
Saat Chandresh hendak menyusul Marni masuk ke dalam mobil sedan berwarna hitam pekat, mobil sedan berwarna kuning cerah masuki halaman rumah. Lintang keluar dari dalam mobil sedan kuning cerah itu sembari menenteng paper bag kecil.
Chandresh langsung menghampiri Lintang dengan sorot mata tajam dan saat ia berada tepat di depannya Lintang, Chandresh menyemburkan kepanikannya, "Kenapa kau selalu saja gegabah dan ngawur! Kamu belum punya SIM, kan? Kamu juga nggak pernah bawa mobil sendirian tanpa supir kamu. Lalu kenapa kamu nekat pergi bawa mobil sendirian? Lalu........"
Plak! Lintang langsung menempelkan paper bag mini yang dia bawa di bibirnya Chandresh dan dia tekan papaer bag itu agar tidak jatuh merosot, sambil berkata, "Aku beli obat demam. Aku panik saat menemukan Kakak demam dan kita nggak ada obat penurun demam di rumah. Aku hanya berpikir untuk menyelamatkan Kakak. Lalu kenapa aku malah diomelin" Lintang lalu menarik tangannya dari paper bag mini yang ia tempelkan ke bibirnya Chandresh dan paper bag mini itu dengan sukses merosot jatuh di atas rumput. Lintang menghujamkan sejenak tatapan tajamnya ke kedua bola matanya Chandresh, lalu ia masuk ke dalam rumah dengan langkah kesal.
Chandresh bergeming dan ia seketika itu merasa bersalah telah mengomeli Lintang. Marni mengambilkan paper bag mini berisi obat lalu menyerahkannya ke Chandresh. Chandresh menerima paper bag mini itu dan masih dengan wajah linglung, ia membawa paper bag mini itu ke dalam.
Chandresh langsung masuk ke dalam kamarnya, duduk di tepi ranjangnya untuk melihat isi papaer bag mini itu, "Dia bahkan membelikan vitamin C kualitas super ini? Dia itu pethakilan, tapi perhatian juga ternyata"
Setelah mandi dan berbenah, Chandresh keluar dari kamarnya dan melangkah ke meja makan dengan membawa botol kaca kecil yang berisi lima puluh butir tablet vitamin C. Chandresh duduk di depannya Lintang, meletakkan botol vitamin C di atas meja makan untuk berkata, "Terima kasih sudah bertindak gegabah dan ceroboh karena, aku. Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku dan terima kasih untuk obat penurun demam dan vitamin C ini. Lain kali kalau menemukan aku demam, nggak perlu panik. Kalau demam, aku cukup minum banyak air putih dingin, udah pasti hilang dengan sendirinya demamku"
Lintang mengambilkan nasi dan lauk untuk Chandresh tanpa mengatakan sepatah kata pun. Dia masih kesal karena diomeli di pagi hari, untuk hal yang menurut dia tidak salah.
Chandresh menghela napas panjang dan berkata, "Aku ngomel tadi karena aku panik kamu bawa mobil tanpa SIM dan tanpa supir kamu"
Lintang terus menikmati makanannya dan mengabaikan Chandresh.
Chandresh menatap aksi diamnya Lintang dengan helaan napas panjang dan bergumam di dalam hatinya, Apa dia kesal banget sama aku, sampai dia diamkan aku kayak gitu?
Lintang yang biasanya ceriwis juga diam di dalam mobil. Chandresh berkata, "Kita nanti seperti kemarin, ya, aku turun di ujung jalan dan kamu lanjut sampai gerbang sekolah. Nggak enak, kan, kalau ada yang lihat kita berangkat ke sekolah barengan"
Lintang masang headset di kepalanya dan memandang jendela mobil, memunggungi Chandresh.
Chandresh menatap punggung Lintang dengan helaan napas panjang dan berkata di dalam hatinya, Sepertinya aku harus memberikan sesuatu ke Lintang agar Lintang mau bicara lagi denganku.
Chandresh turun di ujung jalan dan Lintang membiarkannya.
Di pagi hari itu, SMA Bina Kasih digemparkan dengan kunjungan mendadak dari putra pemilik Yayasan Pendidikan Bina Kasih yang datang dari luar negeri. Dan putra pemilik Yayasan Pendidikan Bina Kasih itu, memilih untuk menjadi pengawas ujian di kelas MIPA X, kelasnya Lintang.
Chandresh menautkan alisnya dan bertanya ke rekan kerjanya, "Kenapa Pak Andi Javesh datang ke sini dan ingin menjadi pengawas ujian di kelas MIPA X?"
"Anda akan tahu nanti pas di kelas, Pak. Karena, saya juga tidak tahu apa alasan beliau bertindak begitu" sahut rekan kerjanya Chandresh.
Chandresh masuk ke dalam kelas MIPA X dan semakin menautkan alisnya saat ia melihat, Andi Javesh, duduk di bangku kosong yang ada di sebelahnya Lintang. Chandresh melihat Lintang mengabaikan keberadaannya Andi Javesh. Lintang asyik menekur ke kertas ujiannya.
Andi Javesh kemudian bangkit berdiri dan melangkah ke meja guru untuk menyalami Chandresh dan berkata lirih karena ujian sudah dimulai dan murid-murid sudah mulai mengerjakan soal ujian mereka, "Syukurlah Anda sudah semakin membaik, Pak Chandresh Kusuma" Andi Javesh berkata masih dengan nada suara yang sangat pelan.
"Kenapa Anda berkata seolah kita pernah bertemu sebelumnya?" Chandresh pun berkata dengan suara setengah berbisik dan menyiratkan banyak tanda tanya di wajah gantengnya.
"Saya yang menolong Anda saat kecelakaan dan saya yang membawa Anda ke rumah sakit" Sahut Andi Javesh dengan senyum ramahnya.
"Oh, maafkan saya, saya tidak tahu. Terima kasih banyak atas pertolongan Anda, Pak Andi Javesh" Chandresh menyalami Andi Javesh dengan senyum tulus.
Andi Javesh menyambut uluran tangannya Chandresh dan berkata, "Sama-sama"
"Lalu kenapa Anda, datang ke sini sepagi ini dan memilih untuk berada di kelas ini?" Tanya Chandresh dengan tautan alisnya.
"Bidadari?" Chandresh semakin menarik ke dalam kedua alis hitamnya.
"Lintang Rajendra. Alasan saya datang ke sini, karena saya ingin melihat wajah Lintang Rajendra lebih lama lagi" Andi Javesh melangkah ke tengah, mengambil kursi dan duduk di depan kelas untuk bisa menatap Lintang Rajendra lebih lama.
Chandresh merasa kesal melihat kelakuannya Andi Javesh. Namun, karena anak-anak didiknya masih butuh konsentrasi penuh untuk mengerjakan ujian, maka ia menahan rasa kesalnya itu dan berusaha sekuat tenaga menahan semburan protesnya.
Bel tanda ujian di jam pertama telah usai membuat Andi Javesh berdiri dan menghampiri Lintang, "Aku balik ke kantor dulu. Kalau nilai kamu bagus semuanya, aku akan kasih hadiah spesial ke kamu"
Lintang mendelik, "Siapa yang ingin hadiah dari kamu? Dasar aneh!"
Andi Javesh terkekeh geli lalu ia mengusap pucuk kepalanya Lintang sebelum ia melangkah pergi meninggalkan Lintang.
Chandresh melihat semuanya itu dan hatinya merasa kesal. Dia kesal melihat pria lain menyentuh pucuk kepala istri kecilnya. Chandresh lalu meletakkan kedua ketiaknya di alat penyangga dan berjalan mendekati Lintang, "Aku butuh bicara berdua dengan kamu"
"Aku mau makan. Laper" Sahut Lintang dan saat Lintang berputar badan hendak menjauh dari Chandresh, Chandresh langsung berkata, "Tolong"
Lintang mundur beberapa langkah, menoleh ke Chandresh saat ia menghentikan langkahnya di samping Chandresh, lalu berkata, "Kita mau bicara di mana?"
"Di ruang seni musik saja. Sepi di sana" sahut Chandresh.
Lintang menganggukkan kepalanya.
Beberapa menit kemudian, Lintang dan Chandresh duduk berhadapan di ruang seni musik dan Chandresh langsung bertanya, "Ada hubungan apa kamu dengan Pak Andi Javesh?"
"Oh, namanya Andi Javesh" Sahut Lintang dengan nada dan wajah santai sembari membuka kotak makan yang ia bawa.
"Kamu nggak tahu namanya?"
Lintang menganggukkan kepalanya dan mengarahkan satu sendok nasi putih dengan suwiran ayam goreng di atasnya ke Chandresh.
Chandresh membuka mulutnya dan Lintang langsung memasukkan sendok yang penuh dengan nasi dan suwiran ayam goreng ke dalam mulutnya Chandresh.
"Tapi, kenapa dia bisa tahu nama kamu, di mana kamu bersekolah, bahkan tahu di mana kelas kamu?" Chandresh bertanya sembari mengunyah nasi yang ada di dalam mulutnya.
Lintang mengangkat kedua bahunya sembari mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya.
"Kamu harus berhati-hati dengannya! Jangan terlalu dekat dengannya! Lagian kamu itu seorang Istri, nggak baik kalau dekat sama pria lain. Jangan ganjen!" Chandresh menatap Lintang dengan wajah kesal.
Lintang langsung bangkit berdiri dan mendelik, "Hei! Aku nggak ganjen, ya! Aku nggak kenal sama si Andi tadi. Aku nggak tahu kenapa dia bisa tahu semuanya tentang aku. Harusnya Kakak nanya Ke dia bukannya menginterogasi dan mengomeli aku" Lintang lalu melangkah keluar dari ruang seni dengan langkah lebar dan wajah kesal.
Pandangan Chandresh sontak mengikuti arah perginya Lintang dan ia berteriak, "Hei! Makan siang kamu belum kamu habiskan, Lin!"
Lintang mengabaikan Chandresh dan membanting pintu ruang seni cukup keras.
Chandresh meraup wajah gantengnya dan bergumam, "Sial! Dia tambah kesal sama aku kayaknya. Aku mesti ngapain, nih?"