Missing You

Missing You
Boleh



Tiba-tiba guntur menggelegar sangat keras dan membuat Lintang refleks melompat dan memeluk pinggangnya Chandresh, lalu ia menyusupkan wajahnya di dada bidangnya Chandresh.


Chandesh refleks menggenggam tangannya Lintang dan mencoba menjadi kekasih yang baik meredakan ketakutannya Lintang dengan mengatakan, "Sayang, kamu takut sama petir, ya?"


Lintang terkejut mendengar kata sayang itu dan ia refleks menarik diri untuk melepaskan pelukannya di pinggang Chandresh, namun Chandresh langsung menahannya dengan pelukan erat dan berkata, "Jangan takut! Kakak akan selalu melindungimu"


Chandresh bisa merasakan tubuh Lintang gemetar dan Chandresh langsung mengalihkan perhatiannya Lintang dari gemuruh suara petir yang mengerikan dengan mengajak Lintang berbicara sembari menggenggam terus tangannya Lintang. Lintang bisa merasakan suasana yang hangat di saat dingin mulai merayap memeluk tubuhnya.


Hujan turun semakin deras dan Chandresh masih berusaha untuk menjadi pasangan yang baik bagi Lintang dan masih terus mencoba menjadi suami yang perhatian, pria ganteng itu pun bertanya,, "Baju kamu basah tidak?"


Lintang berkata lirih, "Nggak" Lintang berusaha melepaskan pelukannya lagi saat perut sudah tidak terdengar, namun terus Chandresh menahannya.


"Kamu nggak keberatan berteduh seperti ini dan kena cipratan air dari mobil yang melintas?" Tanya Chandresh.


"Nggak. Kenapa Kakak tanya kayak gitu?"


"Nggak papa" Sahut Chandresh.


Chandresh kembali teringat momen di mana ia pernah berteduh dengan Shinta. Shinta terus uring-uringan mulai dari masalah rambutnya yang akan rusak kalau kena air hujan dan soal cipratan air dari mobil yang melintas. Setiap kali ada.air yang terciprat ke kakinya, Shinta akan mengumpat dan marah-marah terus.


Chandresh menunduk untuk melihat pucuk kepalanya Lintang sambil mengulas senyum bangga. Dia bangga bisa menjadi suami dari seorang gadis remaja yang jauh lebih muda darinya, tapi gadis remaja yang sudah menjadi istrinya itu, ternyata memiliki sikap mandiri dan dewasa.


Semakin mengenal Lintang, aku semakin merasa bangga bisa ditakdirkan menjadi suaminya. Aku akan selalu menjaga Lintang dengan baik, aku akan menyatakan cintaku pada Lintang pas Lintang merayakan ulang tahun ke tujuh belas, dan aku akan selalu setia. Janji Chandresh ia ucapkan di dalam hatinya.


Lintang akhirnya berhasil melepaskan pelukannya saat Chandresh asyik melamun Lintang, lalu berkata, "Kak, sepertinya hujan semakin deras dan berhentinya bakalan lama. Ini juga udah mulai sore. Kalau kita kelamaan di sini, kasihan Bi Ijah dan Mbak Marni. Mereka pasti khawatir nungguin kita di rumah"


"Lalu? Kakak lupa bawa jas hujan dan nggak bawa jaket" Sahut Chandresh.


"Kita hujan-hujanan nggak papa. Lagian udah hampir dekat sama rumah, kan?"


"Kamu yakin? Kamu nanti masuk angin" Chandresh mengusap rambutnya Lintang dengan penuh rasa sayang.


"Hmm. Lintang sering kehujanan dan nggak pernah sakit, kok. Lintang ini kuat seperti Gathotkaca"


"Kamu itu cewek, kok seperti Gathotkaca" Chandresh tergelak geli lalu berucap, "Harusnya seperti Srikandi"


Lintang tergelak geli lalu ia menarik tangannya Chandresh untuk kembali naik sepeda motor dan menerjang hujan deras. Chandresh tidak berani melaju dengan kencang dan tangan kirinya terus menggenggam tangannya Lintang yang ada di perut rampingnya.


Lintang meletakkan dagunya di atas pundaknya Chandresh dan berteriak, "Nggak papa, Kak. Yang penting aman dan sampai di rumah dengan selamat"


Chandesh kembali tersenyum bahagia mendengar jawabannya Lintang. Dan kembali berkata di dalam hatinya, anak ini benar-benar pengertian dan dewasa ternyata. Sambil terus menggenggam tangannya Lintang dan sesekali mengelusnya dengan rasa sayang yang sangat besar.


Lintang tersenyum senang dan hatinya berdesir hangat saat ia merasakan punggung tangannya dielus Chandresh dengan lembut dan penuh rasa.


Akhirnya mereka sampai di rumah dan Chandresh langsung berlari masuk ke dalam rumah dengan membopong Lintang. Chandresh langsung menuju ke kamar dan terus meluncur ke kamar mandi. Dia menurunkan Lintang dengan pelan di atas lantai kamar mandi dan karena, rasa khawatirnya melihat Lintang basah kuyup, refleks dia membuka kancing seragamnya Lintang dan Lintang langsung menahan tangannya Chandresh dan berucap dengan gemetar, "A.....aku bisa melakukannya sendiri, Kak"


Chandresh langsung menarik tangannya dan berputar badan untuk keluar dari kamar mandi sembari berucap, "Kakak akan mandi di kamar mandi luar kalau gitu"


Chandresh melangkah ke kamar mandi luar sembari membawa baju ganti dan handuk dengan wajah memerah karena, malu dan saat ia sampai di depan kamar mandi dan hendak masuk ke dalam, ia langsung mendapatkan tanya dari Bi Ijah, "Lho, Pak, kehujanan, tuh, biasanya wajahnya memutih pucat, kok, ini malah merah? Bapak, demam?"


Chandresh mengabaikan pertanyannya Bi Ijah dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk menyembunyikan wajahnya yang semakin memerah karena, malu yang bertubi-tubi.


Saat Chandresh keluar dari dalam kamar mandi, Lintang sudah berada di dapur berdiri di depan kompor. Chandresh melihat Bi Ijah tengah memasukkan baju basahnya Lintang ke mesin cuci, dia segera berlari mendekati Bi Ijah untuk berkata, "Sekalian bajuku, bisa, Bi?"


"Bisa, Pak" Sahut Bi Ijah. Chandresh lalu meninggalkan Bi Ijah yang melanjutkan aktivitas menyetrika di kamar belakang.


Chandesh tertegun menatap Lintang dari belakang. Rambut Lintang basah dan dicepol asal ke atas membuat jakunnya Chandresh naik turun menahan panas yang tiba-tiba menyergap tubuhnya. Saat matanya kemudian turun dan melihat dress Lintang yang panjangnya di atas lutut, Chandresh sontak tersedak air liurnya sendiri.


Panas di dalam tubuhnya yang tiba-tiba hadir, membuatnya secara tidak sadar melangkah mendekati Lintang dan memeluk Lintang dari belakang. Pria ganteng yang masih berkumis itu, kemudian menyentuhkan hidung dan bibirnya pada leher putihnya Lintang yang wangi dan sedikit basah terkena air yang masih menetes dari rambut basahnya, layaknya seorang kekasih.


Lintang mematung karena, ia belum pernah merasakan seorang pria menyentuh dan menciumnya seperti yang dilakukan oleh Chandresh.


Chandresh mematikan kompor saat ia melihat Lintang mendongakkan kepala dan mendesis. Chandresh berucap dengan suara parau karena gairah, "Aku menginginkanmu, Lin. Kakak sangat menginginkanmu saat ini" Chandresh, lalu menggigit telinganya Lintang dan berbisik di sana, "Kakak menyukai wangi kamu dan menyukai kamu sebagai seorang perempuan. Bukan sebagai seorang adik kecil, lagi"


Lintang yang masih belum berpengalaman hanya bisa bertanya, "Apakah sudah boleh?"


Chandresh memberikan gigitan-gigitan kecil di lehernya Lintang sembari terus mengelus perut ratanya Lintang,, lalu berkata, "Entahlah. Tapi, Kakak sangat menginginkanmu saat ini dan kamu adalah Istri sahnya Kakak. Jadi, Kakak rasa boleh-boleh aja"


"Tapi, Lintang nggak tahu apa-apa soal begituan, Kak. Lintang........."


"Kakak akan ajarkan" Chandresh langsung membopong Lintang dan segera berlari ke kamar sebelum Bi Ijah memergoki mereka.