
"Bangunlah, sudah pagi"
Aku mendengar suara kakakku memanggil. Aku juga merasa ada tangan kecil yang memukul-mukul pipiku. Aku terbangun dan tersenyum pada Ha Na. Rasanya malas sekali bangun tidur. Tapi perutku lapar.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya kakak khawatir. Aku menguap dan menggelengkan kepala. "Tidak apa-apa". Aku turun ke bawah dan melihat kakak ipar duduk di meja makan. Aku menyapanya dan mulai makan sarapanku.
"Apa benar kemarin artis Chang Min Jung datang ke sini?" Aku tersenyum. "Kakak ipar sungguh ketinggalan. Ayah saja bertemu dengannya." jawabku ceria. Kakak melihatku khawatir.
"Dia tidak setampan itu," Ayah mengejeknya. "Aku masih jauh lebih tampan daripada dia." Ibuku tertawa. Aku melihat pergelangan kakiku. Bengkaknya agak berkurang.
"Apa Jin Ae akan kembali ke Seoul?" kakak ipar membuka topik yang membuat ayah dan ibu terdiam. "Aku harus menyelesaikan apa yang sudah kumulai. Benar kan Yah?" aku berharap Ayah dan Ibu tidak menghalangiku lagi.
"Kembalilah ke Seoul tapi Ayah tidak mau kau menjadi pembantu lagi." Aku terdiam dan banyak berpikir. Aku harus menyembuhkan diri dulu sebelum mulai bekerja lagi. "Ayah akan membantu biaya kuliahmu, yang lain kau cari sendiri". Aku tidak percaya dengan yang kudengar. Ibuku tersenyum bahagia. "Terima kasih Ayah."
Seminggu sudah aku di rumah. Lukaku perlahan mulai sembuh. Aku tidak pernah mengetahui kabar Pak Chang. Dia pasti masih di Busan untuk syuting drama. Tapi aku tidak peduli lagi sekarang. Aku bukan pembantunya lagi.
"Kamu yakin kembali ke Seoul dengan perasaan seperti itu?" Suara kakak mengagetkanku. "Memangnya ada hal lain yang aku harapkan kak?" aku tersenyum menyembunyikan semua. "Kulihat sebenarnya Min Jung mengkhawatirkanmu, tapi dia adalah artis besar yang harus menjaga citranya." aku berhenti mengemas bajuku.
"Aku tidak menginginkan apapun darinya. Aku berpikir dia akan menjadikanku orang yang lebih spesial dari yang lain, tapi aku salah." itu adalah pelajaran yang harus aku terima dari srmua kejadian ini. Aku tidak boleh terbuai dengan perlakuan dan kata-kata yang manis.
Kakak memelukku dengan Ha Na yang terus tersenyum cantik padaku. Aku bahagia masih memiliki keluarga yang menyayangiku. "Bibi akan menyelesaikan kuliah dan menjadi wanita yang tangguh. Oke Ha Na?" Ha Na menjawab dengan tertawa menggemaskan.
Akhirnya aku kembali ke Seoul. Aku pulang ke rumah sewaku di Gwangjin-gu. Hanya seminggu aku meninggalkan rumah ini, tapi rasanya seperti aku tidak pulang satu bulan. Berantakan sekali.
Aku bersih-bersih kamar selama sehari penuh. Aku membuang beberapa hal yang tidak penting. Disaat membersihkan lemari, aku menemukan baju yang kupakai saat di rumah Pak Chang. Aku harus mengembalikannya.
Pagi ini aku harus ke dokter untuk memeriksa sisa luka yang ada. Kakiku sudah bisa digerakkan seperti semula. Tapi sebaiknya tetap kuperiksa agar tidak meninggalkan sisa luka yang buruk untukku kedepannya.
Menunggu di rumah sakit mengingatkanku pada Pak Chang yang duduk disampingku saat aku mendapatkan luka ini. Status Pak Park menunjukkan kalau syuting di Busan lancar. Sedangkan Pak Chang hanya memposting pemandangan di statusnya. Nomor mereka belum kuhapus. Mungkin nanti, kalau aku sudah siap.
Hasil pemeriksaan lanjutan menunjukkan bahwa lukaku sudah sembuh seluruhnya. Tidak ada memar yang menjadi lebih buruk. Luka di kakiku juga sudah membaik. Syukurlah. Aku bisa mencari kerja lagi.
Malam ini aku akan bertemu Ha Young di salah satu tempat teobboki yang ada di dekat Universitas. Mungkin aku bisa membeli baju dan jalan-jalan sebelum aku pulang. Sudah lama aku tidak pergi jalan-jalan dan membeli barang.
Aku membeli gaun berenda berwarna hijau muda, rok mini berwarna biru dan atasan lucu bercorak. Aku juga membeli jaket dan celana panjang berpotongan lebar. Puas dengan belanja, aku pulang ke rumah dengan beberapa kue ikan.
Setelah menggantung baju di lemari, aku menyalakan tv dan membuat teh panas. Makan kue ikan dan minum teh panas adalah kebahagiaan kecil untukku. Tv menayangkan berita selebritis. Ketika aku akan mengganti saluran tv, ada berita tentang Pak Chang. Dikabarkan Pak Chang cinta lokasi dengan lawan main di drama barunya. Mereka tertangkap media sedang keluar dari hotel yang sama pada dini hari di Busan.
Siluet Pak Chang yang ditampilkan di tv membuat hatiku sakit. Aku mematikan tv dan mulai makan kue ikanku sambil bermain game di ponsel.
Malam hari Ha Young mengajakku makan dan kami menghabiskan hampir 2 porsi teokbokki dan gorengan. Aku tidak minum alkohol karena kebiasaan burukku yang muncul ketika mabuk. Aku pernah menghancurkan warung kecil di Chuncheon karena mabuk di saat SMU. Ayah marah besar dan melarangku untuk minum setetes alkohol sampai sekarang.
Ha Young mengajakku pergi ke karaoke setelah makan. Kami bersenang senang dan pulang dalam keadaan lelah.
Aku pulang ke rumah sekitar pukul 10 malam, setelah mengantar Ha Young ke apartemennya karena mabuk. Ada mobil di depan rumahku. Mobil yang kukenal. Aku terdiam dan tidak berani mendekat. Apakah benar itu mobil Pak Chang? Tidak mungkin. Pak Chang ada di Busan dan berkencan dengan teman sesama artisnya.
Aku beranikan diriku untuk berjalan lagi ke rumah, melewati mobil itu. Aku tidak menoleh sedikitpun ke arah mobil dan langsung masuk ke dalam rumah. Tidak lama terdengar bunyi mobil yang pergi dari depan rumah sesaat setelah aku masuk rumah.
Tidak mungkin itu Pak Chang.
Besoknya aku melihat status Pak Park. Beliau suka memposting kegiatan Pak Chang di ponselnya. Pagi ini sepertinya Pak Chang syuting pagi-pagi sekali di Busan. Berarti mobil kemarin pasti bukan mobil Pak Chang.
Aku akan pergi ke rumah Pak Chang untuk mengembalikan baju dan kunci rumah. Sebelumnya aku sudah mengirim pesan pada Pak Park. Pak Park berkata untuk meninggalkannya pada pembantu baru yang mereka pekerjakan di Itaewon. Secepat itu mereka menggantikan aku.
Aku memakai rok mini yang baru kubeli kemarin dengan atasan berenda manis. Kali ini aku tidak pergi sebagai pembantu, tapi sebagai tamu. Jadi aku berdandan sedikit. Rambut ikalku terurai panjang, dengan make up tipis membuat aku kembali menjadi remaja lagi. Aku memakai hak 5 cm yang membuat kakiku terlihat panjang.
Aku keluar rumah pukul 10 pagi dan pergi naik kereta subway ke Itaewon. Beberapa laki-laki melirikku dan ada yang meminta nomor telponku. Ternyata kalau berdandan aku cantik juga. Aku tertawa dalam hati membanggakan diriku sendiri.
Pemandangan di jalan dekat rumah Pak Chang tetap sama seperti saat aku bekerja disini. Sepi sekali. Aku berhenti di depan rumah Pak Chang dan membunyikan bel. Tidak lama ada suara sesorang yang setengah berlari dan membukakan pintu.
Seorang bibi kira-kira berusia 50 tahun yang membukakan pintu. "Saya Jin Ae, kemarin Saya sudah menghubungi Pak Park untuk memberikan sesuatu" kataku dan menyodorkan tas berisi baju dan kunci. Awalnya bibi ini agak bingung, lalu dia menyuruhku masuk. "Saya hanya ingin menyerahkan ini, bukan masuk." aku menolak dengan halus.
Tapi bibi ini sepertinya tidak mengerti dan tetap mempersilahkan aku masuk. Ragu-ragu kulangkahkan kakiku masuk ke dalam rumah.