Missing You

Missing You
Godaan



Setelah mematikan sambungan Video Call dengan istri kecilnya, Chandresh menopang kepalanya dengan lengannya dan menatap langit-langit kamarnya. Entah kenapa, dia tidak bisa segera tidur setelah ia melakukan panggilan Video Call dengan Lintang, Istri yang sangat ia cintai.


Dan tanpa Chandresh minta, benaknya terus membayangkan Soraya Adhitya. Tidak bisa Chandresh pungkiri bahwa sebenarnya dia mengagumi kecantikan, keramahan, keseksian, dan kecerdasannya Soraya Adhitya. Saat dia dan Soraya berkerja sama di lapangan, beberapa kali Chandresh menemukan bahwa wanita itu bukan hanya seksi, matang, cantik, namun juga cerdas


Chandresh lalu menyalakan ponselnya untuk menatap foto dirinya dengan Lintang. Dia membuka-buka galeri foto di ponsel pintarnya dan tersenyum lebar melihat foto kebersamaannya dengan Lintang di dalam berbagai momen dan pose. Chandresh mencium layar ponselnya dan berkata, "Kau cantik, seksi, cerdas, dan kau adalah Istriku" Kemudian pria ganteng itu jatuh tertidur.


Keesokan harinya, Chandresh dikagetkan dengan kemunculan Soraya di depan pintu kamarnya. Soraya berkata, "Papa mengundang kamu dan Erick untuk berolahraga pagi. Papa menunggu di lapangan golf mini yang ada di sisi selatan resort ini"


Erick membuka pintu kamarnya dan dia langsung berkata dengan senyum semringah, "Wah, pagi yang cerah nih karena pagiku bisa.melhat seorang bidadari"


Soraya tersenyum ke Erick dan berkata, "Terima kasih"


Chandresh.menoleh ke Erick, "Kamu udah baikan? Perut kamu?" Chandresh memberikan kode.ke Erick agar Erick berkata kalau ia masih sakit dan butuh Chandresh untuk masuk ke kamarnya dan merawatnya.


Namun, Erick yang terus menatap kecantikan dan keseksiannya Soraya, mengabaikan kodenya Chandresh. Erick justru bertanya ke Soraya, "Ada apa sepagi ini datang mengunjungi pria-pria ganteng ini?"


Soraya tersenyum geli dan sambil menyelipkan. rambut indahnya di Halim telinga, Soraya berkata, "Papa mengundang kalian bermain golf. Berolahraga pagi sebentar, sebelum berkutat dengan pekerjaan kita"


Chandresh mengumpat kesal di dalam hatinya saat Erick berkata, "Oke! Ayo kita ke lapangan golf"


Chandresh menghela napas panjang dan dengan langkah terpaksa, dia mengekor langkahnya Soraya dan Erick.


Saat di lapangan golf adalah saat-saat penyiksaan bagi Chandresh. Seorang wanita cantik, kaya, cerdas,menarik, energik dan seksi, terus menggodanya.


Soraya di dalam balutan baju olahraga golf yang seksi, membuat banyak pasang mata pria teralihkan dari dunia mereka dan mini dress model bodycon dengan warna cerah yang menjadi pilihan Soraya pagi itu, terus terang membuat naluri laki-lakinya Chandresh mengerang frustasi.


Saat Soraya melambaikan tangan memanggil Chandresh, Chandresh melangkah ke Soraya dengan wajah penuh tanda tanya.


Soraya melebarkan kedua kakinya dan dia bertanya ke Chandresh, "Posisi yang baik untuk bisa memukul bola golf sesempurna kamu, gimana?"


Chandresh memejamkan kedua matanya untuk mengusir otak kotornya saat ia melihat pantat seksinya Soraya yang terus bergoyang berada tepat di depan matanya. Chandresh kemudian berkata masih dengan memejamkan kedua kelopak matanya, "Agak rendah sedikit"


Soraya menoleh ke belakang dan Chandresh yang sudah membuka kedua matanya langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain saat ia melihat gunung kembarnya Soraya yang sedikit terlihat dari outfit golnya Soraya yang memang sangat seksi. Soraya bertanya, "Lebih rendah sedikit apanya?"


Chandresh mendekat dengan debaran jantung yang mulai abnormal dan setelah berkata, "Maaf" Dia memegang kedua pinggang seksinya Soraya dan merendahkan sedikit pinggang itu ke bawah. Lalu, dengan cepat, Chandresh menarik kedua tangannya dari pinggang Soraya.


Soraya menoleh ke belakang dan berkata, "Terima kasih" Dan di saat Soraya mengangkat telapak tangannya untuk mengusap keringat di keningnya Chandresh, Chandresh langsung melompat mundur ke belakang dan segera berbalik badan meninggalkan Soraya.


Soraya tersenyum tipis melihat sikap polosnya Chandresh, lalu ia bergumam, "Sebentar lagi, aku akan bisa memilikimu"


Chandresh pamit ke Erick dan Rama untuk kembali ke kamarnya. Dan sesampainya di kamar, dia langsung menelepon Lintang, namun karena Lintang masih belum selesai praktikumnya, Lintang tidak mengangkat panggilan ponsel dari suami gantengnya. Ponsel harus dimatikan saat praktikum.


Chandresh menghela napas panjang saat ia mendapatkan suara dari operator kalau nomer ponsel yang ia hubungi, tidak aktif. Chandresh menaruh ponselnya di atas nakas kemudian dengan menempelkan kedua telapak tangan di tembok kamar mandi dan dengan kepala menunduk, dia mengguyur kepalanya di bawah shower yang mengucurkan air dingin. Chandresh mengguyur kepalanya dengan air dingin karena, otaknya sudah mulai kacau memikirkan sesuatu yang sama sekali tidak boleh ia pikirkan.


Chandresh keluar dari dalam kamarnya dengan mengenakan kemeja yang terbuka di kancing paling tasnya karena, cuaca cukup panas di hari itu dan kemeja birunya yang melekat apik di tubuh atletisnya, dipadukan dengan celana kain berwarna cokelat tua dari bahan yang adem.


Chandresh berulangkali mencoba menghindari Soraya, namun tetap saja tidak bisa. Pekerjaan, mengharuskannya untuk terus berkomunikasi dan berdekatan dengan Soraya.


"Berapa umur kamu?" Tanya Soraya.


"Aku?" Chandresh tersentak kaget dan spontan menggeser langkahnya untuk sedikit menjauh dari Soraya saat ia merasakan bahu Soraya menempel di bahunya.


Soraya tersenyum, "Yang ada di depanku siapa?"


Chandresh meringis canggung dan berucap, "Aku"


"Nah, jawab dong pertanyaanku tadi" Soraya mengulas senyum yang sangat cantik dan seksi.


Chandresh kesulitan menelan air liurnya sendiri saat ia menatap senyumannya Soraya dan sambil berbalik badan ia berucap, "Umurku, tiga puluh tahun"


"Aku lebih tua setahun dari kamu berarti. Umurku tiga puluh satu tahun" Sahut Soraya sambil berjalan ke depan untuk berdiri di sampingnya Chandresh.


Chandresh kembali menggeser kakinya saat bahu Soraya kembali menempel di bahunya.


Soraya tersenyum melihat tingkahnya Chandresh, lalu ia berucap, "Kenapa kau selalu canggung saat kita berdekatan? Bahkan hanya bersentuhan bahu saja, kamu seperti melakukan dosa yang sangat besar"


Chandresh langsung memutar badan untuk berhadapan dengan Soraya dan ia mundur selangkah untuk berdiri cukup jauh dari Soraya, kemudian ia berkata sembari menunjukkan cincin pernikahannya, "Aku sudah menikah. Apa aku sudah pernah bilang kalau aku sudah menikah dan aku sangat mencintai Istriku. Sangat"


Soraya terkekeh geli, lalu beruap, "Baru kali ini aku menemukan cowok selugu kamu. Oke. Aku belum menikah, aku tidak punya pacar dan tidak pernah berpacaran lebih dari tiga bulan. Kalau sudah tiga bulan, kau pasti bosan dan aku akan minta putus. Aku orangnya bebas, terbuka, dan........."


"Seksi" Tanpa ia sadari, Chandresh mengucapkan kata itu.


Soraya sontak tergelak geli, lalu ia berkata, "Aku seksi menurut kamu?"


Chandresh yang masih membeku otaknya karena pesona Soraya, menganggukkan kepalanya dengan cepat dan tanpa ia sadari lagi, dia berucap, "Juga sangat cantik, sangat cerdas, dan menarik"


Soraya melangkah mendekat di kala ia melihat Chandresh masih mematung dengan pandangan kosong. Lalu, ia meletakkan telapak tangannya di dada atletisnya Chandresh untuk berkata, "Lalu?"


Chandresh tersentak kaget dan langsung menepis tangannya Soraya dengan pelan dadi dadanya. Lalu dengan segera ia melangkah mundur ke belakang satu langkah sembari berucap, "Astaga! Maafkan aku! Aku ngomong apa tadi?"


Soraya kembali tergelak geli, lalu Soraya berdiri dengan pose seksi untuk berkata ,"Kau katakan kalau aku cantik, cerdas, menarik, dan seksi"


"Astaga! Maafkan aku!" Chandresh langsung menampar pelan mulutnya.


" Aku mengagumi kamu yang baik hati, ganteng, seksi juga, dan aku suka desain kamu. Dan kamu juga mengagumi diriku, lalu?" Soraya menatap Chandresh dengan tatapan sensual.


Chandresh merasakan panas dingin di tubuhnya dan dia segera berkata, "Tidak ada kata lalu. Kita hanya bisa berteman tidak lebih" Chandresh kemudian berbalik badan untuk berlari kecil meninggalkan Soraya.


Sebagai laki-laki normal yang sejujurnya lebih menyukai wanita yang berumur lebih tua darinya, pesona dan godaannya Soraya sungguh sebuah ujian yang sangat berat bagi seorang Chandresh Kusuma.