Missing You

Missing You
Maafkan Aku!



Dave Buana tertawa puas di dalam kamarnya, lalu berkata sembari duduk di tepi ranjang mewahnya, "Dasar bodoh kau Chan. Kau akan tamat sebentar lagi dan Lintang bisa aku miliki, karena Dokter Andi Rajendra semakin menyukaiku"


Semua membisu di meja makan karena kritikan pedas yang dilontarkan oleh Dokter Andi Rajendra ke Chandresh Kusuma


Lintang melirik suaminya dan saat Lintang mencoba bertanya, "Mau nambah sayurnya, Mas?"


Chandresh diam saja dan mengabaikan Lintang. Lintang menatap suaminya dari arah samping dan sambil menghela napas panjang ia mengalihkan pandangannya ke mama tirinya dan mama tirinya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya ke Lintang sebagai kode agar Lintang bisa bersabar.


Setelah papa dan mama mertuanya pulang, Chandresh keluar rumah tanpa pamit.


Lintang yang tengah membantu Bi Ijah membereskan meja makan langsung berlari menyusul suaminya, namun suaminya sudah tidak nampak di teras depan rumahnya.


Lintang menghela napas panjang dan melangkah gontai ke kamarnya. Lintang menunggu suaminya di dalam kamar sembari mengecek tugas kuliahnya.


Chandresh masuk ke kamarnya dan melihat istri kecilnya ketiduran di meja belajar. Chandresh dengan pelan membopong Lintang untuk ia rebahkan di atas kasur. Setelah menyelimuti Lintang, Chandesh melangkah ke balkon kamarnya, membuka pintu balkon yang digeser ke kanan lalu menutupnya kembali karena ia ingin merokok di sana.


Chandresh ternyata keluar rumah untuk membeli sebungkus rokok. Dia yang tidak pernah merokok, memutuskan untuk mencoba merokok di malam itu karena stres.


Pria ganteng itu mengalami stres karena papa mertuanya ridak pernah merasa puas dengan segala hal yang sudah ia kerjakan dengan sepenuh hati. Dia mengalami stres karena dia masih tinggal di rumah pemberian dari papa mertuanya. Dia mengalami stres karena dia belum bisa membeli rumah sendiri, dia mengalami stres karena masih belum berhasil memberikan klien besar untuk papa mertuanya. Dapat satu klien yang dia rasa cukup besar, ternyata masih dipandang sebelah mata oleh papa mertuanya.


Lintang terbangun dan refleks meraba kasur. Saat ia menemukan suaminya di atas kasur, Lintang sontak duduk di atas kasur dan menghela napas lega saat ia melihat punggung suaminya lewat pintu yang terbuat dari kaca tebal yang transparan, yang menuju ke balkon.


Lintang lalu melompat turun dari atas kasur dan berjalan menuju ke balkon. Saat Lintang menggeser pintu balkon ke kanan, Chandresh menoleh ke belakang dan spontan mematikan rokoknya dan mengibas-ngibaskan tangannya untuk mengusir ada rokok yang masih mengepul.


Lintang berdiri di sisi kanannya Chandresh, ia menggelungkan kedua tangannya di lengan kekarnya Chandresh dan setelah menghela napas panjang ia berkata, "Kenapa Mas merokok? Mas, kan, nggak pernah merokok selama ini?"


Chandresh menatap jalan di bawah balkon sambil mengelus tangannya Lintang, lalu berkata, "Aku stres, Sayang. Selama ini aku belum bisa berprestasi di depan Papa kamu. Aku stres karena aku juga belum bisa membelikan kamu rumah. Kita masih menempati rumah pemberian dari Papa kamu"


Lintang mencium bahunya Chandresh dan berkata, "Jangan dipikirkan, Mas! Papa memang seperti itu orangnya, tapi Papa selalu tulus. Kalau sudah memberikan sesuatu, dia nggak akan mengungkitnya lagi dan........."


Chandresh menepis pelan tangannya Lintang, lalu ia memutar badan, masuk ke dalam kamar, dan duduk di sofa. Ia kemudian meraih remote yang tergeletak di atas meja sofa untuk menyalakan televisi.


Lintang kembali menghela napas panjang sebelum ia berjalan masuk ke dalam kamar. Dia menarik pintu balkon dan menguncinya. Setelah itu, ia berjalan mendekati suaminya dan duduk di atas pangkuan suaminya. Dia mengambil remote dari genggaman tangan suaminya untuk mematikan televisi, lalu meletakkan remote di atas meja. Lintang kemudian mengelus kedua pipi suaminya mengelus kepala suaminya sampai ke tengkuk dan dia mengusap tengkuk suaminya sambil berkata, "Mas, apa malam kita selanjutnya akan seperti ini terus? Apa Mas akan cemberut dan mengabaikan aku terus kayak gini? Apa aku udah nggak menarik lagi bagi kamu, Mas?"


Chandresh yang masih menatap layar televisi yang sudah mati, tersentak kaget dan langsung menoleh dan sontak ia memeluk pinggang ramping istri cantiknya sambil mendongak untuk mencari wajah wanita yang sangat ia cintai. Chandresh mengelus pipinya Lintang dengan tangan kananya dan berkata, "Maafkan aku, Sayang. Aku nggak akan membahasnya lagi di kemudian hari. Cukup hari ini saja aku bersikap kekanak-kanakan dan merajuk nggak jelas kayak gini"


Lintang yang masih menunduk mengelus tengkuk suaminya laku ia tarik tengkuk suaminya untuk ia dekap mesra kepala suaminya sembari berkata, "Aku juga minta maaf atas sikap Papaku, ya, Mas. Pelan-pelan nanti, aku akan bilang sama Papa agar bisa lebih memahami kamu yang tidak memiliki pengalaman berbisnis sebelumnya dan aku akan mengingatkan ke Papa kalau kamu itu dulunya seorang guru dan bukan seorang marketing"


Chandresh terkekeh geli, lalu ia menyusupkan wajahnya di lehernya Lintang dan di sela ciumannya, ia berkata, "Maafkan aku karena aku belum bisa kasih apa-apa buat kamu"


Lintang mengelus kepala suaminya sambil berkata, "Siapa bilang Mas nggak kasih apa-apa ke aku? Mas, udah kasih aku kalung, anting, dan cincin. Mas, lupa ya?"


Chandresh menggigit pelan lehernya Lintang dan berkata, "Aku baru bisa kasih kamu itu dan perhiasan yang kamu pakai sekarang bukan berlian"


Lintang mengelus kepala Chandresh dan berkata, "Mas, kasih sayang kamu ke aku, kesetiaan kamu dan cinta kamu ke aku, jauh lebih bernilai daripada sebongkah berlian"


Chandresh menarik wajahnya dari lehernya Lintang dan mendongakkan kembali wajahnya untuk mencari kecantikan di wajah mungilnya Lintang,.lalu ia tersenyum dan berucap, "Kalau begitu, aku akan meminta maaf dengan benar" Chandesh menarik tengkuknya Lintang dan langsung mengajak Lintang berciuman.


Lintang, seakan meleleh, dan kewalahan mengikuti permainannya Chandresh yang luar biasa. Permainan itu baru sampai di tahap berciuman, namun membuat jantung Lintang berjumpalitan tidak karuan.


Chandresh melepas ciumannya, menatap Lintang yang masih memejamkan kedua kelopak mata lentiknya dan tampak terengah engah. Chandresh tersenyum senang menatap istri cantiknya menikmati teknik ciumannya. Pria ganteng itu kemudian mengusap bibirnya Lintang yang nampak basah dan sedikit bengkak akibat dari ulahnya yang liar.


Chandresh mulai membuka kaosnya, lalu dengan pelan ia mulai membuka satu persatu kancing blus istri cantiknya sambil menciumi lehernya putihnya Lintang Chandresh meninggalkan beberapa tanda cinta dan gejolak gairahnya di sana.


Lintang sontak melenguh dan memanggil manggil nama Chandresh dengan penuh perasaan.


Chandresh tersenyum bangga saat ia melihat istrinya begitu menikmati permainannya.


Chandresh kemudian menurunkan ciumannya dan asyik memainkan tangannya di titik kenyal itu sambil merebahkan Lintang di atas kasur. Mereka kemudian berguling-guling di atas kasur tanpa melepaskan pelukan mereka sampai akhirnya Chandresh tidak kuasa lagi untuk tidak menyatu dengan istri cantiknya. Beberapa menit kemudian, keduanya saling melepaskan pekik kepuasan mereka dan jatuh tertidur dengan saling berpelukan.