Missing You

Missing You
Main Basket



Keesokan harinya, Chandresh mengambil cuti seharian dan diijinkan oleh papa mertuanya karena, ia ingin mengantarkan Lintang ke kampus dan menemani Lintang berkeliling kampus. Erick yang uring-uringan karena harus mengerjakan tugas-tugasnya Chandresh.


"Kita mau berkeliling ke mana lagi?" Tanya Chandresh.


"Aku capek, Mas" Sahut Lintang.


Chandresh langsung berlari kecil dan jongkok di depannya Lintang, lalu berucap, "Mau digendong?"


Lintang menepuk bahu suaminya dengan pelan sambil berucap, "Ini kampus, Mas. Mana boleh gendong menggendong. Ayo bangun!"


Chandresh bangkit berdiri dan berputar badan untuk menghadap ke Lintang, "Boleh aja kalau cuma gendong"


Lintang tersenyum dan berkata, "Nggak, Mas. Aku malu kalau digendong. Kita duduk dulu aja di situ"


Chandresh dan Lintang duduk di bangku taman yang terbuat dari batu bata disemen dan dicat warna oranye. Bangku taman itu menghadap ke lapangan basket yang luas.


"Mas dulu suka main basket, kan?" Tanya Lintang.


"Iya. Suka banget. Tapi, sejak Papaku pergi, aku tidak pernah punya waktu untuk latihan dan main basket lagi. Aku sibuk mencari uang dengan menjadi guru privat anak-anak SD di sekitar rumah" Sahut Chandresh.


"Sampai sekarang belum pernah main basket lagi?" Tanya Lintang.


Chandresh tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Kita main, yuk! Ada segerombolan mahasiswa di sana dan ada yang bawa bola basket. Kita kenalan sama mereka dan bergabung di sana, ayo!" Dan tanpa menunggu Chandresh mengiyakan permintaannya, Lintang langsung bangkit berdiri dan bablas berlari kencang masuk ke tengah lapangan sambil menggelung rambut panjang indahnya.


"Lho, hei! Kok, main lari aja sih, kamu?!" Chandresh sontak bangkit berdiri dan berlari menyusul istri cantiknya. Di saat ia melihat beberapa mahasiswa yang ada di tengah lapangan basket tampak semringah menyambut kedatangannya Lintang, pria ganteng suaminya Lintang itu mempercepat laju larinya dan wajahnya mulai meradang penuh cemburu saat ia juga mendengar beberapa pemuda di tengah lapangan basket berkata, "Wah, adik kelas kita cantik dan imut banget, nih"


Lima orang mahasiswa senior di kampus itu yang mengelilingi lintang, langsung tersenyum kecewa saat Chandresh datang memeluk pinggangnya Lintang dan langsung berkata, "Aku Chandresh. Suaminya cewek yang kalian katakan cantik dan imut ini" Chandresh lalu mengulas senyum bangga penuh kemenangan di depan para pemuda yang sempat tebar pesona di depan istrinya.


"Boleh kamu bergabung bermain dengan kalian?" Tanya Lintang.


"Boleh. Tapi, jumlahnya tidak sesuai" Sahut pria yang tengah mendekap bola basket.


"Kita main untuk have fun aja. Nggak usah sesuai jumlah. Yang penting, aku satu tim dengan Istriku" Sahut Chandresh.


"Oke, kalau begitu" Sahut pria yang mendekap bola basket.


Pemuda yang mendekap bola basket langsung menggiring bole dan mengoper temannya dan temannya berhasil melakukan tembakan ke ring. Bola basket kemudian berganti tangan. Giliran Chandesh yang menggiring bola dan mengopernya ke Lintang dan Lintang pun berhasil menembakkan bola ke.ring. Chandresh langsung mencium keningnya Lintang yang berkeringat dan berkata, "Mas nggak nyangka ternyata kamu jago main basket"


Setelah satu jam setengah berlalu, Lintang, Chandresh dan kelima pemuda yang ada di lapangan basket duduk di atas rumput dengan selonjor. Mereka melepas lelah mereka dan tiba-tiba Lintang bangkit berdiri dan berkata, "Aku akan beli minuman dan camilan. Kalian tunggu sebentar di sini, ya?!"


Pemuda yang berwajah lumayan tampan, menoleh ke Chandesh dan bertanya, "Kakak lebih tua berapa tahun sama Lintang?"


"Tujuh tahun. Kenapa? Aku kelihatan tua banget, ya?" tanya Chandresh.


"Bukan begitu. Cuma, emang iya" Sahut pemuda yang mengaku bernama Bram.


Chandesh langsung menepuk bahunya Bram dan Bram mengaduh sambil melepas tawa renyahnya.


"Kakak beruntung bisa punya istri yang cantik, imut dan jago main basket. Kakak menang pertandingan barusan karena, Lintang jago banget menembakkan bola ke ring" Sahut pemuda yang mengaku bernama Bayu.


"Aku iya in, aja, deh" Sahut Bayu kemudian dan Bayu langsung tertawa.lepas saat ia melihat Chandresh mendelik.


"Dan sepertinya kita nggak akan bisa merebut Lintang dari Kak Chandresh. Karena, Lintang tipe cewek setia" Sahut pemuda yang memiliki nama Leon.


"Mau mati kau? Berani benar kau berucap begitu" Chandresh langsung bersedekap dan menghunus tatapan tajam ke pria yang bernama Leon.


Leon langsung melepas tawa renyahnya dan kemudian berkata, "Bercanda, Kak. Lagian emang kita nggak akan pernah punya kesempatan merebut hatinya Lintang. Lintang tipe cewek setia dan aku lihat, Lintang sangat mencintai Kakak"


"Rasa cintaku ke Lintang tentu saja lebih besar" Sahut Chandresh sambil menepuk dada bidangnya dengan senyum bangga dan sorot mata penuh cinta saat ia menatap Lintang berlari kecil dari jarak tiga meter dan Lintang berlari kecil menuju ke lapangan sambil menenteng dua kantong plastik berwarna putih.


Chandresh sontak bangkit dan berlari ke arahnya Lintang. Lintang sontak menghentikan lari kecilnya saat Chandresh tiba-tiba berhenti di depannya. Chandresh dengan sigap menangkap tubuh Lintang yang limbung ke depan saat Lintang secara mendadak mengerem laju lari kecilnya.


Chandesh membantu Lintang menegakkan badan kembali dan ia tanpa permisi, ia mengambil dua kantong plastik dari tangannya Lintang sambil berkata, "Kau tunggu saja di sini! Jangan ke sana! Aku yang akan memberikan kantong plastik yang berisi makanan dan minuman ini ke mereka"


"Tapi, Mas........"


Chandresh langsung berputar badan dan berlari meninggalkan Lintang.


Lintang mematung menatap punggungnya Chandresh sambil bergumam, "Aku masih ingin duduk di lapangan sambil minum cola dingin dan makan camilan"


Chandresh meletakkan dua kantong plastik berwarna putih di atas pangkuannya pria yang bernama Bram lalu berucap, "Aku pamit. Makasih untuk permainan basketnya"


"Kenapa Lintang berdiri aja di sana?" Tanya Bram.


"Aku yang melarangnya ke sini. Aku nggak mau kalian semakin mengagumi kecantikan Istriku, cih! Enak aja" Ucap Chandresh sambil berbalik badan dan langsung berlari menuju ke Lintang.


Bayu langsung berteriak, "Dasar pelit!!!!! Istri diliatin aja kok nggak boleh. Dasar pelit!!!!!!"


Chandresh terus berlari dan mengabaikan teriakan pemuda yang bernama Bayu.


Tidak begitu lama, Chandresh sudah balik dan berdiri di depannya Lintang, lalu pria ganteng itu berkata, "Ayo kita cari makan siang! Aku lapar"


"Hah?! Tapi, aku belum pamit sama mereka semua"


Chandresh berucap, "Aku udah pamit ke mereka dan kamu nggak usah pamit ke mereka!" Dan setelah mengucapkan kata itu, pria ganteng suaminya Lintang itu, langsung membopong tubuh rampingnya Lintang. Chandesh membopong Lintang, untuk semakin memperkokoh kepemilikan mutlaknya atas Lintang di depan anak-anak basket.


"Wah! Dasar Pak Tua tukang pamer kemesraan!" Teriak Bram dan semua temannya Bram langsung menggemakan suara, "Huuuuuuuu" mereka ke Chandresh secara bersamaan.


"Aaaaaaa! Kok digendong, sih, Mas? Lintang, kan, malu" Lintang sontak menggelungkan lengannya ke leher kokohnya Chandresh dan menyusupkan wajahnya yang memerah malu di dada bidangnya Chandresh dan Chandresh langsung berucap, "Nggak usah malu kalau digendong suami kamu sendiri"


Saat mereka berdua sampai di restoran Chandresh lansgung berkata, "Lin, besok Mas dan Erick akan berangkat ke Singapura"


"Berapa lama di Singapura?" Tanya Lintang.


"Satu Minggu. Nanti malam Mas minta jatah tiga ronde, ya? Kan, Mas bakalan lama pisah sama kamu. Seminggu itu lama, lho"


"Hah?!" Lintang langsung melongo di depannya Chandresh.