
Chandresh melihat ke kiri dan ke kanan. Dia mencari sendok dan garpu.
Soraya melihat tingkah Chandresh dan bertanya, "Kau mencari apa?"
"Sendok dan garpu" Jawab Suaminya Lintang itu dengan menatap Soraya.
"Nggak ada" Sahut Soraya dengan santainya.
Chandresh sontak menautkan alisnya dan bertanya, "Lalu, aku makan pakai apa?"
"Kau lihat aku, nih! Aku makan pakai apa?" Soraya menatap kedua matanya Chandresh.
Chandresh melihat Soraya dengan masih menautkan kedua alisnya dan berkata, "Tangan"
"Nah, itu kamu tahu. Kita punya tangan, ya, kita makan pakai tangan lah" Soraya berucap sembari meneruskan memakan makanan pilihannya.
"Ooooo. Kamu orang yang santai dan emang semau Gue, ya. Beda banget sama Istriku. Lintang, nama Istriku, sangat disiplin dan menyukai kebersihan. Untuk itulah ia cocok memilih jurusan kedokteran" Ucap Chandresh sambil menjumput nasi goreng yang ada di depannya.
"Aku nggak suka mencuci piring atau sendok atupun perabot makan yang lain. Kuku-kuku di jariku bisa kena jamu, hiihhhh! Dan, aku nggak suka masak karena, aku benci bau bawang dan aku benci kalau rambutku bau asap masakan ataupun asap sayuran" Soraya berucap sembari mengunyah makanan yang masuk ke dalam mulutnya.
"Lintang tidak peduli akan hal itu. Dia masih sangat muda. Dia lebih muda dariku tujuh tahun, tapi dia lebih dewasa daripada aku. Lintang cantik sangat cantik, tapi dia tidak pernah memedulikan soal manicure pedicure dan perawatan rambut. Dia nggak pernah ke salon. Dia sibuk kuliah, tapi dia tidak pernah lupa memasak untukku dan masakannya sangat enak. Aku ........."
"Stop! Jangan bicarakan Istri kamu di depan wanita yang semalam kamu tiduri" Soraya mendelik ke Chandresh.
Chandresh langsung membeku sepersekian detik, lalu ia berucap, "Maaf"
Soraya berkata, "Nggak perlu minta maaf. Kita melakukannya suka sama suka, tapi tolong saat kita berduaan seperti ini, jangan ceritakan soal Istri kamu!"
Chandresh hanya bisa menganggukkan kepalanya karena, situasi yang ada di depannya masih terasa canggung.
Soraya, lalu mengambil puding. Chandresh langsung bertanya, "Nggak ada sendok. Kau mau makan puding itu pakai tangan juga?"
"Hmm" Sahut Soraya sambil menjilat es krim vanila yang ada di atas puding buah.
Chandresh menatap Soraya dengan heran. Baru kali itu, dia melihat seorang wanita makan dengan seenaknya dan tidak memperhatikan etika sopan santun di meja makan.
Tiba-tiba saja Soraya memegang dadanya dan ia bernapas dengan terengah-engah.
Chandresh langsung bangkit berdiri dan melangkah lebar ke depan untuk bisa segera memeluk Soraya. Chandresh memeluk Soraya dengan erat dan sambil menggoyangkan tubuh Soraya pelan-pelan, pria ganteng itu bertanya dengan wajah dan nada panik, "Kamu kenapa? Kamu punya asma?"
Soraya tersenyum dan berusaha berkata di sela-sela sesak napasnya, "Ada obat alergi di kotak obatku itu" Soraya menunjuk kotak obat yang terpasang di tembok. "Ada tulisan di botol obatnya"
Chandresh melepaskan pelukannya dan berlari cepat ke kotak obat dan mengambil botol obat yang ada tulisannya obat alergi. Chandresh berbalik badan dan berlari cepat untuk memberikan obat itu ke Soraya.
Setelah meminum obatnya, Soraya bisa bernapas lega kembali dan Chandresh langsung bertanya, "Kamu alergi apa?"
"Es krim" Sahut Soraya dengan santainya.
Chandresh meraup wajah gantengnya dengan kasar lalu berkacak pinggang untuk menyemburkan protes, "Kalau kamu tahu kamu alergi es krim, kenapa kamu makan es krim?"
"Aku pengen makan es krim" Sahut Soraya dengan santainya dan Chandresh langsung berkata, "Dasar gila!" Lalu Chandresh melangkah lebar meninggalkan Soraya yang masih duduk santai di meja makan.
Chandresh kembali ke resort dan langsung menuju ke kamarnya untuk berganti baju. Saat ia keluar dari dalam kamarnya, Erick telah bersedekap di depan pintu kamarnya Chandresh Erick langsung bertanya, "Kamu ke mana saja semalam? Aku ketuk pintu kamar kamu sampai ubanan nggak ada yang membukanya"
Erick langsung mengerem langkahnya dan tertegun.
Chandresh langsung mencekal lengan atasnya Erick dan menarik lengan itu untuk mengajak Erick tetap berjalan. Chandresh kembali celingukkan dan berkata lirih, "Jangan bilang ke siapa-siapa soal ini!"
Erick menoleh ke Chandresh yang masih menarik lengannya, dan bertanya lirih, "Kamu dan Soraya telah..........."
Chandresh melepaskan lengannya Erick dan sambil terus berjalan dia menyahut singkat, "Hmm"
"Gila!" Erick tanpa sadar berteriak kencang sambil menepuk keras bahunya Chandresh. Dia lalu menarik lengan atasnya Chandresh menuju ke tempat yang sepi. Erick langsung berkacak pinggang di depannya Chandresh dan mendelik, "Kau gila! Bukankah kau adalah seorang suami yang setia dan sangat mencintai istri kamu?"
"Aku masih sangat mencintai Lintang. Semalam adalah kecelakaan dan aku sudah berusaha untuk setia, tapi Soraya terus berkata kalau dia hanya ingin mengajakku bersenang-senang. Soraya berkata, kalau tidak ada cinta, maka akan aman-aman saja"
Sahut Chandresh.
"Oke. Aku nggak ikut campur soal percintaan kamu dengan Soraya. Tapi, aku kasih saran ke kamu, sudahi jika memang harus kau sudahi. Jangan diteruskan jika Lintang mencurigai kamu" Erick berucap dengan wajah serius.
"Iya, aku tahu. Aku rasa, aku nggak akan melakukannya lagi dengan Soraya. Cukup semalam saja" Sahut Chandresh.
"Yeeaahhh! Terserah kamu, Bro!" Sahut Erick sembari melangkah lebar meninggalkan Chandresh.
Chandresh sontak berlari kecil untuk mengejar Erick dan di saat ia berhasil mensejajari langkahnya Erick dia berucap, "Jangan bocorkan hal ini ke siapa pun, ya?! Aku mohon.
Erick menyahut, "Hmm" dan Chandresh langsung merangkul bahunya Erick sambil berucap, "Terima kasih banyak, Bro!"
Saat Lintang mengelap pigura kecil yang memamerkan foto mesranya dengan suami tercintanya, yang ada di atas meja belajarnya, tiba-tiba foto itu meluncur turun dari genggaman tangannya dan pecah. Lintang tertegun sejenak dan dia langsung menelepon ponselnya Chandresh.
Chandresh langsung memasang jari telunjuknya di atas mulutnya dan Erick bertanya, "Siapa yang nelpon?"
"Lintang" Sahut Chandresh.
"Cepat angkat! Malah bengong" Erick mengentikan langkahnya dan bersedekap di depan Chandresh.
Chandresh langsung mengangkat panggilan dari istri cantiknya, "Halo, ada apa Sayang?"
"Kamu tidak apa-apa, kan?" Tanya Lintang.
"Aku baik-baik saja. Memangnya kenapa?" Tanya Chandresh.
"Aku mengelap pigura foto kita berdua yang ada di atas meja belajarku dan tiba-tiba pigura itu meluncur turun dan pecah di atas lantai. Kata orang, itu pertanda buruk. Itulah kenapa aku langsung nelepon kamu" Ucap Lintang.
Chandresh langsung berkata, "Kamu nggak papa, kan, Sayang? Pecahannya nggak mengenai kamu?"
"Aku nggak papa dan kamu? Kamu beneran nggak papa?" Tanya Lintang.
"Aku baik-baik saja. Emm, maaf aku harus bekerja. Erick sudah menungguku" Chandresh mengarahkan layar ponselnya ke Erick dan Erick melambaikan tangannya dengan senyuman lebar di depan layar ponselnya Chandresh saat wajah Lintang ada di depannya.
Lalu Chandresh menatap kembali layar ponselnya dan berkata, "Aku tutup Video Call kita, ini, ya?" Klik. Chandresh mematikan panggilan Video Call itu setelah ia mendapatkan anggukan kepala dan senyumannya Lintang.
Erick yang masih bersedekap langsung berkata, "Insting Lintang ternyata kuat. Kamu harus berhati-hati"
"Hmm" Sahut Chandresh.