
Menginginkan pekerjaan yang berbeda dari orang tua mungkin bukan impian setiap anak. Tapi itu adalah impianku. Bagi orang tuaku , anaknya diharuskan mengelola perkebunan peach yang sudah dijalankan turun menurun.
Sedangkan aku ingin menjadi pegawai yang bekerja di gedung pencakar langit yang ada di Seoul. Seringkali aku dan ayahku bertengkar karena itu. Ibuku juga selalu membujukku untuk mengikuti apa yang ayahku inginkan. Tapi aku tetap bersikeras dengan apa yang kuinginkan.
Akhirnya kuputuskan untuk lari dari rumah. Aku mendaftar kuliah di Universitas swasta daerah Gwangjin-gu Seoul. Uang pendaftaran kubayar dengan tabungan yang sudah kukumpulkan sejak smu kelas satu. Kakak perempuanku yang merasa kasihan denganku memberi sedikit uang yang bisa kugunakan untuk hidup di Seoul.
Sejak aku pergi dari rumah, sekarang sudah 2 tahun aku ada di Seoul. Kalau mengandalkan uang yang kakakku kirimkan setiap bulan tentulah tidak cukup. Kakakku sudah menikah dan memiliki bayi perempuan yang membutuhkan uang. Suaminya juga hanya pegawai negeri di Chuncheon, kampung halaman kami. Untuk menutup kekurangan uang, aku bekerja paruh waktu di beberapa cafe dan restoran.
Tapi semakin hari pengeluaranku bertambah. Biaya sewa apartemen, uang kuliah, uang kursus dan biaya makan sering membuatku merasa ingin patah semangat. Maka dari itu kuputuskan untuk cuti kuliah dan bekerja full time dengan gaji yang besar.
Setelah mencari pekerjaan kesana kemari, akhirnya kutemukan pekerjaan yang memberi gaji yang sesuai. Dengan hanya bekerja 1 tahun, biaya hidup, makan, uang kuliah dan kursus sampai akhir kuliah akan bisa kubayarkan. Aku juga tidak harus bekerja di 3 tempat berbeda setiap harinya. Mendapat uang lembur, biaya kesehatan dan uang transport. Pekerjaan ini sungguh menguntungkan.
Memang tidak bergengsi untukku yang baru saja berumur 23 tahun. Tapi aku tidak boleh berkecil hati. Aku harus membuktikan pada orang tuaku, bahwa aku bisa melakukan apa yang kuinginkan dan meraihnya tanpa bantuan mereka.
Menjadi pembantu di rumah seorang idol dan aktor terkenal, itulah pekerjaan yang kudapat. Gajinya besar dengan syarat yang panjang.
Aku tidak boleh menjadi atau pernah menjadi fans idol dan aktor tersebut. Aku tidak boleh membuka rahasia tuan rumah di depan publik dan satu syarat yang paling penting adalah aku tidak boleh jatuh cinta pada majikanku.
Majikanku adalah seorang idol dan aktor yang berusia 33 tahun. Selama 10 tahun dia berada di salah satu grup menyanyi yang melambungkan namanya. Tapi setelah satu persatu member grupnya pergi wajib militer, mereka tidak memperbarui kontrak dan akhirnya meninggalkannya sendirian. Setelah dia menyelesaikan wajib militernya, dia menandatangani kontrak dengan label baru. Memulai debut solo dan membintangi beberapa judul drama dan film.
Chang Min Jung.
Setiap drama yang dibintanginya selalu meraih rating diatas 20%. Film yang dibintangi juga mendapat banyak perhatian dari lebih dari 17 juta penggemarnya. Banyak fans nya yang fanatik dan tidak segan-segan menyamar sebagai pembantu, tukang tv kabel atau staff di kantor labelnya.
Pak Park Hwan Li adalah manajer yang mewawancaraiku untuk pekerjaan ini. Pak Park mencari tahu identitasku sampai ke kampus dan menanyai teman-teman bahkan kakakku untuk mendapat informasi apakah aku adalah salah satu fans nya yang cukup gila untuk mendekati Chang Min Jung. Setelah waktu wawancara dan penyeleksian yang panjang, aku pun diterima.
Rumah Pak Chang di Seoul berada di daerah Itaewon. Rumahnya bergaya modern dengan mayoritas warna abu dan putih. Luas rumahnya 500 meter dengan carport yang bisa menampung 6 mobil. Kolam renang dan taman belakang yang luas. Di taman belakang ada tempat yang dikhususkan untuk menjamu tamu dengan sofa.
Rumahnya punya 5 kamar yang besar. Dua kamar tidur lengkap dengan kamar mandi dalam. Satu ruang yang difungsikan sebagai ruang wardrobe. Satu ruang lagi dibuat sebagai tempat penyimpanan hadiah dari para penggemarnya. Dan satu ruangan lagi diubah fungsi menjadi ruang kerja. Selain kelima kamar itu ada dapur, ruang makan, ruang tv, kamar mandi tamu di lantai bawah dan ruang untuk menerima tamu.
Memang rumah yang sangat besar dan untukku rumah ini adalah pekerjaan yang sangat berat. Tapi kata Pak Park aku tidak harus membersihkan semua ruangan dalam 1 hari.
Untuk baju dan sprei kotor aku tinggal membungkusnya dalam kantong besar dan menelpon laundry. Karena banyak pakaian Pak Chang yang harganya mahal, ada juga jas mahal dan aku tidak mungkin bisa mencucinya.
Untuk kolam renang juga ada yang sudah menangani tiap bulan atau kalau Pak Chang inginkan bisa datang tiap dua hari sekali. Apalagi tidak setiap hari Pak Chang pulang ke rumah ini.
Selain rumah di Itaewon, Pak Chang punya apartemen di daerah gangnam dan satu rumah untuk orang tuanya di daerah Anyang.
Aku bekerja setiap hari tanpa ada hari libur kecuali diperbolehkan oleh tuan rumah. Masuk kerja pukul 6 pagi dan pulang pukul 8 malam.
Selama 2 bulan ini aku selalu pulang pukul 6 malam karena tuan rumah tidak pernah pulang ke Itaewon. Pekerjaanku pun tidak berat. Sesekali aku tiduran di sofa halaman belakang dan bersantai.
Hari inipun aku berangkat pukul 5 dari rumah. Aku hanya sarapan roti dan minum kopi hangat. Naik subway pertama dan turun di stasiun Itaewon. Berjalan sekitar 200 meter dan sampailah aku di kawasan rumah Pak Chang.
Tapi hari ini ada yang berbeda. Ada beberapa mobil media. Ada juga beberapa perempuan yang memakai atribut dengan foto Pak Chang. Tuan rumahku pasti sekarang ada di rumah.
Untuk keadaan seperti ini, aku tidak boleh menggunakan pintu depan. Aku harus memakai pintu belakang yang agak tersembunyi dan langsung menuju halaman belakang.
Masuk rumah aku meletakkan jaket dan tas di kursi dapur. Aku mulai memakai celemek dan merebus air. Tak lupa aku mengecek penyimpanan makan dan mengambil kopi dan tepung.
Pernah bekerja di cafe dan restoran merupakan kelebihanku diantara pelamar yang lain. Aku bisa mengoperasikan mesin kopi dan membuat makanan sesuai yang sedang digemari saat ini.
Kemarin malam Pak Park, sang manajer mengirim pesan padaku bahwa hari ini Pak Chang pulang ke rumah Itaewon. Aku harus menyiapkan kopi dan beberapa makanan ringan untuk Pak Chang dan staff yang dibawanya. Tapi staff Pak Chang tidak tinggal disini. Mereka akan pulang setelah membereskan wardrobe dan hadiah serta surat penggemar yang dibawa pulang.
Kuputuskan membuat kopi hitam dan crepes strawberry. karena hanya itu bahan yang kutemukan di kulkas. Pak Park juga mengatakan sudah meninggalkan uang belanja di meja dapur untuk sebulan penuh, karena Pak Chang akan beristirahat sebentar di rumah sebelum syuting drama yang dimulai bulan depan.
Kopi dan Crepes sudah siap. Pada salah satu staff aku berpamitan pergi ke pasar swalayan terdekat untuk berbelanja. Aku membeli berbagai daging, buah dan sayuran. Tidak lupa aku membeli raemyon dan kacang-kacangan.
Pak Chang sebenarnya punya tim khusus untuk makanan yang dikonsumsinya, supaya badannya tetap fit dan bagus. Tapi karena libur, Pak Chang diperbolehkan makan apa saja selama 2 minggu ini. Asalkan tidak berlebihan.
Karena berbelanja terlalu banyak, aku butuh 30 menit untuk berjalan sampai rumah. Mobil media sudah tidak ada di depan rumah. Penggemar yang menunggu tadi pagi juga sudah pergi semua. Tapi aku harus tetap menggunakan pintu belakang. Berjaga jaga supaya tidak ada yang tahu bahwa aku pembantu dari aktor Chang Min Jung.
Sampai di dapur, aku menata buah dan daging di kulkas.
"Kamu siapa?" ada suara seorang pria di belakangku. Aku berbalik perlahan dan disitulah berdiri tuan rumah yang tidak pernah kutemui selama ini. Tinggi 186 dengan badan proporsional. Baru kali ini kulihat wajah pria yang mengeluarkan aura laki-laki yang kuat tapi dengan kulit yang seputih salju. Bahkan kulitku tidak seputih itu. Rambutnya ikal pendek tidak tertata dan menutupi separuh matanya.
"Saya Jin Ae. Lee Jin Ae, Pak. Pembantu baru di rumah ini" Dia melihatku dari atas ke bawah dan ke atas lagi. "Beri aku kopi panas dan camilan yang kamu buat tadi"
"Baik Pak". Aku mulai menyiapkan kopi dan crepes. Pak Chang masih di dapur dan melahap satu buah pisang "Berapa umurmu?" tanyanya lagi. "Saya 23 tahun Pak." Dia berbalik dan pergi ke kamar tidur atas. Tanpa berlama-lama akupun pergi ke kamar Pak Chang membawa kopi dan crepes.
Tok tok tok.
"Masuk"
"Jin Ae, benar kan?"
" iya Pak"
"Makan malam terserah kamu. Bangunkan aku jam 6 sore"
ini berarti Pak Chang akan tidur sepanjang hari.
" Baik pak"
Aku berbalik keluar kamar dan ke dapur melanjutkan menata bahan makanan di kulkas.
Selesai menata, aku mulai membuat sup tahu atau sundubu jiggae. Aku juga menata beberapa makanan pelengkap yang kutemukan di kulkas. Membuat gorengan terung dan ham.
Tak terasa sudah pukul 6 malam. Aku pergi ke kamar atas untuk membangunkan Pak Chang.
Tok tok tok
"Maaf Pak, sekarang sudah pukul 6 malam"
"Iya" Hanya jawaban singkat yang kudengar. aku berbalik ke dapur dan mulai menata meja makan. Masih dengan pakaian tadi siang Pak Chang turun ke dapur dan melihat makanan di atas meja. Wajahnya datar seperti masih mengantuk.
"Kamu sudah makan?" dia melihatku. "nanti saja Pak, Anda silahkan makan dulu". aku menolak dengan sopan. "Makan sama-sama saja, aku tidak suka makan sendiri." dia duduk dan menunggu.
Aku bingung antara boleh atau tidaknya aku makan satu meja dengan tuan rumahku. Kalau bertanya Pak Park pasti membutuhkan waktu lama. Pak Chang melihatku lagi dan tanpa pikir panjang lagi aku menata mangkukku di meja makan.
Karena meja makannya besar aku memilih berada agak jauh dari tempak Pak Chang duduk. Awalnya tidak nyaman, tapi karena aku juga lapar karena belum makan siang maka makananku cepat habis. "Saya sudah selesai Pak" aku mengambil semua mangkukku dan pergi ke dapur.
"Rumahmu dekat sini?"
"tidak Pak. Rumah saya di Gwangjin-gu"
Ada keheningan setelahnya yang membuatku tak nyaman.
"pulang jam berapa?"
"pulang jam 8 malam Pak"
Pak Chang berdiri dan pergi menonton tv.
Aku mulai mencuci piring dan membereskan mangkuk di meja makan yang baru dipakai Pak Chang.
" Kupaskan aku apel" perintahnya
"Baik Pak"
Aku mengupas apel dan menatanya di piring lalu kuantar ke Pak Chang. Setelah itu aku
bersih-bersih dapur lagi.
"Mulai besok kau bangunkan aku dan siapkan makan untukku, tiga kali makan. Jangan lupa bangunkan aku jam 7 pagi" Pak Chang bangun dari sofa dan pergi ke kamarnya lagi di lantai atas.
"Baik Pak."
Mungkin kalau Pak Chang dan aku berdiri bersebelahan kepalaku hanya setinggi dadanya. Padahal untuk ukuran perempuan aku tidak pendek.
Aku membersihkan meja dapur dan meja tv. Aku pergi melihat halaman belakang lalu mengunci pintu depan dan garasi.
Aku mengunci pintu rumah depan dan memeriksa setiap jendela dan menutup tirainya. Lalu aku pergi ke lantai atas dan melihat balkon. Tak lupa aku mengunci pontu balkon dan pergi ke kamar Pak Chang
Tok tok tok
tidak ada sahutan dari dalam. Mungkin Pak Chang sudah tidur. Perlahan aku turun ke bawah dan mengirim pesan ke Pak Park. Kuberitahu Pak Park apa saja kegiatanku dan membeli apa saja hari ini. Aku juga berpamitan untuk pulang karena sudah waktuku untuk pulang. Sesudah mengunci pintu dapur dari luar aku berjalan keluar rumah lewat pintu belakang.
Di dekat stasiun ada yang berjualan kue ikan. Aku membeli 3 kue ikan berisi custard kesukaanku. Kumakan kue ikan dan menunggu kereta datang. Aku membuka ponselku dan ada ajakan berkumpul dari teman kuliahku.
Tapi aku capek sekali hari ini, jadi terpaksa kutolak ajakannya. Besok aku harus menyiapkan 3 kali makan untuk Pak Chang. Dengan bahan yang baru kubeli di kulkas aku melihat internet dan mencari menu yang kira-kira cocok.
Pak Park pernah memberiku informasi kalau Pak Chang bukanlah orang yang pemilih makanan. Tapi kalau kumasakkan makanan rumahan terus menerus atau makan internasional terus menerus, Pak Chang pasti bosan. Aku harus membuat menu makanan dan akan aku konsultasikan ke Pak Park.
Bersiap saja agar lebih memudahkan pekerjaanku. Setiap hari aku juga harus berbelanja. Oh iya. Sebaiknya besok pagi aku membeli roti tawar dan membuat French toast untuk sarapan Pak Chang. Tidak lama buku catatanku penuh dengan nama menu makanan yang terlintas di otakku. Saat itu kereta datang dan aku berangkat untuk pulang ke apartemen sewaku yang ukurannya sama dengan dapur Pak Chang.