
Lalu dengan cepat Lintang menarik mundur kepalanya karena, malu dan kepalanya langsung terbentur pinggiran meja kerjanya Chandresh. Chandresh secara refleks menarik tengkuknya Lintang dan bibir mereka kembali menempel.
Chandresh menarik tubuh Lintang dari bawah meja kerjanya, lalu merengkuh tubuh Lintang untuk ia peluk dan ia ajak bangkit berdiri sambil bertanya, "Kenapa kamu bersembunyi di bawah mejanya Kakak dan menempelkan bibir kamu di bibir Kakak?"
Lintang langsung mendorong tubuhnya Chandresh. Di saat Lintang berhasil lepas dari pelukan suaminya, ia mengambil langkah seribu keluar dari dalam kamarnya Chandresh. Chandresh mengikuti arah perginya Lintang dengan heran, lalu ia terkekeh geli dan bergumam, "Dasar bocah"
Di meja makan, Lintang terus menunduk malu. Dia menyesali keputusannya mengikuti sarannya Mira untuk memberikan ciuman kejutan pada Chandresh, karena justru dialah yang mendapatkan kejutan, wajahnya terus terasa panas dan jantungnya terus berdegup kencang tidak beraturan.
Papanya Lintang bertanya ke Lintang, "Apa kalian tidur di kamar terpisah selama ini?" Dokter Andi menatap Lintang yang masih menunduk.
Lintang menjawab pertanyaan dari papanya dengan anggukkan kepala.
Mamanya Chandresh melotot kaget ke Chandresh dan langsung mengomel, "Chan! Kamu itu ya, bukannya menjaga Istri kamu, tapi kamu malah membiarkan Istri kamu tidur sendirian di kamar yang lain"
"Kan, Lintang masih di bawah umur, Ma. Kalau tidur satu kamar, Chandresh takut kalau........."
"Papa minta mulai hari ini, kalian harus tidur di kamar yang sama. Papa sudah perintahkan Bibi memindahkan semua baju dan barang-barangnya Lintang ke kamar kamu"
"Mama setuju" Sahut Mamanya Chandresh.
Chandresh hanya bisa berkata, "Baik, Pa, Ma"
"Papa pulang, tapi Papa akan memantau kalian. Jadi, kalian tidak bisa lagi tidur di kamar yang berbeda" Sahut Papanya Lintang.
"Mama juga harus pulang karena besok, Mama ada pesanan katering" Sahut mamanya Chandresh.
Beberapa menit berikutnya, Chandresh dan Lintang duduk di tepi ranjang. Mereka saling pandang dalam diam.
"Terima kasih sudah menolong Kakak dari jerat kejam Papanya Kakak"
Lintang menatap Chandesh dan berkata, "Sama-sama"
"Kamu sudah nggak marah lagi sama Kakak, kan?"
"Aku nggak marah cuma kesal. Kakak dengan seenaknya menciumku dan bilang kalau Kakak hanya memanfaatkan aku" Sahut Lintang dengan mengerucutkan bibirnya.
Chandresh berkata, "Maaf" Kemudian bertanya, "Apa kamu penasaran akan sebuah ciuman? Apa kamu marah soal ciuman Kakak di kafe gelato kemarin, lalu kamu ingin membalas Kakak dengan memberikan ciuman ke Kakak tadi?"
Lintang menunduk dan menganggukkan kepalanya.
Lintang mengangkat wajahnya dan berkata, "Aku penasaran akan sebuah ciuman. Kata Mira, jika kita berikan ciuman kejutan, kita akan tahu rasa dari ciuman yang sebenarnya dan kita akan tahu perasaan orang yang kita cium"
Chandresh mengelus rambutnya Lintang dan berkata, "Kakak akan setia dengan pernikahan kita. Kakak ingin menikah sekali seumur hidup dan karena takdir Kakak adalah kamu, maka Kakak akan mulai belajar mengenal kamu lebih dekat sebagai seorang wanita bukan tidak akan menganggapmu sebagai adik mulai dari sekarang"
"Hai, namaku Lintang Rajendra. Aku gadis berumur enam belas tahun dan bulan depan, umurku genap tujuh belas tahun"
Chandresh terkekeh geli dan bertanya, "Aku sudah tahu"
"Kata Kakak, Kakak ingin mengenal aku lebih dekat sebagai seorang wanita, jadi aku perlu mengenalkan diriku lagi ke Kakak. Supaya kita bisa mulai dari nol, maka Kakak juga perlu memperkenalkan diri Kakak lagi" Lintang tersenyum ke Chandresh.
Chandresh tergelak geli lalu ia berucap, "Oke dan Hai! Namaku Chandresh Kusuma, umurku dua puluh tiga tahun dan aku seorang guru kimia di SMA Bina Kasih"
Chandesh dan Lintang kemudian tertawa secara bersamaan. Dan saat tawa mereka berhenti, mereka saling pandang dengan rasa yang tidak sama. Jantung mereka berdebar dengan tiba-tiba tanpa sebab yang jelas.
Lintang dengan nekat menempelkan bibirnya ke bibir Chandresh di saat hormon Serotoninmya bergejolak.
Chandresh berdeham, tersenyum tipis dan berkata, "Tidak. Bukan seperti itu. Seperti ini" Dengan mulus Chandresh meraih pinggangnya Lintang laku mengelus bibirnya Lintang dengan bibirnya.
Lintang merasakan rasa hangat menjalar di sekujur tubuhnya dan tubuhnya meremang. Kemudian, tubuh Lintang bergetar dengan sangat kentara. Lintang bisa merasakan Chandresh menikmati respons tidak berdayanya.
Chandesh tersenyum dan ia melepaskan ciumannya. Dia akan menikmati Lintang nanti di saat Lintang sudah genap berumur tujuh belas tahun. Pria ganteng berkulit kecokelatan itu benar-benar mengumpat kesal di dalam hati untuk dirinya sendiri saat ia hampir saja gagal mengendalikan hormon dopamin melesak keluar menguasai otaknya.
Chandresh lalu mencium keningnya Lintang yang masih memejamkan matanya dan bergumam di sana,"Sekarang tidurlah! Kakak harus memasukkan nilai semua siswa karena lusa, Kakak akan resign dari SMA Bina Kasih.
Lintang membuka kedua kelopak matanya dan bertanya, "Iya. Kakak akan resign agar Kamu tidak mengenalkan Kakak lagi sebagai saudara sepupu kamu"
Lintang tersenyum dengan rasa bersalah. Kemudian ia berucap, "Maaf, Kak. Aku terpaksa berkata seperti itu ke Andi karena, aku nggak ingin Kakak kena masalah kalau Andi tahu bahwa kita ini adalah suami istri"
Chandresh mengelus rambutnya Lintang dan sambil bangkit berdiri ia berucap, "Kakak tahu. Dan Kakak berterima kasih lagi padamu. Sekarang tidurlah!"
Lintang naik ke kasur, menarik selimut dan menatap punggungnya Chandresh dengan debaran jantung yang sama saat ia berciuman dengan Chandresh. Lintang tersenyum bahagia dan rasa bahagianya itu membuat Lintang dengan cepat jatuh ke alam mimpi
Chandresh menutup laptopnya saat penat mulai menjalar di semua sendi-sendinya. Saat Chandresh bangkit dan berputar badan, darahnya kelaki-lakiannya berdesir saat ia melihat pemandangan yang sangat indah sekaligus menakutkan. Kedua bola matanya Chandresh menangkap Lintang berbaring di atas tempat tidur, selimut tebal yang terbuat dari bulu angsa asli menutupi tubuh Lintang hanya sampai pinggang, sementara bagian pinggang ke bawah terpapar manis saat Lintang tidur terlentang dengan lengan terangkat ke atas.
Chandesh meraup kasar wajah gantengnya dan setelah berhasil menguasai gairahnya yang tiba-tiba muncul, ia merapikan selimutnya Lintang. Lalu Chandresh naik ke kasur, tidur miring untuk memandangi wajah Lintang dan ia bergumam, "Kenapa baru kali ini dadaku berdebar kencang seperti ini saat aku melihat wajah cantiknya Lintang saat tidur" Tatapan Chandresh menelusuri wajah cantiknya Lintang dan dia kembali bergumam, "Aku rasa, mulai besok, aku tidak perlu lagi menyembunyikan rasa kagumku ini. Aku akan menunjukkan Lintang kalau aku juga seorang laki-laki yang mengagumi kecantikan wajah, kebaikan hati dan keluguannya" Chandresh lalu memeluk pinggangya Lintang dan memejamkan mata dengan senyum bahagia dan rasa hangat yang nyaman.