Missing You

Missing You
Bab 15



Ternyata mencari tempat kencan di Seoul yang sepi tidak mudah. Kuhabiskan waktu semalaman untuk mendapat tempat yang bisa didatangi Pak Chang tanpa ketahuan. Ini adalah kencan pertamaku dengan Pak Chang. Semuanya harus sempurna.


Karena ini bulan April, maka kupikir yang paling cocok adalah melihat bunga sakura bersama. Membawa makanan buatan sendiri dan duduk bersama menikmati hari. Tapi karena wajah dan postur tubuh Pak Chang yang menonjol, pasti tidak akan berjalan lancar.


Ingin pergi ke tempat yang jauh juga tidak bisa karena besok dia harus pergi ke Busan menyelesaikan syuting drama. Tapi aku tidak akan mudah menyerah.


Ada satu tempat dimana kami tidak akan diganggu oleh fans. Mungkin agak sedikit beresiko tapi tempatnya tidak mudah ditemukan sehingga akan jarang sekali orang yang melewatinya.


Aku membuat makanan untuk makan siang dalam 3 kotak susun dan membawa tikar untuk piknik.


Semuanya sudah siap jam delapan pagi. Aku memilih mandi karena badanku bau masakan. Aku juga memakai parfum dan merias wajahku sedikit. Aku memakai baju yang kubeli di Uniqlo. Terusan berwarna hijau muda dengan rambut dikepang satu dan sepatu bertali.


Pak Chang datang tepat pukul 10.00 pagi. Aku menunggunya di pinggir jalan agar dia tidak perlu keluar mobil. Selesai memasukkan barang di bagasi mobil aku duduk di kursi penumpang. Pak Chang memakai kaus putih dan celana jeans dan sweater tanpa kancing berwarna kehijauan. Aku memasukkan lokasi pada gps mobil. Dan kami berangkat.


"Aku suka kau memakai terusan seperti ini." Apakah dia memujiku cantik? "Terima kasih" Mukaku memanas saat dia menatapku.


"Jadi kita akan ke Incheon?" Pak Chang menanyakan tujuan kami. "Iya Pak. Bunga sakura disana mekar terlambat, jadi sekarang pasti sedang cantik-cantiknya" aku merasa senang karena baru pertama kali ini melihat bunga sakura sejak aku pergi ke Seoul.


Sekitar satu jam kami sampai di Incheon Grand Park. Jalan menuju taman dipenuhi hamparan bunga pink. Pohon di kanan kiri kami berbunga cantik. Tapi kami tidak akan piknik di sekitar sini.


Ada tempat yang agak tersembunyi di dalam taman Incheon. Tapi kami harus berjalan di antara banyak orang untuk pergi kesana. Pak Chang turun mobil dengan menggunakan kacamata hitam, masker, topi dan mantel panjang. Ternyata dia sudah memperkirakan kalau kami akan pergi ke tempat umum.


Aku keluar dengan membawa bekal makan siang. Pak Chang membawa tikar dan menggenggam tanganku.



Setelah berjalan sekitar 10 menit kami sampai di tempat piknik. Seperti perkiraanku jarang sekali ada orang yang menempati area ini. Karena jauh dari jalan masuk dan fasilitas umum.


Pak Chang menata tikar dan mulai duduk. Dia melihat berkeliling. "Ini pertama kali aku bisa menikmati sakura di Korea setelah debut". Aku menata makan siang kami dan membiarkan Pak Chang menikmati pemandangan.


Pak Chang melepas mantel, masker dan kaca matanya. Dia menarik dan memelukku dari belakang. "Coba lihat sakura itu" Kami merasakan angin dan bunga yang berjatuhan. Pemandangan ini tidak bisa setiap hari kami nikmati. Jadi kami terdiam cukup lama untuk melihatnya.


Aku mulai menata makan siang lagi. "Aku sudah lama tidak merasakan masakanmu" Aku tersenyum dan membuka kotak bekal. Kimbab, ayam goreng berbumbu pedas, buah potong dan minuman kaleng. Pak Chang memakan kimbab dan menyuapiku ayam.


Dia menarikku untuk tidur di lengannya. Aku menurut dan memeluknya. Aku mengeluarkan buku dari tas. Pak Chang merebutnya dan membaca judulnya. Aku berusaha merebut kembali tapi tanganku lebih pendek darinya.


Pak Chang meletakkan buku itu di perutnya dan mengambil mantel untuk menutupi pahaku. Dia mulai membaca buku yang kubawa. Suaranya yang dalam membuat perasaanku menjadi nyaman.


Triiing Triiiiiing, terdengar bunyi ponsel Pak Chang. "Ada apa? Aku ada di taman incheon.....Jin Ae...Tidak perlu" Pak Chang bangun dan mengumpat. Aku terkejut dengan kata yang keluar dari mulutnya.


"Apakah kita harus kembali?" Pak Chang memelukku dan mulai menciumku. Ciuman yang ringan berubah menjadi panas. "Hwan Li akan menyusul kesini" Aku membuka mataku dan menatapnya. "Apakah ada masalah?"


"Tidak, dia ingin menikmati bunga sakura" Pak Chang menghembuskan nafas dengan berat. Aku tertawa mendengar situasi itu. "Kau masih bisa tertawa? Aku hanya ingin menghabiskan waktu denganmu".


"Kita sudah menikmatinya sejauh ini dan Saya merasa senang." Pak Chang mendekat dan menciumku lagi. "Bagaimana kalau sekarang kita ke hotel dekat sini" Aku menjauh darinya dan memeluk diriku sendiri.


Pak Chang tertawa melihat tingkahku. Triiing Triiing . Terdengar bunyi ponsel Pak Chang lagi. "Aku sudah di Incheon. Banyak sekali orang disini. Bagaimana kau bisa mendapat tempat?" Suara Pak Park terdengar sangat keras.


Pak Chang memberi arah pada Pak Park sampai Pak Park menemukan kami. Pak Park berlari menghampiri kami dengan bawaannya yang banyak. Tidak lama ada beberapa staff juga ikut datang.


Aku membungkuk memberi hormat pada semuanya. Wajah Pak Chang berubah menjadi sangat kesal sekarang. Dia duduk di sebelahku dan menendang kaki Pak Park.


"Wah ternyata ada tempat seperti ini di Incheon. Mulai sekarang tiap tahun kita akan mengadakan acara makan dan menikmati bunga di tempat ini setiap tahun." mereka mulai bersorak dan minum minuman keras.


Aku hanya bisa tersenyum dan membantu menuangkan minuman. Sedangkan Pak Chang terdiam dan terus menendang Pak Park. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.00. Matahari mulai berjalan ke barat.


Pak Park, para staff dan aku mulai membersihkan tempat piknik. "Bagaimana keadaanmu Jin Ae?" Aku mengenal salah satu staff Pak Park. Dia yang menemaniku di kantor polisi dan menyuruhku pergi ke rumah sakit. "Baik Pak. Terima kasih atas bantuannya waktu itu" Aku benar-benar merasa tertolong saat itu.


Pak Chang mendatangi kami dan memberikan mantelnya padaku. "Dingin" Dia menatap tajam pada staff Pak Park yang mengajakku bicara. Pak Chang kembali memakai kaca mata, dan maskernya. Dia memegang pundakku sepanjang jalan sampai di parkiran mobil.


Kami pergi dari Taman Incheon untuk kembali ke rumah. Hari ini aku senang bisa menghabiskan waktu berdua dengan Pak Chang. "Sudah malam, bagaimana kalau kita makan di restoran Jepang?" Pak Chang bertanya padaku tapi aku sudah terlelap tidur.


Untuk menyiapkan bekal aku bangun pukul 5 pagi. Sebenarnya aku ingin tidur di pelukan Pak Chang ketika dia membaca buku. Tapi aku tidak bisa karena terlalu senang.


Pak Chang memberikan mantelnya untuk selimut dan mencium keningku.