
Kami sampai di Seoul sebelum makan siang. Seperti biasa aku masuk dari pintu belakang, sedangkan Pak Chang lewat pintu depan. Aku meletakkan jaket dan tas di kursi dapur. Memakai apron dan mulai memasak.
Daging berbumbu yang belum sempat dimasak, hari ini akan kusajikan di meja makan. Aku menambahkan selada dan kimchi lobak pedas. Tidak lupa aku memasak nasi. Sarapan sandwich membuat perutku lapar siang ini.
Pak Chang melihatku sibuk memasak dan pergi ke ruang kerja. Tinggal menunggu daging matang. "Min Jung" ada suara Pak Park dari pintu depan. Aku menyapanya dengan membungkuk. "Dimana Min Jung?" "Pak Chang ada di ruang kerja".
Pak Park melihat ke dapur sebentar. " Aku juga mau makan disini" "Baik Pak". Aku menyiapkan dua mangkuk nasi dan menatanya di meja makan. Sebaiknya aku makan di dapur agar tidak mengganggu.
Daging sudah matang. Aku menatanya di meja makan. Pak Chang keluar dari ruang kerja diikuti Pak Park. Dia melihat meja makan dan tersenyum padaku. Dia mengambil mangkuk Pak Park dan meletakkannya di kursi sebelahnya. "Wah, aku tidak percaya ini. Ternyata kau ingin dekat denganku" Pak Park duduk tepat di sebelah Pak Chang.
Aku tersenyum dan kembali ke dapur. "Jin Ae coba lepas apronmu" aku agak bingung dengan permintaan Pak Park. Tapi tetap kulakukan. Gaun hijau ini masih terlihat cantik. "Coba lihat kalian. Ada berita online yang mengatakan kalau kalian berkencan di Anyang memakai baju sepasang kekasih."
Aku melihat baju Pak Chang lalu melihat gaunku. Ternyata celananya punya warna yang sama dengan gaunku. "Memang kenapa kalau kami memakai baju couple?" Pak Chang berdiri menuju dapur. Dia mengambil mangkuk nasiku dan meletakkan di kursi sebelah kanannya.
"Kau pasti sudah gila. Pasti kau yang membelikan gaun itu untuk Jin Ae" wajahku memanas. Apa benar dia sengaja memakai celana itu agar terlihat seperti couple? Dia memegang tanganku dan menyuruhku duduk di meja makan. "Kalau kau tidak mau makan, cepat pergi!"
Kami makan bersama dan sesekali Pak Chang meletakkan daging di mangkukku. Setelah makan aku membereskan alat makan dan membuat minuman dingin untuk mereka yang masih terus berdebat. Bahan debatnya adalah celana hijau.
"Kau beli dimana celana hijau itu?" Telinga Pak Chang memerah. "Kau sudah tahu kalau ini tidak boleh. Baru saja kita membereskan masalah di Jepang. Sekarang kau membuat masalah lagi." "Silahkan Pak" aku memotong pembicaraan mereka di saat yang tepat. Sepertinya Pak Chang sudah siap meledak.
Aku meletakkan jus jeruk dengan tambahan es krim vanilla di atas meja tv. Tempat keduanya berdebat lagi. Aku merasa tidak nyaman berada di dekat mereka. Pergi ke halaman belakang sepertinya pilihan yang bagus.
Matahari ada di atas kepala. Tapi karena banyak pohon besar yang menaungi sofa, maka duduk diluar bukan keputusan yang buruk. Aku duduk sambil bermain ponsel. Aku juga melihat berita di internet. Untung saja wajahku tidak ditampilkan. Kami dipotret ketika berjalan bergandengan tangan menuju mobil Pak Chang.
Foto-foto ini jelas menunjukkan bahwa baju kami senada, terlihat seperti pasangan. Aku tidak percaya Pak Chang membuatku merona.
Aku melihatnya berdiri di pintu yang menghubungkan dapur dan halaman belakang. Walau memakai celana dengan warna daun, Dia terlihat tetap tampan. Aku tertawa melihatnya.
Dia mendekatiku. " Kenapa kau tertawa?" "Celana itu cocok untuk anda, Pak". Dia ikut tertawa denganku.
Pak Park melihat dari kejauhan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Pak Chang mengantar Pak Park ke pintu depan. "Dia 10 tahun lebih muda darimu. Dia masih mahasiswi dan dia hanya pembantumu. Kau harus sadar itu bisa membuat rumor yang lebih parah dari kasus Jepang" peringatan Pak Park semakin terdengar keras. "Pulanglah kalau kau terus bicara" Pak Chang pergi ke lantai atas tanpa mempedulikan Pak Park.
Pak Park pergi dengan terus menerus menggelengkan kepalanya.
Matahari perlahan bergeser ke barat. Pak Chang kembali ke halaman belakang. "Apa yang kau lakukan?" dia bertanya dengan dua tangannya berada di saku celana. "Tidak ada Pak, saya akan masuk dan mulai bersih-bersih rumah"
Aku berdiri dan berjalan ke arah dapur. Dia mengikuti kemana saja aku pergi. "Bekerja dengan gaun sepertinya tidak nyaman". Benar sekali. Baju ini terlalu bagus sampai aku takut bergerak.
"Saya lupa baju saya Pak. Masih di Anyang" kenapa aku bisa lupa membawanya pulang. "Aku akan menghubungi Bibi Li dan menyuruhnya mengirim ke Seoul" untunglah kalau begitu.
Aku memulai pekerjaanku di lantai dasar. Pak Chang akhirnya meninggalkanku ke ruang kerja. Aku membungkus baju kotor dan membawanya ke pintu depan, menunggu laundry mengambilnya.
Pak Chang tiba-tiba keluar dari ruang kerja dan melewatiku. " Aku pergi sebentar. Jangan khawatir, tidak akan lama" Memangnya kapan aku khawatir kalau dia pergi keluar. Terdengar bunyi mobil keluar garasi.
Aku sendirian di rumah ini. Aku mulai membersihkan lantai atas. Karena memakai baju bagus aku tidak bebas bergerak. Akhirnya selesai sudah pekerjaanku. Laundry juga sudah mengambil baju kotor.
Apa yang harus kumasak untuk makan malam hari ini. Aku membuka kulkas dan melihat bahan-bahan. Yang ada hanya sayur dan buah-buahan. Aku harus cepat pergi belanja.
Aku berjalan cepat agar bisa sampai rumah dengan cepat. Tiiin tiin. Tergengar suara klakson mobil di belakangku. Aku melihat mobil Pak Chang.
Hari ini jalanan ramai. Mungkin karena sudah masuk waktu pulang kerja. Ada juga anak sekolah yang baru saja pulang. Keberadaan mobil mewah itu di depan swalayan pasti menarik perhatian. Aku mendekat ke arah jendela.Pak Chang membuka jendela dan membuka pintu mobil.
Hari ini dia tidak memakai masker. Wajahnya yang tampan terlihat dari luar mobil. "Ayo masuk" . Takut menarik perhatian, aku masuk mobil dengan cepat. Kami pulang ke rumah.
Aku keluar mobil dan masuk ke rumah lewat pintu belakang. Pak Chang mengambil sesuatu di kursi penumpang lalu masuk ke dalam rumah.
Aku menata bahan makanan dan mulai membersihkan ikan. Pak Chang mendekatiku dengan tas belanja besar. Dia berdiri di belakangku. "Aaah" aku berteriak terkejut karena tidak mengira dia ada di belakangku. "Anda perlu sesuatu Pak?"
Dia mendekatiku "Kalau kita berdua saja, jangan panggil Pak, terlalu formal!" Aku tersenyum dan mengangguk. Dia masih menatapku dan tidak membiarkanku melihat ikan. "Saya harus membalik ikan itu Pak" Akhirnya dia membiarkanku membalik ikan.
"Ini beberapa baju ganti, kau terlihat tidak nyaman bekerja dengan baju itu" Jadi dia keluar membelikan aku baju. "Tidak perlu Pak" wajahnya terlihat kesal.
Aku membuka tas besar itu. Ada banyak baju didalamnya. "Aku lebih memilih kau memakai baju yang merah, aku ganti baju dulu di atas" . Aku bisa melihat sedikit keringat tercetak di punggungnya. Selesai memanggang ikan aku pergi ke kamar mandi bawah dengan tas besar itu. Ternyata baju merah yang dimaksud Pak Chang adalah lingerie. Aku tidak bisa percaya dengan seleranya.
Aku memilih baju putih dan celana jeans yang secara mengejutkan pas di badanku. Aku keluar kamar mandi dan Pak Chang duduk di meja makan. Pak Chang memakai kaos putih dan celana jeans. Baju kami terlihat seragam lagi. "Kenapa tidak pakai yang merah?" aku tersenyum pahit. Orang ini sudah tidak waras.
Kami makan berdua sambil sesekali mengobrol. Dia menanyakan asal dan orang tuaku. Aku hanya menjawab bahwa mereka berada di Chuncheon. "Kalau boleh tahu apakah masalah di Jepang parah sekali Pak? Nyonya Chang sampai pingsan" Pak Chang terdiam sambil memasukkan potongan apel ke mulutnya.
"Seperti berita yang beredar. Hampir semua yang diberitakan benar terjadi" Wah, jadi berita dia jadi gigo** itu benar terjadi. "Apakah Anda benar-benar tidak memakai baju saat difoto?" Mungkin aku sudah keterlaluan menanyakan ini. Dia tertawa dan menatapku
"Iya, seperti itu. Tapi aku tidak melakukan seperti yang diberitakan. Aku hanya menggendong wanita itu saat aku tidak pakai baju". Aku mulai merasa heran. Bagaimana bisa dia merasa nyaman memamerkan badannya dan menggendong bibi-bibi. "Kamu cemburu?" aku terkejut dengan pertanyaannya.
Apa yang harus kukatakan di saat seperti ini. "Apakah melakukan pekerjaan seperti ini membuat Anda senang?" Pak Chang menatapku serius.
"Aku mengalami ketenaran saat aku berumur 16 tahun. Saat itu ada para hyung yang menjagaku. Tapi begitu mereka pergi dan tidak kembali, aku merasa harus berjuang sendiri. Walaupun aku tidak suka dengan pekerjaannya tapi asalkan itu membuatku tetap di dunia ini, maka akan kulakukan" Aku melihat matanya agak bergetar mengenang masa lalunya.
"Keluar dari wamil hanya Hwan Li dan perusahaanku yang menyambutku pulang. Jadi untuk semua itu. Aku akan melakukan yang harus kulakukan sampai aku tidak bisa berakting atau bernyanyi lagi"
Pasti berat sekali menjadi seorang artis. Walau dibayar dengan kemewahan yang membuatnya terlihat baik-baik saja di luar tapi begitu pulang ke rumah. Dia sendirian.
"Apa kau ingin melihat apakah orang di foto itu benar-benar aku atau tidak?" Aku berpikir. Bagaimana caranya?
Tiba-tiba Pak Chang membuka bajunya dan menghadapkan punggung telanjangnya padaku. Aku terkejut dan mundur beberapa langkah. "Pak sebaiknya Anda memakai baju Anda lagi!".
Pak Chang berbalik menghadapku. "Kupikir kau mau memastikan sesuatu, atau kau mau kugendong sama seperti foto itu?"
Aku perlahan semakin mundur dan menjauh dari Pak Chang. "Saya percaya Pak, kalau Anda tidak melakukan seperti yang diberitakan" Wajah Pak Chang terlihat kecewa.
"Kalau untukmu aku mau melakukannya Jin Ae" Dadaku terasa sangat panas sekarang. Wajahku pasti memerah. "Anda harus menghentikannya, kalau tidak Saya akan....."
Pak Chang semakin mendekat. "Akan apa Jin Ae?" . "Saya akan kabur.." Aku memasang pose berlari. Pak Chang akhirnya tertawa dan memakai bajunya lagi. "Kau sebaiknya cepat pulang sebelum aku mengunci semua pintu agar kamu tidak kabur"
Matanya mengatakan kalau dia akan benar-benar melakukannya. Aku mengambil tas dan jaket lalu lari keluar rumah, meninggalkan Pak Chang yang tertawa keras.