
Pagi ini melihat kepergian Ayah dan Ibu membuatku sedih. Setelah lebih dari dua tahun aku kabur dan menolak keputusan Ayah. Saat ini hubungan kami sudah kembali seperti dulu. Ibu juga senang dengan keadaan ini. Aku tidak perlu menunda kuliahku lagi.
Ketika mereka menemaniku di rumah sakit dan di apartemen aku kembali menjadi anak kecil yang selalu bisa bermanja kepada orang tuaku. Hidup yang terlalu mandiri terkadang membuatku tertekan karena tidak ada tempat untuk bergantung.
Lebih baik aku masuk kembali ke apartemen. Di luar masih dingin walaupun sudah masuk bulan Mei. Saat aku berbalik ingin pulang, tidak kusangka sudah berdiri pria yang tinggi dibelakangku. Karena terkejut aku hampir terjatuh ke belakang. Untungnya ada tangan kuat yang memelukku dan aku tidak jadi terjatuh.
Kupikir dia tidak akan pernah tahu kalau aku pindah rumah. Aku juga tidak memberitahu siapapun. Bagaimana dia tahu aku ada disini. Ini baru jam sepuluh pagi. Aku melihat sekeliling dan ada beberapa orang yang melihat kami. Mereka berbisik atau berhenti berjalan karena ragu.
Saat ini Pak Chang hanya memakai topi untuk menutupi wajahnya. Dia tidak memakai masker dan kaca mata yang bisa membantunya menyamarkan wajahnya. Kalau kami terus berada di kerumunan, maka banyak orang yang akan mengenali Pak Chang hanya dari postur tubuhnya.
Apa harus kuusir dia dari sini atau harus kubawa dia ke apartemenku. Semakin lama aku berpikir, semakin banyak orang yang melihat kami. Aku menarik lengan Pak Chang dan membawanya masuk ke dalam apartemenku.
Gedung apartemenku berada di tempat yang dilalui banyak orang karena dekat dengan stasiun kereta bawah tanah. Posisinya menghadap timur membuat matahari pagi masuk ke dalam kamar. Gedungnya hanya terdiri dari 4 lantai dan delapan kamar. Tiap kamar sudah ada penghuninya.
Kamarku berada di lantai kedua. Tidak ada lift untuk naik ke atas. Aku menarik tangan Pak Chang dan menaiki tangga untuk sampai ke kamarku
Saat masuk ke kamar, Pak Chang melihat kamarku. Ibuku meninggalkan beberapa pakaian kering berserakan di kursi. Aku dengan segera membereskan dan meletakkannya di kamar. "Ini rumah barumu?" Aku mengangguk dan pergi ke dapur.
"Ayah menyewa apartemen ini untuk dua tahun" Setelah dua tahun ayah berharap kuliahku selesai dan aku bisa pindah ke tempat yang lebih baik. Tentu saja setelah aku mendapatkan pekerjaan yang kuinginkan.
Karena sibuk menyiapkan teh, aku tidak melihat Pak Chang yang mendekatiku di dapur. Dia meletakkan kepalanya di pundakku. "Aku dengar kau harus operasi di rumah sakit" Dia meletakkan salah satu tangannya di perut kananku. Sepertinya dia tahu aku operasi usus buntu.
Tangannya membuat perutku merasa geli. Wajahku memerah karena malu. Aku menyingkirkan tangannya dari perutku dan berbalik menghadapnya. "Iya. Waktu itu bersyukur sekali bertemu Nyonya Chang" Pasti ibunya memberitahu segalanya. Padahal aku sudah meminta beliau untuk tidak menceritakannya.
Sebenarnya Nyonya Chang sangat membantuku saat di rumah sakit. Beliau mengisi formulir dan menghubungi keluargaku. Kalau tidak ada Beliau aku pasti tidak ditangani secepat itu. Tapi aku lupa mengucapkan terima kasih. Yang terlintas di kepalaku saat itu adalah jangan sampai Pak Chang tahu.
Pak Chang mengurungku di dapur. Dia tidak berniat untuk mundur. "Kau tahu aku mencarimu setelah tahu berita itu dari ibukku?" aku menunduk. Tentu saja aku tahu. Ponselku terus berbunyi dan pesanku terus bertambah dari nomormu. Tapi aku tidak pernah menjawab baik telepon atau pesanmu selama dua minggu ini.
"Saya sibuk. Sakit di rumah sakit lalu pindahan rumah. Orang tua Saya juga ada disini" aku memang sangat sibuk dua minggu ini karena pindah rumah. Padahal barangku tidak banyak karena aku jarang membeli sesuatu.
Aku menghindari tubuhnya sambil membawa teh dingin. Aku meletakkannya di meja. Aku belum punya sofa di apartemen. Hanya meja yang bisa dipakai untuk tempat makanan di ruang tengah dan televisi. Ada beberapa bantal besar yang bisa dipakai untuk bersantai menonton televisi.
Aku duduk menunggu jawaban Pak Chang akan pertanyaanku. Tiba tiba dia merebahkan badannya dan memakai pahaku sebagai bantal. "Aku ijin untuk mencarimu" . Aku menghela nafas kecewa. Kalau memang Pak Chang menunda syuting karena aku, pasti Pak Park marah besar.
Aku terdiam karena tidak tahu harus bicara apa. Pak Park sudah membenciku karena berada di dekat Pak Chang, tapi sekarang dia membatalkan syuting untuk mencariku. "Sebaiknya Pak Chang kembali ke Busan dan melanjutkan syuting karena...." belum selesai aku bicara, Pak Chang menarik kepalaku ke bawah dan menciumku.
Setelah ciuman singkat itu, Aku menegakkan kepalaku dan bergeser menghindarinya. Kepalanya hampir terjatuh di lantai karena aku menggeser kakiku, tapi dia bisa menghindarinya. Pak Chang duduk dan sadar bahwa aku menghindarinya.
"Kau dengar apa yang Hwan Li katakan di rumahku?" aku berdiri dan semakin menjauhinya. "iya" jawabku singkat. "Jadi kau menghindariku karena itu?"
"Saya sudah berlaku egois mengharapkan Pak Chang menjadi seseorang yang berarti untuk Saya. Waktu itu Saya belum mengerti tentang dunia yang Pak Chang jalani. Tapi sekarang Saya sudah tahu dan mengerti." kami terdiam di tempat masing masing.
"Pak Chang artis terkenal yang disukai banyak orang. Saya tidak ingin merusak pekerjaan yang sudah dipertahankan hingga saat ini" aku pergi ke dapur untuk menahan air mataku.
"Bagaimana kalau aku menyukaimu dan tidak ingin kau pergi?" aku berbalik dan menatapnya. "Itu tidak boleh terjadi. Pak Chang harus memilih wanita yang berkelas dan dewasa. Dan wanita itu sebaiknya artis atau pengusaha. Tidak boleh memilih wanita muda yang bekerja sebagai pembantu seperti Saya."
Kelihatannya dia marah. Matanya berubah menjadi mengerikan. Dia mendekatiku dengan cepat dan aku tidak bisa lari. "Kau juga ingin mengaturku seperti Hwan Li. Kupikir kau beda dengan wanita yang lain!" aku terdiam dan terkejut dengan nada bicaranya.
Pak Chang menendang salah satu bantal ke tembok lalu berteriak keras. Sebenarnya aku tahu betapa tertekannya hidup Pak Chang. Sedari remaja dia harus menjaga citra dan perusahaan yang mendukungnya.
Saat dirumahnya aku melihat banyak kenangan tentang senior di grup vokal yang meninggalkannya. Terkadang dia melihat foto saat debut dan terdiam. Dia juga tidak minum alkohol dan merokok. Setiap ada rumor yang berat, satu satunya orang yang khawatir tentang dirinya hanyalah Nyonya Chang. Pak Park dan perusahaannya hanya khawatir tentang citra perusahaan.
Aku mendatangi dan memeluknya dari belakang. "Sebenarnya Saya menyukai Pak Chang. Tapi apa yang harus Saya lakukan kalau itu bisa membuat pekerjaan Pak Chang terpengaruh?"
Dia berbalik dan menatapku "Tidak bisakah kau bertahan dengan ucapan ucapan buruk dan tetap bersamaku?"
Melihat wajahnya membuat hatiku sakit. Ingin sekali aku bertahan disisinya. Tapi akibat apa yang akan dia terima membuat aku berpikir ribuan kali.