Missing You

Missing You
Berdesir



"Kakak tidak bercanda, kan?" tanya Lintang dengan sorot mata yang masih lesu dan suara yang masih lemas.


Chandresh tersenyum, mengecup keningnya Lintang dan berkata, "Tentu saja Kakak serius. Dua rius malah, hehehehehe"


"Se....sejak kapan Kakak mencintaiku?"


"Sejak kamu membelaku di depan Papa kandungku yang brengsek itu" Sahut Chandresh.


"Be......berarti, Kakak sudah mencintaiku saat Kakak menyatukan raga denganku?" Tanya Lintang.


Chandesh menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat dan senyum penuh cinta terulas di wajah gantengnya, lalu ia menyentil pelan pucuk hidungnya Lintang dan berucap, "Itulah kenapa, Kakak menjadi lupa diri dan terus melahap kamu tiada henti sampai Kakak tidak tahu kalau ternyata kamu kesakitan dan berdarah"


Lintang langsung memerah wajahnya karena, malu dan dia sontak menyusupkan wajahnya di dada bidangnya Chandresh.


Chandesh mengusap rambutnya Lintang dan terkekeh geli. Lalu, pemuda ganteng yang masih berumur dua puluh tiga tahun itu, berucap sambil terus mengelus rambut indah istri kecilnya, "Kakak akan selalu mencintaimu dan akan setia untuk terus menjaga kamu"


Lintang tersenyum bahagia di dalam pelukannya Chandresh. Lalu, kedua sejoli itu jatuh ke alam mimpi secara bersamaan sambil berpelukkan


Lintang hendak bangun untuk mengambil segelas air minum tetapi langsung mendesah dan kembali terduduk di atas ranjang ketika rasa nyeri di kepalanya menyergap ambang batas sakitnya. Gerakan Lintang itu mengusik mimpi indahnya Chandresh. Chandesh menjadi terbangun dan menatap Monica, "ada apa sayang? Kamu mau ke mana?" tanya Aksa sambil mengelus punggungnya Lintang dan bangun untuk duduk di sebelahnya Lintang.


Chandesh merangkul Lintang dan merebahkan kepalanya Lintang di dada bidangnya sambil bertanya, "Kepala kamu sakit, ya? Tapi, kenapa kamu malah bangun? Kamu mau ke mana?"


"Aku mau minum, Kak, tapi pas aku bangun, kepalaku terasa pening dan berdenyut-denyut" Lintang meringis lalu mendesis kesakitan.


Chandesh menangkup belakang kepalanya Lintang dengan telapak tangan kanannya lalu ia merebahkan Lintang kembali di atas bantal dengan penuh kelembutan. Kemudian, sambil tersenyum Chandresh bangun, bangkit, lalu berkata, "biar aku ambilkan. Mau yang dingin, hangat, atau yang biasa aja?"


"Dingin Kak" Lintang lalu melempar senyumnya yang masih tampak lesu ke Chandresh.


Chandresh melqngkqh ke luar kamar untuk mengambil minuman dingin. Beberapa menit kemudian dia sudah duduk di tepi ranjang, menyeruput air dingin itu, menahannya di mulut dan dia menyuapi Lintang dengan memakai mulutnya sampai air dingin yang ada di dalam gelas belimbing, tinggal separuh dan dia berhenti menyuapi Lintang dengan mulutnya saat Lintang berkata, "Cukup, Kak"


Keesokan harinya, Lintang sudah membaik dan saat Chandresh hendak menyuapi Lintang dengan mulutnya, Lintang langsung berkata, "Aku sudah bisa membuka mulut lebar-lebar, nih" Lintang langsung membuka mulutnya lebar-lebar di depan Chandresh dan Chandresh langsung mendekap pinggang rampingnya Lintang dan mencium pipinya Lintang berkali-kali dengan gemas.


Lintang langsung menarik diri saat ia mendengar Bi Ijah terkekeh geli. Lintang langsung menundukkan. wajahnya di depan Chandresh dan bergumam, "Lain kali jangan menciumku di depan orang, Kak. Malu"


Chandresh mencium pucuk kepalanya Lintang dan terkekeh geli, lalu ia berucap di sana, "Habisnya kamu tuh sangat menggemaskan. Bikin Kakak nggak tahan mulu"


Lintang langsung menepuk pelan dada bidang suami gantengnya dengan tersipu malu.


Andi Rajendra datang ke ruang makan dan langsung duduk di depannya Chandresh dan Lintang untuk bertanya, "Gimana keadaan kamu?"


Chandesh langsung melepaskan dekapannya dan langsung bangkit berdiri untuk mencium punggung tangan papa mertuanya.


Lintang mengikuti gerakan suaminya, lalu duduk kembali di kursinya untuk berkata, "Aku sudah baikan, Pa"


"Syukurlah. Kamu sudah bisa makan dan minum dengan baik?" Tanya dokter Rajendra masih dengan wajah khawatir.


"Syukurlah. Dan kau Chan, nanti bernwgkat ke kantor bareng Papa! Ada yang ingin Papa ajarkan ke kamu. Setelah itu kita akan menemui seorang klien besar" Sahut Dokter Rajendra


"Baik, Pa" Sahut Chandresh


"Apa aku boleh ikut?" Tanya Litnng


Dokter Andi Rajendra dan Chandresh langsung menatap Lintang dan berkata, "Tidak!" secara bersamaan.


Lintang langsung merengut dan berkata, "Aku sudah baikan. Aku pengen ikut kalian. Aku sudah lama tertidur. Aku ingin menghirup udara segar dan melihat pemandangan"


Chandesh lalu bersitatap dengan papa mertuanya.


Akhirnya Dokter Andi Rajendra berkata sambil menatap Lintang, "Oke. Kamu boleh ikut, tapi kalau badan kamu tiba-tiba merasa nggak enak, kamu harus langsung bilang ke suami kamu atau ke Papa"


Lintang langsung mengulas senyum lebar dan berkata, "Baik, Pa"


Dua jam berikutnya, Lintang duduk di sofa yang ada di tengah ruang kerjanya Chandresh sementara Chandresh dan papanya tengah rapat di ruang rapat. Lintang menit awal membunuh rasa bosannya dengan membaca buku, lalu ia menutup buku yang dia bawa dari rumah untuk menyetel televisi. Satu jam berlalu dan akhirnya Litnng ketiduran di sofa.


Chandesh kembali ke ruang kerjanya sendirian karena, papa mertuanya memilih berangkat duluan untuk menemui klien besar mereka. Chandresh kembali ke ruang kerjanya untuk menjemput Lintang dan mengambil tas kerjanya.


Chandesh membuka pintu dan langsung tertegun saat ia melihat Litnng tertidur dengan rok yang sedikit tersingkap. Chandresh langsung mengunci pintu ruang kerjanya, lalu berlari ke Lintang untuk membetulkan roknya Lintang


Lintang menjadi terbangun dan dia bersitatap dengan Chandresh.


Tatapan imutnya Lintang membuat Chandresh tertegun selama beberapa detik dan pria ganteng itu, kemudian kesulitan menelan ludahnya sendiri


"Kak? Kenapa Kakak melihatku seperti itu?" Lintang semakin memperlihatkan wajah imutnya dan membuat Chandresh langsung membungkam bibir istri kecilnya dengan bibirnya.


Chandesh terus mengajak istri imutnya berciuman sembari menyusupkan tangannya menurunkan ritsleting dress yang ada di punggungnya Lintang. Dan fakta bahwa ia berciuman di ruang kerjanya Chandresh memberikan sensasi baru yang membuat hati Lintang berdesir dan debaran jantung berdentum dengan tidak biasa di dadanya Lintang.


Chandesh melepaskan ciumannya lalu ia menurunkan Kepalanya Lintang dengan perlahan di atas sofa. Dia kemudian menindih tubuh. Lalu, Chandresh mengusap bibir merah alami istri cantiknya itu dengan ibu jarinya. Bibir Lintang yang masih basah karena ulahnya kembali mengundang Aksa untuk mengecapnya lagi. Chandresh terus mencium lembut bibir ranum bagaikan buah Cherry dan terasa sangat manis bagaikan gulali itu dengan intens dan semakin lama semakin liar, panas, dan menuntut.


Lintang mendorong pelan tubuh kekar suaminya dan sambil terengah-engah ia berkata, "Kak, Papa dimana?"


Chandresh berucap sembari terus memainkan tangannya di titik kenyal, "Papa sudah berangkat lebih dahulu menemui klien"


"Ah! Kak, ba......bagaimana kalau Papa mencari Kakak?" Lintang langsung memejamkan matanya saat Chandresh semakin cepat menggerakkan tangannya di titik kenyal.


Chandresh ikutan memejamkan kedua matanya dan kemudian, ia menghirup oksigen sebanyak-banyaknya untuk mendapatkan kembali kesadarannya. Namun, kesadarannya belum juga kembali dan ia justru berucap, "Biar saja. Aku sepertinya tidak bisa menahan lagi gairahku atas kamu"


"Kak!" Lintang langsung memekik kaget saat tangan Chandesh menyusup cepat ke pangkal pahanya dan bermain asyik di sana......................