Missing You

Missing You
Puisi



Chandresh melintasi kamarnya Lintang dan melihat pintu kamarnya Lintang sedikit terbuka. Chandresh mendekat untuk mengintip dan ia secara refleks mendorong pintu kamarnya Lintang saat ia menangkap istri kecilnya itu ketiduran di meja belajar.


Chandresh ingin merengkuh Lintang ke dalam pelukannya dan membopong Lintang untuk ia rebahkan di kasur, tapi ia kemudian menunduk dan teringat akan telapak kakinya yang belum pulih.


"Rajin juga dia belajar" Chandresh menatap meja belajarnya Lintang dan melihat buku tulisnya Lintang yang masih terbuka lebar dan ada deretan tulisan di sana. Karena penasaran, ia mengambil buku itu, ia cermati deretan kata di sana dan bergumam, "Bisa juga dia bikin puisi Jawa. Oh, iya Besok, kan ujiannya Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa. Pantes aja dia bikin puisi Jawa" Chandresh kemudian bersandar di tembok untuk mulai membaca deretan kata yang tertera manis di bukunya Lintang. "Candra lan Lintang, Kabeh iso gawe bungah petenge langit pas wengi. Ananging aku, luwih seneng Karo Lintang. Amarga Lintang iku sumunar tanpo pamrih lan ora pernah ngapusi paningal kita. Lintang ora pernah transformasi. Kenek pengaruh sembarang, Lintang ora pernah transformasi" (Bulan dan bintang semuanya bisa membuat bahagia gelapnya langit malam. Tapi, aku lebih senang dengan Bintang. Karena Bintang itu bersinar tanpa pamrih dan tidak pernah menipu penglihatan kita. Terkena pengaruh apapun, bintang tidak pernah berubah wujud)


Chandresh menoleh ke Lintang, "Bagus juga puisinya"


Kemudian Chandresh membaca lanjutan dari puisinya Lintang, "Dene Candra, sanadyan sejatine ora pernah transformasi, tapi kenek pengaruh sithik ae wis ngapusi paningal kita. Candra kadang katon bunder seser, kadang katon mung separo, kadang katon kaya arit. Kuwi lak menurutku termasuk plin-plan" (Sedangkan Bulan, walaupun sebenarnya dia tidak pernah berubah wujud, tapi terkena pengaruh sedikit aja sudah menipu penglihatan kita. Candra terkadang terlihat bulat penuh, terkadang terlihat separuh, terkadang terlihat seperti sabit. Itu kalau menurutku termasuk plin-plan).


Chandresh kembali menoleh ke Lintang dan berkata, "Apa yang kamu maksud Candra, ini, aku? Namaku, kan, Chandresh dan Chandresh itu sama dengan Candra. Sama-sama berarti bulan. Tapi, eh, kau bilang Candra plin-plan? Enak aja!"" Chandresh melotot ke Lintang.


Chandresh kembali mengarahkan pandangannya ke puisinya Lintang, "Makane, aku luwih seneng dipadhakake karo Lintang tinimbang karo Candra. Lan mugo-mugo tresnaku marang njenengan, Mas Bojoku, iso koyo Lintang" (Maka dari itu, aku lebih senang disamakan dengan bintang daripada dengan bulan. Dan semoga sayangku ke kamu suamiku, bisa seperti bintang).


Membaca bagian terakhir puisinya Lintang, Chandresh sontak meletakkan kembali bukunya Lintang di atas meja dengan wajah bingung dibalut dengan keterkejutan yang luar biasa. Chandresh bergegas melangkah keluar dari kamarnya Lintang dan dengan perasaan campur aduk ia kembali masuk ke dalam kamarnya.


Chandresh merebahkan diri di atas kasur dan bergumam, "Lintang masih menyukaiku? Dari kecil sampai sekarang, ia masih menyukaiku? Nggak! Itu nggak boleh terjadi. Aku benci dia....... eh, tapi sebenarnya nggak, sih. Aku nggak pernah membenci Lintang, tapi aku juga nggak menyukai dia seperti pria suka sama wanita. Aku hanya menganggapnya sebagai adik selama ini dan........arrgghhhhh! Tau ah, gelap!" Chandresh menggaruk kepalanya dengan kesal dan memilih untuk jatuh ke alam mimpi.


Chandresh tidak bisa tidur dengan nyenyak memikirkan puisinya Lintang semalam. Chandresh terbangun di jam dua dini hari. Dia lalu memakai alat penyangganya dan melangkah pelan ke ruang keluarga, ia memencet channel favoritnya dan menontonnya sampai ia ketiduran dengan kepala bersandar di sofa.


Lintang bangun di jam lima pagi, memasukkan semua buku pelajaran sekolah ke dalam tas punggungnya dan setelah meregangkan kedua tangannya ke atas dia memekik kaget, "Astaga! Aku ketiduran di meja belajar, ya?" Lintang tersenyum konyol untuk dirinya sendiri, lalu ia melangkah keluar untuk mengambil minum di dapur.


Lintang melintasi ruang keluarga dan mendengar suara orang mengigau. Lintang masuk ke ruang keluarga dan menemukan Chandresh tidur dengan posisi duduk, kepala bersandar di sofa dan televisi masih menyala. Lintang mematikan televisi dan di saat ia menyentuh tangannya Chandresh, ia terkejut, "Hah?! Kenapa badan Kakak panas banget?" Lintang menyentuh keningnya Chandresh dan semakin panik, "Benar. Kakak beneran panas badannya" Lintang langsung berlari ke dapur dan bertanya ke Bi Inah yang tengah memanasi sayur, "Bi, punya obat penurun demam?"


"Bi Inah mengglengkan kepalanya, "Kita baru pindah ke sini, kan, kemarin, Non. Belum kepikiran beli obat-obatan"


"Oke, Bi. Makasih" Lintang langsung berlari ke garasi dan dia mengumpat kesal, sepeda motor berada di deret paling belakang dan yang ada di deret depan adalah mobil sedan berwarna kuning. Lintang sudah mahir menyetir mobil. Dia belajar menyetir mobil dari supir pribadinya secara sembunyi-sembunyi, namun dia belum pernah menyetir mobil sendirian tanpa didampingi supir pribadinya.


Lintang membuka pintu garasi dia memasang sabuk pengaman, menginjak rem, menghidupkan mobil, lalu memindahkan tuas dari P ke D dan dengan menahan napas ia mulai menggelindingkan roda mobil maticnya.


Lintang menuju ke apotik yang buka dua puluh empat jam dan jaraknya memakan waktu, empat puluh lima menit pulang pergi.


Chandresh terbangun dan merasakan badannya meriang. Dia lalu bangkit dan dengan alat penyangganya, ia berjalan pelan ke dapur untuk mengambil minum. Kepalanya sedikit terasa pening, namun ia berhasil sampai di depan lemari es dengan selamat. Chandresh membuka pintu lemari es dan langsung menenggak habis satu botol ukuran sedang air mineral dingin. Chandresh selalu minum air putih dingin sebanyak-banyaknya setiap kali ia diserang demam dan tidak memiliki obat penurun demam. Dengan minum air putih dingin sebanyak-banyaknya ia akan sering kencing dan demamnya akan reda dengan sendirinya. Dan Lintang tidak tahu soal itu.


Chandresh masuk ke kamar mandi yang ada di dekat dapur dan setelah keluar dari dalam kamar mandi, dia bertanya ke Bi Inah, "Bi, Lintang belum ke sini, ya?"


Bi Inah menoleh ke Chandresh dan mengentikan tarian spatulanya untuk berkata, "Sudah, Pak. Tadi Non Lintang tanya soal obat penurun demam dan saat Bibi bilang nggak punya, Non Lintang berlari kencang ke depan"


Chandresh bergegas ke depan dan melihat pintu garasi terbuka lebar.


Supir pribadinya Lintang yang bernama Marni, berlari mendekati Chandresh dengan wajah panik, "Non Lintang, itu, anu, Pak, anu.........."


"Lintang anu, apa? Kenapa? Bicara yang jelas!" Chandresh ikutan panik melihat kepanikkan tampak nyata di wajahnya Marni.


"Non Lintang naik mobil keluar. Saya terlambat menghentikannya"


"Hah?! Tapi, Lintang bisa nyetir mobil, kan?"


"Bisa, Pak. Saya yang mengajarinya selama ini, tapi Non Lintang belum pernah bawa mobil sendirian. Saya takut kalau Non Lintang kenapa-kenapa. Bagaimana ini, Pak?" Marni semakin gugup dan panik.


"Sial! Kita susul dia!" Chandresh memekik kesal.