Missing You

Missing You
Bab 24



"Apa sekarang perutmu sakit?" Tadi memang aku merasa sakit saat berada di restoran. Tapi sekarang baik-baik saja. "Tidak" aku menjawab dengan singkat.


Malam ini semua terasa kembali seperti dua tahun yang lalu. Kami berbicara dan makan bersama. Tapi sekarang keadaannya sudah berubah.


"Kenapa kita ke Itaewon Pak?" aku sangat mengenal kawasan ini. "Ibuku ingin menemuimu" Apakah aku akan melihat rumah itu lagi. Rumah yang menyimpan semua kenangan manis untukku.


Benar. Aku melihat rumah itu lagi tepat di depan mataku. Kali ini aku lewat pintu depan, tidak seperti dua tahun yang lalu. Canggung aku menunggu Pak Chang untuk membuka pintu rumah.


Tapi di dalam rumah tidak terlihat ada orang. Semua ruangan dalam keadaan gelap. Apa dia membohongiku? . Pak Chang membuka pintu dan menarikku untuk masuk rumah.


Semua perabotan di dalam rumah masih sama seperti dua tahun lalu. Tidak berubah. Pak Chang masih menarikku dan menyuruhku duduk di sofa depan tv. Aku melihat sekeliling dan teringat semua kenangan yang terjadi di rumah ini.


Tiba-tiba perutku menjadi sakit dan membuatku mual. Aku melepas mantel Pak Chang dengan cepat dan lari ke arah kamar mandi. Pak Chang melihatku dan menyusul ke kamar mandi. Aku memuntahkan seluruh makan malam hari ini.


Kenapa akhir-akhir ini mualku menjadi parah. Aku harus pergi ke dokter saat tidak sibuk. "Kau tidak apa-apa?" Pak Chang khawatir melihatku keluar kamar mandi dengan wajah pucat. "Tidak apa-apa" aku berjalan ke arah sofa dan duduk.


Pak Chang memberiku air hangat untuk diminum. "Kalau Nyonya Chang tidak ada di rumah, sebaiknya Saya pulang saja" aku meletakkan gelas di meja dan melihat Pak Chang yang menatapku.


"Aku berbohong soal ibuku. Dan aku tidak ingin kau pulang malam ini. Aku akan membuatkan bubur untukmu" Aku mencari mantelku dan pergi ke pintu depan.


"Sebaiknya jangan melawanku Jin Ae. Aku bisa melakukan apapun untuk menahanmu disini." Aku membeku di tempat. Dulu saat aku tidak sekurus sekarang, kekuatanku tidak sebanding dengan Pak Chang. Kalau aku melawan mungkin kali ini ada tulangku yang patah.


Aku meletakkan mantel dan tasku kembali di kursi ruang tamu. Pak Chang menarikku duduk di sofa dan menyalakan televisi untukku. Lalu dia kembali ke dapur dan memasak bubur.


Aku membuka ponselku dan menemukan beberapa pesan dari ibukku. "Apakah kau terkejut Jin Ae, maafkan ibu. Tapi kalian cocok sekali. Semoga beruntung" aku tidak percaya orang tuaku sendiri bisa membohongiku.


"Ayo makan bubur" Pak Chang duduk di sebelahku dengan semangkuk bubur. Tapi dia tidak memberikannya padaku. "Buka mulutmu" dia menyuapiku. Aku merasa tidak enak dengan perjuangannya memasak bubur. Aku membuka mulut dan memakan bubur sedikit demi sedikit.


Saat merasa kenyang aku memegang tangannya "Sudah kenyang" . Dia menurunkan sendok dan mangkuk buburnya di meja. Aku minum air hangatku untuk membersihkan sisa bubur di mulutku.


"Sebaiknya kau tidur. Setelah mual pasti badanmu terasa lemah" aku merasa bingung dengan keadaan ini. Apa yang harus kulakukan sekarang. "Apa Saya benar-benar tidak boleh pulang malam ini?" dia mengangguk."Tidak boleh"


Aku menghela nafas dan menonton televisi. Pak Chang berdiri dan pergi membersihkan mangkuk bubur yang kupakai. Dia juga mengisi kembali gelasku yang kosong. Sepertinya aku harus menginap di rumah ini.


Aku berdiri dan menunggunya selesai cuci piring. "Ada yang kaubutuhkan?" aku memberi kode dengan tangan yang kuletakkan di depan mulut. Sikat gigi. Saat ini aku membutuhkan sikat gigi.


Kamar ini sama dengan ruangan yang lain. Tidak berubah sama sekali. "Sudah kaucari di kamar mandi?" aku terdiam lama di depan pintu dan tidak menyadari Pak Chang yang menyusul ke atas.


Dia keluar kamar mandi dengan satu sikat gigi yang masih terbungkus rapat. Aku mengambil dari tangannya dan masuk kamar mandi. Setelah menyikat gigi, mulutku menjadi agak segar.


Keluar dari kamar mandi, Pak Chang sudah ada di kasurnya. Dia menepuk kasur disebelahnya untuk menyuruhku tidur. Aku beralasan mengambil minum, dia sudah menyiapkannya. Aku beralasan mengambil mantel dan dompet, dia juga sudah meletakkannya di meja dekat tempat tidur.


Dengan menghela nafas berat, aku masuk ke dalam selimut dan tidur dekat dengan tepi kasur. Dia mendekatiku dan menarikku dalam pelukannya. Parfum itu mulai tercium lagi. Kali ini tidak terlalu pekat.


Triiing triiiiing


Terdengar bunyi ponselku. Aku mendorong Pak Chang dan berdiri mengambil ponsel di meja. "Halo" terdengar suara A Ri dari sana "Bagaimana perjodohannya Jin Ae?" aku merasa ingin menangis. "Apakah dia tampan? tinggi? Kerjanya apa?" aku hanya terdiam membiarkan mereka berimajinasi.


"Aku akan menceritakan pada kalian besok. Sekarang aku harus tidur karena besok pagi aku akan pergi ke pasar Yangjae". Pasar Yangjae adalah pasar bunga besar di Seoul. Setiap hari buka pukul 7 pagi.


Aku memeriksa pesanan sekali lagi dengan A Ri dan Ha Young. Aku membuka catatan dan bekerja di dalam kamar Pak Chang. Dia hanya melihatku dari atas kasur. Setelah kurang lebih sepuluh menit panggilan telepon Ha Young selesai. Aku memasukkan catatan kembali ke tas.


Pak Chang menungguku di kasur dengan bermain ponsel. Aku kembali ke kasur dan tidur di sebelahnya. "Apa sekarang perutmu baik-baik saja?" aku mengangguk pelan. Dia meletakkan ponselnya dan mencoba memelukku. Tapi aku menolak dan semakin menjauh. Dia mengerti dan tidak memaksaku lagi.


"Kenapa kau tidak menghubungiku saat sakit?" aku mendongak untuk melihat wajahnya. Dia membicarakan tentang kejadian satu tahun yang lalu lagi. "Saya mengantuk sekali. Ingin tidur" tegasku tidak ingin membicarakannya lagi.


"Kau harus mendengarkan alasan aku menikah. Aku hanya membantu perusahaan untuk...." aku menutup mata pura-pura tidur. "Sepertinya alasan apapun tidak akan cukup membuatmu memaafkanku" aku membuka mata dan melihatnya.


Pak Chang mengulurkan tangannya untuk membelai kepalaku. Dia mendekat dan membisikkan sesuatu. "Maafkan aku" aku menatap matanya. Aku memilih untuk berbalim dan tidur.


Apakah aku akan mempercayai kata-katanya lagi kali ini. Atau semuanya sudah terlambat.


Saat aku mendengar berita pernikahannya, aku merasa duniaku hancur. Kesempatanku untuk bersamanya terasa tidak mungkin lagi. Untuk melupakannya aku menghabiskan waktu untuk belajar dan bekerja.


Waktu itu hampir tiga hari aku tidak makan . Kondisiku sangat buruk sampai aku tidak bisa bangun dari tempat tidur.


Ha Young dan A Ri yang mengetahui itu, memanggil ambulance sambil menangis. Apakah aku akan melupakan semua itu dan kembali dalam pelukannya?