Missing You

Missing You
Bab 21



Masuk apartemen aku pergi ke kamar mandi dan memuntahkan semua makananku. Setelah itu badanku terasa lemah tidak bertenaga. Kakak membiarkan aku tidur dan memberikanku teh hangat. Ayah dan Ibu terkejut dengan keadaanku yang berubah sejak pulang dari restoran.


Aku memilih tidur dan berusaha tidak memikirkan apapun lagi. Ketika bangun pagi, kepalaku terasa sangat sakit. "Apa kau tidak apa-apa?" kakak duduk di kasurku. Aku mengangguk lemah. "Tidur saja, aku harus pulang hari ini ke Chuncheon"


Aku lupa kalau kakak dan Ha Na akan pulang hari ini. Aku berniat bangun dan mengantar mereka ke stasiun tapi kakak melarangku karena wajahku sangat pucat. Ayah bisa mengantar kakak.


Ayah dan ibu akan menyusul pulang dalam tiga hari. Sebelum pulang Ibuku ingin membuat kimchi. Katanya ingin memberikan kimchi pada temanku.


Selesai sarapan Ayah mengantar kakak ke stasiun. Aku mengirim pesan pada A Ri kalau aku sakit hari ini dan tidak bisa pergi ke toko. "Apa kau ingin makan sesuatu?" ibu memegang kepalaku, memastikan aku tidak demam. Aku hanya menggeleng pelan.


Aku pergi tidur lagi setelah mengirim pesan. Kenapa sakitnya tidak cepat hilang. Apa yang harus kulakukan. Terpaksa aku meminum obat dan kembali tidur.


Seharusnya aku tidak meminum obat tidur itu. Karena itu aku tidak tahu kalau Pak Chang dan ibunya datang ke apartemen. Aku masih tertidur dengan nyenyak karena pengaruh obat. Dokter membolehkan aku minum obat tidur hanya kalau aku merasa sakit perut atau sakit kepala yang parah. Katanya itu karena aku terlalu stres.


Untuk membuat kimchi, ibu berencana pergi ke pasar dengan Ayah. Nyonya Chang merasa senang dan ingin mengikuti mereka ke pasar. Sedangkan Pak Chang tidak ikut pergi karena takut membuat keributan di pasar. Ayah dan ibu meninggalkan Pak Chang di rumah dengan putri mereka yang sedang tidur di kamar.


Di dalam mimpi sakit kepala ini masih menyiksaku. Tiba tiba punggungku merasa hangat dan hatiku menjadi tenang. Sakit kepala itu datang lagi, tapi pijatan di kepalaku membantu sakitnya hilang perlahan. Kupikir ibu yang memijat kepalaku.


Badan ibuku selalu berbau makanan, tapi kali ini lain. Baunya sama seperti parfum yang kusimpan selama dua tahun. Apa ayah menggunakan parfum yang kusimpan di lemari itu? perlahan aku bangun karena penasaran.


Aku bangun dan dihadapkan pada dada bidang yang tertutup kaus putih. Perutnya rata tidak seperti perut ayah yang semakin menonjol sekarang. Perlahan aku melihat wajahnya.


Pak Chang menatap mataku dengan lembut. Wajahnya terlihat sangat tampan dan sempurna. Dia menunduk dan mencium bibirku. Aku merasa seperti bermimpi. Mungkin karena terlalu memikirkan kejadian kemarin malam, sekarang aku bermimpi dia ada di ranjangku dan menciumku.


Aku membiarkannya menciumku. Sesekali aku membalas ciumannya dan berubah menjadi ciuman yang dalam. Ciumannya terasa hangat dan lembut. Ketika menatapku dia tersenyum dan berbisik "ini bukan mimpi Jin Ae"


Aku memeluknya dan menciumnya lagi. Kalau ini bukan mimpi itu artinya sekarang dia benar-benar di ranjangku? tidak mungkin. Dia mulai mencium leherku dan menggigit telingaku. Sakit. Kenapa sakit saat aku bermimpi?


Aku membuka mataku dengan lebar. Aku masih di ranjang dan di kamarku. Ada orang yang menindihku dan terus mencium leher dan tulang selangkaku. Aku mengelus kepalanya dan merasakan rambut yang lembut. Kepalaku tiba tiba merasa sakit lagi. Berarti ini bukan mimpi.


Aku mendorong dadanya dan melihat Pak Chang benar-benar ada di atasku. Aku berteriak dan bangun dari ranjang. "Kau sudah bangun dari mimpimu?" aku merasa tidak percaya dengan kejadian ini.


"Aku lebih suka saat kau berfikir bahwa ini mimpi. Kemarilah." orang ini sudah gila. Aku berlari ke kamar mandi dan membasuh mukaku. Seharusnya aku tidak meminum obat itu.


"Apakah Jin Ae sudah bangun?" ibuku bertanya. "Iya. Sekarang ada di kamar mandi" Pak Chang menjawab dengan santai. Aku keluar kamar mandi dan masuk ke kamar. Aku harus memakai sesuatu untuk menutup leherku. Kuputuskan memakai sweater turtle neck berwarna biru muda dan rok selutut berwarna putih.


Ketika aku keluar kamar, Pak Chang melihatku sambil tersenyum. Aku sangat ingin membunuhnya hari ini. Aku memberi hormat pada Nyonya Chang. " Jin Ae kau cantik sekali hari ini. Tapi kudengar kepalamu sakit?" Ibu menyuruhku duduk tepat di depan Pak Chang. "Sekarang sudah baikan" jawabanku membuat Pak Chang tersenyum semakin lebar.


"Kenapa Nyonya Chang dan Pak Chang ada disini?" aku ingin mengusirnya sekarang juga. "Ibu memberitahu Nyonya Chang kalau kau sakit, lalu beliau datang ingin menengokmu" aku tersenyum pahit. Bagaimana bisa ibu memiliki nomor Nyonya Chang.


"Jin Ae, buatkan Min Jun minum" Ayah menyuruhku berdiri. Terpaksa aku pergi ke dapur dan menuangkan teh dingin untuknya.


Ibu mengeluarkan belanjaannya di ruang tengah. Hari ini ibu benar benar akan membuat kimchi di rumahku. Aku menghela nafas dan mulai membereskan bantal dan kursi di ruang tengah. Pak Chang dan Ayah bertugas mengangkat sofa dan televisi ke ruangan lain.


Sawi putih yang sudah diasinkan mulai dibersihkan. Aku bertugas mengiris lobak dan daun bawang. Nyonya Chang menyiapkan bubur tepung. Ayah dan Pak Chang mengobrol dengan santai sambil minum sikhye. Apakah sekarang Pak Chang bisa minum minuman keras?


Kami membuat kimchi dan berbicara tentang kejadian sehari hari. Ayah dan ibu menceritakan panen buah peach terakhir yang sukses. Para wisatawan datang terus menerus membuat ayah dan ibu tidak dapat beristirahat selama satu bulan.


Nyonya Chang menceritakan acara reuni yang harus dia hadiri di pulau Jeju. Beliau merasa tidak perlu datang dan meminta pengurus reuni mengubah tempat ke Chuncheon. Ayah merasa bangga karena tempatnya akan semakin terkenal.


Pak Chang bercerita tentang perceraiannya. Hal itu membuat kami semua terdiam dan merasa tidak nyaman. Nyonya Chang menambahkan bahwa dia merasa sedih dan terpukul mendengarnya. Nyonya Chang pasti sangat menyukai menantunya.


Aku juga secara tidak sengaja mengetahui kabar perceraian itu. Beritanya bertahan selama satu minggu dan banyak menyita perhatian. Pak Chang melihatku dan kembali menceritakan detail perceraiannya.


Mereka menikah selama empat bulan sebelum memutuskan untuk bercerai. Kami tidak berani menanyakan penyebabnya. Pak Chang terus melihat reaksiku saat bercerita tentang perceraiannya.


Masalah itu tidak ada hubungannya denganku. Aku juga malas menonton tv karena pekerjaan yang banyak. Sakit kepalaku muncul kembali. Kali ini bersamaan dengan sakit perut. Aku masuk kamar mandi dan kembali muntah.


Pak Chang mulai terlihat khawatir melihatku. Dia mengusulkan untuk memesan makanan karena belum melihatku makan dari pagi.


"Kau harus pergi ke dokter Jin Ae" ibu memelukku dan memeriksa tubuhku. Aku merasa lemah dan ingin muntah lagi. Nyonya Chang mendatangiku dengan semangkuk bubur. "Makanlah ini dulu. Aku tidak melihatmu makan dari pagi"


Aku tersenyum dan mengambil mangkuk bubur yang diberikan. Ibu membantuku masuk ke dalam kamar dan aku mulai makan. Ada bau kenari di dalamnya. Nyonya Chang sering memakai kenari dalam masakannya. Itu yang ku tahu saat aku bekerja di rumah Pak Chang.


Aku meminta maaf pada ibu dan Nyonya Chang karena tidak bisa membantu pembuatan kimchi. Nyonya Chang mengelus rambutku dan menyuruhku untuk tidur.