Missing You

Missing You
Bab 5



Malam hari itu Pak Chang pergi ke Jepang. Sudah satu minggu dia tidak pulang. Tapi berita tentangnya terus menghiasi media. Ternyata wanita itu adalah istri salah satu pemilik perusahaan yang membuat iklan dengan Pak Chang. Aku tidak tahu apakah berita perselingkuhan itu benar atau tidak. Tapi demi menyelesaikan masalah itu semua staff berangkat ke Jepang. Kupikir pasti masalahnya serius.


Kebalikan dengan Pak Chang, pekerjaanku di Itaewon sangatlah lancar. Karena majikan tidak ada di rumah, pekerjaan menjadi lebih ringan. Kemarin malam aku menghubungi ibuku. Kami menangis dan saling menceritakan kegiatan kami. Aku juga bercerita tentang pekerjaanku. Awalnya ibu tidak suka dan berencana mengirim uang. Tapi kularang karena aku ingin membuktikan diriku pada Ayah. Hingga detik ini Ayah belum memaafkanku karena kabur dari rumah.


Ponselku berbunyi. Dari Pak Park. "Jin Ae, kamu bisa ke Anyang hari ini?" . Aku punya firasat buruk. "Ibu Min Jung masuk rumah sakit. Tolong kamu pergi kesana dan lihat keadaannya!"


"Baik Pak".


Aku bergegas naik taksi dan pergi ke rumah sakit yang dimaksud Pak Park. Jalanan agak macet hari Senin ini. Sampai di rumah sakit aku pergi ke kamar Nyonya Chang.


Setelah mengetuk pintu aku masuk. Nyonya Chang terlihat pucat terbaring di ranjang rumah sakit. Ada yang menemaninya, pasti Bibi Li yang pernah diceritakan beliau padaku. "Saya Jin Ae, pembantu Pak Chang" ucapku sambil memberi hormat. Bibi Li mengangguk dan memegang tanganku. Wajah Bibi Li juga pucat seperti selesai menangis.


Suster tiba-tiba masuk ke kamar. Setelah memeriksa cairan infus dan tekanan darah Nyonya Chang, dia keluar. Aku menghampiri Bibi Li untuk bertanya keadaannya. "Apa Bibi tidak apa-apa?"


"Aku ke pasar tadi pagi. Begitu pulang Bu Chang sudah pingsan di dapur. Untung saja tidak terlambat. Kalau ada apa-apa bagaimana" Bibi Li kembali menangis. Aku memeluknya agar Bibi Li agak tenang. Tidak lama Nyonya Chang sadar.


"Hyun Jae, maafkan aku" Bibi Li kembali menangis. "Tidak apa-apa. Aku tidak apa-apa" jawab Nyonya Chang lemah. Aku hanya bisa melihat dari jauh. Beliau terlihat lemah tidak seperti di Seoul. Aku membungkuk memberi hormat. "Nyonya"


"Jin Ae, Min Jung sudah pulang?" aku menduga beliau pingsan karena masalah anaknya. "Belum Nyonya". Nyonya Chang menarik nafas panjang. Aku keluar kamar untuk membeli minum dan makanan. Karena buru-buru dan kaget pasti Bibi Li tidak sempat membawa apa-apa.


Di kantin aku membeli air mineral, kopi dan teh panas, beberapa roti dan buah potong. Aku harus menunggu kopi dan teh dibuat. Penasaran, aku membuka internet dan mengetik nama Pak Chang di pencarian.


Ternyata beritanya berkembang parah. Pak Chang dikabarkan menjadi artis ****** yang siap dipanggil Bibi-bibi kaya di Jepang. Klarifikasi yang dilakukan tidak berarti karena wanita di foto itu berkata bahwa itu benar. Pak Chang juga diperiksa polisi Jepang dan dituntut pengembalian uang kontrak yang nilainya besar. Pantas saja Nyonya Chang pingsan. Hal ini pasti membuatnya banyak pikiran.


Kopi dan tehku sudah siap. Kembali ke kamar rawat, Bibi Li menunggu di luar dan tidak memperbolehkanku masuk. Aku menurut dan memberinya teh panas. "Berapa lama kamu bekerja di Itaewon?" aku menjawab "Sudah tiga bulan." Bibi Li tersenyum dan meminum tehnya. Samar kudengar Nyonya Chang menangis di dalam. "Tenang saja, ada Min Jung di dalam" kata Bibi Li geram.


Pak Chang keluar kamar. Rambut ikalnya terlihat kusut, memakai kaca mata dan berkemeja pink. Dia duduk tepat disebelahku dan seenaknya meminum kopiku. "Bibi masuk saja. Ibu sudah tenang" katanya sambil terus meminum kopiku.


"Sudah kubilang cepatlah menikah. Agar tidak ada berita seperti ini" seru Bibi Li agak kesal dan masuk ke kamar rawat. Sudah seminggu aku tidak melihatnya. Wajahnya bertambah kurus. Kasus kali ini benar-benar menguras tenaganya.


"Menikah denganku, kamu mau?" dia bertanya sambil memandangku. Otaknya pasti bekerja terlalu keras sampai gila. Aku tidak menganggap perkataannya dan meminum teh.


Kepalanya disandarkan ke bahuku. "Sudah kulamar tidak menjawab" Dia begini lagi. Aku tidak pernah menganggapnya serius. Bisa saja ini caranya untuk membuatku dipecat. Kepalanya berat. Bahuku yang kurus seperti mau patah. Aku menggeser bahuku sedikit. Dia menegakkan kepalanya, menatapku lalu tidur di pangkuanku.


Kenapa orang ini seenaknya saja. "Lepas jaketmu Jin Ae" apa?? "Kenapa Saya harus melepas jaket Pak?" Dia tidak menjawab dan terus mendesakku melepas jaket. Dengan kesal aku melepas jaket dan memberikannya. Dia menutup kepalanya dengan jaketku. Apa yang dilakukan orang ini.


Bibi Li keluar kamar rawat dan melihatku. "Hyun Jae sudah stabil, dia juga sudah makan. Kalau anak ini bangun, suruh pulang saja. Ibunya kesal melihat wajahnya." aku menghela nafas . "Baik Bi" . Bagaimana caranya aku membangunkan orang ini.


Aku menggoyangkan bahu Pak Chang. "Pak, bangun" Dia perlahan meninggalkan pahaku. Jaketku tetap ada di mukanya. Dia lalu masuk ke kamar ibunya. Pahaku kram tidak bisa bergerak. Saat bisa digerakkan aku berdiri dan masuk ke kamar Nyonya Chang.


Wajah Nyonya Chang tidak pucat lagi. "Jin Ae, sini" Pak Chang mengawasiku dari sebelah ranjang ibunya. "Saya bersyukur Nyonya tidak apa-apa." Beliau tersenyum.


"Ini sudah terlalu malam untuk kembali ke Seoul. Tidurlah di rumahku. Min Jung akan mengantarmu." Itu namanya memasukkan aku ke dalam kandang singa.


"Saya pulang saja Nyonya, masih jam 8 malam. Kereta terakhir pasti masih ada. Kalau tidak Saya bisa naik taksi." Wajah Nyonya Chang berubah sedih. Aku jadi merasa bersalah. "Akan kuantar dia ke rumah ibu. Nanti aku kembali lagi ke rumah sakit untuk menemani Ibu." Melihat mereka membuatku semakin ingin bertemu ibuku. Aku harus minta ijin libur pada Pak Park. Aku ingin pulang ke Chuncheon.


Tidak bisa menolak keinginan Nyonya Chang membuat aku ada di mobil orang aneh ini. Dia memakai topi, masker dan kaca mata. Sekitar 30 menit kami sampai di rumah sederhana yang hampir mirip rumah orangtuaku.


Di dalam rumah ada foto Pak Chang dengan ayah dan ibunya. Ayahnya tinggi dan berwibawa. Aku juga melihat dapur tempat Nyonya Chang jatuh pingsan. Kelihatannya Bibi Li terkejut dan menjatuhkan belanjaannya begitu saja. Aku membereskan belanjaan Bibi Li dan memasukkannya ke dalam kulkas.


Pak Chang masuk ke dapur. "Apa bersih-bersih menjadi kebiasaanmu sekarang?". Aku malas menanggapi perkataan orang yang membuat pahaku kram. Perutku lapar sekali dari siang belum makan.


Melihatku memegang perutku, Pak Chang mengetik sesuatu di ponselnya. "Aku sudah pesan Jajangmyeon, tidak perlu memasak." Aku melihatnya "Terima kasih Pak". Dia masuk ke salah satu kamar dan lama tidak keluar. Aku duduk di ruang tamu dan menunggu makanan sambil bermain ponsel.


Pak Chang keluar memakai celana olahraga dan kaus putih. Baru kali ini aku melihatnya memakai baju santai dan tidak terlihat seperti selebritas. Ting tong. Pasti makanan datang. Aku mengambilnya dan menata di meja makan. Pak Chang bergabung denganku dan mengambil sumpit.


Kami makan dengan tenang, tanpa bicara. Setelah selesai makan, aku mencuci mangkuk dan membersihkan meja. Pak Chang masuk ke kamar dan keluar membawa baju untukku. Dia menyuruhku berganti baju dan bersiap tidur. Aku menurut karena kupikir dia akan kembali ke rumah sakit malam ini.


Aku memakai baju ganti yang diberi Pak Chang. Tapi kenapa baju gantinya setipis ini. Gaun terusan selutut dengan tali kecil. Kainnya tipis hampir memperlihatkan warna dalamanku. Dasar orang gila. Dia mengharapkan aku memakai ini di rumahnya?


Aku keluar kamar tetap memakai bajuku. Kaus panjang dan celana jeans. "Kenapa tidak ganti pakaian yang kusediakan?" Wajahnya terlihat kecewa. "Bapak tidak menemani Nyonya Chang di rumah sakit?". Jawabku tidak peduli dengan pertanyaannya. Dia mendekatiku "Aku menemani kamu tidur malam ini"


Rasanya ada petir menembus telingaku. Sudah kukira orang ini akan berbuat aneh kalau aku ikut kerumahnya. Apalagi baju ganti yang diberikan setipis itu. "Saya tidak tidur Pak. Saya mau pulang saja." Aku berlari ke pintu depan dan tertangkap. Pak Chang membawaku seperti menggedong karung beras ke dalam kamar.


Aku harus melawannya. Tangan dan kakiku bergerak kesana kemari dan menampar wajahnya. Aku sempat terkejut dan berhenti melawan. Wajah tampan Pak Chang berubah menjadi merah. Dia menindih kakiku dan menyatukan tanganku ke atas.


"Maafkan saya Pak. Saya minta maaf. Tolong jangan berbuat seperti ini. Saya laporkan Anda ke polisi kalau Anda berbuat seperti ini." Dia tiba-tiba berhenti. Mukanya dekat sekali. Bibir kami hampir bersentuhan.


"Jin Ae" Samar-samar terdengar ada yang memanggilku. Pintu kamar dibuka lebar. Pak Chang dan aku sama-sama terkejut. Bibi Li berteriak kencang dan menyerbu Pak Chang. "Apa yang mau kau lakukan anak bodoh" Bibi Li memukul Pak Chang sekuat tenaga, pukulannya datang terus menerus membuat Pak Chang tidak bisa membela diri. Aku terdiam dan senang bisa selamat dari kejadian yang memalukan.