
Shinta dengan santainya melenggang masuk ke dalam warung makan untuk menikmati makan malamnya tanpa ada rasa bersalah sedikit pun di dalam hatinya.
Maka terjadilah duel yang cukup seru antara Chandresh dan ketiga pria bertubuh kekar. Chandresh yang masih mengingat beberapa gerakan beladiri yang sempat ia kuasai semasa SMA, bisa menguasai duel itu dan hanya di dalam hitungan menit, Chandresh berada di atas angin.
Lintang sontak berlari keluar saat ia mendengar ada keributan besar di luar kamar dan Mamanya Chandresh langsung berteriak, "Sayang, jangan keluar dari kamar!"
"Mama di dalam saja. Aku akan membantu Kak Chandresh" Balas Lintang sembari terus berlari menuju ke halaman depan rumah Mamamnya Chandresh.
Lintang langsung mendaratkan tendangan mautnya ke perut salah satu dari pria berbadan kekar yang masih mengeroyok Chandesh dan pria itu langsung jatuh terjengkang ke belakang.
Chandresh melotot dan langsung berkata, "Lin! Masuk aja! Kakak bisa atasi mereka"
Lintang menoleh ke Chandresh dengan memasang kuda-kuda lalu berkata, "Kak, kamu udah keliatan kelelahan dan mereka fisiknya sangat kuat. Lama kelamaan, Kakak akan kalah kalau Kakak menghadapi mereka sendirian"
Chandesh tersenyum dan berkata, "Oke, kita hadapi mereka bersama-sama"
Mamanya Chandresh kembali langsung mengambil ponselnya yang ada di atas bantal dan langsung menelepon polisi. Lalu wanita yang masih terlihat sangat cantik di umur kepala lima itu, berjalan mondar mandir di dalam kamarnya dengan perasaan cemas dan terus berdoa semoga anak dan menantunya tidak kenapa-kenapa dan polisi segera tiba di rumahnya.
Chandesh benar-benar mulai kelelahan dan dia mengumpat kesal saat ia lawannya masih saja terlihat lincah dan beringas padahal ia sudah mendaratkan beberapa kali pukulan dan tendangan ke mereka.
Sementara itu, Lintang terus terlihat lincah, namun tenaganya yang masih remaja, kurang sepadan dengan tenaga ketiga pria berbadan kekar itu. Lintang mulai merasakan kelelahan yang sama walaupun ia masih terlihat lebih lincah jika dibandingkan dengan Chandresh.
Lintang refleks berlari kencang dan memeluk tubuh Chandresh dari arah belakang saat ia melihat salah satu dari pria berbadan kekar hendak memecahkan vas bunga di kepala bagian belakangnya Chandresh. Alhasil, vas bunga cukup besar yang terbuat dari kaca yang lumayan tebal itu, pecah di pucuk kepalanya Lintang.
Chandresh langsung menoleh kaget dan dengan sigap ia berbalik badan. Ia langsung bersimpuh di atas lantai saat ia berhasil menangkap tubuh ramping istri kecilnya itu dan dia sontak berkata, "Tidaaakkkkkk! Lintang, Tidaaakkkk!!!!!" Saat ia melihat wajah Lintang mulai berlumuran darah. Chandesh terus mengusap darah yang mengalir turun dari pucuk kepalanya Lintang sambil terus menciumi pipi Lintang dan terus terisak, "Tidak, Lintang, tidak"
Mamanya Chandresh langsung melompat keluar dari dalam kamarnya tepat di saat polisi datang untuk meringkus ketiga pria berbadan kekar itu, Chandesh langsung melarikan Lintang ke rumah sakit milik ya dokter Andi Rajendra. Chandesh mengebut dan terus bergumam, "Lin, bertahanlah. Jangan pingsan, ya? Kakak akan mengajakmu berbulan madu setelah ini. Kakak janji, Lin. Jangan pingsan, ya?"
Sesampainya di rumah sakit, Chandresh langsung membopong Lintang ke IGD dan dia mulai menangis saat ia melihat Lintang akhirnya jatuh pingsan di atas bed yang ada di salah satu bilik yang ada di dalam IGD tersebut.
Chandesh berkata ke para petugas medis dengan berlinang air mata, "Tolong selamatkan Istri saya! Istri saya harus selamat, tolong!!!!!" Chandesh mulai histeris dan dia segera di bawa menjauh dari biliknya Lintang dan salah satu petugas medis pria, langsung berusaha menenangkan Chandresh yang terus menangis dan panik yang berlebihan.
Chandresh langsung mendorong kasar tubuh petugas medis pria yang ada di depannya, yang tengah berusaha menenangkan dirinya, di saat ia melihat bed-nya Lintang didorong keluar dari dalam bilik. Chandresh langsung berlari menyusul dan terus berlari di camping bed-nya Lintang yang tengah didorong sambil berlari oleh dua petugas medis pria. Chandesh berlari di samping bed-nya Lintang sembari bertanya dengan isak tangis dan napas ngos-ngosan, "Istri saya mau dibawa ke mana?"
Salah seorang dari petugas medis pria yang mendorong bed-nya Lintang sambil berlari, menjawab pertanyaannya Chandresh, "Istri Anda mengalami shock dan ternyata luka di kepalanya cukup dalam. Jadi, harus segera dioperasi"
Begitu sampai di depan pintu operasi, petugas medis pria langsung berbagi tugas. Yang seorang langsung membawa Lintang masuk ke dalam ruang operasi dan yang seorang menahan Chandesh dan berkata, "Anda tidak boleh masuk! Anda harus menunggu di ruang tunggu! Nanti, kalau sudah selesai akan kami panggil"
Chandresh langsung mencengkeram kedua bahu petugas medis pria itu dan berkata, "Selamatkan Istri saya!"
"Kami akan berusaha" Kata petugas medis pria itu sambil menepis kedua tangannya Chandresh dan bergegas masuk ke dalam kamar operasi.
Dokter Andi Rajendra langsung masuk ke dalam ruang operasi lewat pintu khusus dan langsung menunggui jalannya operasi. Darah O yang berlimpah stoknya di rumah sakit tersebut langsung dipasang di pergelangan tangan kirinya Lintang karena, Lintang mengalami shock karena, lukanya mengeluarkan banyak darah.
Chandesh menunggu di ruang tunggu dengan tidak tenang. Dia sendirian di sana dan terus berjalan mondar-mandir dengan wajah cemas.
Sementara itu, mamanya Chandresh yang mendengar pengakuan dari ketiga pria penagih hutang yang semuanya berbadan kekar itu, bahwa Shinta yang menyuruh mereka datang ke rumahnya, langsung mengajukan tuntutan atas Shinta dan pihak kepolisian langsung berangkat untuk menciduk Shinta sebagai otak dari penganiayaan dan kekerasan yang menimpa korban yang bernama Lintang Rajendra.
Chandesh bergumam, "Kenapa kamu yang harus jadi korban atas kebodohan dan dosa Papaku, Lin? Padahal dua Minggu lagi kamu ulang tahun dan aku sudah siapkan pesta kejutan untuk kamu dan aku berencana akan menyatakan perasaan cintaku ke kamu di ulang tahun ke tujuh belas kamu, tapi kenapa malah jadi seperti ini? Semoga Lintang selamat, ya, Tuhan"
Lima jam berlalu dan Chandresh tersentak kaget saat namanya dipanggil dan dimohon untuk menunggu di pintu depan ruang operasi karena pasien atas nama Lintang Rajendra akan segera dipindahkan ke kamar rawat inap. Chandesh langsung berlari cepat ke pintu masuk ruang operasi dan menunggu Lintang keluar dari dalam sana.
Chandesh bernapas lega saat ia melihat Lintang selamat walaupun Lintang masih belum sadarkan diri. Dokter Andi Rajendra keluar dari dalam ruang operasi dan langsung mengajak Chandesh mengikuti bed-nya Lintang menuju ke ruang rawat inap super deluxe karena, dokter Andi Rajendra sendiri si empunya rumah sakit swasta tersebut.
Setelah sampai di kamar rawat inapnya Lintang dan bed-nya Lintang telah terpasang rapi di tempatnya, Dokter Andi Rajendra menatap Chandresh dan bertanya, "Kenapa Lintang bisa terluka separah ini?"
"Maafkan saya, Dok, eh, Pa. Penagih hutang datang ke rumah Mama saya. Papa saya ternyata masih memiliki hutang yang lain dan istrinya menyuruh penagih hutang itu datang ke rumah Mama saya dan Lintang terluka saat ia berusaha melindungi saya dan........." Chandresh langsung menutup wajahnya dengan telapak tangan kanannya dan menangis sesenggukkan di depan papa mertuanya. Dokter Andi Rajendra hanya bisa menghela napas panjang. Dia didera amarah yang begitu besar dan sebenarnya ingin dia lampiaskan ke Chandrsh, tapi di saat ia melihat Chandresh menangis sesenggukkan, dokter Andi Rajendra menjadi tidak tega untuk meluapkan amarah dan kekecewaannya pada Chandresh
Tiba-tiba pintu ruang rawat inapnya Lintang terbuka dan mama tirinya Lintang langsung duduk di samping bed-nya Lintang lalu menoleh ke suaminya untuk bertanya ke suaminya, "Bagaimana keadaan Putri kita, Mas?"
"Jika malam ini Lintang tidak membuka matanya, maka kita harus bersiap karena, Lintang akan mengalami tidur panjang" Sahut Dokter Andi Rajendra dan Chandresh langsung melemas kakinya, dia duduk bersimpuh di atas lantai dan menangis sesenggukkan di sana.