Missing You

Missing You
Ciuman Pertama



Chandresh terus mencium bibirnya Lintang sampai bayang hidungnya Shinta lenyap dari pandangannya. Chandresh langsung melepaskan ciumannya dan menatap Lintang yang tengah melotot di depannya.


Chandresh langsung berucap, "Maaf, aku memanfaatkan kamu untuk mengusir Shinta. Semoga untuk selamanya, Shinta nggak balik lagi menemuiku dan ........."


Plak! Lintang dengan keras menampar pipinya Chandresh dan ia bergegas bangkit berdiri dari pangkuannya Chandresh. Setelah mendelik ke Chandresh beberapa detik lamanya tanpa bersuara, Lintang berlari kencang meninggalkan Chandresh


Chandresh terkejut dengan reaksinya Lintang. ia bergegas memakai alat penyangganya dan berusaha berjalan cepat untuk mengejar Lintang


Lintang berpapasan dengan Marni dan ia terus berlari tanpa menyapa Marni. Marni langsung berteriak, "Non! Non mau ke mana?" Marni kebingungan, dia menoleh ke kiri dan di saat ia melihat Chandresh, ia berteriak, "Pak, saya kejar Non Lintang dulu, ya?!"


"Iya. Kejar dia!" Chandresh berteriak sambil menganggukkan kepala dan meneruskan langkahnya sampai ia berhasil bersandar di mobilnya Lintang.


Lintang menghentikan laju larinya di sebuah halte dan saat ia menunduk untuk memegang kedua lututnya dan membuang lelahnya, sebuah mobil sport berhenti di depannya. Kaca mobil turun dan seorang pemuda melongok dari dalam, "Lintang Rajendra! Kita berjumpa lagi"


"Non!" teriak Marni dari arah timurnya Lintang.


Lintang menegakkan badannya dan setelah melihat ke arah Marni, dia memilih masuk ke dalam mobil sport itu, memasang sabuk pengaman dengan cepat sambil berkata, "Cepat jalankan mobilnya!"


Marni terlambat. Dia berhenti di halte bus itu saat mobil sport yang membawa Lintang, melaju kencang meninggalkan halte bus. Marni kembali ke kafe es krim dengan berlari lebih cepat. Sesampainya ia di pelataran parkir kafe es krim, Marni segera memerintahkan Chandresh untuk masuk ke dalam mobil.


Chandresh bergegas masuk ke dalam mobil di jok belakang dan Marni langsung melajukan mobil tanpa sempat berkata apapun.


"Lho, mana Lintang?" Chandresh menautkan kedua alisnya.


"Non Lintang masuk ke sebuah mobil sport tadi dan saya terlambat mencegahnya, Pak. Ini saya bermaksud mengejarnya. Semoga masih keburu"


"Hah?! Lintang masuk ke mobil sportnya siapa?" Chandresh bicara dengan nada panik.


"Saya nggak tahu, Pak. Saya belum pernah melihat mobil sport itu main ke rumahnya Non Lintang, tapi saya udah hapal pelat nomer mobil itu" Sahut Marni.


Sial! Semua karena aku. Jangan sampai Lintang kenapa-kenapa, ya, Tuhan. Batin Chandresh dengan wajah panik.


Dan akhirnya, Marni memilih mengantarkan Chandresh pulang ke rumah dan menunggu Lintang di rumah karena, sampai dua jam lebih, mereka tidak menemukan keberadaan mobil sport yang membawa Lintang pergi, berkeliaran di jalan raya.


Lintang duduk di teras depan rumah mewahnya Andi Javesh. Andi tersenyum senang dan bertanya, "Kau dari tadi melamun dan selalu menggelengkan kepala waktu aku menawari kamu minum. Sekarang, kau menoleh ke aku setelah satu jam lebih kau mengabaikan aku. Apa kau haus sekarang ini?"


Lintang menganggukkan kepala.


"Oke, mau minum apa?" tanya Andi Javesh.


"Air mineral dingin dengan gelas jumbo, boleh?"


Andi Javesh tersenyum lebar dan sambil bangkit berdiri dia berkata, "Tentu saja boleh"


Andi meninggalkan Lintah selama beberapa detik untuk mengambilkan minuman pesanannya Lintang.


Setelah Lintang menghabiskan segelas jumbo air mineral dingin, Andi bertanya, "Ada apa sebenarnya? Kenapa kau ada di halte bus dan terengah-engah seperti habis berlari. Apa kau mau bercerita kepadaku?"


"Apa kamu pernah mencium seorang cewek?" Tanya Lintang.


"Jadi, kau........"


"Bukan be.......begitu. Anu, itu, emm, aku cuma pengen tahu aja apa arti dari sebuah ciuman" Sahut Lintang sambil membuang muka untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya.


Andi terkekeh geli lalu berkata, "Aku mencium seorang gadis di waktu aku masih berumur tujuh belas tahun. Itu ciuman pertamaku dengan pacar pertamaku dan........."


Lintang langsung menoleh ke Andi dan menyemburkan tanya, "Dan itu tandanya, kalian akan bersama selama-lamanya?"


"Hahahaha. Belum tentu juga. Buktinya, ciuman pertamaku tidak membuatku bersatu dengan gadis itu" Sahut Andi Javesh.


"Jadi, begitu" Lintang langsung menunduk dan bersandar di bangku taman.


"Kenapa kok kamu terus lemas kayak gitu?" Tanya Andi Javesh.


"Hahahahaha. Apa yang barusan kamu lihat, sih? Kenapa kok pikiran kamu dipenuhi soal ciuman?" Andi menautkan alisnya di depan Lintang.


"Aku sering melihatnya di drama Korea yang aku lihat. Dan aku........emm, penasaran aja" Sahut Lintang.


"Oke. Aku jawab dari apa yang pernah aku rasakan, ya. Emm, di ciuman pertama, aku merasakan dadaku berdebar-debar, hatiku berdesir, tubuhku bergetar tanpa aku perintah dan bibirku terasa manis. Itu semua aku rasakan karena aku menyukai orang yang aku cium" Sahut Andi Javesh.


"Oh begitu" Sahut Lintang.


Lintang kemudian mengingat kembali saat-saat di mana Chandresh menciumnya. Dia tidak mendengar debaran jantungnya Chandresh, dia juga tidak merasakan tubuh Chandresh bergetar dan dia hanya merasakan daging bertemu daging. Tidak ada rasa manis di sana.


"Ada apa? Kenapa kau bengong?" tanya Andi Javesh.


Lintang memainkan bibirnya ke kanan, ke kiri, memonyongkan, menggigit bibir bawahnya, lalu bertanya, "Apakah beda rasanya, emm, dicium, mencium, dan sama-sama mencium?"


"Hahahaha. Kalau dari pengalamanku, dicium, mencium, atau kita saling mencium, beda rasanya. Biasanya debaran jantung dan rasa manis akan kita rasakan kalau kita sama-sama mencium dan ada rasa cinta di sana atau paling nggak, rasa saling tertarik satu sama lain"


Lintang manggut-manggut, lalu berkata, "Antarkan aku pulang!"


Andi tersenyum lebar lalu bangkit dan berkata, "Ayo!"


Andi tersenyum senang akhirnya dia bisa mengetahui tempat tinggalnya Lintang. Lintang melambaikan tangannya ke Andi Javesh sambil mengucapkan terima kasih, lalu ia berputar badan, membuka gerbang utama rumahnya dan berlari melintasi halaman yang cukup luas untuk sampai ke pintu utama.


Lintang membuka pintu dan Chandresh sontak berdiri di depan sofa ruang tamu dengan melotot.


Lintang mematung di depannya Chandresh.


"Dari mana saja kau?"


Lintang masih bergeming dan membisu.


"Sayup-sayup aku dengar ada suara mobil sport tadi. Kamu masuk ke mobil sportnya siapa?"


Lintang mengangkat bahunya dan berlari kecil meninggalkan Chandresh begitu saja dan ia masuk ke dalam kamarnya, mengunci pintu kamarnya dan dia langsung berlari ke kamar mandi untuk segera berendam air hangat.


Chandresh mengikuti arah perginya Lintang dengan bergumam, "Sial! Dia marah lagi sama aku. Lagian kenapa aku menciumnya tadi? Tapi, kenapa aku tidak merasa bersalah? Apa karena Lintang Istri sahku?"


Chandresh mengetuk pintu kamarnya Lintang saat ia tidak melihat Lintang di meja makan.


Lintang membuka pintu kamarnya dan menatap Chandresh tanpa kata.


"Kau tidak lapar? Ayo makan! Bi Inah masak ayam bakar. Enak banget lho baunya" Chandresh tersenyum ke Lintang.


Lintang menggelengkan kepalanya dan saat Lintang hendak menutup pintu kamarnya, Chandresh langsung menahan daun pintu itu dengan kata, "Jangan marah! Aku minta maaf soal ciuman tadi. Aku tidak akan mengulanginya lagi"


Lintang menatap Chandresh lalu berkata, "Itu ciuman pertama bagiku, Kak. Dan kamu merusak angan indahku soal ciuman pertama. Kamu jahat!"


"Oke. Aku jahat. Aku memang bodoh dan jahat. Aku minta maaf jangan marah lagi, ya?"


Lintang mendorong pelan tubuhnya Chandresh dan langsung menutup pintu kamarnya lalu dengan cepat ia menguncinya.


Tok, tok, tok, "Lin, makan dulu! Kamu akan sakit kalau nggak makan. Besok kamu masih ujian, lho" Teriak Chandresh dan Lintang tidak merespons.


Satu Minggu berlalu sejak Lintang merasakan ciuman pertamanya dan Lintang masih menghindari Chandresh. Bahkan Lintang, selalu makan di kamarnya.


Sepulang sekolah Chandresh menoleh ke Lintang, "Kakak akan ke rumah sakit buka gips. Kamu mau menemani Kakak?"


Lintang menganggukkan kepala tanpa menoleh ke Chandresh.


Lintang menemani Chandresh melepas gips dan saat Chandresh mencoba melangkahkan kakinya dan ia bisa melangkah kembali dengan normal, Pria botak yang sudah tumbuh rambut itu, memekik senang dan secara refleks ia merengkuh tubuh Lintang ke dalam pelukannya.


Di saat itu, untuk pertama kalinya, Lintang merasakan debaran jantungnya Chandresh dan Lintang langsung mematung di dalam dekapannya Chandresh.