Missing You

Missing You
Missing You



Lintang membuka kedua kelopak matanya lalu berputar badan. Gadis remaja yang cantik itu terkejut saat pucuk hidungnya menyentuh bibirnya Chandresh. Lintang langsung merosot turun dan sembunyi di balik selimutnya.


Chandresh tersenyum geli dan sambil berusaha menarik selimutnya Lintang karena, Lintang terus menahan selimut itu, Chandresh bertanya, "Mau sampai kapan sembunyi di dalam selimut? Kamu nggak lapar?"


Lintang menggelengkan kepalanya dari balik selimut dan Chandresh semakin dibuat geli saat ia melihat permukaan selimut bergerak ke kanan dan ke kiri. Lalu, saking gemasnya, Chandresh menyusupkan kedua tangannya di bawah tubuhnya Lintang dan dia langsung membopong Lintang ke kamar mandi.


Lintang diam mematung di balik selimut.


Chandesh lalu menurunkan Lintang dengan pelan di bawah keran dan menarik selimut dengan paksa dengan tangan kanan karena taman kirinya dia pakai untuk mendekap pinggangnya Lintang.


Lintang memekik kaget saat selimut itu berhasil ditarik lepas dari genggamannya. Lintang langsung kebingungan mencari tempat untuk menyembunyikan wajahnya yang terasa panas, karena malu.


Chandesh tersenyum lebar dan langsung menarik belakang kepalanya Lintang sampai wajah Lintang membentur dada bidangnya. Chandesh menahan kepalanya Lintang dan berkata, "Kalau kamu ingin bersembunyi, pakailah dadaku untuk bersembunyi, jangan mencari tempat lain. Kalau kamu butuh tempat untuk bersandar, pakailah bahuku untuk bersandar dan jangan cari tempat bersandar yang lain"


Wajah lIntang yang masih menempel di dada bidangnya Chandresh, membeku seketika. Lintang sama sekali malu untuk bergerak sedikit pun.


Chandresh mengusap belakang kepalanya Lintang sambil berkata, "Kita ini suami istri, nggak usah malu-malu. Kakak juga udah lihat semuanya tadi. Kenapa masih malu sama Kakak?"


Lintang menepuk bahunya Chandresh dengan wajah yang masih menempel di dada bidang suaminya.


Chandesh lalu meraih botol sabun, menuangkannya di telapak tangan kirinya, lalu ia usapkan di badan Lintang yang sudah ia basahi dengan air hangat yang mengucur dari keran, sambil berkata, "Kakak mandikan kamu pelan-pelan, ya?"


"Jangan menyatu lagi dengan Lintang, ya, Kak, masih berdenyut dan perih rasanya" Lintang mendongakkan wajah cantiknya.


Chandesh mengecup bibirnya Lintang, lalu ia berucap, "Iya. Maafkan Kakak ya, Kakak lupa diri tadi dan tanpa Kakak sadari, Kakak membuatmu merasakan perih"


Lintang menatap Chandresh dengan wajah polosnya dan Chandresh langsung mengguyur tubuh Lintang dengan shower. Setelah selesai, dia menyelimuti tubuh Lintang dengan handuk bersih, lalu membopong Lintang untuk keluar dari dalam kamar mandi


Chandesh menurunkan Lintang dengan hati-hari di atas lantai marmer kamar peraduan cinta mereka, lalu ia berputar badan dan dengan cepat kembali lagi dengan membawa baju ganti untuk Lintang. Chandresh membantu Lintang berganti baju.


Lintang mematung saat ia melihat ada bercak darah di seprai. Chandesh langsung mengambil seprei itu dengan berkata, "Kamu duduk dulu di sofa! Kakak akan ganti seprainya dulu" Chandesh lalu berlari keluar kamar sambil mendekap seprai dengan bercak darah keperawanannya Lintang.


Bi Ijah langsung menyusul Chandresh saat ia melihat Chandesh melesat cepat menuju ke mesin cuci. "Mana, Pak, biar Bi Ijah yang nyuci seprainya"


"Nggak Bi! Jangan! Khusus ini, biar saya sendiri yang mencucinya. Emm, Bibi tolong antarkan makanan aja untuk Lintang. Lintang masih ada di dalam kamar" Sahut Chandresh sambil memencet tombol start yang ada di mesin cuci.


Bi Ijah meninggalkan Chandresh dengan wajah penuh tanya karena, ia melihat Chandesh terus tersenyum menatap mesin cuci."Ada apa dengan Pak Chandresh, ya? Kenapa lihat mesin cuci aja girang banget sampai senyum terus kaya gitu"


Bi Ijah sampai di dalam kamarnya Lintang dan meletakkan nampan di atas meja soda mini yang ada di kamar, lalu berteriak kaget, "Astaga! Kenap seprainya dicopot? Bibi baru ganti seprainya pagi tadi"


Lintang langsung makan dan pura-pura tidak mendengar teriakannya Bi Ijah. Dan saat Bi Ijah menoleh ke arahnya, Lintang menundukkan wajah sambil terus makan.


Melihat Nona besarnya asyik makan, Bi Ijah akhirnya bangkit berdiri untuk mengambil seprai yang baru dari dalam lemari dan menatanya di atas ranjang. Setelah selesai, Bi Ijah melangkah keluar dan langsung menuju ke mesin cuci. Bi Ijah menggeleng-gelengkan kepalanya saat ia melihat Chandresh masih tersenyum di depan mesin cuci. Bi Ijah kembali bergumam, "Ada apa dengan Non Lintang dan Pak Chandresh, ya?"


Setelah menunggu selama lima belas menit, Chandresh mengambil seprai dari dalam mesin cuci lalu segera menjemurnya. Lalu ia melangkah ke kamar dan mendapati Lintang ketiduran di sofa sambil memangku piring yang telah kosong. Chandesh duduk di sebelahnya Lintang, mengambil piring dari saya pangkuannya Lintang dengan hati-hati, lalu ia membopong Lintang dan merebahkan Lintang di atas ranjang.


Chandesh merapikan rambutnya Lintang, mencium keningnya Lintang dan berbisik di sana, "Terima kasih Sayang, kamu sudah membuat Kakak menjadi pria paling beruntung dan paling bahagia sedunia saat ini. Terima kasih kamu sudah menjaga segel kamu dengan baik"


Lintang tersenyum saat ia mendengar kata sayang meluncur dari mulutnya Chandresh. Chandesh mengecup senyuman itu, lalu ia berputar badan untuk membawa nampan berisi gelas dan piring kosong ke dapur.


Chandresh memberikan nampan itu ke Bi Ijah, lalu dia menuju ke meja makan untuk makan. Chandesh makan banyak sekali, dia nambah sampai tiga kali, saking laparnya setelah tenaganya habis terkuras di dalam tiga ronde penyatuan cintanya dengan Lintang dan Bi Ijah kembali bergumam heran, "Apa Pak Chandresh kerasukan, ya, tadi senyum-senyum sendiri, sekarang aku lihat, Pak Chandresh makan banyak banget, tidak seperti biasanya?"


Keesokan harinya, Chandesh bangun dengan bahagia karena ada Lintang di dalam pelukannya. Dia mengusap punggung Lintang, mencium pucuk kepalanya Lintang dan saat Lintang membuka mata, Chandresh langsung menyapa, "Selamat pagi, Lin"


Lintang tersenyum dengan rona merah di wajahnya karena malu.


Chandesh mencium bibirnya Lintang saking gemasnya melihat wajah Lintang yang sangat cantik di pagi hari. Lalu Chandresh menarik bibirnya dengan sangat terpaksa dari bibirnya Lintang, untuk berkata, "Kamu hari ini sudah libur sekolah. Kamu tidur aja lagi. Kakak akan ke kantor Papa. Mulai pagi ini, Kakak bekerja di kantor"


Lintang tersenyum dan berkata, "Selamat bekerja, Kak. Sukses selalu, ya"


Chandesh mencium keningnya Lintang dan bangun dengan terpaksa. Dia masih ingin berlama-lama memeluk Lintang dan menciumi wajahnya Lintang, tapi tugas dan tanggung jawab mengharuskan dia bangun dan meninggalkan Lintang.


Chandresh akhirnya duduk di kursi direktur dan dia kaget saat ia mengetahui bahwa Erick temannya yang menjadi asisten pribadinya.


Chandesh senang sekali dan dia langsung membuka hari pertama ia bekerja dengan curhatan. Dia curhat ke Erick, "Aku dulu sering bergumam missing you untuk Shinta, tapi kini missing you yang aku gumamkan, hanya untuk Lintang, istri kecilku seorang"


Erick mencebikkan bibirnya dan berkata, "Apa benar kamu sudah melupakan Shinta?"


"Iya. Aku sudah tidak ada rasa sama sekali dengan Shinta. Bahkan saat ini, aku hanya merindukan Lintang. Aku bahkan ingin cepat pulang dan melihat wajah imutnya Lintang. Ah, Erick! Ternyata menikah itu sangat menyenangkan"


Erick hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya laku berkata, "Kita harus mulai bekerja, Bro. Simpan saja dulu missing you kamu itu!"