Missing You

Missing You
Bab 17



"Maaf Pak, tapi bisa lebih cepat sedikit?" Aku menahan sakit dan keringat dingin mulai membasahi wajahku. Melihatku semakin menderita, sopir taksi menambah kecepatan dan segera mengantarku ke rumah sakit. Sampai di rumah sakit, aku membuka pintu mobil dan berjalan membungkuk menuju ICU.


"Jin Ae!!" aku mendengar suara yang pernah kudengar. Tapi karena menahan sakit aku tidak menghiraukannya. Perawat yang melihatku segera membantuku tidur di ranjang pasien dan memanggil dokter.


Ponselku berbunyi tapi aku tidak bisa menemukannya. Ada orang lain yang menerima telpon pada ponselku. Tidak lama aku kehilangan kesadaran.


Aku terbangun dengan selang infus yang ada di tangan kiriku. Perutku sudah tidak terasa sakit lagi. "Jin Ae....Jin Ae..." Suara itu ternyata suara Ibu Tuan Chang. Aku ingin bangun dan menyapanya tapi tiba-tiba terasa sakit sekali di perut bawahku.


"Jangan bangun. Usus buntumu harus dioperasi" Oohh pantas saja rasanya sakit. "Ibu dan Ayahmu dalam perjalanan ke Seoul. Mereka akan sampai dalam 30 menit." aku mengangguk tanda mengerti.


Rasa sakit di perutku perlahan mereda. " Aku terkejut mendengar cerita Min Jung kalau kamu diserang Fans nya. Aku juga terkejut kalau kamu tidak lagi menjadi pembantunya." Nyonya Chang terus bicara tentang anaknya yang tidak ingin kudengar hari ini.


Aku hanya tersenyum dan pura-pura menahan sakit. Pintu kamar rawat terbuka perlahan, Ayah dan Ibuku akhirnya datang. "Jin Ae sayang, kau tidak apa-apa?" Ibuku memelukku dan aku merasa sangat lega.


Ayah melihatku dari ujung ranjang lalu melihat ke arah Nyonya Chang. "Saya ibu dari Min Jun. Chang Min Jun. Perkenalkan." sapa Nyonya Chang dan mengulurkan tangan pada Ayahku.


Ayahku membungkuk dan menerima uluran tangan Nyonya Chang. "Saya Ayah dan Ibu Jin Ae. Maaf, tapi Saya dengar Jin Ae sudah berhenti bekerja di rumah Min Jun." Aku melepas pelukan ibuku dan siap menjelaskan.


"Iya Ayah, aku sudah berhenti. Aku bertemu Nyonya Chang di depan rumah sakit tadi. Untung saja ada beliau yang menerima panggilan Ibu. Kalau tidak...." belum selesai aku bicara Nyonya Chang menambahkan.


"Sebulan yang lalu Saya sakit dan dirawat di rumah sakit di Anyang. Kebetulan hari ini Saya ke Seoul dan Min Jun menyarankan Saya memeriksakan diri disini."


Ayah terlihat puas dengan penjelasan Nyonya Chang. "Terima kasih sudah membantu anak kami hari ini."


Dokter datang berkunjung membuat suasana canggung antara kami berkurang. "Untung saja kau cepat datang ke rumah sakit. Kalau tidak pasti sangat berbahaya." kata-kata dokter membuat raut muka Ayah dan ibuku berubah menjadi lebih gelap.


Apakah aku masih bisa tinggal di Seoul setelah hari ini, aku tidak tahu. "Kalau begitu Saya pamit untuk pulang ke rumah Min Jun. Aku akan mengabarkan ke Min Jun kalau kau sakit Jin Ae."


Aku memegang tangan Nyonya Chang dengan erat. "Tidak perlu Nyonya. Saya sudah tidak apa-apa. Lagipula Saya sudah tidak bekerja disana. Mungkin akan merepotkan Pak Chang kalau mengetahui hal yang tidak penting." Dia tidak boleh tahu kalau aku masuk rumah sakit.


Ayah mendukung yang kukatakan. Lagipula Pak Chang adalah orang yang terkenal sedangkan aku bukan. Ayah memikirkan dari segi kesibukan yang dialami Pak Chang dan kuatir akan ada berita tentang anaknya yang tidak baik.


Nyonya Chang mengerti dan pulang. Aku menikmati kehangatan pelukan ibu yang sudah lama tidak kurasakan. Hari ini sungguh melelahkan. Aku pun tertidur karena merasa sangat tenang


Setelah tiga hari dirawat di rumah sakit aku sembuh dan sudah bisa makan apapun. Dokter menyarankan agar aku tidak meninggalkan waktu makan dan tidak stres. Aku pergi dari rumah sakit menaiki mobil Ayah dengan ibu yang terus mengomel tentang makanan.


Aku masih terkejut dan tidak bisa berkomentar apa-apa. Ayah dan ibu mengajakku ke lantai 3 dan memasuki salah satu kamar. Di dalamnya tidak seperti kamar. Ini lebih mirip rumah bagiku.


Ada 2 kamar didalamnya. Kamar mandi dan dapur yang lumayan luas. Ada ruang tv dan balkon untuk tempat mencuci.


"Apa yang Ayah lakukan pada kamarku?" aku menuntut penjelasan. "Kami tidak bisa meninggalkanmu di tempat yang seperti itu Jin Ae." Ibu mulai membela Ayah.


"Kenapa kau tinggal di tempat sejelek itu? Kau pikir Ayah dan Ibumu akan senang melihatmu sengsara di Seoul?" aku berusaha tenang dan menerima keadaan ini. Semua barangku juga sudah dipindahkan ke apartemen yang baru.


"Kakakmu yang mengusulkan ini. Kami sudah membicarakan ini sejak kamu pulang sebulan yang lalu. Kami tidak akan ikut campur dalam keinginanmu menjadi pegawai atau apapun itu. Tapi kami juga tidak ingin melihat anak sendiri menderita sampai harus menjadi pembantu." Ibu mulai menangis dan memelukku.


Perlahan aku mulai ikut menangis. Ayah melihatku dan ikut memelukku.


Dua tahun yang lalu dengan tekad yang bulat aku pergi dari rumah dan menuju Seoul tanpa bekal. Aku sudah bersyukur bisa menyewa tempat untukku tidur dan meletakkan barang-barangku. Tiap hari aku harus bekerja dan kuliah. Terkadang dengan 2 pekerjaan paruh waktu, uang yang kuterima hanya cukup untuk satu kali makan sehari.


Sekarang kuturunkan pundakku dan meletakkan kepalaku pada bahu Ayah dan ibuku. Mereka adalah orang tuaku. Perasaan kalau aku bisa bergantung pada seseorang membuatku sedih dan bahagia bersamaan.


Setelah mengangis, ibu menyuruhku tidur dan beristirahat. Aku bisa mendengar suara ibu yang memasak. Aku juga bisa mendengar suara Ayah sedang membetulkan beberapa gambar di dinding. Semuanya membuat aku lupa akan kesedihanku karena Pak Chang.


Ibu dan Ayah tinggal di Seoul selama satu minggu. Mereka mengantarku ke dokter untuk memeriksa keadaanku. Bekas operasi di perutku terlihat kecil dan hampir tak terlihat. Supaya aku bisa memakai bikini, kata dokter yang disambut kemarahan Ayah.


Aku mengajak Ayah dan Ibu ke berbelanja di salah satu pusat perbelanjaan besar di dekat apartemen. Aku ingin membelikan ayah topi dan sepatu kulit baru. Sedangkan untuk ibuku, aku akan membelikan baju hangat dan terusan cantik.


Aku masih memiliki uang banyak dari santunan Pak Chang. Selain ayah dan ibu, aku juga akan membelikan sesuatu untuk kakak, kakak ipar dan Ha Na.


Setelah berkeliling mall dan berbelanja, kami makan di salah satu restoran Itali. Aku tidak tahu kalau ada seseorang yang terus memperhatikanku sejak aku masuk restoran.


Aku, ayah dan ibu terus tertawa senang dan mengambil beberapa foto untuk dipamerkan kepada kakak dan kakak ipar.


Keesokan harinya, mereka pulang ke ChunCheon dengan mobil Ayah. "Jaga baik-baik dirimu yang ada di kota sebesar ini" Ayah memelukku. "Jangan lupa makan dan selalu istirahat kalau kau lelah" Ibu menangis dan memelukku. Aku ikut menangis membuat Ayah tertawa.


Setelah puas menangis mereka berangkat ke Chuncheon. Aku melihat kepergian mereka sampai mobil ayah tidak terlihat lagi.


Aku berbalik untuk kembali ke apartemen dan terkejut sampai hampir terjatuh.