
"Duduklah!" Perintah Rama dengan wajah datar.
Chandresh duduk di ujung sofa dan Erick duduk di sebelahnya Chandresh.
Rama yang pindah duduk di ujung sofa satunya, menghunus tatapan tajamnya ke Chandresh, kemudian ia berkata, "Kenapa kalian ribut di taman belakang? Apa yang kalian ributkan?"
"Maaf kalau saya harus berkata, tanyakan saja ke Putri Anda, Pak!" Ucap Chandresh dengan wajah lelah dan sedih. Dia berkata seperti itu, karena ia ingin segera keluar dari ruangannya Rama dan mengejar Lintang.
Soraya yang duduk di dekat Rama menoleh tajam ke Chandresh dan berteriak di sela isak tangisnya, "Kau tega melemparkan semua tanggung jawab ke aku?! Padahal kita melakukannya suka sama suka. Dasar brengsek!"
Chandresh menatap Soraya dengan penuh kebencian, "Sial! Kenapa kau katakan suka sama suka?" Chandresh menyusuri rambutnya dengan jari jemari tangan kanannya, lalu ia meraup wajah gantengnya yang tampak lelah dan tanpa sadar ia berteriak, "Sial! Kau memang wanita yang sangat menjijikkan dan ........"
"Cukup!" Rama menggebrak meja dan melotot ke Chandresh, "Berani benar Anda menghina Putri saya di depan saya, Pak Chandresh? Saya tidak membenarkan kelakuan Soraya, tapi saya tidak akan ijinkan siapa pun menghina Putri saya"
Chandresh menunjuk Soraya sambil berkata, "Karena, itu kenyataannya, Pak. Dia merayu saya dan tanpa punya malu, ia terus menggoda saya. Dan bodohnya saya!!!!!" Chandresh meninggikan nada suaranya di kata terakhirnya, lalu ia menghela napas panjang, menunduk lemas dan berkata lirih di saat ia mulai terisak menangis, "Saya memang lemah dan bodoh. Hanya karena wanita hina seperti dia, aku kehilangan Lintang. Aku kehilangan wanita yang sangat luar biasa sempurna, hiks, hiks, hiks"
Rama menjadi luluh melihat Chandesh menangis terisak dan semakin merasa tidak tega saat ia mendengar gumamannya Chandresh. Lalu, Rama berkata, "Saya tidak menyangka kalau watak jelek Papa Anda yang suka selingkuh, diwariskan ke Anda, Pak Chan"
Chandresh semakin menundukkan wajahnya dan menangis sesenggukan saat ia menyadari bahwa pada akhirnya di menjadi sama brengseknya dengan papa kandung yang sangat ia benci untuk kesalahan yang sama dengan yang telah ia lakukan.
Rama menghela napas panjang, lalu berkata "Saya nggak akan menuntut Anda menikahi Soraya.........."
Soraya mendelik dan langsung menyemburkan protes, "Pa!!!!!!! Kenapa Papa berubah pikiran? Aku ingin menikah dengan Chandresh dan ......"
"Diam!!!!!" Rama berteriak lalu menoleh tajam ke Soraya, "Pak Chandresh tidak mencintaimu. Aku bisa melihatnya. Aku tidak mau Putriku menikah dengan pria yang tidak mencintainya"
Soraya menggebrak meja, "Pa!!!!! Tapi, aku mencintai Chandresh dan......"
"Diam!!!! Kalau kau tidak menerima keputusan Papa ini, lebih baik kamu kembali ke pondok penyesalan dan Papa akan bekukan semua rekening kamu dan Papa akan ambil semua kartu kamu" Rama menghunus tatapan tajamnya ke Soraya.
Rama kemudian menoleh ke Chandresh dan dia melihat Chandresh masih menundukkan. wajah dan terisak menangis. Rama menghela napas, lalu berkata, "Saya akan batalkan kontrak kerja kita yang baru, karena saya tidak ingin melihat Anda berada dekat dengan Soraya setelah ini. Dan mulai detik ini, kita tidak saling kenal lagi"
Chandresh bangkit berdiri dan setelah membungkukkan badannya, ia pamit dan ia berbalik badan tanpa mengangkat wajahnya. Erick segera bangkit berdiri dan segera berlari menyusul Chandresh setelah ia pamit ke Rama.
Chandresh menarik kopernya dan melangkah keluar dari dalam kamarnya.
Chandresh dan Erick akhirnya pulang ke ibukota
Sementara Soraya bangkit berdiri. Dia menatap papanya dengan penuh kekecewaan dan langsung menyemburkan rasa kecewanya, "Aku kecewa sama Papa. Aku hanya mencintai Chandresh dan nggak ingin menikahi pria lain kalau itu bukan Chandresh. Papa dengar itu?"
Rama menghela napas panjang dan dia berkata sambil pergi meninggalkan Soraya, "Waktu yang akan membuat kamu berubah. Papa menyesal terlalu memanjakan kamu selama ini"
Soraya berteriak penuh amarah melihat punggung papanya akhirnya menghilang dari pandangannya. Wanita cantik dan seksi itu terus berteriak histeris sambil melemparkan semua barang ada di atas meja sofa ke tembok.
Erick mengantarkan Chandresh pulang dan berkata saat Chandresh melepas sabuk pengaman, "Kalau Lintang mengusir kamu, kamu bisa tinggal di rumahku untuk sementara waktu"
Chandresh membuka pintu depan dan dia bergegas berlari ke kamarnya, namun dia tidak menemukan Lintang di sana. Chandresh panik dan segera berlari keluar dari dalam kamar untuk mencari Bi Ijah.
Chandresh menemukan Bi Ijah tengah memasak di dapur, "Bi, Lintang mana?"
Bi Ijah mematikan kompor dan menoleh ke Chandresh, "Sejak pulang dari bandara, empat jam yang lalu, Non Lintang masuk ke kamarnya yang dulu dan tidak keluar lagi dari sana sampai sekarang"
"Makasih, Bi" Chandresh bergegas menuju ke kamarnya Lintang yang Lintang tempati saat mereka pertama kali masuk ke rumah itu.
Chandresh mencoba membuka pintu dan dia mendorong pelan pintunya ke dalam saat ia menemukan pintu itu tidak terkunci.
Chandresh melihat Lintang berdiri di depan jendela besar yang ada di kamar itu dengan memunggungi pintu.
Chandresh menutup kembali pintu kamar itu dengan pelan, lalu ia melangkah lebar untuk bisa segera memeluk Lintang dari arah belakang.
Lintang tersentak kaget dan sontak menarik diri dengan keras dari pelukannya Chandresh, lalu ia melangkah maju dan berbalik badan dengan cepat untuk menghadap Chandresh dan berkata, "Jangan dekati aku dan jangan pernah menyentuhku lagi, Mas!"
Chandresh membeku di tempatnya berdiri, lalu ia berucap, "Maafkan aku, Sayang"
"Apa kau tahu, Mas? Saat kamu pulang belum lama ini, aku merasakan kamu membangun tembok di antara kita. Aku bahkan merindukanmu saat itu, tapi kamu tidak pernah mau memeluk dan menyentuhku"
"Aku merasa bersalah saat itu. Aku juga merindukanmu saat itu. Sangat merindukanmu. Tapi, rasa bersalahku membuat aku merasa nggak pantas menyentuh kamu saat itu" Sahut Chandresh dengan wajah sedih dan penuh dengan penyesalan.
"Berarti saat itulah kamu mulai berselingkuh?" Lintang menatap Chandresh dengan wajah datar.
Chandresh mengangguk pelan, lalu berkata.dengan nada sedih, "Aku khilaf. Tapi, tidak ada wanita lain di hatiku, Sayang. Di hatiku hanya ada kamu. Aku hanya mencintai kamu, Sayang"
"Apa salahku, Mas? Apa masakanku nggak enak? Apa aku nggak sepanas dan seliar wanita itu saat di ranjang? Atau karena, aku kalah cantik dan modis dengan wanita itu? Apa salahku, Mas?!!!!" Lintang berteriak kencang dan melotot ke Chandresh.
Chandresh maju selangkah ke depan dan Lintang langsung mundur ke belakang beberapa langkah sambil berteriak, "Jangan dekati aku!"
Chandresh menghentikan langkahnya dan dia mulai menangis, "Kamu nggak salah, Sayang. Kamu sempurna. Itulah kenapa, aku hanya mencintai kamu"
"Cih! Hanya mencintai aku, tapi kenyataannya ada wanita lain di antara kita" Lintang bersedekap dan dia pun mulai menundukkan wajahnya dan menangis.
"Aku sudah katakan ke kamu, Sayang, kalau nggak ada wanita lain. Aku hanya mencintai kamu, sungguh" Chandresh melengkungkan badannya ke depan dan isak tangisnya semakin kencang.
Lintang mengangkat wajahnya, "Lalu Soraya itu apa namanya? Kau sudah tidur dengannya beberapa kali dan kau katakan nggak ada wanita lain, Mas? Kau ngigau atau gila?!" Lintang berteriak ke Chandresh dengan penuh kekecewaan.
"Dia hanya kebodohanku, Sayang. Aku menyesalinya. Aku sudah meninggalkannya jauh sebelum ia mengatakan semuanya ke kamu" Chandresh membungkuk dan memegang kedua lututnya masih dengan isak tangis.
"Aku ingin bercerai, Mas" Lintang berkata dengan lantang dan wajah serius.