Missing You

Missing You
Bab 8



Malam itu aku terus membayangkan dada telanjang Pak Chang. Badanku memanas hingga aku minum air es sepanjang malam. Aku harus menyingkirkan bayangan itu dari otakku.


Aku bangun dengan suara berat. Terlalu banyak air es sebelum tidur membuat tenggorokanku kering. Aku minum teh panas, mandi air hangat dan berangkat kerja.


Rumah Pak Chang masih terlihat sepi pukul 6 pagi. Dapur dan meja makan terlihat sama seperti saat aku kabur dari Pak Chang. Aku mulai membersihkannya. Kubuka semua tirai agar sinar matahari masuk. Karena angin masih dingin di bulan Maret ini, tidak semua jendela kubuka.


Aku pergi ke halaman, menyiram tanaman dan membersihkan area santai disana. masuk ke dapur, kumasukkan ayam utuh dalam panci penuh air panas. Pagi ini sarapan sup ayam suwir pasti terasa hangat. Melihat jam, sudah waktunya membangunkan Pak Chang.


Tok..tok..tok..


"Pak Chang sudah waktunya sarapan"


Apa dia sudah bangun?


Aku masuk perlahan ke dalam kamar.


Pak Chang masih memakai kaus putihnya dan tidur tengkurap memeluk bantal. Sinar matahari membuat kulit putihnya semakin bersinar.


Melihatnya seperti ini dia terlihat seperti remaja berumur 16 tahun yang masih polos. Padahal sejak masih remaja dia diharuskan menjadi pria dewasa yang bisa memutuskan masa depannya sendiri.


Perlahan matanya membuka dan berbalik menghadap langit-langit sambil tersenyum. "Sampai kapan kau melihatku terus"


Aku berdiri, wajahku memerah. Aku tidak sadar terus melihat wajahnya saat tidur.


"Maaf Pak, Saya benar-benar minta maaf". Aku terus membungkuk meminta maaf dan pergi keluar kamar. Aku menutup pintu kamar dari luar dan lari ke arah dapur. Aaaahhhh aku menyesal masuk kamarnya.


Aku berusaha melupakan yang kulihat dengan menata sarapan di meja makan. Aku juga menata sarapanku di dapur. Dari awal kerja Pak Park membiarkanku makan di rumah ini. Aku juga diperbolehkan menggunakan bahan di kulkas karena Pak Chang jarang memakannya.


Pak Chang turun memakai celana putih panjang dan kaus putihnya. Rambutnya berantakan dan wajahnya masih bengkak. Pak Chang melihat sarapannya "Mana mangkukmu?" "Saya makan di dapur saja Pak" aku menunduk karena malu. Pak Chang mendekatiku, "Jin Ae, jangan bilang kau merasa berdebar karena melihatku bangun tidur"


Uhh perkataan apa itu. Menjijikkan. Aku menatap matanya. "Tidak Pak, perut saya agak tidak nyaman" alasan yang bisa kupikirkan saat ini. "Apa perutmu tergelitik menginginkan sesuatu yang lain,.... menyentuhku misalnya" Aku tidak menjawab dan mulai menata mangkuk nasiku di sebelah mangkuknya.


Aku sangat fokus makan pagi ini. Sup ayam suwir panas dan nasi hangat memang pasangan yang luar biasa.


Selesai makan aku pergi membersihkan kamar di lantai atas. Spreinya harus diganti. Tapi kenapa spreinya berat sekali. Ternyata diatasnya ada.....


Dia berpose seperti model, tidur menyamping dan menopang kepalanya dengan tangan kanannya. Kakinya panjang menyentuh ujung ranjang. Kenapa hari ini dia terus menggangguku.


"Saya harus mengganti spreinya Pak. Bisakah Bapak bergeser sedikit ke sofa?" Dia tersenyum. "Aku sedang melatih pose baru untuk iklan baru, bagaimana menurutmu?". Aku menyibakkan sprei dan mengenai wajahnya. Wajahnya terkejut dan ini pertama kalinya aku melihat wajah jeleknya. Aku tertawa sampai berjongkok.


"Lucu?" dia duduk dan melihatku dengan serius. Aku terus tertawa dan tidak menyadari bahwa Pak Chang mendekatiku. Pak Chang duduk di kasurnya berhadapan dengan aku yang sedang berjongkok. Aku mulai berhenti tertawa.


Pak Chang menyentuh rambut-rambut kecil di keningku. Aku menatapnya dan tersenyum. Kami berpandangan selama beberapa menit. Pak Chang menyentuh telingaku dan meletakkan tangan kanannya di leherku. Tangannya hangat membelai leherku.


Wajah Pak Chang perlahan mendekat, aku mengambil bantal diam-diam. Saat bibirnya hampir menyentuh bibirku, aku memukul wajahnya dengan bantal. Bbuk. Aku memukulnya agak keras. Pak Chang jatuh ke kasur. Aku tertawa mengejeknya.


Dia melihatku tak percaya lalu berdiri tiba-tiba dan mencoba menangkapku. Aku menghindar dan kabur ke bawah. Hari ini aku memakai rok kuning yang terbuat dari bahan sifon. Ketika berlari ke bawah rok ku berkibar cantik membuat paha putihku sedikit terbuka.


Pak Chang mengejarku dengan kekuatan penuh ke bawah. Karena takut, aku berlari sambil berteriak seperti anak kecil yang berkejaran. Aku pergi ke meja makan, Pak Chang hampir menangkapku tapi aku bisa kabur ke halaman belakang.


Aku lari ke arah sofa di halaman belakang. Pak Chang muncul di pintu terengah engah. Aku menertawainya "Kalau Bapak sudah tidak kuat karena tua, sebaiknya Bapak menyerah". Tidak kukira perkataanku membuatnya semakin bersemangat. Dia menarik selang dan mulai menyiramku.


"Baru kali ini saya tahu kalau Bapak lebih tua sepuluh tahun dari Saya". Aku terus menggodanya dan menertawainya. Pak Chang yang awalnya kesal lalu ikut tertawa. "Aku sudah tua, paru-paruku terasa seperti ingin meledak sekarang".


Rambutku dan bajuku basah. Aku bangun dan duduk di rumput basah. Pak Chang tertawa dengan menutup mata dengan tangannya karena silau. Setua apapun laki-laki, sebenarnya dia hanyalah anak laki-laki yang butuh bermain dan bersenang-senang.


Dia bangun dan duduk disampingku. "Aah, bagaimana kalau kita makan mi cup dan sosis?" tanyanya padaku. "Tapi Pak Chang besok pergi ke Busan, kalau ketahuan Pak Park. Saya yang disalahkan"


"Tidak apa-apa, ayo". Dia menggenggam tanganku dan pergi keluar rumah dengan baju yang berantakan. Rambutnya basah dan menutupi sebagian mukanya. Kami pergi ke swalayan dengan tampilan mirip tikus yang masuk ke dalam got. Untunglah pegawai minimatket tidak mengenali PaK Chang karena penampilannya.


Pak Chang membawa mi cup yang baru kami beli di meja dapur. Aku ingin ke dapur dan mulai memasak tapi Pak Chang menghentikanku. " Keringkan dulu bajumu." Aku lupa kalau bajuku basah. "Sebentar lagi pasti cepat kering Pak."


Pak Chang pergi ke kamar dan membawa kemeja untukku. "Lebih baik kau ganti baju dulu." Aku melihat bajuku yang basah membentuk lekuk tubuh. "Baik Pak"


Kemeja yang diberikan Pak Chang berwarna putih dan agak tipis. Kalau memakainya aku takut seluruh tubuhku akan terlihat. Aku teringat akan lingeri merah yang pernah diberikan Pak Chang.


Aku memakainya di atas dalamanku dan memakai kemeja diatasnya. Setidaknya pahaku tertutup,walaupun hanya sebagian. Aku keluar kamar mandi dan merebus air. Aku mengeringkan bajuku yang basah di halaman belakang. Semoga sebelum waktuku untuk pulang pakaian ini kering, karena aku tidak mau memakai pakaian yang saat ini kupakai untuk pulang.


Mencium bau ramyeon cup membuatku lapar. Sudah lama aku tidak memakannya. Matahari mulai turun ke barat, makan siang kami sangat terlambat.


Pak Chang turun dari kamar dan mendatangiku. "Wah, tidak kukira bisa makan mie cup di rumah"


Pekerjaan menjadi aktor mengharuskan Pak Chang menjaga jenis makanan yang bisa disantap.


Kalau Pak Park tahu aku membeli mie cup untuk Pak Chang, aku pasti akan dimarahi. Pak Chang membawa mie cup nya ke depan tv. Aku memerikan jus buah sebagai ganti cola dan tak lupa aku membuat buah potong untuk Pak Chang. Setidaknya ada makanan sehat yang masuk ke tubuhnya.


Pak Chang mengajakku menonton film dan makan. Baru pertama kali kulihat Pak Chang bersemangat seperti ini.


Karena baju yang kurang nyaman aku memilih duduk di karpet dan menutupi pahaku dengan bantal. Pak Chang melihatnya dan membuatku salah tingkah. Dia mengalihkan pandangannya ke film yang kami tonton. Fast and Farious 8 merupakan film yang dipilihnya.


Ternyata Pak Chang adalah penggemar Toretto. Aku diam menonton tv dan menikmati mi cup ku.


Aku membereskan sisa makanan dan memberikan semprotan pengharum ruangan karena bau mie cup yang tajam. Pak Park akan datang pukul 10 malam dan tidak boleh ada bau makanan instan yang tersisa.


Pak Chang masih asyik menonton. "Jin Ae coba kau lihat ini." Aku mendekati Pak Chang dan duduk disebelahnya ikut menonton dalam diam. Merasa kenyang, perlahan aku merasa ngantuk. Sekarang masih pukul 4 sore, aku seharusnya menyiapkan makan malam, tapi aku mengantuk dan mulai menjatuhkan kepalaku ke sofa.


Pak Chang menangkap kepalaku dan menidurkan aku dalam pelukannya. Aku yang mengantuk tiba-tiba tersadar dan berusaha bangun. Pak Chang menahan punggungku agar aku tidak bisa bangun. Aku menatapnya.


Aku tidak mungkin tidak tergoda dengan keberadaannya. Wajahnya yang tampan dan badannya yang ideal membuatku sering merasa terpesona. Dia menarik punggungku membuat badanku semakin menempel padanya. Kemeja dan lingeri yang kupakai juga tersingkap dan memperlihatkan seluruh pahaku.


Pak Chang mulai membelai pahaku. Hal itu itu membuatku merasakan geli di perutku. Aku mulai mendekati wajahnya dan menciumnya. Ciuman singkat itu semakin lama menjadi sangat lama.


Triiiiiing triiiiing


ponsel Pak Chang berbunyi di saat yang tepat. Aku bangun dan duduk di sofa selama Pak Chang menerima telpon. Wajahku memerah karena malu.


Selesai menelpon Pak Chang melihatku. "Lebih baik kau pulang sekarang, sebelum kita menyesal nantinya"


Apa? Kenapa dia berkata seperti itu. itu membuatku merasa bahwa aku wanita penggoda.


Aku bangun dan pergi ke halaman belakang. Kuambil bajuku yang hampir kering, memakainya di kamar mandi dan memasukkan kemeja Pak Chang di dalam tas. Aku keluar dan berpamitan pada Pak Chang. Dia tidak menjawab. Dia terus melihat ponsel saat aku keluar dari rumah.