
Kerja sama bisnis furniture di antara Buana dan Rajendra selalu memberikan poin besar untuk Dave Buana. Sementara poin untuk Chandresh dari para investor, semakin menukik tajam ke angka terendah.
Dave Buana berbisik di telinga Chandresh setelah keluar dari ruang rapat para pemegang saham, "Kau akan tamat sebentar lagi dan Papa mertua kamu lama-lama akan kecewa sama kamu kalau kamu seperti ini terus"
Chandresh hanya menghela napas panjang mendengar bisikannya Dave Buana, karena apa yang dikatakan oleh Dave Buana, memang benar adanya.
Semua yang dikatakan oleh Dave Buana akhirnya terbukti benar. Chandresh Kusuma mulai menerima kritikan pedas dari papa mertuanya, karena ia tidak begitu pandai di dalam berbisnis, karena dia belum memiliki cukup pengalaman di dunia bisnis berskala besar. Dia hanya bisa berbisnis kecil-kecilan membuka toko kelontong kecil dan ternyata ia tidak memiliki kemampuan menjalankan bisnis besar milik papa mertuanya yang bergerak di bidang alat medis dan furniture.
Chandresh menelan sendiri semua kritik pedas yang dia dapatkan dari papa mertuanya. Chandresh menyembunyikan semua keluh kesah dan beban berat yang ada di pundaknya dari Lintang. Chandresh hanya berani membagikan keluh kesah dan beban beratnya ke Erick sahabatnya yang sekaligus juga asisten pribadinya.
"Lintang semakin bersinar di dunianya, prestasinya di sekolahan semakin cerah. Istri cantikku itu memang sangat cerdas dan luar biasa, baik sebagai siswa ataupun sebagai Istri. Aku beruntung bisa bertemu dan memilikinya di hidupku" Chandresh kemudian menghela napas panjang.
Erick menautkan alisnya ke Chandresh dan langsung menyemburkan tanya, "Kalau kamu bahagia memiliki Istri yang sempurna, kenapa kamu tampak murung saat ini dan menghela napas panjang barusan?"
Chandresh mengerucutkan bibirnya ke depan sejenak sebelum berkata, "Kau tahu sendiri, kan, aku selalu dapat kritikan pedas dari Papa mertuaku, karena aku nggak bisa menjalankan bisnis"
"Kamu baru bergabung di bisnis besar papa mertua kamu, jadi wajar kalau kamu belum begitu bisa menguasainya. Kritik pedas dari Papa mertua kamu, Big boss kita, anggap saja sebagai cambukan untuk membuatmu semakin bersemangat di dalam belajar soal bisnis papa mertua kamu. Kamu cerdas, pasti kamu akan sukses dalam waktu dekat ini"
Satu tahun kemudian...........
Brak! Pintu ruang kerjanya Chandresh terbuka lebar dan pria ganteng yang tengah membahas soal bisnis dengan Erick, langsung bangkit berdiri dan langsung menghampiri istri kecilnya yang cantik dengan wajah semringah. Dia langsung memeluk pinggang rampingnya Lintang dengan bertanya, "Kenapa terburu-buru masuk ke ruang kerjanya, Mas? Ada berita apa?" Chandresh lalu menempelkan keningnya ke keningnya Lintang.
Erick langsung melangkah keluar dari dalam ruang kerjanya Chandresh dengan bergumam, "Dasar pengantin baru, maunya nempel terus" Erick menutup pelan pintu kerjanya Chandresh dan berjalan masuk ke dalam ruang kerjanya.
Lintang berkata dengan senyum bahagia yang terlukis di wajah ayunya, "Aku diterima di jurusan kedokteran lewat jalur undangan, Mas"
Chandesh langsung menarik keningnya dari kening Lintang, lalu membopong tubuh rampingnya Lintang, dia kemudian berputar-putar dan sambil tertawa lebar, Chandresh berucap, "Selamat ya, Sayang. Mas, bangga banget sama kamu"
Lintang tertawa senang dan berkata, "Semua berkat bimbingan Mas. Terima kasih, Mas"
Chandresh langsung mencium bibirnya Lintang dengan penuh cinta sambil berjalan pelan menuju ke sofa. Chandresh kemudian merebahkan Lintang di atas sofa dengan pelan dan saat ia menarik bibirnya, Chandresh memencet tombol remote untuk mengunci pintu ruang kerjanya.
Chandresh kemudian menoleh ke Lintang dan tersenyum lebar penuh arti.
Lintang langsung berucap, "Mas mau apa?"
"Aku menginginkan kamu saat ini" Sahut Chandresh yang langsung menunduk dan menyusupkan wajahnya ke leher putih istri kecilnya.
Lintang mendorong pelan tubuhnya Chandresh dengan kata, "Kemarin malam, kan, sudah dapat jatah, Mas"
Lintang menatap suami gantengnya dengan merona malu. Entah kenapa, setiap kali menatap wajah suaminya dengan begitu dekat, setiap kali menatap wajah ganteng suaminya, Lintang masih saja selalu merona malu dengan diiringi debaran jantung yang sangat kencang
"Aku pun juga deg-deg an, nih." Chandresh spontan berucap seperti itu saat ia mendengar degup jantungnya Lintang. Chandresh, lalu meraih tangan kanannya Lintang untuk ia sentuhan di atas dadanya. Jantung Lintang semakin berdegup kencang wajahnya semakin memerah ketika ia merasakan detak jantung suaminya yang juga abnormal saat itu.
Chandresh tersenyum senang melihat rona merah di wajahnya Lintang, ia lalu berkata, "Imut sekali istriku kalo seperti ini" Chandresh terus menatap wajah istrinya dengan mata menggelap tersapu kabur gairah. Seakan tidak pernah bosan Chandresh terus menatap wajah istrinya yang ada manis-manisnya, ada cantik alaminya, dan ada imutnya itu. Bahkan rasa cinta di dalam hatinya Chandresh semakin hari semakin dalam.
"Kecantikan kamu, manisnya kamu, imutnya kamu, selalu membuat aku kehabisan napas, Sayangku" Chandresh berucap dengan suara serak, karena gairah.
Lintang tersipu malu dan langsung menggelungkan kedua lengannya di leher kokoh suaminya dan berkata, "Kalau begitu, cicipilah aku sepuas kamu, Mas"
Chandresh langsung menyeringai senang dan tanpa permisi, dia langsung memulai aksinya untuk menuju ke penyatuan cinta dengan istri kecilnya tanpa alat pengaman.
"Aku sangat mencintai kamu, sayang" kata Lintang sambil membelai mesra pipi suaminya setelah ia memekikkan kepuasannya ke udara.
"Aku juga sangat mencintaimu, Sayang. Kalau dikasih jatah lagi, aku nggak nolak kok, masih kuat nih. Lagian aku nggak nyangka, menyatu dengan kamu tanpa alat pengaman, tuh, rasanya lebih mantap" kata Chandresh sambil mengedipkan matanya, lalu memeluk Lintang.
"Kamu tuh, Mas, kalau udah dibolehin, maunya minta dua ronde. Kemarin malam udah, eh ini baru aja dapat jatah, kok mau minta lagi. Kok nggak ada capeknya sih, Mas?" ucap Lintang dengan polosnya.
"Hahaha, salah sendiri kamu semakin hari semakin nampak seksi dan cantik. Aku juga pengen cepetan lihat perut kamu buncit. Aku pengen segera punya anak, Sayang" Ucap Chandresh dengan santainya.
Lintang langsung menyusupkan wajah lelahnya yang justru tampak semakin cantik ke dada suaminya.
Chandresh lalu membopong lIntang untuk ia rebahkan di kasur yang ada di dalam ruang istirahat, ia lalu menyelimuti Lintang, mencium keningnya Lintang dan bergegas berlari ke sofa untuk memunguti semua baju dia dan bajunya Lintang, lalu bergegas berlari ke ruang istirahat. Chandresh memakai semua setelannya kembali sambil tersenyum penuh cinta saat ia melihat istri kecilnya telah lelap tertidur.
Chandresh kembali ke duduk di sofa untuk memencet remote. Dia kemudian bangkit berdiri untuk kembali ke meja kerjanya di saat pintu ruang kerjanya telah terbuka kembali untuk umum.
Dia kemudian mencet inter phone yang ada di atas mejanya untuk meminta Erick kembali ke ruang kerjanya. Dia ingin membahas lebih lanjut rencana promosi mereka ke hotel milik konglomerat Alex Rudiart yang ada di Singapura.
Erick masuk dengan celingukkan dan bertanya sambil duduk di depan meja kerjanya Chandresh, "Lintang mana?"
"Tidur di ruang istirahat" Sahut Chandresh.
"Berapa ronde kali ini?" Tanya Erick.
Chandesh mendelik kesal dan Erick langsung meringis dan berkata, "Oke, kita bahas kerjaan aja, hehehehe"