
Aku menatap wajahnya dan merasa sangat kesal. Seharusnya dia tidak memperlakukan aku seperti ini. Dia bisa merusak kerja sama antara toko kami dan pihak acara perusahaan. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi.
Tidak ada orang di tangga darurat. Aku akan bicara dengannya. "Sebenarnya apa yang Pak Chang inginkan?" aku bertanya dengan menahan marah
"Apa benar kau mengalami anoreksia tepat ketika aku menikah?" aku tidak perlu menutupi apapun lagi. Hubungan yang tidak punya nama ini sudah berakhir jauh sebelum dia menikah.
"Iya, sekitar bulan Desember tahun lalu. Saya sangat sibuk saat itu. Ada ujian dan pekerjaan paruh waktu yang menyita waktu. Setelah sakit saya berhenti bekerja dan membuka toko" aku menjelaskan .
Pak Chang mulai menjelaskan hal yang lain. "Aku menikah karena tuntutan perusahaan dan fans. Kami mengerjakan drama bersama dan akhirnya..." Aku mengangkat tangan untuk menghentikannya bicara. "Pak Chang tidak perlu menjelaskan apapun padaku. Kita tidak pernah punya hubungan apapun. Walaupun Pak Chang menikah sepuluh kalipun itu tidak ada hubungan dengan Saya"
Aku menambahkan "Pak Chang tidak perlu merasa bersalah pada Saya. Sakit yang saya alami sepenuhnya karena kecerobohan Saya sendiri". Aku melihat dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Aku berbalik ke pintu dan turun menggunakan lift ke parkiran mobil.
Akhirnya aku sampai di mobilku. Aku harus pergi ke toko dan membicarakan tentang pekerjaan yang kami dapatkan.
Aku sampai di toko tepat saat makan siang. Ha Young dan A Ri memesan nasi kotak untuk makan siang kami. Aku mulai menjelaskan pekerjaan untuk tanggal 20 nanti sambil makan siang.
Aku harus pergi ke pasar bunga besok lalu siangnya ada janji makan siang dengan klien yang memesan bunga untuk pernikahannya di daerah Itaewon. Karena toko sibuk, sepertinya hanya aku yang akan datang untuk pertemuan besok.
Triiing triiiing
Ponselku berbunyi. Ibuku yang menghubungi."Ada apa bu?" "Jin Ae. apa kau ada acara untuk malam nanti?"
Ibu mulai menjelaskan tentang acara perjodohan yang dibuatnya. Sepertinya ayah dan ibu bergerak cepat untuk membuatku menikah. Aku harus menghargai mereka. "Aku punya waktu Bu"
Ha Youn dan A Ri menertawakanku. "Apakah kau akan menikah secepat itu?" Ha Young memasang wajah sedih. Aku tahu dia hanya menggodaku. A Ri menambahkan "Kau tidak boleh pergi ke perjodohan dengan baju seperti itu."
Mereka keluar toko dan meninggalkan aku menjaga toko sendirian.Sekitar sepuluh menit mereka membawa dua kantung belanja yang besar. Di dalamnya ada gaun lengan panjang berwarna biru muda dan sepatu putih dengan hak setinggi 7 cm.
Baju itu sangat cantik di badanku. Warna biru muda membuat kulitku tampak lebih putih. Mereka berdua bersemangat membantuku berdandan.
Aku sudah siap dengan mantel yang ada di tanganku. Ha Young dan A Ri bangga dengan hasil pekerjaan mereka padaku. Ketika aku mengambil kunci mobil, Ha Young menyarankan agar aku tidak membawa mobil. Katanya itu adalah sinyal bagi laki-laki itu untuk mengantarku pulang ke rumah. Aku menurut saja karena mereka jauh lebih berpengalaman dari pada aku.
Aku naik taksi ke hotel dan berjalan dengan percaya diri ke restoran Jepang yang dimaksud ibu. Ketika berjalan, banyak mata yang melihatku. Baju dan sepatu ini benar-benar membuatku tampil lebih tinggi seperti model.
Ada beberapa orang yang melihatku dan memuji betapa cantiknya aku sekarang. Aku sangat malu mendengar pujian dari orang yang tidak kukenal. Begitu juga dengan pelayan di restoran yang kudatangi. Setelah menyebut nama Chang Ha Joon, dia mengantarkanku ke meja yang sudah dipesan. "Anda sangat cantik Nona" dia memujiku dan mempersilahkan aku duduk.
Aku mengirim pesan pada ibu kalau aku sudah sampai di restoran yang dimaksud. Ibu memberi emoticon senang dan love. Sepertinya orang tuaku senang sekali dengan perjodohan kali ini.
Tidak lama beberapa orang mulai melihat ke pintu masuk restoran dan mulai berbisik. Para pelayan wanita menjadi sangat bersemangat dan tersenyum manis. Siapa yang datang sehingga membuat perubahan seperti ini.
"Sudah lama menungguku?" aku terkejut mendengar suara itu. Pak Chang datang dengan memakai jas lengkap dengan mantel panjang dan sebuah buket bunga. Dia memberiku bunga dan menciptakan teriakan kecil para pelayan.
Pak Chang duduk tepat di depanku. Rambutnya rapi disisir ke belakang menampilkan wajahnya yang tampan. Aku yang masih terkejut mulai membuka pesan ibu untuk melihat nama orang yang akan dijodohkan denganku.
"Maaf tapi Saya disini untuk Chang Ha Joon" aku tidak suka dengan kehadirannya. " Itu nama mendiang ayahku. Ibuku yang menyuruhku datang ke perjodohan ini" . Aku tidak suka dengan kejutan seperti ini.
Aku menghubungi ibuku dan ayah. Semua tidak menjawab teleponku. "Mereka sudah bekerja sama. Orang tuamu juga sudah pulang ke Chuncheon saat ini. Aku yang membantu mereka berkemas sore tadi"
Badanku terasa lemas mendengarnya. Kenapa orang tuaku melakukan hal semacam ini. Kupikir mereka tidak akan menganggap ucapan Nyonya Chang secara serius tentang menjodohkan kami. Aku salah.
"Sebaiknya kita makan dulu" Pak Chang memanggil pelayan dan memesan beberapa makanan. Dia mengambil kopi dan menyuruh pelayan membawanya pergi. " Kopi tidak baik untuk perutmu" aku ingin protes tapi tatapan banyak orang mulai membuatku tertekan.
Pak Chang memesan soba untukku dan steak untuknya. "Lebih baik makan makanan berkuah" aku diam dan mulai makan. "Apa aku perlu menyuapimu agar kau makan lebih banyak?" aku melihatnya heran.
"Kalau Pak Chang sibuk sebaiknya pergi saja" aku akan sangat bahagia kalau kau meninggalkan aku disini. "Jangan panggil aku dengan nama itu. Kau tahu aku suka dipanggil seperti apa" aku pura-pura tidak mendengarnya.
Setelah menghabiskan hampir setengah mangkuk aku merasa kenyang. Pak Chang terus memperhatikan caraku makan, membuatku tidak nyaman. "Apakah kita bisa pulang sekarang?" aku harus segera pergi dari sini.
"Apakah kau ingin menonton film?" tawaran Pak Chang sangat menggoda karena sudah lama sekali aku tidak ke bioskop. Tapi lebih baik aku pergi ke bioskop sendiri daripada harus pergi dengannya. "Saya ingin pulang saja"
Pak Chang memberi sinyal pada pelayan untuk membayar. Setelah membayar Pak Chang bangun dari kursinya. Dia memberi perintah agar aku berdiri dengan tangannya. Aku berdiri sesuai keinginannya.
Ternyata dia memasang mantelnya padaku lalu mengikat talinya. "Saya bawa mantel sendiri" aku merasa tidak nyaman. "Terlalu tipis" ucapnya sambil melihat mataku. Dia mengambil mantel dan tas ku. Tak lupa buket bunga diberikannya padaku.
Ketika aku meminta tasku. Dia memegang pinggangku dan membawaku keluar dari restoran. Pandangan orang yang terus mengikuti membuat perutku terasa sakit. "Saya ingin memegang tas Saya sendiri" aku memintanya baik-baik.
Dia memberikannya padaku di depan Lift. Dia tetap memegang pinggangku sampai kami tiba dekat mobilnya. "Kau tidak membawa mobil hari ini?" "Iya" aku menyesal sekali tidak membawa mobilku hari ini.
Dia membuka pintu mobil dan menyuruhku masuk. Dia memperlakukanku dengan lembut. Membuat perasaan yang sudah terkubur itu muncul lagi.