
Chandresh membuka tas kerjanya dan mengeluarkan kotak besar dari beludru berwana merah maroon. Chandesh memangku kotak besar itu dan membukanya.
Menantu dokter Andri Rajendra itu kemudian memakaikan anting berbentuk kupu-kupu di telinganya Lintang, lalu memasangkan cincin pernikahan mereka di jari manis tangan kanannya Lintang, dan yang terakhir ia mengalungkan Kalung emas rantai Santa dan berliontinkan kupu-kupu di leher cantiknya Lintang.
Chandresh mengusap liontin berbentuk kupu-kupu di atas dadanya Lintang sembari tersenyum lalu berucap, "Kamu cantik"
Lintang tersenyum malu dan berucap, "Terima kasih, Mas"
"Apa aku boleh menyandarkan kepalaku di pundak kamu?" Tanya Chandresh ke Lintang
Erick yang menyahut dengan cepat, "Chan! Lintang yang seharusnya menyandarkan kepalanya di pundak kamu. Kok malah kamu, sih?"
Chandresh langsung menendang Erick sambil berucap kesal, "Fokus nyetir aja Elo jangan ikut campur urusan dalam negeri!"
Erick langsung menyahut, "Dasar gila!"
Lintang terkekeh geli dan berucap ke Chandesh, "Boleh, Mas"
Chandresh bahagia bukan kepalang mendengar kata boleh dan mendengar kata mas meluncur dari mulutnya Lintang. Chandresh menyandarkan kepalanya di atas pundaknya Lintang dengan wajah semringah
Lintang mengangkat tangannya untuk mengelus rambutnya Chandresh dan Chandresh semakin melebarkan senyum bahagianya. Chandresh secara perlahan mengusap perut ratanya Lintang dan berkata lirih, "Aku ingin cepet punya anak dari kamu dan........"
"Lintang masih belum genap enam belas tahun. Lintang belum boleh hamil" Sahut Erick.
"Kenapa kamu selalu nyamber kayak jemuran, sih?" Chandresh kembali menendang pinggangnya Erick dari jok belakang.
Lintang mengulas senyum geli dan Erick langsung menyahut, "Itu benar. Kalau kamu mencintai Lintang, kamu harus tunggu dua tahun lagi kalau ingin punya anak. Lintang boleh hamil kalau sudah delapan belas tahun"
"Apa benar begitu?" Tanya Chandresh dengan wajah serius
"Itu benar. Kamu boleh tanya ke papa mertua kamu, pasti jawabannya sama denganku Sahut Erick.
Chandresh lalu mengangkat wajahnya untuk menoleh menatap wajah cantik istri kecilnya dan ia kemudian menempelkan bibirnya ke daun telinganya Lintang dan berbisik di sana, "Untung saja Mas nggak kebablasan pas di ruang kerjanya Mas tadi. Sepertinya Mas harus sedia alat pengaman juga di ruang kerjanya Mas, karena setiap kali kamu datang mengunjungi Mas, pas, Mas kerja, kamu sungguh memesona, Sayang"
Lintang merona malu dan langsung menepuk pelan punggung suami gantengnya.
Chandresh lalu menyusupkan wajahnya ke leher putihnya Lintang dan menciumi leher itu. Lintang sontak menggigit bibir bawah dan meremas ujung dressnya karena, ia tidak ingin kalau sampai dia melenguh, Erick akan mendengarnya dan suasana pasti akan menjadi canggung.
Chandesh menarik wajahnya dari leher putihnya Lintang saat Erick berkata, "Sudah sampai"
Lintang langsung bertanya, "Ada apa, Mas?" Saat Chandresh mengusap lehernya Lintang.
Chandresh mencium keningnya Lintang dan berkata, "Nggak papa" Suaminya Lintang itu kemudian mengajak Lintang turun dari dalam mobil.
Suami Istri itu bergandengan tangan saat melangkah masuk ke dalam restoran. Chandresh melangkah sambil sesekali melirik lehernya Lintang. Pria ganteng bertubuh atletis itu mengulas senyum bangga saat ia melihat tanda kemerahan yang dia daratkan di leher putihnya Lintang. Dia merasa kalau tanda merah itu bisa membuktikan kepada seluruh dunia bahwa Lintang adalah wanitanya, miliknya, dan istri sahnya.
Chandresh dan Lintang mencium punggung tangannya dokter Andi Rajendra, lalu Lintang duduk di sebelahnya Dokter Andi Rajendra sedangkan Chandesh duduk di sebelahnya Lintang. Mereka menunggu klien mereka yang belum nampak hadir di depan mereka.
Saat klien mereka akhirnya tiba di meja yang dipesan oleh Dokter Andi Rajendra, mereka saling menyalami dan langsung duduk ke kursi mereka masing-masing.
Sebelum Dokter Andi Rajendra membuka suara untuk mengenalkan Chandesh Kusuma sebagai menantunya dan sekaligus sebagai presiden direktur di perusaan yang bergerak di bidang alat medis miliknya, kliennya Dokter Andi Rajendra yang bernama Bagas Buana yang datang dengan putra tunggalnya yang bernama Dave Buana lebih dahulu membuka suara, "Lintang, kamu bertambah cantik sekarang ini. Pantas saja kalau Dave putraku ini memaksa ikut ke sini. Dia diam-diam mengagumi kamu"
Chandresh menatap kesal klien dari papa mertuanya dan di saat ia hendak membuka kekesalannya, tangan Lintang langsung menggenggam erat tangannya Chandresh yang masih berada di bawah meja.
Lintang lalu tersenyum dan berucap, "Baik, Om. Saya tidak akan lupa mengundang Anda dan putra Anda"
"Denger-denger kamu baru aja mengalami kecelakaan?" Tanya Dave Buana putra tunggalnya Bagas Buana
"Itu benar" Sahut Lintang.
"Bagaimana kondisi kamu sekarang ini?" Tanya Dave kemudian.
Chandresh mulai menegang karena, cemburu dan Lintang terus menggenggam tangannya Chandresh sebagai kode agar Chandresh tetap tenang. Akhirnya, Chandresh hanya bisa menghela napas panjang untuk melepaskan kekesalan dan kecemburuannya.
Lintang tersenyum dan menjawab, "Aku udah baikan sekarang ini"
"Aku langsung mencari waktu luang agar aku bisa pulang dari Amerika saat mendengar kamu kecelakaan dan mengalami koma. Aku ingin segera menjenguk kamu, yeeeaahh tapi, aku baru bisa pulang kemarin dan bertemu dengan kamu hari ini. Maafkan aku. Oh, iya, ini aku kasih oleh-oleh cokelat almond kesukaanmu" Dave Buana menyodorkan paper bag berukuran sedang ke Lintang.
Lintang tersenyum dan mengucapkan, "Terima kasih banyak untuk oleh-oleh, Dave"
"Kita pindah meja saja biar kita bisa ngobrol dengan tenang" Sahut Dave sambil bangkit berdiri
Chandresh sontak bangkit berdiri dengan wajah kesal dan ia menarik lengannya Lintang untuk mengajak Lintang bangkit berdiri.
"Kenapa dia ikut? Dia, kan, karyawan Papa kamu dan harus ikut rapat dengan Papaku dan Papa kamu, kan?" Tanya Dave.
"Dia harus ikut. Kalau tidak ikut, aku juga nggak akan pindah meja" Sahut Lintang.
Dave menghela napas panjang lalu berkata, "Baiklah, biarkan dia ikut.
Bagas tertawa senang melihat interaksinya Dave dan Lintang. Dan di saat Dokter Andi Rajendra hendak membuka mulut, Bagas Buana langsung berucap, "Kita langsung bahas bisnis baru kita aja. Biarkan anak-anak kita melepas kerinduan mereka satu sama lain"
Dokter Andi Rajendra menghela napas panjang dan mulai membicarakan bisnis barunya yang bekerja sama dengan Bagas Buana. Bisnis mereka bergerak di bidang design interior dan furniture.
Chandresh duduk di sebelahnya Lintang dan Dave langsung menautkan alisnya, "Kenapa kamu duduk si sebelahnya Lintang terus?"
"Dan kenapa kamu sok akrab dengan Lintang?" Chandesh tidak bisa menahan diri lagi untuk melepaskan kekesalan dan kecemburuannya.
"Karena, Lintang adalah teman SD dan SMP aku. Kami sama-sama gemuk saat itu, hahahahaha. Tapi, Lintang berhasil kurus pas masuk SMP. Kami selalu satu bangku dan Lintang teman spesialku" Sahut Dave sambil terus menatap Lintang dengan penuh arti.
"Dia sahabatku, Mas" Sahut Lintang sembari menoleh ke Chandresh.
"Oke. Aku rasa kalian akan tetap bersahabat selamanya" Sahut Chandresh dengan menghunus sorot mata tajamnya ke Dave Buana.
"Mau jadi sahabat atau lebih, itu urusan aku, kenapa kamu yang hanya karyawan di perusahaannya Om Andi Rajendra, berani mengatur hubunganku dengan Lintang"
Chandresh mulai menggertakkan gerahamnya, lalu dengan amarah yang sudah sampai di ubun-ubun, dia berkata, "Karena, Lintang adalah Istriku"
"Hah?! What!? Nggak mungkin!?" Dave Buana langsung melotot