Missing You

Missing You
Merindu



Chandresh sering melirik ponselnya saat ia menjalani pelatihan sebagai direktur baru di perusahaan milik papa mertuanya dan Erick hanya bisa menghela napas panjang melihat tingkahnya Chandresh.


Dan di saat break, Erick langsung bertanya ke Chandresh, "Kenapa kau terus melirik ponsel kamu? Kamu lagi dikejar tukang kredit, ya?"


"Enak aja. Aku nggak pernah berhutang selama ini karena, aku takut nggak bisa membayarnya" Sahut Chandresh dengan wajah cemberut.


"Lalu kenapa kamu melirik ponsel kamu terus?" Andi menautkan alisnya di depan Chandresh.


"Karena, aku menunggu balasan pesan text dari Lintang" Sahut Chandresh.


"Memangnya kau mengirim pesan text apa ke Istri kamu? Apa Istri kamu sedang sakit saat ini?" Erick masih menautkan alisnya.


"Istriku sehat, kok. Aku cuma bertanya ke dia, apa makanan kesukaan dia dan makanan apa yang dia tidak sukai. Tapi, kok, dia belum menjawabnya, ya?" Chandresh berkata sambil menatap layar ponselnya.


"Kau hanya bertanya begitu dan kau menunggu balasannya seolah pesan kamu itu penting banget" Erick semakin menautkan alisnya.


"Iya penting. Bagiku jawabannya Lintang sangat penting karena, aku belum tahu semua kesukaannya Lintang dan nggak tahu apa aja yang tidak Lintang sukai" Chandresh masih menatap layar ponselnya.


Erick menggeleng-gelengkan kepalanya laku ia keluar dari dalam ruangannya Chandresh sambil berkata, "Aku mau ke ruang administrasi dulu" Dan Chandresh hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya.


Chandesh hampir saja melempar ponselnya saat ponselnya berdering dan bergetar. Saking girangnya melihat nama Lintang di layar ponselnya, dia langsung bangkit berdiri saat ia mengangkat panggilan telepon itu. "Halo, Lin. Kamu sedang apa? Kok lama banget nggak bales pesan text yang Kakak kirim ke kamu?"


"Maaf, Kak. Lintang baru bangun tidur, nih" Sahut Lintang.


"Oh. Apa masih terasa sakit?" Tanya Chandresh.


"Nggak. Udah nggak begitu sakit, kok. Cuma, masih terasa sedikit aneh" Sahut Lintang dengan wajah merona karena, malu.


"Kakak baru break pelatihannya, jadi Kakak mau pakai untuk tanya-tanya ke kamu"


"Tanya makanan favoritnya Lintang, ya?" sahut Lintang.


"Hmm" Sahut Chandresh dengan wajah semringah sambil duduk kembali ke kursi kerjanya.


"Lintang suka semua makanan asal nggak pedas. Lintang nggak suka makanan pedas dan nggak begitu suka makanan yang terlalu manis" Sahut Lintang.


Dan tanpa sepengetahuannya Lintang, Chandresh mencatat jawaban Lintang itu.


"Lalu, apa.kamu tahu makanan kesukaan Kakak?"


"Kakak juga suka semua makanan, tapi Kakak paling suka sama bubur ayam" Sahut Lintang.


"Ah, kok bener, sih. Kamu udah tahu, ya"


"Hmm" Sahut Lintang.


"Lalu, apa warna favorit kamu?" tanya Chandresh.


"Warna-warna pastel semua aku suka, kecuali warna merah muda. Aku nggak begitu suka warna merah muda" Jawab Lintang.


.


Chandresh mencatatnya sembari bertanya, "Lalu, apakah kamu tahu warna favoritnya Kakak?"


"Wah, kok bener lagi, sih" Sahut Chandresh dengan wajah sedih. Dia sedih karena, Lintang ternyata tahu semua terangnya dan dia merasa menjadi pria yang jahat karena, tidak pernah mempehatikan Lintang seperti Lintang memperhatikan dirinya.


"Karena, aku adalah Istri Kakak, jadi aku harus tahu semua kesukaannya Kakak dan aku harus tahu juga apa yang tidak Kakak sukai"


"Apa yang tidak aku sukai, emangnya kau juga tahu?"


"Tahu. Kakak nggak suka keterlambatan dan kakak nggak suka jengkol, pete, dan terong. Bener, kan?" sahut Lintang.


"Bener banget. Kamu memang Istri yang sangat baik, Lin. Kamu tahu semua tentang suami kamu. Maafkan Kakak, Kakak nggak pernah mempehatikan kamu selama ini" Sahut Chandresh dengan nada sedih.


"Nggak papa. Kan, kita bisa sama-sama belajar, Kak. Kita juga baru aja nikahnya. Masih perlu untuk sama-sama belajar" Sahut Lintang.


Chandresh tertegun mendengar jawabannya Lintang dan dia bergumam di dalam hatinya, sungguh nggak nyangka, Gue, ternyata Istri Gue dewasa banget di umurnya yang masih enam belas tahun Aku beruntung banget bisa bertemu dan menikah dengan Lintang.


"Kakak senang kerja di sana? Bagaimana. di hari pertama Kakak bekerja di sana? Apa ruang kerjanya Kakak, nyaman?" Tanya Lintang kemudian.


Chandresh tersentak dari lamunannya, lalu ia segera menjawab, "Nyaman. Sangat nyaman. Cuma Kakak merasa aneh, dari sejak berpisah denganmu pagi tadi, Kakak terus merasa ada yang aneh di diri Kakak"


"Aneh kenapa?" tanya Lintang.


"Kakak merasakan sesak napas nggak jelas saat Kakak teringat akan kamu. Itu kenapa, ya?" Tanya Chandresh.


Klik! Lintang malah mematikan sambungan telepon itu saking groginya. Lalu Lintang menatap layar ponselnya dan berucap dengan wajah kecewa, "Yah, kok malah aku matikan, sih" Lalu ia tersenyum semringah dan langsung berguling-guling di atas kasur dengan cekikikan nggak jelas sambil terus mendekap ponselnya.


Sementara Chandresh, senyum-senyum sendiri nggak jelas di depan layar ponselnya lalu bergumam "Menggemaskan sekali sih, Istri kecilku"


Di jam pulang kantor, asisten pribadinya Dokter Andi Rajendra menemui Chandresh, "Pak Chandresh, maaf, Anda belum bisa pulang"


Chandesh yang sudah sangat merindukan istri kecilnya, langsung menyemburkan protes, "Kenapa saya belum bisa pulang?"


"Karena, masih ada berkas yang harus Anda pelajari" Asisten pribadinya Dokter Andi Rajendra langsung meletakkan setumpuk map berwarna hitam di atas meja kerjanya Chandresh.


Chandesh melihat tumpukan map hitam itu, lalu mengangkat wajahnya untuk menatap asisten pribadinya Dokter Andi Rajendra, "Apakah boleh saya bawa pulang dan saya pelajari di rumah? Saya janji, saya akan lembut dan besok, saya sudah siap bekerja tanpa perlu pelatihan dan pendampingan lagi" Sahut Chandresh.


"Nggak bisa, maaf. Saya harus menunggu Anda mempelajarinya dan Anda harus menandatanganinya, sehingga semua berkas itu bisa saya bawa ke hadapan Dokter Andi Rajendra untuk disetujui oleh beliau" Sahut Asisten pribadinya Dokter Andi Rajendra sembari duduk di depan meja kerjanya Chandresh.


Chandesh duduk kembali di kursi kerjanya dengan wajah lesu dan mulai mengambil lalu membuka map berwarna hitam yang berada di tumpukan paling atas sambil bertanya, "Kenapa Anda masih di sini?"


"Saya harus ada di sini untuk Anda. Kalau ada yang ingin. anda tanyakan, saya siap sedia di sini" Sahut asisten pribadinya Dokter Andi Rajendra dengan senyum lebar dan ramahnya.


Namun, Chandresh membenci senyum yang terulas di wajah asisten pribadinya Dokter Andi Rajendra karena, senyuman itu membuatnya tertahan di kantor lebih lama dan membuat dia harus menahan lagi kerinduannya pada Lintang.


Beberapa menit berlalu dan Chandresh sudah berhasil mempelajari dan menandatangani lima buah dokumen yang berada di dalam map berwarna hitam dan ia harus menghela napas panjang saat ia melirik ke samping kanannya, masih ada lima map lagi yang harus ia tangani.


"Anda termasuk orang yang cerdas Pak Chandresh. Anda mempelajari semuanya dengan cepat. Pantas saja kalau Dokter Andi Rajendra, memilih Anda menjadi direktur di sini. Direktur yang sebelum-sebelumnya, butuh waktu berminggu-minggu untuk bisa menguasai semua materi pelatihan dan bisnis yang ada di perusahaan ini" Asisten pribadinya Dokter Andi Rajendra kembali mengulas senyum ramahnya dan Chandresh membalas senyuman itu dengan helaan napas panjang.


Tok,tok,tok, pintu rumah kerjanya tiba-tiba diketuk oleh seseorang. Asisten pribadinya Dokter Andi Rajendra bangkit berdiri untuk membuka pintu dan tersenyum lebar di depannya Lintang dan menyapa Lintang, "Non Lintang, Apa kabar? Anda tambah cantik dan kelihatan lebih dewasa saat ini"


Chandresh langsung bangkit berdiri lalu berlari cepat menuju ke pintu dan dia mendorong asisten pribadinya Dokter Andi Rajendra untuk menyingkir dari hadapannya Lintang. Chandresh tersenyum semringah di depannya Lintang dengan debaran jantung yang tidak biasa.


Chandesh dan Lintang bersitatap dengan senyum penuh arti. Mereka berdua mengabaikan asisten pribadinya Dokter Andi Rajendra yang masih duduk di atas lantai karena, ia terjatuh saat Chandresh mendorongnya dengan tiba-tiba.