Missing You

Missing You
Cantik



Lintang menarik diri dari dalam pelukannya Chandresh lalu menatap Chandresh dan dengan wajah polosnya, ia kemudian bertanya, "Ke......kenapa dada Kakak berdebar-debar?"


Chandresh menautkan alisnya lalu ia tersenyum lebar sebelum berkata, "Karena Kakak senang. Kakak senang kaki Kakak udah pulih lagi dan Kakak bisa berjalan lagi. Makasih ya, kamu udah merawat Kakak selama ini sampai kaki Kakak pulih"


Lintang menghela napas panjang untuk melepas kekecewaannya. Kemudian, gadis remaja yang cantik itu, memutar badan untuk berlalu dari hadapannya Chandresh.


Chandresh menoleh ke dokter yang masih menuliskan resep untuknya, "Dok, apa masih lama? Istri saya meninggalkan saya dan saya perlu mengejarnya, Dok"


Pak dokter itu tersenyum dan sambil memberikan resep ke Chandresh ia berkata, "Nih resepnya dan cepetan susul Istri kamu!"


Chandresh bangkit berdiri dan mengucapkan terima kasih sambil memutar badan untuk berlari mengejar Lintang.


Chandresh menghela napa lega saat ia menemukan Lintang duduk anteng di jok belakang mobil sedan berwarna kuning cerah. Chandresh kemudian masuk ke dalam dan langsung menyemburkan protes saat Marni mulai melajukan mobil itu, "Kenapa kau tinggalkan Kakak begitu saja?"


Lintang memilih menatap jendela mobil dan memunggungi Chandresh ketimbang menjawab pertanyannya Chandresh.


"Kamu masih marah sama Kakak?"


Lintang diam membisu dan mengabaikan Chandresh.


"Nilai ujian kamu bagus semuanya dan Kakak rasa kamu akan menempati peringkat pertama di kelas MIPA X. Kakak akan kasih hadiah buat kamu. Kamu pengen apa?"


Lintang masih diam membisu dan masih memunggungi Chandresh.


"Kok diam? Katanya kalau marah nggak lama. Kalau udah ya udah. Ini kok udah seminggu, kamu masih marah dan masih mengabaikan Kakak?"


Lintang hanya mengangkat kedua bahunya tanpa memutar badan dan tanpa menoleh ke belakang.


Chandresh menghela panas panjang lalu berkata, "Oke. Baiklah. Kakak akan menunggu kamu mau ngomong lagi sama Kakak. Kakak nggak akan maksa kamu lagi dan nggak akan tanya-tanya lagi"


Saat mereka sudah sampai di rumah, Lintang langsung melompat turun dari dalam mobil lalu berlari kencang untuk segera masuk ke dalam kamarnya. Chandresh menatap Lintang dengan wajah sedih dan bergumam, "Sampai kapan dia akan mendiamkan aku dan mengabaikan aku?" Chandresh lalu melangkah masuk ke dalam rumah dengan langkah gontai dan saat ia masuk ke dalam kamarnya, ia langsung membanting tubuhnya di atas kasur dengan wajah sedih.


Lintang menelepon Mira untuk bertanya soal menarik perhatian cowok setelah ia mengunci pintu kamarnya, "Mir, kamu masih suka baca buku novel romantis, kan?"


"Masih dong. Kenapa? Kamu mau pinjam?" tanya Mira.


"Nggak. Aku nggak suka baca novel. Aku cuma mau nanya, kalau di novel-novel romantis yang pernah kamu baca, ada nggak cara menarik perhatian cowok?"


"Ada banyak" Sahut Mira.


"Apa aja?" Tanya Lintang dengan nada penuh antusias.


"Kalau pengen menarik perhatian seorang cowok, kamu harus kasih dia kejutan" sahut Mira.


"Kejutan? Contohnya apa?"


"Kasih pelukan kejutan, ciuman kejutan, atau kasih kejutan dengan barang yang ia suka"


"Oh, gitu ya? Oke, aku tahu. Makasih Mir" Dan dari banyaknya kata yang Mira ucapkan, yang berhasil mengendap di pikirannya Lintang hanya kata ciuman kejutan. Lintang ingin mencoba ciuman itu dan dia mulai memikirkan cara membuat ciuman kejutan sambil rebahan di atas kasurnya.


Lintang keluar dari dalam kamarnya di sore hari. Dia menatap waktu di Mango pink yang melingkar manis di pergelangan tangannya sembari berjalan ke halaman depan.


Setelan celana training bow Taekwondo yang terbuat dari kain Japan Drill melekat manis di tubuh rampingnya.


"Mau ke mana?" Suara menggemanya Chandresh menghentikan langkahnya Lintang.


Lintang menjawab pertanyannya Chandresh dengan memunggungi Chandresh, "Aku mau pergi ke mana, bisa dilihat dari setelan yang aku pakai saat ini, kan?"


Chandresh berdiri di sebelahnya Lintang dan berkata, "Mau latihan Taekwondo, ya? Sejak kapan kamu latihan Taekwondo?"


Lintang hanya mengangkat kedua bahunya.


"Aku boleh ikut?"


Lintang hanya menggelengkan kepalanya tanpa bersuara.


Dan di saat Chandresh ingin berkata lagi, sebuah mobil sport mewah memasuki halaman rumahnya Lintang.


Chandresh mengalihkan pandangannya ke mobil sport itu sembari menautkan alisnya, "Siapa yang datang?"


Andi Javesh keluar dari dalam mobil sembari menenteng sebuah papaer bag mini dan tersenyum ramah ke Lintang. Putra tinggal konglomerat muda pemilik yayasan pendidikan Bina Kasih dan beberapa kafe itu, langsung menyodorkan paper bag mini ke Lintang tanpa menyadari adanya Chandresh di sebelahnya Lintang.


Chandresh menarik rahang bawahnya lebar-lebar.


Lintang bertanya, "Apa ini?"


"Jam tangan merk favorit kamu. Kamu udah punya pink. Ini aku kasih yang warna putih" Sahut Andi dengan wajah semringah sembari melirik pergelangan tangan kirinya Lintang.


Chandresh semakin menarik rahangnya ke bawah dan Lintang kembali bertanya ke Andi Javesh, "Untuk apa kamu kasih aku jam tangan semahal ini?"


"Nilai ujian kamu sempurna. Aku kan janji mau kasih kami hadiah kalau nilai ujian kamu sempurna" Sahut Andi Javesh sembari mengusap pucuk kepalanya Lintang.


Chandresh segera menutup mulutnya untuk menyemburkan protes, "Kenapa Anda datang ke sini seenaknya tanpa permisi? Dan kenapa Anda bisa tahu rumahnya Lintang? Anda menguntit Lintang selama ini, ya?"


Saat Chandresh hendak membuka mulut mengatakan kalau dia adalah suaminya Lintang, Lintang langsung menarik lengannya Andi Javesh sambil berkata, "Kita berangkat sekarang aja!"


Chandresh kembali ternganga dan saat ia tersadar dari rasa kesalnya, mobilnya Andi Javesh telah meninggalkan halaman depan rumahnya


Chandresh langsung berlari ke garasi dan masuk ke dalam mobil untuk menyusul mobil sportnya Andi Javesh.


"Kenapa Pak Chandresh bisa ada di rumah kamu dan memakai baju santai?" Tanya Andi Javesh sambil melajukan pelan mobil sportnya.


Lintang ingin mengatakan ke Ando Javesh bahwa Chandresh adalah suaminya, namun kecerdasannya melarangnya untuk mengatakan kenyataan itu. Lintang tidak ingin Chandresh mendapatkan masalah di sekolah jika putra dari pemilik yayasan pendidikan Bina Kasih mengetahui Chandresh menikahi muridnya yang masih di bawah umur.


"Kok diam?" Andi menoleh sekilas ke Lintang.


"Kak Chandresh adalah Kakak sepupuku. Kami memiliki nenek moyang yang sama" Sahut Lintang.


"Oh, begitu rupanya. Nenek moyang yang sama itu artinya........"


"Seorang pelaut. Ada lagunya, kan, nenek moyangku seorang pelaut, hehehehehe"


Andi melirik Lintang dan hanya mengulas senyum tipis di wajah tampannya.


"Krik, krik, ya, nggak lucu?" Lintang menoleh ke Andi dan Andi terkekeh geli lalu berucap, "Iya, krik, krik, banget"


Lintang menepuk bahunya Andi dengan tawa renyahnya.


Hati Andi membuncah senang saat Lintang menepuk bahunya.


Chandresh mengumpat kesal saat sebuah sepeda motor melintas ngawur dan hampir saja ia tabrak. Chandresh mengerem mobil dan terkejut saat ia tahu siapa pengendara sepeda motor itu.


Beberapa menit kemudian, Chandresh dan pengendara sepeda motor yang hampir saja Chandresh tabrak, diusik berhadapan di sebuah kafe.


"Kau masih saja tampan, Bro"


"Kau juga masih keren, Ric" Sahut Chandresh.


"Kenapa kau ngebut? Hampir aja kau tabrak aku tadi"


"Kamu yang ngawur. Aku ngebut karena kau ingin mengejar cowok yang membawa pergi Istriku" Sahut Chandresh.


"Hah?! Istri? Kau sudah menikah" Eric ternganga.


"Iya. Aku sudah menikah. Baru dua Minggu ini aku menikah" Sahut Chandresh.


"Dan Istri kamu udah dibawa kabur orang?"


"Oh, jangan salah paham. Istriku pergi latihan Taekwondo dan dia pergi dengan temannya. Aku berniat menyusulnya dan malah ketemu sama kamu dan malah ngobrol sama kamu di sini"


"Sepertinya kamu sangat peduli sama Istri kamu, ya?"


"Aku mulai merasa kalau dia penting baru beberapa hari ini. Aku merasa kalau aku ternyata nggak bisa mengabaikan dia, ya, baru beberapa hari ini" Sahut Chandresh.


"Kau mencintainya, ya? Aku lihat begitu di mata kamu"


"Entahlah. Tapi yang pasti, aku akan setia di dalam pernikahanku. Aku nggak akan pernah selingkuh. Aku hanya akan menikah satu kali saja dan aku akan selalu menjadi suami yang setia" Sahut Chandresh.


"Berapa umur Istri kamu?"


"Masih enam belas tahun. Tujuh belas tahun bulan depan" sahut Chandresh.


"Gila! Kau beruntung banget Bro bisa mendapatkan Istri semuda itu. Apa aku boleh main ke rumah kamu? Aku ingin bertemu dan berkenalan dengan Istri kamu?"


"Boleh. Ayo kita ke rumahku" Sahut Chandresh sambil bangkit berdiri.


Eric sabar menunggu istrinya Chandresh pulang sembari mengobrol di ruang tamu.


Tepat di jam enam tujuh malam, Lintang sampai di rumah. Dia melambaikan tangannya ke Andi Javesh lalu melangkah ke ruang tamu.


Chandresh langsung mengenalkan Lintang ke Eric dan secara spontan Eric berkata, "Wah, Istri kamu cantik banget, Bro"


Lintang menarik tangannya dari genggaman tangan Eric dan berkata, "Maaf aku capek. Mau masuk dan mandi"


Eric mengikuti arah perginya Lintang dan Chandresh langsung menepuk bahunya Eric dengan kata, "Jangan kelamaan menatap Istriku!"


Eric tersentak kaget dan sambil duduk kembali ia berkata, "Maaf, Bro. Tapi, Istri kamu benar-benar cantik. Kamu beruntung banget, Bro"


Chandresh tersenyum bangga dan berucap, "Ah, biasa aja. Jangan lebay!"


"Pasti malam pertama kamu dan Istri kamu hot banget. Secara ia masih sangat muda dan cantik banget. Pasti nggak pernah kamu anggurin begitu, aja, kan, Bro?"


Chandresh berdeham, wajahnya langsung memerah dan dia segera berkata, "Rahasia"