Missing You

Missing You
Bab 3




(inspirasi tampilan Lee Jin Ae)


Pagi di rumah Pak Chang hari ini sangat sibuk. Pak Park dan staffnya datang untuk mempersiapkan klarifikasi berita yang ada di media. Mereka pergi pukul 8 ke perusahaan label Pak Chang. Setelah mereka pergi aku melakukan pekerjaanku seperti biasa.


Tiba-tiba ada bibi-bibi yang masuk rumah dan pergi ke dapur. Sepertinya tadi aku mengunci pintu depan. Kulihat di dapur. "Anda siapa?"


Bibi itu melihatku. Umurnya sekitar 60 tahun. rambutnya keriting, mengingatkanku pada seseorang. "Harusnya aku yang bertanya, kamu siapa dan kenapa di rumah anakku?"


Anak????


"Anda ibu Pak Chang?"


aku terkejut melihat kemiripan mereka. Ketampanan dan kulit putihnya pasti didapat dari ibunya.


Nyonya Chang Hyun Jae. Tinggal di daerah Anyang. Suaminya yaitu ayah Pak Chang sudah meninggal sekitar 5 tahun yang lalu. Sekarang beliau tinggal sendiri ditemani teman masa kecilnya yang juga seorang janda.


Aku membungkuk dalam-dalam. "Maaf Nyonya, nama saya Lee Jin Ae. Pembantu baru Pak Chang". Nyonya Chang melihatku dari atas ke bawah dan ke atas lagi. Sangat mirip dengan orang aneh itu.


"Sepertinya kamu masih muda. Cepat sini bantu aku mengangkat ini" Aku tidak melihat kalau Nyonya Chang membawa tas besar dan dua kantung belanjaan. Aku membantu mengangkat semuanya ke atas meja dapur.


"Apa pekerjaanmu sudah selesai?" tanya beliau dengan suara lembut tapi tegas. "Sudah Nyonya" . Sekarang pukul 10 pagi. Nyonya Chang mengeluarkan banyak belanjaan dan mulai membuat aku sibuk memasak. Tapi kali ini aku hanya bertugas menyiapkan bahan.


Setelah 2 jam berbagai masakan pelengkap telah siap untuk disimpan di dalam kulkas. Nyonya Chang juga menyiapkan daging berbumbu dan berpesan padaku untuk memasaknya dengan api kecil selama 30 menit. Itu adalah makanan kesukaan Pak Chang.


"Aku dengar di Seoul ada banyak cafe yang menjual kopi. Bagaimana kalau kita makan siang di cafe?" sekali lagi aku tertegun. Nyonya Chang memakai jaketnya dan menungguku yang masih terdiam.


Ibuku tidak pernah pergi denganku ke cafe. Setiap kali kuajak, ibu selalu menolak karena tidak bisa meninggalkan Ayah di rumah sendirian. Dan sekarang aku makan siang di cafe bersama ibu majikanku.


Nyonya Chang bercerita tentang kegiatannya di Anyang. Ternyata Ayah Pak Chang pegawai negeri sipil. Rumah Anyang adalah rumah orang tua Pak Chang. Walaupun sudah beberapa kali dibujuk untuk tinggal bersama di Seoul, tapi beliau tidak mau. Alasannya tidak mau menganggu kehidupan anaknya yang merupakan artis terkenal.


Aku tersenyum mendengarnya. Aku juga belum pernah melihat kehidupan seperti apa yang dijalani Pak Chang. Karena aku cuma pembantu yang bertugas menjaga rumah.


Kami pulang membawa kopi di tangan. Aku benar-benar merindukan ibuku. Aku bertekad saat pulang kerja aku harus menelponnya. Sampai di rumah terdengar suara tv menyala. "Kau sudah pulang"


Pak Chang berdiri menghampiri ibunya dan memeluknya. "Sudah kubilang kalau pergi ke Seoul harus denganku atau dengan Bibi Li".


Pak Chang terlihat menggemaskan saat bicara dengan ibunya. Aku berusaha tidak memukul diriku sendiri ketika berpikir seperti itu.


Aku pergi ke dapur membiarkan reuni ibu dan anak ini. "Jin Ae, tolong bawakan apel." Aku membawa 3 buah apel di piring dan pisau buah. Kuletakkan di meja depan Nyonya Chang yang sudah duduk di sofa.


Beliau melihatku lalu melihat Pak Chang. Aku bertanya-tanya apa arti pandangannya. "Aku mengantuk setelah makan siang dengan Jin Ae. Biar Jin Ae saja yang mengupaskan apel untukmu."


Ohhh. Itu tandanya aku yang harus mengupas apel. Aku mengambil apel dan mulai mengupasnya. Nyonya Chang pergi ke kamar tidur bawah untuk istirahat dan meninggalkanku berdua dengan Pak Chang.


"Kamu lihat berita di tv kemarin siang?" aku melihat wajahnya dan menjawab "iya Pak". "Kau tidak cemburu?"


Pisau buah sangatlah kecil tapi tajam. Bila terkena tangan maka luka sekecil apapun akan terasa sangat perih. Karena terkejut dengan pertanyaan Pak Chang aku sedikit mengiris telunjukku. Tidak terasa perih walaupun darah langsung keluar dari jariku.


"Kenapa saya harus cemburu Pak?" aku balik bertanya pada Pak Chang. Pak Chang melihatku lalu melihat jariku. Dia memegang tanganku dan membawaku ke dapur untuk mencuci lukaku. Baru aku sadar kalau tanganku terluka. Perih sekali.


Tapi Pak Chang malah tertawa, sambil terus memegang tanganku di bawah kran air. Aku malu sekali. Bagaimana aku bisa terkejut mendengar pertanyaan seperti itu. Padahal aku tidak pernah menaruh hati pada dunia selebritas. Hanya pada laki-laki satu ini aku tidak bisa tidak tertarik. Dan aku hanya 3 kali bertemu dalam 3 hari. Aku pasti sudah gila.


Pak Chang melepas tanganku dan pergi mengambil plester. Aku berusaha menyembunyikan wajahku yang memerah. Setelah memberi plester, Pak Chang pergi ke ruang kerjanya dengan sesekali tersenyum.


Bagaimana kalau Pak Chang melapor ke Pak Park. Aku bukan fans nya saat aku melamar kerja. Aku hanya suka melihat wajah tampannya secara langsung. Apakah aku harus mencari pekerjaan baru lagi? Kenapa aku harus bereaksi berlebihan seperti ini. Aku menyusul Pak Chang ke ruang kerja.


"Pak Chang, ada yang ingin saya bicarakan"


"Masuk" Aku masuk ke ruang kerja dan melihat Pak Chang sedang menelpon seseorang. Habislah aku. Pasti itu Pak Park.


"O iya Li. Kamu tau kan syarat untuk orang yang menjadi pembantuku." Entah dari mana keberanian ini kudapat. Tapi aku merebut ponsel Pak Chang dan mematikan sambungan telponnya tanpa melihat siapa yang ditelponnya. Aku tidak boleh kehilangan pekerjaan ini. Pekerjaan ini satu-satunya pekerjaan dengan gaji yang sesuai keinginanku.


"Pak, saya minta maaf" kuletakkan ponselnya di meja. "Pak Chang, Anda salah paham terhadap Saya. Saya bukanlah fans Bapak. Dan saya juga tidak menyukai Bapak. Saya bersumpah". Dia melihatku dengan satu tangannya dimasukkan ke saku celananya.


Kenapa orang ini tidak bereaksi sama sekali "Benar Pak. Saya hanya.......saya baru kali ini melihat selebritas. Karena itu mungkin saya agak terlalu merasa senang."


Tiba-tiba Pak Chang menatap mataku. Dia mendekat dan terus mendekat. Aku berdiri tegak siap menerima kemarahannya. Tapi dia terus mendekat dan memelukku. Otakku terasa membeku.


Terdengar bisikannya di telingaku. "Kamu tahu kalau sekarang wajahmu merah sekali?"


aku mendorongnya. "Ini karena Saya tidak pernah pacaran Pak." Oh.....alasan apa lagi yang kubuat sekarang. Seharusnya aku lari saja keluar ruangan.


"Kamu tidak pernah pacaran Jin Ae?" dia meragukanku. "Benar Pak. Saya sibuk bekerja. Saya tidak pernah dekat dengan laki-laki" aku berbicara seperti aku bangga dengan pengalamanku. Bodoh sekali.


Tapi semua benar. Tidak pernah sekalipun aku berpikir ada laki-laki yang menyukaiku. Karena aku tidak pernah peduli dengan penampilanku. Aku jarang membeli baju baru untuk menghemat pengeluaranku.


Pak Chang tersenyum padaku. Wajah tampannya ditambah senyum yang lebar terlihat sangat tampan. "Kalau begitu, bagaimana kalau kau pacaran denganku Jin Ae?"


Aku berpikir kalau ini terlalu berlebihan. Aku suka melihat wajah tampannya. Tapi aku tidak menyukainya. Sekarang dia bertanya seperti itu, terasa seperti tidak nyata. Ini berlebihan.


"Saya tidak menyukai Bapak. Saya ingin kerja di sini sebagai pembantu Anda, tapi kalau Anda anggap saya mengganggu, maka semua tergantung keputusan Anda."


Aku keluar dari ruang kerja menuju halaman belakang. Baru kali ini aku dipermalukan seperti ini. Memang sebagian karena reaksi bodohku. Tapi seorang aktor yang terkenal dengan mudahnya mengajakku berpacaran. Dia pasti hanya ingin memastikan kalau aku fans nya lalu menendangku keluar.


Tidak boleh. Aku tidak akan tergoda dengan tingkah laku dan segala yang dikatakannya. Aku hanya pembantu tapi aku bukan wanita bodoh. Kalau dia melakukan hal yang kurang ajar, aku akan berteriak dan lapor polisi.