
Seorang mahasiswa yang menyimpan rasa sama Lintang, masuk ke lab kedokteran untuk mengajak Lintang makan malam saat ia tahu Lintang bakalan lembur di lab kedokteran. Nkun, mahasiswa teknik elektro yang bernama Bagas itu harus menelan kembali kekecewaannya saat ia.mendengar kata, "Maaf, aku sudah makan" Dia sudah berkali-kali menerima penolakan dari Lintang bahkan dia juga sudah mengetahui kalau Lintang sudah menikah, namun tetap saja rasa di dalam hatinya berkembang manis.
Chandresh yang terbiasa pulang kerja langsung masuk kamar, tersenyum kecewa saat ia melihat kamarnya kosong. Tidak ada Lintang di sana. Dia menutup kembali pintu kamarnya dan menaruh tas punggungnya di atas meja, lalu mandi.
Selesai mandi, ia menelepon Erick.
Beberapa jam berikutnya Erick datang dan sontak berkata, "Kok nggak ada meja kursi dan jangan-jangan nggak ada ranjang lagi, iya, bener?"
Chandresh mengangguk lemas dan berkata, "Aku belum sempat beli perabot rumah. Males juga beli karena nggak ada Istri yang menemaniku membeli perabotan rumah. Aku cuma sempat beli peralatan mandi. Untuk pemilik rumah suka bersihin rumah ini, jadi pas aku masuk nggak perlu bersih-bersih"
"Lalu kau tidur pakai apa?" Tanya Erick.
"Aku punya kasur lipat yang biasa aku bawa kalau naik gunung. Dulu aku sering naik gunung dan karena kebiasaan, kalau pindah rumah, kasur lipat itu selalu aku bawa" Sahut Chandresh.
Erick menemui Chandresh di rumah kontrakannya Chandresh karena Chandresh ingin menitipkan surat pengunduran dirinya ke Erick.
"Kau telah kehilangan segalanya saat ini, Bro. Walaupun itu akibat dari kebodohan kamu sendiri, tapi aku tetap prihatin melihat kondisi kamu saat ini" Ucap Erick sambil menatap Chandresh dengan tatapan sedih.
"Yeeaaahhh! Daging itu ternyata lemah dan aku menuruti keinginan kedaginganku tanpa berpikir panjang. Bisa-bisanya aku jatuh ke dalam rayuan wanita gila dan menjijikkan itu".Sahut Chandresh sambil meraup kawar wajah gantengnya.
"Kalau Lintang mengirimkan surat cerai ke kamu, apa kamu akan langsung menandatanganinya?" Tanya Erick dengan wajah serius.
"Nggak akan. Aku akan mencoba mengukur waktu dan memperjuangkan Lintang. Aku sangat mencintai Lintang" Chandresh berucap dengan sorot mata menurun dan wajah sedih.
"Aku doakan semoga kamu bisa memperjuangkan Lintang, Bro" Sahut Erick.
"Amin" Chandresh mengulas senyum tipis di depan Erick.
Soraya menyewa sebuah rumah yang cukup mewah untuk ia tinggali selama ia tinggal di ibukota untuk menggaet pujaan hatinya. Wanita yang suka mengenakan pakaian seksi itu, benar-benar mencintai Chandresh dan di benar-benar tidak bisa hidup tanpa Chandresh. Wanita berparas cantik itu, merindukan pelukan dan belaian hangatnya Chandresh, ia juga merindukan senyum dan canda tawanya Chandresh.
Soraya duduk di teras depan rumahnya sembari mengamati rumah yang berada di ujung jalan. Di balik kacamata hitamnya, dia bergumam, "Kenapa Chandresh dan Istrinya belum keluar dari rumah itu?"
Soraya kemudian nekat memutuskan untuk berjalan ke rumahnya Chandresh dan dia bertanya ke satpam yang berjaga di gerbang depan rumah mewah itu, "Apa Pak Chandresh ada di dalam?"
"Anda siapa?" Tanya satpam yang berjaga di depan rumah atas nama Lintang Rajendra.
"Saya temannya Bu Lintang" Sahut Soraya dengan wajah datar dan tanpa melepas kacamata hitamnya.
"Maaf, tapi Pak Chandresh dan Non Lintang, tidak pulang semalam. Mereka mungkin tidur di hotel. Maklum, mereka, kan, pengantin yang masih terbilang, baru, hehehehehe" Sahut Pak Satpam yang berkumis dan bertubuh cungkring.
Soraya mendengus kesal dan tanpa pamit, ia berbalik badan untuk kembali ke rumahnya.
Soraya kemudian menelepon detektif swasta kenalannya yang tinggal di ibukota. Dia menyewa detektif itu untuk menemukan keberadaannya Chandresh Kusuma. Setelah mengirimkan fotonya Chandresh ke detektif itu, Soraya masuk ke dalam mobilnya dan memutuskan untuk berkeliling kota melepas kekesalan dan kecemburuannya.
Chandresh mulai mengajar di sebuah tempat kursus yang cukup kompeten.
Sementara itu, Erick menyerahkan surat pengunduran dirinya Chandresh langsung ke Dokter Andi Rajendra.
"Saya tidak tahu, Pak. Dia cuma ingin mandiri saat ini. Dia tidak ingin diganggu oleh siapapun" Sahut Erick.
"Apa Lintang tahu soal ini?"
"Saya tidak tahu, Pak. Lebih baik Bapak tanyakan langsung aja soal ini ke Lintang. Maaf saya permisi" Erick menundukkan kepala lalu pergi meninggalkan ruang kerjanya dokter Andi Rajendra.
Dokter Andi kemudian menelepon Lintang, "Halo, kamu di mana sekarang?"
"Aku di kampus, Pa. Ada apa?" Tanya Lintang.
"Apa kau tahu kalau Chandresh mengundurkan diri dari sini?" Tanya Dokter Andi Rajendra.
Lintang terhenyak di bangkunya dan berkata lemas, "Aku nggak tahu soal itu, Pa"
"Apa kamu bertengkar dengan Chandresh? apa bocah itu bikin masalah lagi?" Dokter Andi Rajendra mulai meninggikan nada suaranya.
"Nggak, kok, Pa. Kami baik-baik saja. Maaf Pa, aku harus segera masuk ke kelas" Klik! Lintang langsung mematikan telepon genggamnya dan termenung di depan meja lab.
Dokter Andi Rajendra menatap layar telepon genggamnya dengan menautkan aslinya dan bergumam, "Lintang menyembunyikan sesuatu dariku. Tapi, apa itu?"
Lintang kemudian menghela napas panjang dan bergumam sembari bangkit berdiri, "Maafkan Lintang, Pa. Lintang belum siap mengatakan semuanya ke Papa. Maafkan Lintang, Lintang terpaksa berkata bohong ke Papa"
Chandresh menyelesaikan tugas mengajarnya di tempat kursus itu di jam satu siang. Dia baru ingat kalau dia belum makan siang saat perutnya keroncongan. Pria ganteng yang tampak awut-awutan karena stres rumah tangganya berada di ujung tanduk karena kebodohannya sendiri itu, melangkah ke warung makan sederhana yang ada di sisi timur tempat ia mengajar.
Chandresh duduk di warung sederhana tersebut untuk memesan nasi uduk dan teh hangat. Uangnya hanya cukup untuk makan sederhana setiap harinya. Chandresh harus puas makan dengan lauk seadanya karena, ia belum memiliki nyali untuk pulang ke rumah ibunya dan minta makan di sana. Chandresh juga tidak bisa pulang ke Istrinya untuk minta dimasakin Istrinya.
Chandresh menyantap nasi uduknya dengan menitikkan air mata. Ia merindukan Lintang di saat ia merasakan kalau masakan di warung sederhana itu, tidak seenak masakannya Lintang. Chandresh segera mengusap air matanya dan berkata di dalam hatinya, kenapa aku bisa jatuh ke dalam rayuannya Soraya? Kenapa aku sangat bodoh?
Kesedihan dan penyesalan yang begitu dalam membuat Chandresh hanya mampu makan tiga suap nasi uduk, namun dia bisa menghabiskan teh hangatnya. Lalu, pria ganteng berbadan atletis itu bangkit berdiri dan keluar dari dalam ruang makan sederhana itu dengan langkah gontai.
Chandresh berjalan menuju ke halte bus yang letaknya tidak begitu jauh dari tempatnya mengajar. Tiba-tiba ia mendengar ada bunyi bel mobil yang cukup keras dari arah belakang. Chandresh refleks menoleh ke belakang dan dia langsung mematung saat ia melihat Soraya turun dari dalam mobil sedan mewah berwarna merah menyala.
Soraya berlari dan langsung memeluk Chandresh sambil berkata, "Akhirnya aku bisa menemukan kamu"
Chandresh mendorong tubuh Soraya dan terus menepis tangannya Soraya yang masih berusaha memeluk dirinya.
Soraya berkata di depannya Chandresh, "Kenapa kau mendorongku dan terus menepis tanganku? Kau tidak merindukan aku? Kau tidak merindukan kehangatan tubuhku? Kau tidak merindukan belaian ku? Kau tidak..........."
"Cukup!" Chandresh berteriak kencang di depan Soraya dan sambil melotot ia kemudian berkata, "Aku nggak mau lagi bertemu denganmu. Aku nggak mau lagi jatuh ke dalam pelukan kamu. Itu hanya kebodohan sesaat bagiku dan aku tidak mau mengulanginya. Pergi!!!!!!" Lalu, Chandresh berbalik badan dan melangkah lebar meninggalkan Soraya.
Soraya tidak menyerah, ia berlari dan memeluk Chandresh dari arah belakang
Chandresh tersentak kaget, refleks ia mengurai gelungan tangan Soraya dari perutnya dan saat ia berhasil lepas.dari dekapannya Soraya, ia sontak menyeberang jalan dan Brak!!!!!!!!!!! Chandresh tertabrak mobil dan terpelanting ke depan lalu jatuh di atas aspal dengan sangat keras. Tubuh Chandresh berguling di atas aspal lalu terlentang di atas aspal dan dengan wajah penuh darah.
Soraya langsung berteriak, "Tidaaaakkkkkk!!!!!!"