
Bagian depan rumah yang sama seperti kuingat. Aku sering meninggalkan cucian kotor untuk diambil Laundry disitu. Masuk ke dalam rumah, kenangan tentang Pak Chang datang kembali di kepalaku. Dapur, sofa dan halaman belakang yang kukenal.
Hatiku merasa sakit sekali sekarang. Bibi itu menyuruhku duduk dan minum jus jeruk yang sudah disediakannya. Aku ingin menolaknya tapi merasa tidak enak dengan usahanya. Aku duduk di sofa depan tv dan mulai minum jus.
Di sofa ini aku pernah tidur bersama Pak Chang, dan aku menciumnya. Aku menghela nafas beberapa kali. Aku berdiri ingin mencari bibi itu untuk menyerahkan kunci tapi bibi itu menghilang.
Apa harus kutinggalkan di meja dapur? Ketika bingung tentang apa yang harus kulakukan, terdengar suara langkah kaki dari tangga. Pak Chang yang menggunakan kaus putih dan celana rumah berwarna putih turun dari kamarnya. Rambutnya berantakan tapi tidak bisa menyembunyikan wajah tampan di bawahnya.
Aku terdiam menahan nafas. Saat Pak Chang ada di depanku aku mulai bernafas lagi. "Selamat pagi Pak" aku membungkuk memberi hormat lalu berjalan mengambil bungkusan baju. Pak Chang melihatku dengan muka tidak senang.
Mungkin aku menganggu istirahatnya, atau di atas ada artis yang diberitakan itu sedang beristirahat dengannya. Aku menyodorkan bungkusan itu padanya. "Ini baju yang pernah Saya pinjam dan kunci rumah, Saya sudah memberi kabar pada Pak Park."
Pak Chang diam saja tidak menerima bungkusan itu. Aku menaruhnya di meja dapur karena tidak ada reaksi dari Pak Chang. "Kau kemari dengan memakai rok mini itu?" Suara yang sangat kurindukan. Agak serak karena baru bangun, tapi aku sangat mengenalnya. "Iya Pak." aku menatapnya tepat di mata.
Dia bukan atasanku lagi dan aku berhak melakukan apapun pada diriku sendiri. Aku memiliki tinggi 169 cm. Ketika memakai rok mini dan hak tinggi, paha dan kakiku terlihat lebih panjang dan cantik.
Pak Chang mencari sesuatu di kantung yang kubawa tadi. Dia mengeluarkan celana jeans yang pernah kupakai dulu. "Ganti dengan ini!" Aku terkejut. Kenapa orang ini aneh sekali. Aku memakai apapun adalah hakku.
"Saya pulang dulu kalau begitu Pak." Aku membungkuk memberi hormat dan mengambil tasku. Pak Chang tiba-tiba menarik tanganku dan menyeretku ke kamar tidur bawah. "Ganti dengan celana ini baru kau pulang." Dia menutup pintu kamar dengan keras meninggalkan aku di dalam kamar dalam keadaan bingung.
Aku bingung dengan keadaan ini. Kenapa aku masuk ke kamar dengan membawa celana yang ingin kukembalikan. Aku duduk di kasur untuk menenangkan diriku.
Sekitar 5 menit kemudian Pak Chang membuka pintu kamar dan melihatku dengan wajah kesal. "Kenapa kau belum menggantinya?" Aku mengernyit tidak percaya dengan apa yang dikatakannya.
"Saya ada disini untuk mengembalikan pakaian dan kunci rumah. Tentang pakaian yang Saya pakai, itu adalah hak Saya dan Anda tidak berhak mengunci Saya di kamar seperti ini." aku meninggalkan celana itu di atas kasur dan berjalan melewati Pak Chang.
Pak Chang memegang pinggangku dan melemparkanku ke atas kasur lalu menutup pintu kamar. Aku merasa kesakitan di sekitar punggungku. Sebelum aku bisa sadar dan bangun, Pak Chang menindihku di kasur. "Apa yang Anda lakukan?" aku berteriak.
"Kalau kau tidak mau menggantinya sendiri, aku yang akan menggantinya untukmu." Apa??? Dia pasti gila. Dia meraba pantatku mencari resleting. Aku berontak dan memukul-mukul dadanya. "Jangan" Aku menamparnya dengan keras. Gerakan Pak Chang terhenti.
"Apa Anda sudah gila?" Aku mendorong tubuh besar itu dari atasku tapi tetap tidak bergeming. Rok miniku tersingkap sedikit dan memperlihatkan sedikit celana dalamku. Aku berusaha menarik rokku ke bawah. Pak Chang menyadarinya dan lebih menekanku di bawahnya.
"Kau sengaja memakai rok ini untuk menggodaku, benar kan Jin Ae?" Aku merasakan nafasnya yang sangat dekat. Bau yang kukenal memenuhi penciumanku. "Tidak, Saya memakainya untuk menggoda pria lain". Aku mengalihkan pandanganku dari tatapannya. " Karena itu kau pulang malam sekali?" Aku terkejut.
Mata Pak Chang memerah menahan marah. Dia berusaha menciumku tapi aku menghindar. Pada akhirnya hanya leherku yang diciumnya. Tapi Dia menghisap leherku dan meninggalkan bekas ciuman disana. Aku tidak boleh terlena dengan ini.
Aku mendorongnya dengan mengerahkan tenagaku. Berhasil. Aku mulai bangun dan berdiri. Ketika ingin membuka pintu kamar, Pak Chang menangkapku lagi dan menekanku di pintu. "Aku tidak suka kau memakai rok seperti ini, cepat ganti atau aku akan melepasnya untukmu."
Aku ingat kalau aku masih memakai sepatu. Aku menginjak kaki Pak Chang dengan sepatuku. Dia kesakitan dan melepasku. Aku membuka pintu kamar dan berlari keluar.
Ketika keluar aku bertabrakan dengan Pak Park di ruang tv dan terjatuh. "Jin Ae???" Aku bangun dibantu oleh Pak Park. Pak Chang keluar dari kamar dengan memegang kakinya yang sakit.
"Hwan Li tangkap Jin Ae." Dia terlihat menyedihkan berjalan sambil tertatih. Aku dipersilahkan duduk oleh Pak Park agar tenang. "Apa yang kaulakukan Pada Jin Ae?" Pak Park mendekat pada Pak Chang.
Pak Chang berdiri tegak. "Coba lihat roknya, dia berkeliling kesana kemari memakai pakaian yang tidak pantas" Aku merasa kesal tapi menahan diri karena ada Pak Park.
Pak Park melihatku dari atas ke bawah. "Baru kali ini aku lihat kau berdandan Jin Ae. Berapa tinggimu? Apa kau tertarik dengan dunia hiburan?" Aku melihat Pak Park dan tidak mempercayai apa yang kudengar. "TIDAK" aku dan Pak Chang bersamaan menjawab.
"Dia tidak boleh berada di dunia yang sama denganku. Apa yang nanti akan dilakukan? Memakai baju lebih pendek dari itu? HAH" Aku sudah berusaha menahan emosiku. Tapi aku tidak bisa lagi.
"Sebaiknya Saya pulang Pak" Aku membungkuk pada Pak Park dan berbalik pergi. Pak Chang berlari menangkap tanganku. "Mau kemana kau dengan rok mini itu?" Pak Chang tetap menahanku. Tenagaku sudah habis untuk melawannya di kamar tadi. Aku melemaskan tanganku dan berdiri menghadap ke arahnya.
"Pulang, Saya hanya ingin pulang." Pak Chang mulai melepas tangannya. "Tunggu aku disini, aku akan mengantarmu pulang!". Aku melihat Pak Park yang tidak bisa bicara apa-apa.
Pak Chang turun memakai hodie, celana jeans dan sneakers. Pak Park menariknya lagi ke kamar. Aku melihat Pak Chang berontak dipelukan Pak Park. Mereka seperti anak kecil yang bertengkar.
Sekitar 5 menit Pak Chang turun menggunakan kemeja putih dan celana biru tua. Dia juga memakai sepatu kulit tanpa kaos kaki. Ternyata Pak Park memaksanya berganti pakaian.
Dia memegang tanganku dan mengajakku keluar rumah. Ini adalah terakhir kalinya aku pergi ke rumah ini. Aku berjalan lebih cepat menyamai langkah Pak Chang. Sampai diluar rumah Dia melepas tanganku dan pergi ke garasi mobil.
Aku melihat semuanya seperti memutar kembali kenanganku saat bekerja disini. Aku menghela nafas berat. Pak Chang membuka pintu mobil dan memasangkan sabuk pengaman untukku.
Selamat tinggal rumah Itaewon. Aku melihatnya untuk terakhir kali di spion mobil.