Missing You

Missing You
Bab 2




(Inspirasi tampilan Chang Min Jung)


Pagi ini aku sampai rumah Pak Chang terlambat 30 menit. Itu karena aku harus pergi ke swalayan untuk membeli roti tawar, cake dan es krim kesukaan Pak Chang. Aku juga menambah jenis buah yang bisa dimakan Pak Chang. Di kulkas hanya ada apel, pear dan pisang. Kutambahkan mixberry, dan mangga. Pak Chang tidak suka jus buah (menurut informasi yang kudapat dari Pak Park).


Semalaman aku mencari menu buah yang bisa dimakan oleh Pak Chang. Setelah menu makanan selama 2 minggu disetujui Pak Park, aku memutuskan belanja di pagi hari agar bahan makanan tidak habis tiba-tiba. Aku juga membeli roti isi daging untuk sarapan.


Hari ini kulihat tidak ada mobil media dan penggemar seperti kemarin. Tapi kuputuskan untuk selalu masuk rumah lewat pintu belakang agar aman.


Masuk rumah aku mulai hariku dengan menata buah dan roti dalam kulkas. Karena masih ada 30 menit aku harus membangunkan Pak Chang, sebaiknya aku bersih-bersih rumah dulu. Kubuka semua tirai, dam membuka beberapa jendela agar udara pagi yang segar dan dingin masuk dalam rumah.


Menyiram tanaman di halaman belakang agar terlihat lebih segar. Sepertinya kolam renang harus dibersihkan hari ini karena Pak Chang ada di rumah.


Aku masuk rumah untuk mengambil ponsel dan baru kusadari sekarang sudah pukul 7 pagi. Aku bergegas naik ke kamar Pak Chang.


Tok tok tok


"Selamat pagi Pak, sekarang sudah pukul 7 pagi" . Tidak ada balasan dari dalam kamar. Kubuka pintu perlahan, tapi tidak kutemukan Pak Chang di kasurnya. Kuambil piring dan gelas yang kutinggalkan kemarin siang di meja. Terdengar bunyi air menyala dari kamar mandi. Pak Chang mandi rupanya.


Aku bergegas keluar kamar dan menuju dapur untuk menyiapkan sarapan. Sesuai rencana kemarin, aku akan membuat French Toast dan salad buah untuk sarapan. Dua menit sebelum french toast siap, terdengar langkah kaki dari tangga. Pak Chang turun memakai kaus putih dan celana jeans. Karena hari ini sedikit dingin, dia menggunakan sweater yang sama seperti kemarin. Dia membuka kulkas dan mengambil satu buah pisang dan melihatku. "Kau terlambat hari ini".


Aku melihatnya dan menjawab dengan hati-hati. "Saya minta maaf Pak, tapi saya harus menunggu swalayan buka untuk membeli roti." aku melihat mukanya seperti tidak senang.


Pak Chang berbalik dan menuju halaman. Aku harus menyelesaikan sarapan ini secepatnya, aku tidak mau dipecat hanya karena roti tawar. Kubersihkan meja makan dan menata sarapan diatasnya.


Aku berlari ke arah halaman belakang. Saat tiba di sofa, aku melihat pemandangan yang membuatku agak berdebar.


Pak Chang duduk dengan satu kaki ada di atas kaki lainnya. Tangannya terbuka lebar seperti sedang menyambut matahari. Aku tidak pernah sebelumnya melihat laki-laki dengan postur tubuh dan wajah sesempurna ini. Bahkan bila semua mahasiswa di kampusku dikumpulkan, tidak ada yang menyamainya. Sama sekali tidak ada.


Ah, apa yang kupikirkan. Aku masih membutuhkan pekerjaan ini. Aku tidak boleh, tidak boleh sama sekali memiliki perasaan pada tuan rumah tampanku ini.


"Pak Chang, sarapannya sudah siap". Dia melihatku dari atas ke bawah lalu ke atas lagi. Dia tidak sedang menilai penampilanku kan? Tiba-tiba aku merasa kesal.


Pak Chang berdiri dan berjalan melewatiku, tepat disebelahku. Baunya seperti bau sabun yang segar. Aku suka bau ini. Kupukul kepalaku. Aku tidak boleh berpikir macam-macam.


Pak Chang melihat sarapannya dan hanya diam berdiri. "Ada yang salah Pak?" dia melihatku lagi. "Kalau kau belum sarapan, makan bersama-sama saja". Ragu-ragu kujawab "Saya sudah makan tadi pak di swalayan"


"Jadi kau terlambat karena sarapan" Sepertinya aku memberikan jawaban yang salah. Aku menunduk diam sedangkan Pak Chang mulai makan.


Aku pergi ke lantai atas menuju kamar Pak Chang. Kuganti sprei, selimut dan sarung bantalnya. Kubuka tirai dan membersihkan jendela besarnya. Aku juga membersihkan kamar mandinya. Setelah selesai bersih-bersih di kamar Pak Chang aku turun ke bawah.


Tersisa piring dan mangkuk kosong di meja makan. Saat membawa piring kotor ke dapur terdengar suara tv. Takut mengganggu, kulakukan pekerjaanku dengan hati-hati.


Aku menghubungi petugas kolam dan laundry. Tidak lupa aku melapor ke Pak Park. Aku ingin membersihkan lantai bawah, tapi takut menganggu Pak Chang.


Kuberanikan diriku pergi ke ruang tv yang bersebelahan dengan ruang makan. Tidak ada gerakan dari Pak Chang. Hanya terlihat tangannya yang menggantung dari sofa ke karpet. Kudekati dan ternyata dia tertidur. Matanya tertutup, badannya bergerak naik turun dengan perlahan dan teratur. Tanpa sadar aku berjongkok tepat di depan wajahnya.


Rambutnya ikal tidak rapi pagi ini. Alisnya rapi dan bulu matanya panjang. Aku suka dengan pipi atasnya yang agak gemuk. Bibirnya tebal dan dagunya meruncing ke bawah. Aku terus menatapnya sampai terdengar bunyi bel dari depan.


Laundry datang, aku membawa kantong baju kotor ke depan dan menyerahkannya. Slip yang kuterima kutempel di kulkas dengan magnet.


Angin dingin datang dari pintu depan. Karena kuatir kedinginan, aku menutup badan Pak Chang dengan selimut. Padahal sudah mau musim semi tapi anginnya masih dingin.


Aku pergi ke halaman belakang untuk membersihkan sofa dan memotong beberapa batang daun yang tumbuh agak panjang. Kembali ke dapur untuk mulai menyiapkan makan siang. Tv yang tadi menyiarkan berita olahraga berganti berita selebritas. Tapi Pak Chang tidak ada di sofa.


Aku meraih remote untuk mematikan tv dan berhenti sejenak. Ada berita tentang Pak Chang yang tertangkap kamera sedang makan malam di salah satu cafe dengan lawan mainnya di drama yang terbaru.


Kumatikan tv dan mulai memasak makan siang. Aku memasak nasi dengan sup ayam. Aku juga membuat tumis sayuran sebagai pelengkap. Kimchi yang kutemukan di kulkas juga tertata di piring dengan cantik. Makan siang sudah siap di meja. Tapi Pak Chang ada dimana?


Di kamar tidak ada. Kulihat di balkon juga tidak ada. Di ruang wardrobe tidak ada. Aku mendengar suara saat membuka ruang kerja. "Maaf Pak, makan siang sudah siap" . Dia melihatku dengan tatapan itu lagi. Aku menutup pintu dan pergi membersihkan ruang tv.


Kupikir Pak Chang sudah selesai makan, tapi kulihat dia hanya duduk terdiam sambil melihat ponsel tanpa menyentuh makanannya. Aku berpikir pasti ada yang salah dengan makanannya. Pak Chang melihatku dengan tatapan marah. "Aku sudah bilang beberapa kali, kalau kau harus menemaniku makan tiap kali aku makan." Aku terkejut. Aku berusaha mengerti keinginan Pak Chang tapi ini tidak nyaman bagiku. Mana ada pembantu yang makan berdua dengan majikannya.


Takut membuatnya semakin marah, aku mengambil nasi dan lauk lainnya. Aku duduk tepat di depan Pak Chang dan mulai makan. Dia melihatku sebentar dan mulai makan juga. Apakah yang kulakukan ini benar? Apakah aku harus bertanya pada Pak Park tentang ini? Banyak pertanyaan yang terlintas di otakku saat ini.


Tidak lama makanan di mangkukku habis, begitu juga dengan Pak Chang. "Aku ada di ruang kerja, kalau sudah waktunya makan malam panggil saja" . " Baik pak" jawabku sambil separuh membungkuk.


"Untuk siapa?" . Terkejut aku hampir menjatuhkan gelas dan baki. Untungnya Pak Chang ada di depanku menangkap bakinya. "Pembersih kolam datang pak. Saya pikir mereka butuh minum." "Siapa yang menyuruhmu?"


"Tidak ada Pak."


apa aku salah lagi, pikirku


" Biar mereka bekerja dan cepat pergi dari rumah." ucapnya dan mengambil satu gelas jus jeruk kembali ke ruang kerja. Bukannya dia tidak suka jus? Orang yang aneh.


Tidak lama petugas kolam pulang dan memang kerjanya hanya membutuhkan waktu yang singkat.


Untuk makan malam sudah kusiapkan daging yang sedang kudiamkan setelah diberi garam dan merica. Masih pukul 4 sore. Aku pergi ke halaman belakang dan duduk di sofa. Matahari perlahan pergi ke barat, menyisakan kehangatan yang membuatku menutup mata.


(Chang Min Jung)


*Kemana lagi perempuan itu. Biasanya dia di dapur. Kucari ke halaman belakang ternyata dia duduk di sofa dan tertidur. Matahari masih begitu terang dan dia tertidur di luar. Apa dia ingin terpanggang di sini. Aku berdiri tepat di tempat matahari jatuh di badannya. Pada dasarnya aku menghalangi matahari membakar badannya.


*Awalnya kukira pembantuku seorang bibi-bibi berumur 40 tahun yang harus bekerja demi uang kuliah anaknya. Hwa Li tidak memberitahuku kalau pembantuku berumur 10 tahun lebih muda dariku. Tingginya tidak lebih dari dadaku. Rambutnya hitam legam panjang tapi selalu diikat semua kebelakang. Lehernya panjang dan membuat tulang selangkanya terlihat indah.


Tapi dia terlalu kurus. Tangan dan kakinya rapuh. Aku kaget dia diterima sebagai pembantu dengan banyak pekerjaan yang berat. Sudah kuminta berapa kali dia makan denganku tapi dua kali dia menolak dengan berbagai alasan*.


*Dan beraninya perempuan ini melihat wajahku sangat lama. Aku sudah bangun saat dia mulai berjongkok di depanku tadi. Aku tidak bisa membuka mataku besar-besar karena dia melihatku dengan tatapannya yang membuat wajahnya terlihat lebih cantik.


Aku sering melihat tatapan seperti itu pada fansku, tapi tidak pernah kupedulikan. Li bilang dia bukan fansku, tapi kenapa dia melihatku seperti itu*.


Hari ini dia memakai baju terusan selutut berwarna kuning pudar. Membuat aura perempuan mudanya semakin terlihat. Aku ingin memeriksanya sendiri, apakah perempuan ini adalah salah satu fansku atau bukan.


Kalau dia fansku secepatnya dia harus keluar dari rumah ini. Kalau bukan akan kuputuskan nanti.


Mau sampai kapan dia tidur. Apa perlu kuberi selimut seperti tadi dia lakukan untukku. Atau kugendong dan kubawa ke kamar bawah*.


(Lee Jin Ae)


Matahari yang tadi hangat berganti menjadi awan hitam. Apakah hari ini akan hujan? . Aku mulai menggeliat bangun dari tidurku. Ternyata aku tertidur di sofa halaman belakang. Awan hitam yang ada di mimpiku ternyata berbentuk orang dengan tinggi 186 cm. Aku membeku tidak bisa bergerak, hanya berkedip sesekali.


"Datang terlambat, tidak mematuhi perintahku dan sekarang tidur saat bekerja. Apa perlu kulaporkan hal ini ke manajerku, Jin Ae?"


Berakhirlah hidupku. Gaji besar yang hanya kuterima 2 bulan pasti akan berakhir hari ini. "Jangan Pak. Saya berjanji akan bekerja lebih keras mulai hari ini" aku memohon dengan menyatukan tangan. Tapi kenapa orang ini tetap berdiri tegak di depanku. Aku jadi tidak bisa berdiri.


Dia mulai mendekat dan membungkukkan badannya ke arahku. Reflek aku semakin mundur ke belakang dan tenggelam dalam sofa. "Kudengar kamu butuh pekerjaan ini untuk membayar kuliahmu". "Benar Pak" aku merasakan ada yang salah dengan nada bicara Pak Chang. Seperti dia akan mengambil keuntungan dariku.


"Mulai sekarang lakukan semua keinginanku tanpa membantah" Apa??? aku langsung menutup dadaku dengan kedua tangan membentuk tanda silang.


"Bukan itu yang kuinginkan Jin Ae, kaupikir aku tertarik pada perempuan sepertimu?" aku menurunkan kedua tanganku. Memang mustahil kalau Pak Chang tertarik padaku. Dia bertemu dengan banyak perempuan yang 100 kali lebih cantik dan kaya daripada aku.


"Lalu, apa yang Pak Chang inginkan?" kulihat dia menegakkan badannya lagi. "Untuk sekarang, ayo makan". Orang aneh ini langsung berbalik dan berjalan ke arah dapur. Matahari mulai tenggelam. Aku berdiri dan bergegas ke dapur untuk memasak.


Menu malam ini daging steak yang kupanggang dengan bentuk kotak kecil agar lebih mudah dimakan dengan nasi. Kata Pak Park, Pak Chang lebih suka makan steak dengan cara ini. Dimakan dengan nasi, bukan kentang. Bau daging panggang menyebar di dalam rumah.


Pak Chang yang kupikir akan menunggu di ruang kerjanya sekarang ada di meja dapur, menunggu aku selesai. Kutambahkan sayuran dan cabe bubuk pada kaldu ayam siang tadi. Jadilah menu makan malam ini. Sup ayam sayur pedas, daging panggang dan buah potong.


Aku menyiapkan dua porsi saling berhadapan di meja makan. Pak Chang duduk dan menatapku. Aku duduk tepat di hadapannya. Kami mulai makan dalam hening sampai selesai.


Ketika membereskan piring dan mangkuk, terdengar suara pintu depan terbuka. Pak Chang hanya menoleh tidak peduli seakan dia tahu siapa yang datang ke rumahnya.


Pak Park masuk agak tergesa-gesa.


"Min Jung"


Untung kami sudah selesai makan. Aku pasti merasa tidak nyaman kalau Pak Park tahu aku makan bersama tuan rumahku.


"Jin Ae kamu masih disini?" aku menunduk memberi hormat pada Pak Park. Mereka membicarakan berita skandal yang kulihat di tv tadi siang. Pak Park merencanakan konferensi pers untuk membantah semua berita itu. Tapi orang pelit dan aneh itu tidak menanggapi. Sepertinya dia sudah malas berurusan dengan berita itu. Tapi mau tidak mau dia harus pergi karena itu keinginan perusahaan labelnya.


"Pak, saya pulang dulu" aku memotong pembicaraan santai mereka. Pak Chang melihat jam di ponselnya dan melihatku tanpa bicara satu kata.


"O iya...iya Jin Ae...silahkan" yang menanggapi adalah Pak Park. Aku tidak peduli, yang penting aku diperbolehkan pulang.