
Setelah bercinta dengan istri kecilnya berkali-kali seolah tidak ingin berhenti, Chandresh memakai kembali kaos oblong dan celana boxernya. Kemudian, pria ganteng berbadan atletis itu berjalan ke balkon, menutup pintu balkon dan merokok di sana.
Dia perokok pasif dan hanya merokok jika pikirannya suntik atau sedang kalut.
Chandresh mengingat kembali awal ia jatuh cinta dengan Lintang Rajendra dan itu ia jadikan patokan untuk terus mengingatkan dirinya bahwa dia tidak boleh memikirkan atau lebih parahnya lagi, menginginkan wanita lain.
Namun, di tengah kepulan asap rokoknya dia kembali melihat bayangannya Soraya ketika Soraya kehilangan pakaian dalamnya saat Soraya berenang, bayangan saat Soraya mandi tanpa menutup pintu bilik di dekat pantai, bayangan Soraya saat Soraya meminta tolong padanya cara bermain golf dan bayangan Soraya saat Soraya bertukar pikiran dengannya. Kecerdasan, kematangan, kecantikan, dan keseksiannya Soraya membuat Chandresh kagum. Sedangkan godaan yang Soraya lakukan, membuat Chandresh mengalami sesak napas dan hampir gila.
Chandresh stres dan frustasi dengan godaan-godaan Soraya karena, ia sadar betul kalau dia tidak ingin menjadi seperti papanya, namun godaan-godaan itu sangatlah dahsyat dan terjadi di saat ia butuh pengalihan perhatian dari tekanan mental yang ia dapatkan dari papa mertuanya.
Chandresh menghisap rokok keempatnya dan dia menempatkan kekesalannya ke udara karena, rokok pun tidak mampu melepaskan pikirannya dari kesempurnaan yang ada di diri seorang Soraya Adhitya.
Chandresh akhirnya membuang puntung rokok keempatnya di asbak dan setelah menghela napas panjang beberapa kali, dia melangkah Kemabli ke dalam kamar, masuk ke dalam selimut dan memeluk tubuh polos istri kecilnya.
Chandresh mengusap rambutnya Lintang dan dia menciumi pungungnya Lintang sambil bergumam di sana, ",Maafkan aku. Aku melampiaskan frustasiku ke kamu. Aku mengajakmu bercinta habis-habisan dan kamu saat ini pasti merasa sangat lelah. Aku sangat mencintaimu, Lintang Rajendra"
Keesokan harinya, Chandresh yang tidak bisa tidur nyenyak, keluar dari dalam kamar setelah mandi dengan guyuran air dingin. Dia memutuskan untuk joging.
Chandresh joging selama dua jam dan saat ia masuk kembali ke.dalam.kamarnya, Lintang belum terbangun dari mimpi indahnya. Chandresh kemudian naik ke ranjang setelah mandi dan berganti baju. Dia merapikan rambut yang menutupi wajah cantik istri kecilnya. Dia mencium kening istrinya dan mengusap pipi Lintang dengan senyum penuh cinta. Kemudian, pria ganteng itu bersandar ke ranjang dan membuka laptopnya untuk memantau pekerjaannya dari sana.
Lintang berdecak dan Chandresh langsung menoleh untuk melihat detik-detik istri kecilnya bangun. Chandresh sangat menyukai momen itu karena, Lintang tampak imut dan menggemaskan di detik-detik Lintang hendak membuka mata. Setelah berdecak, Lintang mengusap kedua kelopak matanya, merentangkan kedua tangannya ke atas sambil menguap, barulah wanita miliknya Chandresh itu membuka mata dan tersenyum ke suaminya dengan ucapan, "Selamat pagi, Sayangku"
Chandresh tersenyum lebar dan berucap, "Selamat pagi, Cantikku" Ia langsung menutup laptop dan menaruh laptopnya di atas nakas kemudian ia memeluk Lintang, menciumi bibir Lintang, lalu ia berkata, "Kamu sangat cantik dan menggemaskan saat tidur, saat kamu akan bangun membuka kedua mata lentik kamu, saat kamu akhirnya membuka kedua mata lentik kamu dan tersenyum mengucapkan selamat pagi untukku. Aku bersyukur mendapatkan itu semua di pagi hariku"
Lintang tersenyum penuh cinta, lalu ia mendesis.
"Ada apa? Apa yang sakit?" Tanya Chandresh.
"Semua badanku pegal,-pegal, Mas. Kenapa kamu brutal banget kemarin. Ada apa? Apa yang membuatmu stres? Papa lagi?" Lintang mengusap pipinya Chandresh dan Chandresh langsung tersenyum, menggelengkan kepalanya, dan berkata, "Aku hanya sangat merindukanmu. Sangat merindukanmu"
Lintang kembali pasrah saat suaminya mengajak dia berciuman, lalu Chandresh melepaskan ciumannya dan berkata, "Mandi gih! Aku akan ajak kamu melihat-lihat rumah kita. Rumah hasil jerih payahku dan aku persembahkan hanya untuk Istri tercintaku"
Beberapa jam kemudian, mereka sampai di sebuah rumah yang cukup besar walupun tidak semegah dan semewah rumah pemberian papanya, namun Lintang sangat menyukai rumah itu. Saat Chandresh masuk kembali ke dalam rumah itu setelah melakukan pembayaran dan menerima berkas kepemilikan rumah itu, Lintang menggoda suaminya dan mereka bercinta di depan jendela sebuah kamar yang nantinya akan mereka jadikan kamar mereka dengan posisi berdiri.
Setelah Chandresh menurunkan Lintang dari gendongannya ke lantai dengan hati-hati, Chandresh merapikan kemeja dan menaikan kembali ritsleting celana kainnya, lalu ia memeluk Lintang yang sudah rapi sambil berkata, "Aku sangat mencintaimu, Lintang Rajendra" Lintang menjawab, "Aku juga sangat mencintaimu, Mas. Dan terima kasih untuk rumah ini"
"Kita ke rumah Papa? Kita beritahu Papa soal rumah ini dan rencana kepindahan kita ke sini, besok" Lintang menatap kedua bola matanya Chandresh lekat-lekat untuk meminta persetujuan dan Lintang tersenyum senang saat Chandresh menganggukkan kepalanya
Chandresh menyetujui Lintang untuk memberitahukan ke papa mertuanya soal rumah yang berhasil dia beli karena ia ingin menunjukan ke papa mertuanya bahwa ia bisa diandalkan.
Namun, yang Chandresh dapatkan hanyalah omelan panjang dari papa mertuanya. "Kamu menantu nggak tahu diuntung. Udah dikasih rumah masih aja menghambur-hamburkan uang untuk membeli rumah lagi. Kamu mau sombong di depan. Papa mertua kamu? Apa yang bisa kamu sombongkan, hah?! Hanya rumah kecil aja udah sok-sokan kayak gitu. Papa nggak setuju kalian keluar dari rumah pemberiannya Papa. Rumah yang baru kamu beli, kamu kontrakan aja!"
Chandresh tanpa sadar mengepalkan kedua tangannya untuk menahan semua rasa kecewa dan amarah. Dia merasa harga dirinya diinjak-injak sudah sejak lama dan dia harus terus menahan diri demi Lintang.
Papanya Lintang kemudian berbalik badan dan masuk ke dalam ruang kerjanya begitu saja. Lintang mengelus dada suaminya dengan berkata, "Sabar ya, Mas. Aku akan coba bicara empat mata dengan Papa sebentar" Lintang kemudian berlari mengejar papanya masuk ke ruang kerja papanya.
Chandresh duduk terhenyak di atas sofa dan sambil terus mengusap rambutnya ia menghela napas panjang beberapa kali.
Setelah menunggu selama tiga puluh menit, Lintang keluar dari dalam ruang kerja papanya dan tersenyum.
Chandresh bangkit berdiri dan bertanya, "Bagaimana?"
Lintang menggelungkan kedua lengannya di bahu atasnya Chandresh dan berkata dengan senyum cantiknya, "Papa ijinkan kita pindah"
Lalu, Lintang mengajak Chandresh pulang.
Di dalam mobil Chandresh bertanya, "Apa yang Papa minta sebagai gantinya?"
Lintang menoleh ke Chandresh yang masih menyetir, "Aku bilang kalau kita butuh suasana baru untuk fokus bikin anak. Papa, kan, udah sangat ingin menimang cucu, jadi Papa akhirnya setuju"
Chandresh meraih tangan istri kecilnya dengan tangan kirinya dan ia ciumi telapak tangannya Lintang sambil berucap, "Terima kasih, Sayang. Aku sangat mencintaimu"