
Lintang mengikuti permainannya Chandesh karena ia paham akan kewajiban dari seorang istri yang harus selalu menurut sama suami dan harus selalu memberikan kehangatan dan kenyamanan kepada suami.
Chandresh berbisik pelan di telinganya Lintang, "Kakak kangen banget sama kamu" lalu suaminya Lintang yang ganteng dan bertubuh atletis itu, tersenyum penuh cinta dan tanpa menunggu lama, Chandresh menyusuri hidungnya Lintang dengan bibirnya, lalu mendaratkan manisnya ciumannya di kedua pipi Lintang.
Di sela-sela cumbuan manis suaminya, Lintang berbisik pelan, "Aku juga sangat merindukan kamu, Kak"
Chandesh tersenyum senang mendengar Lintang juga merindukannya.
Di saat bibir yang penuh dengan kehangatan cinta itu akhirnya mendarat di bibir Lintang, Chandresh langsung mencium bibir Lintang dengan penuh gairah, tidak selembut yang sebelum-sebelumnya. Lintang melenguh beberapa kali dan sontak memejamkan matanya dengan rapat.
Tok,tok,tok, pintu ruang kerjanya Chandresh, tiba-tiba diketuk oleh seseorang.
Chandresh dan Lintang tersentak kaget dan sontak mereka saling menarik wajah. Chandresh menghela napas panjang sembari terus menatap Lintang. Pria ganteng bertubuh atletis itu, mengangkat tangan untuk membelai pipinya Lintang dan berkata, "Maafkan kakak, ya, Lin! Hufft! Kakak khilaf lagi. Kakak lupa kalau kamu baru aja keluar dari rumah sakit dan kamu baru aja bangun dari tidur panjang kamu. Soalnya, Kakak tuh, kangen banget sama kamu, Lin" ucap Chandresh dengan langsung memeluk Lintang erat dan membelai rambut hitam indahnya Lintang.
Lintang berucap di dalam pelukannya Chandresh, "Lintang juga sangat merindukan, Kakak"
Chandresh tersenyum senang mendengar fakta bahwa Lintang juga merindukannya, ia langsung menciumi rambut indah istrinya dan terus membelai rambut indah dan wangi itu untuk meredakan gairahnya yang masih menggebu nggebu.
Tok,tok,tok, pintu ruang kerjanya Chandresh kembali diketuk.
Chandresh dengan berat hati melepaskan pelukannya untuk bangkit berdiri, lalu melangkah dengan malas untuk membuka pintu.
"Aish! Kenapa lama banget buka pintunya?!" Erick mendelik ke Chandresh, lalu asisten pribadinya Chandresh itu mendorong pintu dan melangkah masuk dengan santainya untuk menyapa Lintang, "Hai, pagi Lin"
"Pagi, Kak" Sahut Lintang dengan senyum manisnya.
Chandresh langsung menarik lengannya Erick saat ia melihat Erick hendak duduk di sampingnya Lintang.
Erick refleks menoleh ke Chandesh dengan menyemburkan tanya, "Apa? Kenapa?!"
Chandresh mendelik ke Erick dan langsung berkata, "Duduk di sana! Jangan duduk di dekat Istriku!"
Erick meringis dan langsung menarik lengannya dan berputar badan untuk duduk di sofa yang agak jauh dari Lintang.
Lintang mengulum bibir menahan geli melihat tingkah Erick dan Chandresh
Chandresh, lalu duduk di sebelahnya Lintang dan langsung merangkul bahunya Lintang. sambil melempar tanya ke Erick, "Ada apa kemari?"
"Cek ponsel kamu!" Sahut Erick.
Chandresh merogoh saku celananya tanpa melepaskan rangkulannya ke Lintang dan ia langsung menegakkan badannya, "Astaga! Papa meneleponku sebanyak tujuh kali. Sial! ponselku aku silent tadi pas rapat dan lupa aku aktifkan kembali"
Erick langsung mengerutkan alisnya dan bergumam di dalam hatinya, Apa Chandresh tengah asyik bermesraan dengan Lintang, ya, tadi?
Lintang menoleh ke suami gantengnya dan berkata, "Kalau gitu, buruan telpon Papa, Kak!"
Chandresh mencium keningnya Lintang, lalu ia menelpon papa mertuanya, "Maafkan Chandresh ponsel Chandresh ada di dalam tas kerja dan ini Chandresh sedang membantu Lintang......emm, membantu Lintang........"
Lintang menjulurkan lehernya ke ponselnya Chandresh dan berucap, "Lintang masih sedikit lemas dan pusing, Pa. Kak Chandresh tadi membantu Lintang meredakan pusingnya Lintang" Lintang lalu tersenyum kala ia bersitatap dengan Chandresh dan Chandresh langsung mencium pelipisnya Lintang sembari mengelus bahu kurusnya Lintang.
"Baik, Pa" Chandresh lalu mematikan sambungan telepon dari papa mertuanya.
Chandresh dan Lintang masih bersitatap. Suami gantengnya Lintang itu, segera merapikan rambut hitam indahnya Lintang dan Lintang merapikan dasinya Chandesh dengan tersu bersitatap dan saling mengulas senyum penuh cinta.
Lintang mengelus dada bidang suaminya dengan senyum malu-malu. Chandresh ikutan tersenyum saat Lintang berkata, "Udah rapi dan udah ganteng" Suami gantengnya Lintang itu, mencium keningnya Lintang dengan penuh cinta, lalu menarik Lintang dengan pelan untuk dia ajak bangkit berdiri dengan tanya, "Masih lemas dan pusing?" Lintang mengangguk pelan dan Chandresh langsung membopong tubuh ramping istri kecilnya itu untuk ia ajak melangkah keluar dari dalam ruang kerjanya.
Erick langsung berdeham, lalu bangkit berdiri dan bergegas mendahului melangkah keluar dan berucap, "Aku tunggu kalian di mobil"
Di dalam perjalanan ke parkiran mobil, Erick bergumam, "Dasar pengantin baru, maunya nempel dan bermesraan terus"
Chandresh terus membopong Lintang menuju ke parkiran mobil dan dia menghindari masuk lift Dia lebih memilih menuruni anak tangga supaya dia bisa lebih berlama-lama menggendong Lintang. Pria ganteng itu, kemudian berucap, "Jangan panggil Erick dengan sebutan, Kak"
Lintang mengulum bibir menahan senyum dan bertanya, "Kenapa emangnya? Apa saat ini Kakak sedang cemburu?"
Chandresh merengut dan mengangukkan kepalanya.
Lintang langsung terkekeh geli di dalam gendongannya Chandresh dan berucap, "Lalu, aku harus memanggil Kak Erick dengan apa? Kak Erick, kan, lebih tua dari Lintang"
"Masih aja kau panggil Erick dengan Kak Erick, Kak Erick. Kalau kamu panggil Erick kayak gitu, kamu harus ganti panggil aku dengan panggilan Mas!"
Lintang langsung menepuk pelan dada bidangnya Chandresh dengan senyum malu.
Chandresh tergelak geli lalu berkata, "Coba panggil, Mas"
Lintang tersenyum malu, lalu mencoba memanggil Chandesh, "Mas Chandesh.
Chandresh langsung mencium keningnya Lintang dan berucap, "Sekarang coba panggil Sayang!"
Lintang langsung membenamkan wajahnya ke dada bidangnya Chandresh dan berucap di sana, "Sayang"
Chandesh terkekeh geli dan berucap di atas pucuk kepalanya Lintang, "Aku juga akan memanggilmu Sayang mulai dari sekarang"
Lintang semakin membenamkan wajah cantik alaminya di dada bidang suaminya dengan senyum malu-malu dan hati yang membuncah bahagia.
Sesampainya di mobil, Erick langsung menyemburkan protes ke Chandresh saat Chandresh menurunkan Lintang untuk duduk di jok belakang mobil, "Kenapa lama sekali, sih?! Aku kepanasan nunggu kalian"
Chandresh mendelik ke Erick dan berucap, "Jangan ceriwis! Kita langsung jalan aja"
Erick menoleh ke belakang, "Kau duduk di jok belakang?"
"Lha iya lah. Aku harus menjaga Istriku" Sahut Chandresh dengan santainya dan Erick hanya bisa menghela napas panjang lalu mengatakan pandangannya ke depan untuk mulai melajukan mobil.
"Aku juga udah menikah dan aku nggak gitu-gitu amat sama Istriku" Gumam Erick lirih dengan nada sedikit kesal.
Lintang yang mendengar gumamannya Erick langsung tersipu malu.
"Aku dengar omongan kamu" Sahut Chandresh dan Erick langsung terdiam dan kembali menghela napas panjang.