Missing You

Missing You
Sup Ayam



Chandresh mengetuk pintu kamar yang dipilih oleh Lintang. Lintang keluar dari dalam kamar dan bertanya, "Ada apa, Kak?"


"Papa mau pulang"


Lintang berlari keluar dari dalam kamarnya dan langsung mencium punggung tangan papanya, kemudian berkata, "Ati-ati di jalan, Pa"


Papanya Lintang mengusap penuh kasih sayang pucuk kepalanya Lintang sambil berkata, "Walaupun Papa tahu, kamu masih berumur enam belas tahun, tapi kamu saat ini sudah jadi Istri orang. Kamu harus belajar mandiri dan bertanggung jawab atas semua tugas dan kewajiban kamu sebagai seorang Istri!"


Lintang mendongakkan wajahnya lalu tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya.


Dokter Andi tersenyum lalu ia mengusap pipi Lintang dan berucap, "Ada Bi Inah yang akan membantu kamu memasak dan membereskan rumah. Ada Mang Ujang yang mengurus halaman belakang dan halaman depan, terus ada Marni supir cewek yang akan mengawal kamu ke mana pun kamu pergi kalau pas suami kamu sibuk dan nggak bisa mengantar kamu. Papa sediakan dua mobil di garasi, dua sepeda motor dan baju ganti kalian juga buku-buku kalian juga udah dibawa semua ke sini. Mamanya Chandresh yang menyiapkannya tadi"


"Terima kasih, Pa" Sahut Lintang dan Chandresh secara bersamaan.


Dokter Andi melarang Chandresh dan Lintang mengantarnya sampai ke depan.


Chandresh langsung berkata ke Lintang saat ia melihat punggungnya Dokter Andi telah menghilang dari hadapannya, "Ada baiknya juga kita pindah ke sini. Kita nggak perlu tidur di kamar yang sama. Ada banyak kamar di sini"


Lintang memutar badannya dan menatap Chandresh dengan wajah bingung.


"Kamu udah pilih kamar, kan? Itu kamar kamu dan aku akan tidur di kamar ini" Chandresh menoleh ke pintu yang ada di belakangnya dan ia langsung berputar badan, melangkah meninggalkan Lintang begitu saja.


Lintang langsung menarik kopernya Chandresh yang masih berada di ruang tamu dan bergegas mengikuti langkahnya Chandresh dengan berteriak, "Kak! Koper Kakak masih di luar"


Chandresh terus melangkah ke depan dan berkata, "Tolong kamu bantu Kakak bawa masuk kopernya ke kamar, ya?!"


"Oke" Lintang lalu masuk ke kamar yang menjadi pilihannya Chandresh dan setelah meletakkan kopernya Chandresh di depan lemari baju, Lintang menatap Chandresh.


Chandresh langsung merebahkan tubuhnya di ranjang dan berkata, "Keluarlah! Kakak pengen istirahat.


Lintang tersenyum lalu berkata, "Kalau Kakak butuh bantuan, panggil aja Lintang" Lintang kembali tersenyum dan melangkah keluar dari dalam kamarnya Chandresh dan langsung menuju ke kamarnya dengan langkah ringan dan ceria, yang menjadi ciri khas langkah seorang gadis remaja berumur belasan tahun.


Saat Lintang tengah asyik membaca pelajaran Bahasa Inggris, sayup-sayup ia mendengar namanya dipanggil dan suara yang memanggil namanya adalah suaranya Chandresh.


Lintang langsung bangkit berdiri dan berlari ke kamarnya Chandresh dengan wajah panik dan bergumam, "Semoga nggak Chandresh nggak kenapa-kenapa" Lintang langsung mengetuk pintu kamar yang dipilih oleh Chandresh. Pintu kamar itu sedikit terbuka dan saat Lintang tidak mendapat sahutan dari dalam, Lintang langsung mendorong pintu itu dan berteriak, "Kak! Kakak dimana? Kakak kenapa?"


Chandresh tersenyum lega saat ia mendengar suaranya Lintang dan secara spontan ia berteriak, "Tolong ambilkan handuk dan celana kolorku di lemari! Aku lupa bawa ke kamar mandi! Aku di kamar mandi, Lin!"


"Ce...lana.....kolor?" Lintang langsung memerah wajahnya saat ia mengucapkan celana kolor dan dengan cepat ia menepuk pelipisnya sambil berkata, "Ih! Apa yang ada di pikiran kamu, sih, Lin! Dasar Piktor, Lo!" Lintang kembali menepuk pelipisnya dan langsung membuka kopernya Chandresh yang masih belum dibongkar dan dengan cepat ia mengambil handuk dan menarik begitu saja celana kolornya Chandresh yang menyembul tanpa memilah-milah.


Lintang lalu melangkah ke kamar mandi dan melihat pintu kamar mandi terbuka lebar. Lintang, "Kak! Aku masuk, ya?"


"Masuklah! Tapi, kamu harus tutup mata! Aku berendam di bathtub dan nggak pakai sehelai kain pun!" Chandresh berteriak dari dalam kamar mandi


Lintang langsung menghentikan langkahnya di gawang pintu kamar mandi dan ia kembali merasakan wajahnya panas dan memerah saat ia mendengar fakta bahwa Chandresh tidak memakai sehelai kain pun.


"Lin! Kamu ngapain? Kok belum masuk?!" Chandresh kembali berteriak.


Lintang tersentak kaget dan secara spontan meneriakkan kata, "Dasar mesum!" yang ia rujukan ke dirinya sendiri, tapi Chandresh yang mendengarnya langsung tersinggung dan memekik kesal, "Siapa yang mesum?!"


"Oh! Eh! Bukan Kakak dan bukan siapa-siapa! aku mulai masuk, ya?!" Teriak Lintang sambil memulai langkah mundurnya. "Kakak bilang kalau aku udah dekat sama Kakak!"


"Oke" Sahut Litnnag sambil terus berjalan mundur dengan hati-hati.


"Iya. Udah sampai situ aja! Mana handuk dan kolornya?"


Lintang menyodorkan handuk dan celana kolornya Chandresh tanpa menoleh ke belakang dan tanpa memutar badannya. Lintang memejamkan mata saat ia merasakan dadanya berdegup kencang berada di dalam kamar mandi bersama dengan Chandresh yang tidak terbalut sehelai kain pun. Bayangan drama romantis yang pernah ia tonton nyelonong masuk ke dalam benaknya dan membuat detak jantung Lintang semakin tidak beraturan.


"Oke udah kakak terima nih handuk sama celana kolornya sekarang kamu boleh ..........."


Lintang langsung berlari maju dengan sangat kencang dan pergi meninggalkan Chandresh tanpa menunggu Chandresh menyelesaikan kalimat yang Chandresh ucapkan.


Chandresh menatap tingkah Lintang sambil bergumam, "Kenapa dia lari sekencang itu?"


Chandresh berjalan keluar dari dalam kamarnya dengan alat penyangganya dan langsung menuju ke ruang makan. Dan di sana, ia melihat Lintang membantu tengah membantu Bi Inah memasak di dapur dengan canda tawa yang mampu membuat Chandresh tanpa ia sadari mengulas senyum tipis di wajah gantengnya.


"Astaga! Kakak bikin kaget aja, deh" Pekik Lintang saat ia melihat Chandresh telah duduk di meja makan. Lintang meletakkan makanan hasil kreasinya di atas meja makan dan berkata, "Kata Mama, Kakak sangat suka makan sup ayam dan perkedel kentang. Lintang masak sup ayam dan perkedel kentang untuk Kakak. Tadaaaa!"


Chandresh menatap Lintang tanpa bersuara.


Lintang duduk di kursi yang ada di depannya Chandresh dan berkata, "Bi Inah masak ayam goreng dan sambal goreng ati sekalian untuk sarapan besok. Tinggal diangetin entar. Kita makan sup ayam dan perkedel ayamnya dulu, ya?!"


Chandresh menganggukkan kepalanya dan Lintang langsung mengambilkan sepiring nasi, semangkuk sup ayam dan meletakkannya di depan Chandresh. Lintang kemudian mengambil garpu untuk menusuk perkedel kentang dan meletakkannya di piring nasinya Chandresh sambil berkata, "Cicipilah, Kak!"


Chandresh menyendok sup ayam di depannya dan langsung membeliakkan matanya karena, dia sungguh tidak menyangka kalau masakannya Lintang sangat lezat.


Lintang tersenyum semringah melihat ekspresinya Chandresh, lalu ia segera bertanya, "Gimana Kak, enak nggak?"


"Biasa aja. Kayak sup ayam yang biasa orang masak". Sahut Chandresh sambil memasang kembali wajah kakunya.


Bi Inah meletakkan sayur hasil masakannya di atas meja makan sambil berkata, "Masa sih, biasa aja, Pak? Bibi cicipi supnya Non Lintang, tadi, enak banget kok. Beda sama sup ayam yang lainnya"


Chandresh menoleh ke Bi Inah untuk berkata, "Lidah orang beda-beda, Bi"


Bi Inah tersenyum dan masih berkata, "Wong enak kok dikatakan biasa aja"


"Maaf kalau masakan Lintang belum sesuai dengan lidahnya Kakak. Lain kali Lintang akan berusaha lebih keras lagi agar bisa memanjakan lidahnya Kakak. Kalau perkedelnya gimana?" tanya Lintang saat ia melihat Chandresh menggigit perkedel kentang dan mulai mengunyahnya dengan pelan.


"Biasa juga. Nggak ada yang istimewa" Sahut Chandresh.


"Baiklah. Yang penting masih bisa dimakan dan lain kali Lintang janji akan memasak lebih enak lagi dan sesuai dengan lidahnya Kakak. Sahut Lintang dengan senyum semringah.


Chandresh terus makan dan mengabaikan Lintang.


Di tengah malam, perut Chandresh keroncongan dan bayangan kelezatan rasa sup ayam dan perkedel kentang buatannya Lintang kembali menuntun lidahnya untuk melangkah menuju ke dapur. Chandresh membuka tudung saji dan duduk di meja makan dengan senyum lega saat ia melihat masih ada sisa lima buah perkedel kentang di atas piring saji sambil bergumam lirih, "Sayang banget supnya udah habis. Tapi, nggak papa masih ada perkedelnya"


Chandresh mencomot satu perkedel kentang dan melahapnya dengan cepat, lalu mencomotnya lagi hingga tanpa terasa, perkedel kentang di piring saji telah ludes tak bersisa. Setelah puas, Chandresh kembali ke kamarnya.


Bi Inah yang mengintip dari balik tembok kamarnya terkekeh geli laku bergumam, "Katanya biasa aja kok malamnya dicari lagi, hihihihi. Lihat aja entar, kamu akan klepek-klepek sama Non Lintang karena, cinta datang itu dari perut, hihihihi"