Missing You

Missing You
Malu



Asisten pribadinya Dokter Andi Rajendra masih melongo saat ia bangkit berdiri. Asisten pribadinya Dokter Andi Rajendra yang bernama Johny itu, lalu menyemburkan protes, "Pak Chan, kenapa Anda mendorong saya sampai saya terjatuh dan........."


"Lin, duduk di sofa dulu, ya! Kakak masih ada kerjaan, tapi dikit lagi selesai, kok" Chandresh berucap sembari menggamit pinggang ramping istri kecilnya itu dan Lintang terus mengulas senyum bahagia.


"Sial! Gue dicuekin" Gumam Johny sembari melangkah untuk kembali duduk di depan meja kerjanya Chandresh.


Chandesh memilihkan tempat duduk untuk Lintang yang menghadap ke meja kerjanya sehingga Chandresh, bisa melanjutkan pekerjaannya sembari mengangkat wajahnya sesekali untuk mencuri pandang.


Lintang tersenyum malu-malu setiap kali Chandresh mencuri pandang. Dan di dalam hatinya Lintang mulai bertanya-tanya, Kak Chandresh sudah menyatu denganku semalam, tapi kenapa belum mengatakan suka atau cinta ke aku, ya? Apa penyatuan ragaku dengan Kak Chandresh semalam, adalah suatu kesalahan?


Johny yang sebenarnya menaruh harapan kalau suatu saat nanti, Dokter Andi akan menjodohkan dirinya dengan Lintang karena, dia dan Lintang tumbuh bersama sedari kecil, pupus sudah saat ia melihat pandangan matanya Chandresh dan Lintang Karena terbakar kecemburuan, Johny langsung menegur Chandresh, "Pak Chandresh, jangan lihat ke depan terus! Kita dikejar waktu"


Chandresh menurunkan pandangnya untuk menatap Johny dan berkata, "Saya juga ingin cepat kelar. Saya kasihan sama Istri saya kalau dia menunggu lama"


"Kalau begitu, jangan lihat ke depan melulu. Fokus ke berkas-berkas di depan Anda biar cepat selesai dan saya tidak kemalaman menghadap Dokter Andi" sahut Johny dengan wajah kesal.


Chandesh mendengus kesal dan sembari menundukkan kembali wajahnya untuk menatap berkas di depannya, dia bergumam, "iya, baik"


Chandesh menatap berkas di depannya, namun bayangannya ke sosok Lintang. Lintang tampak lebih dewasa dengan kemeja wanita yang biasa disebut bluss, berkerah V, berwarna putih dengan bordiran bunga mawar berwarna merah darah di dada sebelah kanan, berlengan panjang yang digulung sampai siku dan kemeja itu dipadukan dengan rok jins berwarna biru dengan panjang di atas lutut. Dia sangat cantik dan tampak dewasa hari ini. Dia ternyata pandai juga memadupadankan baju dan dengan rambut dikucir kuda bebas lepas seperti itu, dia menjadi semakin tampak dewasa, menarik, dan elegan.Ah, beruntungnya aku memiliki istri yang muda, cantik, dan berkelas.


"Anda melamun, ya, Pak Chandresh?" Johny menegur Chandresh saat ia melihat Chandesh senyum-senyum nggak jelas di depan berkas.


Chandesh sontak mengangkat wajahnya dan berkata, "Nggak. Siapa yang melamun?"


"Kalau nggak melamun, lalu kenapa Anda senyum-senyum nggak jelas barusan?" Johny menautkan alisnya di depan Chandrsh.


Chandesh kembali menundukkan wajahnya untuk menatap berkas sembari berucap, "Saya nggak senyum. Anda salah lihat pasti"


Johny hanya bisa menghela napas panjang dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


Lintang yang tengah asyik mengobrol dengan Mira lewat pesan text, tidak memperhatikan Johny dan Chandresh.


Saat Chandresh mulai fokus kembali ke berkas-berkas, Johny menoleh ke belakang untuk melihat Lintang dan dia bergumam di dalam hatinya, Non Lintang tampak beda hari ini. Dia cantik banget dan tampak dewasa hari ini.


Chandesh tersenyum lebar saat berkas terakhir di mejanya telah ia tandatangani dan saat ia mengangkat wajahnya, dia menemuka. Johny tengah menoleh ke belakang menatap Lintang. Chandresh langsung berdeham kencang.


Johnya sontak memutar kepalanya dan menatap Chandesh dengan tanya, "Anda bikin saya karet, Pak. Ada apa berdeham? Sudah selesai? Atau ada yang ingin Anda tanyakan?"


"Sudah selesai" Chandresh lalu bangkit berdiri dan sambil menenteng tas kerjanya, ia berkata, "Lain kali jangan menatap Istri saya seperti yang Anda lakukan barusan!"


"Ah, baik, Pak" wajah Johny memerah malu.


"Lin, Kakak udah selesai" Chandrsh menghampiri Lintang dan saat Lintang bangkit berdiri, Chandresh langsung memegang bahu Lintang untuk mencium keningnya Lintang.


Johny yang terbakar cemburu, langsung membawa tumpukan. map berwarna hitam keluar dari dalam ruang kerjanya Chandresh tanpa pamit.


Lintang menepuk bahunya Chandresh dengan pelan dan berkata dengan wajah memerah malu, "Kak, kok main cium aja, sih. Ini kantor"


Chandresh langsung merangkul Lintang dan sambil mengajak Lintang melangkah keluar dari dalam ruang kerjanya, ia berkata, "Kenapa? Mencium Istri sendiri, kan, nggak papa"


Lintang menunduk malu sambil mengulas senyum bahagia.


Chandesh dan Lintang masuk ke dalam lift khusus untuk jajaran direktur ke atas. Chandesh lalu mengedarkan pandangannya ke atas dan dia mengumpat kesal saat ia menemukan ada.kamera CCTV di sana padahal dia ingin mencium Lintang begitu masuk ke dalam lift.


Chandrsh menunduk dan berkata, "Nggak kok. Kakak cuma pegal aja, jadi menggerakkan kepala Kakak untuk mengurangi pegal" Chandesh lalu mengelus bahunya Lintang.


"Oh. Nanti malam Lintang pijit deh kalau pegal" Sahut Lintang.


"Bener?" Cahndreah menatap Lintang dengan wajah semringah.


"Bener dong. Salah satu tugas Istri, kan, kalau suami capek, harus mikirin suami" Sahut Lintang.


"Siapa yang ngajarin aku soal itu?"


"Mamanya Kak Chandresh" sahut Litbang


"Wah, Mamaku emang pinter" Gumam Chandesh dengan senyum semringah.


Lintang hanya tersenyum karena, dia belum mengerti maksud dari ucapannya Chandresh.


"Masih sakit?" Tanya Chandresh saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Nggak. Cuma rasanya masih aneh" Sahut Lintang.


"Nanti biar Kakak tengok, ya" Sahut Chandrsh.


"Kenapa ditengok? Lintang malu" Lintang langsung menundukkan wajahnya dengan tersipu malu dan saat mendengar kata malu, Chandesh langsung mengumpat kesal di dalam hatinya di saat ia tidak bisa lagi mengendalikan.desakan hatinya untuk mencium Litbang saat itu juga.


Cahndreah langsung menangkup pipinya Lintang untuk memagut bibirnya Lintang. Lintang tersentak kaget, namun ciuman dadakan nan lembut dari suaminya, membuatnya terbuai tak berdaya hanya di dalam hitungan detik.


Chandrsh lalu menyusupkan wajahnya di lehernya Lintang dan berkata di sana, "Kamu cantik banget hari ini, Lin. Bikin Kakak nggak bisa mengendalikan diri untuk tidak menciumi kamu"


Lintang hanya bisa melenguh dan terus memejamkan kedua matanya. Lintang tidak berdaya untuk berkata-kata di saat telapak tangannya Chandresh bergerak di balik kemejanya Lintang, meraba, mengelus, meremas dengan liarnya, di saat bibir Chandresh masih asyik menciumi lehernya Lintang.


Chandesh lalu berpindah duduk di kursinya Lintang dan dia memangku Lintang. Chandesh menatap Lintang, lalu ia melepas kucir rambutnya Lintang dengan pelan, membuka satu per satu kancing blusnya Lintang dan tersenyum dengan debaran jantung yang tidak karuan di saat ia melihat Lintang membiarkan dia melakukan semua itu.


Chandresh lalu menarik tengkuknya Lintang dan mencium kembali bibirnya Lintang dengan lebih dalam dan luar.


Lintang menarik bibirnya dan dengan napas terengah-engah dia bertanya, "Kak, ini di area parkir. Kalau ada orang lihat gimana? Aku malu, Kak"


Chandesh langsung tersadar dari kegilaannya. Dia tidak ingin Lintang yang masih polos, melakukan hal itu di dalam mobil di area parkir. Chandresh langsung mencium keningnya Lintang untuk meredakan gairahnya dan segera mengancingkan kembali semua kancing blusnya Lintang, mengucir Kembali rambutnya Lintang, lalu ia kembali ke jok kemudi sembari berucap, "Maafkan Kakak. Kakak lupa diri. Habisnya ,kamu cantik banget hari ini"


Lintah memakai sabuk pengaman dengan terus menunduk malu. Wajahnya terasa panas karena, malu dan gairah yang masih tersisa.


Chandresh langsung melajukan mobilnya dan bertanya, "Kita makan dulu di luar apa langsung pulang?"


"Langsung pulang aja" Sahut Lintang.


"Kamu ingin melanjutkan yang tadi?" Tanya Chandresh dengan senyum jahilnya.


Lintang langsung menepuk bahunya Chandresh dan berucap dengan wajah memerah karena, malu, "Bukan begitu. Bi Ijah udah masak. Sayang kalau nggak dimakan"


Chandesh langsung menggemakan tawanya sembari mengusap mesra pucuk kepalanya Lintang


Shinta kembali hidup di kost-kostan kecil yang ada kamar tanpa ada kamar mandi di dalam. Dia kembali merasakan mandi dengan mengantre di luar. Shinta mengumpat kesal sembari mengantre, "Sial! Aku salah memilih pria. Aku kira Mas Wiku selamanya akan mencintaiku dan tidak pernah menjadi kere, tapi kenyataannya, Mas Wiku meninggalkan aku dengan hidup yang tidak tenang. Aku selalu dikejar-kejar para penagih hutang dan sekarang aku harus hidup kere lagi kayak gini" Shinta bergumam sembari menatap surat kabar untuk mencari lowongan pekerjaan. Di salah satu halaman koran itu, di kolom yang cukup besar di pojok berita, dia menemukan ada lowongan menjadi cleaning service di sebuah perusahaan besar. "Aku akan mencoba melamar pekerjaan ini. Jadi, cleaning service dulu nggak papa. Siapa tahu, aku yang masih muda, menarik dan cantik ini, bisa menggaet salah satu bos besar di perusahaan itu"