu menutup panggilan ponselnya setelah mengucapkan kata aku mencintaimu dan Chandresh membalasnya dengan ucapan yang sama.
Chandresh segera membereskan meja kerjanya, memasukkan sketsa gambarnya ke dalam tas kerjanya dan berlari keluar dari dalam ruang kerjanya untuk mencari Erick.
Chandresh menghentikan laju larinya sebentar dan dia celingukkan mencari sosoknya Erick. Dia melambaikan tangannya ke Erick sembari berlari mendekati Erick di saat ia telah menemukan sosoknya Erick di antara banyak pegawai.
"Ada apa?" Erick menautkan kedua alisnya di depan Chandresh.
"Aku akan pulang dan besok sore aku udah di sini lagi" Sahut Chandresh dengan napas terengah-engah.
"Ada apa? Apa Lintang sakit?" Tanya Erick dengan wajah panik.
"Nggak. Lintang baik-baik saja. Dia hanya butuh aku temani di acara Social gathering kampusnya" Sahut Chandresh.
"Okelah! Pulanglah! Aku akan urus semuanya di sini" Sahut Erick.
Chandresh menepuk pundak sahabatnya dan berkata, "Terima kasih. Aku akan membalas budi baik kamu dengan sangat benar, nanti"
"Ya, ya, ya!" Sahut Erick dan Chandresh langsung terkejut geli lalu mengucapkan kata terima kasih sekali lagi kepada Erick.
Dua jam berikutnya, Chandresh sampai di rumah dan dia langsung masuk ke dalam kamarnya untuk mencari Lintang. Chandresh menemukan Lintang ketiduran dengan masih mendekap buku pelajarannya. Chandresh duduk di tepi ranjang, mengambil buku pelajarannya Lintang dengan hati -hati untuk ia letakkan buku itu di atas nakas, lalu ia meraup wajah gantengnya dan dengan menghela napas berat dia bergumam di dalam hatinya, maafkan aku, Lintang.
Chandresh lalu, meletakkan tas kerjanya pada tempatnya dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dari wangi parfumnya Soraya dan dia langsung berlari keluar dari dala. kamarnya setelah ia selesai mandi untuk mencuci sendiri bajunya.
Chandresh kembali ke kamarnya dan melihat Lintang keluar dari dalam kamar mandi dengan lingerie hitam nan seksi kesukaannya Chandresh. Lintang memeluk Chandresh dan mengajak Chandresh berciuman.
Chandresh meladeni ciumannya Lintang, namun di saat Lintang menginginkan lebih, Chandresh mencium keningnya Lintang dan berkata di sana.
Lintang langsung berkata, "Kamu nggak menginginkannya, Mas?"
"Aku sangat menginginkannya, tapi nggak sekarang, Sayang. Maafkan aku, aku capek banget!" Sahut Chandresh sembari mencium kedua kelopak matanya Lintang.
Lintang akhirnya berbalik badan dan dengan wajah kecewa dia masuk ke kamar ganti untuk berganti baju dan Chandresh kembali meraup wajah gantengnya dan bergumam lirih, "Maafkan aku, Sayang!"