Missing You

Missing You
Melindungi



Jam kegiatan belajar mengajar akhirnya selesai di hari itu. Lintang melangkah ke kantin untuk menemui Mira sahabatnya dan di sana, ia bercerita ke Mira kalau dia sudah menikah sekaligus menunggu Chandresh yang masih sibuk memasukkan nilai.


"Hah?!" Mira menarik rahang bawahnya lebar-lebar dan menatap Lintang dengan wajah tidak percaya.


"Itu benar. Aku nggak bohong" Lintang langsung bersedekap dengan wajah kesal karena Mira terlihat tidak memercayainya.


"Oke. Aku percaya sama kamu. Tapi, kamu menikah karena apa dan sama siapa?" Tanya Mira sambil memajukan wajahnya untuk berbisik ke Lintang.


Lintang pun memajukan wajahnya dan berkata, "Aku menikah karena ingin menyelamatkan seseorang dari jerat maut wanita Iblis. Nikah sama siapa? Belum bisa aku kasih tahu. Nanti kalau kita udah lulus pasti aku kasih tahu. Jangan kamu bocorkan soal ini ke siapapun, ya?!"


"Oke. Aku akan tutup mulutku rapat-rapat soal ini" Sahut Mira.


"Tapi..........." Lintang menegakkan wajahnya kembali dan merengut.


"Tapi apa?" tanya Mira.


"Suamiku tidak mencintaiku. Suamiku masih sangat mencintai mantannya. Si wanita Iblis yang aku bilang tadi. Padahal mantannya itu berselingkuh dengan Papanya, tapi dia masih sangat mencintai wanita Iblis itu" Lintang kembali bersedekap dan semakin melancipkan. bibirnya.


"Kalau kamu?" Tanya Mira.


"Aku?" Lintang menautkan alisnya.


"Iya, kamu. Kamu mencintai suami kamu tidak?"


Lintang mengangkat kedua pundaknya ke atas sambil berkata, "Entahlah. Tapi, aku suka dengan sikapnya selama ini. Dia perhatian sama aku walaupun itu hanya wujud perhatiannya untuk seorang adik"


"Untuk tahu kamu cinta nggak sama suami kamu, itu gampang. Coba kamu pegang tangannya, kalau dada kamu bergetar maka itu tandanya kamu ada rasa sama suami kamu. Lalu untuk membuat suami mencintai kamu, juga gampang. Kamu Kecup bibirnya. Konon kecupan di bibir bisa membuat seorang pria jatuh hati pada kita dan kecupan di bibir bisa membuat pria melupakan mantannya"


Lintang memerah wajahnya saat ia membayangkan dirinya mengecup bibirnya Chandresh, lalu ia mendelik ke Mira dan berkata, "Hush! Ngawur kamu! Masa cewek yang ngecup duluan?"


"Sekarang bukan jamannya lagi perhitungan. Siapa duluan yang ngecup udah nggak penting. Kalau kamu ingin membuat suami kamu lupa sama mantannya dan suami kamu bisa sekaligus jatuh hati sama kamu, maka kecuplah bibirnya" Ucap Mira dengan senyum cerah.


"Dasar mesum" Lintang mendelik ke Mira.


"Lho, kok mesum. Ini ilmu bukan mesum" Mira langsung melontarkan protes saat ia dikatakan mesum oleh sahabat terbaiknya.


Brak! Bangku yang ada di antara Mira dan Lintang ditarik oleh seseorang. Seorang pemuda dengan jam tangan bermerk dan tas punggung yang mahal tersenyum ke Lintang.


Lintang menautkan alisnya ke pemuda itu dan langsung bertanya, "Kau mau apa?"


"Nagih jawaban Elo" Pemuda itu kembali mengulas senyum tampannya ke Lintang.


"Theo Javesh, tinggalkan aku untuk selamanya karena, aku tidak pernah menyukaimu. Aku menolak untuk menjadi pacar kamu" Lintang menghunus tatapan tajamnya ke Theo Javesh.


"Tapi, kenapa? Aku kurang apa? Aku punya segalanya. Aku tampan, menarik, kata raya, baik hari, dan tidak sombong. Kenapa kamu menolak aku?" Theo mendelik ke Lintang.


Lintang bangkit berdiri dan menarik tangan Mira untuk pergi meninggalkan pemuda yang bernama Theo Javesh.


Theo mengejar langkahnya Lintang dan tersu bertanya, "Alasannya apa, Lin?"


Lintang terus melangkah lebar dan mengabaikan Theo.


Saat Theo berhasil menyusul Lintang dan memegang bahunya Lintang, ada tangan yang menarik tangan Theo dari bahunya Lintang sambil berkata, "Jangan memegang bahu Lintang!"


Theo terkejut begitu pula dengan Mira dan Lintang saat mereka melihat Chandresh, guru Kimia mereka, berdiri di antara mereka dengan alat penyangga di ketiak.


"Ma.....maafkan saya, Pak Chandresh. Sa....saya hanya butuh satu alasan saja dari Lintang. Ijinkan saya bicara dengan Lintang berdua saja" Theo Javesh berucap tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah cantik pujaan hatinya.


"Aku nggak mau!" Lintang memekik kesal.


"Masalah apa ini? Apa Lintang punya salah sama kamu?" Tanya Chandresh.


Theo Javesh menoleh ke Chandresh dan berkata, "Saya nembak Lintang seminggu yang lalu dan hari ini dia menolak saya. Saya butuh alasan, tapi Lintang tidak memberikan alasan apapun"


Chandresh menghela napas panjang lalu berkata, "Lintang nggak perlu kasih alasan. Karena, rasa suka tidak bisa dipaksakan. Kalau tidak suka ya udah tidak suka aja. Begitu, kan Lintang?" Chandresh menoleh ke Lintang.


Lintang menganggukkan kepalanya dengan wajah semringah. Dia senang Chandresh membelanya.


Theo akhirnya pergi meninggalkan Lintang dengan wajah kecewa berat.


Mira kemudian pamit karena supirnya sudah datang menjemput dia.


Lintang menatap Chandresh dengan senyum lebar dan wajah ceria, lalu ia berkata, "Makasih, Kak"


Chandresh berdeham lalu melangkah meninggalkan Lintang tanpa mengucapkan kata apapun.


Supir pribadinya Lintang mengantarkan Chandresh dan Lintang ke rumah baru mereka, pemberian dari Dokter Andi Rajendra.


Chandresh langsung menyemburkan protes dengan wajah garang, "Kenapa kita pulang ke sini?! Aku nggak mau pulang ke sini!.Jelek-jelek begini aku punya rumah sendiri dan aku bisa bertanggung jawab atas kamu"


"Kita turun dulu, Kak. Kita temui Papa dulu" Sahut Lintang.


Chandresh terpaksa menuruti Lintang. Setelah ia sampai di dalam rumah megah pemberian dari Dokter Andi Rajendra, ia menatap Dokter Andi Rajendra dan langsung melontarkan protes ke papa mertuanya, "Dok, maaf, saya punya rumah sendiri dan saya adalah suaminya Lintang. Saya pikir seorang Istri harus tinggal di rumah suaminya bukan malah sebaliknya. Terus terang saya tidak suka menerima pemberian dari siapapun juga secara cuma-cuma. Soal biaya rumah sakit, saya juga akan mencicilnya sampai lunas"


"Kok masih manggil, Dok? Panggil Papa, dong. Aku, kan, papa mertua kamu" Dokter Andi Rajendra tersenyum ke Chandresh.


"Pa" Sahut Chandresh masih dengan muka masam


Dokter Andi Rajendra tersenyum lalu menoleh ke Lintang, "Masuklah ke kamar kamu! Papa ingin bicara empat mata dengan suami kamu ini"


Lintang menganggukkan kepalanya dan berlari kecil masuk ke dalam salah satu kamar Yanga da di rumah besar itu


Dokter Andi mengajak Chandresh untuk duduk, lalu ia berkata, "Bukannya Papa ingin merendahkan kamu atau tidak memercayai kemampuan kamu sebagai seorang suami, tapi di rumah kamu ada Mama kamu. Suami Istri itu harus tinggal sendiri untuk lebih saling mengenal. Papa ingin kalian tinggal berdua di sini karena Papa ingin, Lintang bisa mandiri dan tidak manja lagi. Kalau tinggal berdua di sini, Lintang bisa lebih bertanggung jawab. Itu yang selalu diinginkan oleh almarhum Istri Papa dulu"


Mendengar nama almarhum mamanya Lintang disebut oleh papanya Lintang, membuat rasa ingin membalas budinya almarhum mamanya Lintang, kembali muncul dan akhirnya dia hanya bisa menghela napas panjang dan berkata, "Baiklah, Pa. Saya bersedia mulai hari ini, tinggal di rumah ini bersama Lintang"


"Terima kasih kamu mau menuruti kemauan Papa. Semua ini juga demi kebaikan kamu dan Lintang. Mama kamu bisa sesekali datang ke sini begitu pula sebaliknya. Toh rumah ini juga nggak jauh jaraknya dari rumah kamu. Aku udah memperhitungkan semuanya. Soal biaya rumah sakit, terserah kamu saja. Kalau kamu ingin mencicilnya, oke lah. Tapi, Papa ada satu permintaan lagi"


"Apa itu, Pa?"


"Kamu pegang perusahaan Papa mulai besok dan ........"


"Saya nggak mau, Pa. Saya nggak bisa berbisnis dan saya lebih suka menjadi guru" Chandresh langsung memotong ucapan papa mertuanya dengan wajah dingin.


"Dengarkan Papa dulu! Perusahaan Papa nggak ada yang mengurusnya. Presdir yang dulu adalah keponakannya Papa dan Sebulan yang lalu, ketahuan kalau dia selama ini korupsi. Dia hampir saja membuat Papa bangkrut. Setelah itu, Papa terus mencari penggantinya, tapi belum menemukan calon yang bisa Papa percayai. Akhirnya Papa yang mengurusnya sendiri dan Papa mulai kewalahan mengatur waktu. Jadi, demi rasa kemanusiaan, sudikah kamu menolong orangtua yang mulai renta ini, Chan? Papa benar-benar butuh pertolonganmu. Papa lihat kamu anak yang jujur, cerdas dan gigih. Dunia bisnis butuh orang yang jujur, cerdas dan gigih"


Chandresh yang memiliki hati tidak tegaan, akhirnya menghela napas panjang dan berkata, "Beri saya waktu sampai kaki saya sembuh, Pa. Saya akan berikan jawaban saya ke Papa setelah kaki saya sembuh"


"Baiklah. Papa akan sabar menunggu kamu" Sahut papanya Lintang dengan senyum semringah.