
Aku tidak mengira akan kembali ke rumah ini lagi setelah tadi pagi kabur. "Apa yang akan kita makan?" Pak Chang terlihat memilih makanan pesan antar.
"Apa saja boleh" yang terpenting aku bisa segera pulang dan istirahat. Pagi ini aku bangun terlalu pagi untuk kabur dari Pak Chang.
"Duduklah dulu. Aku akan membuatkanmu teh hangat" aku dipaksa duduk di sofa. Merasa tidak melakukan apa-apa aku menghidupkan tv.
Film dan drama lalu berita tentang politik. Aku terus mengganti channelnya sampai terdengar berita yang menyebut nama Pak Chang.
Disebutkan di berita, Pak Chang mempunyai pacar baru setelah bercerai dengan Kim So Ra. Padahal mantan istrinya masih setia menunggu untuk rujuk. Berita itu juga menampilkan foto kami berdua di restoran.
Pak Chang tiba-tiba mendekat dan mematikan tv. Aku melihatnya membawa teh hangat. "Berita tentang kita sudah ada di media. Sebaiknya hari ini kau menginap disini" Dia meletakkan teh di tanganku dan duduk.
"Tapi kita bukan pasangan seperti yang diberitakan di televisi." aku heran pihak BoX Entertainment tidak melakukan upaya pencegahan pada berita ini.
"Kenapa kau masih seperti ini Jin Ae?" Pak Chang mendekatiku. "Aku sudah mengatakan bahwa aku tidak akan pernah meninggalkanmu dan akan selalu ada disisimu" Pak Chang menatap mataku dengan serius.
"Tapi itu tidak berarti bahwa kita pasangan" aku menyangkal keberadaannya. Pak Chang mulai terlihat kesal. Dia merebut tehku dan meletakkannya di meja.
Tanganku dipegangnya dan didekatkan di bibirnya. "Aku mencintaimu dulu dan sekarang" Dia mengecup punggung tanganku dengan lembut. Dadaku terasa berat dan sakit.
Aku melepaskan tangannya dan berdiri. "Tapi kita sangat berbeda. Itu yang Pak Chang katakan waktu itu. Dan Pak Chang sudah pernah menikah." aku menjauh darinya.
"Apa itu masalah untukmu?" aku bingung menjawab pertanyaannya. Aku masih berdebar saat berdekatan dengannya. Melihat wajahnya membuatku tenang dan nyaman.
Tapi mengingat semua sakit hati yang kudapatkan saat itu membuatku agak bingung. Ting tong. Terdengar dari pintu depan. Mungkin pengantar makanan.
Pak Chang terus melihat gerak gerikku dan membuatku tidak nyaman. "Min Jun buka pintunya. Kau mengganti nomor pinnya" terdengar suara Pak Park dari interkom.
Pak Chang berjalan ke pintu depan. Aku mulai bernafas lega. Aku tidak mau dalam posisi seperti tadi lagi. "Jin Ae, kau disini" Pak Park masuk ke rumah membawa satu kantong besar berisi kotak makanan.
"Aku bertemu pengantar makanan di depan. Aku bawa saja sekalian." Pak Park merasakan sesuatu yang aneh antara kami berdua.
Aku membungkuk padanya untuk memberi hormat. "Kau sudah lihat berita di tv?" tanyanya melihat kami berdua. "Sudah. Kupikir akan muncul besok" berarti Pak Chang tahu berita itu akan muncul.
"Apakah Pak Park dan BoX entertainment tidak dapat melakukan sesuatu untuk menghapusnya?" Aku bertanya pada Pak Park dan dibalas dengan tatapan bingung.
"Kukira kau dan Min Jun memang....." Pak Park melihat Pak Chang mencari jawaban. "Kau pulang saja dulu. Ada sesuatu yang harus kami selesaikan" Pak Park segera mengerti dan pamit pulang kembali
"Sebaiknya kau menginap di sini dulu Jin Ae. Para wartawan akan ada di depan pintu rumahmu besok" Sebelum pergi, Pak Park memperingatkanku.
Jadi inilah alasan kami tidak makan diluar dan aku dibawa ke rumah ini. Pak Chang mengunci pintu depan dan kembali kepadaku.
"Berhenti" aku tetap berjalan dan mencoba membuka pintu. Tapi badanku tertarik ke belakang dan Pak Chang memelukku. "Apa kau tidak menyukaiku?" Pelukannya terlalu erat membuatku sesak.
Dia mulai mencium leherku dan menggigit daun telingaku. Badanku terus bergerak ingin melepaskan diri.
Akhirnya dia melepaskan pelukannya. Aku mencoba menarik nafas panjang. "Apa kau tidak apa-apa?" dia mendekatiku lagi tapi aku bisa menolaknya.
"Aku tahu badanmu masih menginginkanku Jin Ae. Kau tidak bisa berbohong tentang itu" wajahku memerah entah karena malu atau marah. "Saya tidak suka dengan semua ini. Saya mau pulang"
Pak Chang sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi. Dia menggendongku dan melemparkanku ke sofa. Badanku ditindih dan dia mulai melepaskan mantelku.
Aku melawan tapi tidak berguna. Dia berhasil melepas mantel dan jas kerjaku. "Saya akan teriak dan...." belum selesai aku bicara dia sudah menciumku. Ciumannya tidak lembut seperti tadi siang. Sekarang lebih liar dan seperti menghisap jiwaku.
Melihatku yang mencari nafas setelah ciumannya membuatnya senang. Dia melepas bajunya dan menampilkan dada telanjangnya padaku. Tanganku dipaksanya menyentuh dadanya.
Aku berusaha menarik tanganku sendiri. Kulitnya lembut dengan bulu tipis di dadanya. Aku telah menyentuhnya dengan tanganku. Nafasku mulai memberat dan aku mulai tidak melawan.
Dia membawa tanganku ke perutnya dan melihat reaksiku. Saat aku ingin melawan, dia menempelkan badannya di badanku dan mulai menciumku.
Aku tidak bisa menolak ciumannya dan mulai membalasnya. Tangannya melepas kancing kemejaku satu persatu dan mulai menyentuh dadaku. Aku melenguh dan membuatnya semakin berani.
Dia meninggalkan beberapa bekas ciuman di leher dan dadaku lalu kembali menciumku. Terasa angin kencang dari arah pintu dapur yang berbatasan dengan halaman belakang. Ciumannya semakin dalam dan dia mulai menarik resleting celanaku.
"Min Jun apa yang kau lakukan disitu". Pak Chang menghentikan ciumannya dan menatapku terkejut. Dia berdiri tegak meninggalkan aku yang lebih terkejut. "Ibu, Bibi Li apa yang kalian lakukan disini?"
Aku membuka mulutku karena terkejut. Aku mulai membetulkan celana dan kemejaku. Untung saja sofa ini mempunyai sandaran punggung yang tinggi. Aku tidak akan terlihat dari arah dapur.
"Kenapa kau tidak pake baju dan badanmu merah?" Pak Chang tidak bisa berkata apa-apa dengan kondisi ini. "Aku dan Jin Ae disini....kami" Kenapa dia menyebut namaku.
Aku merapikan rambut sebelum berdiri. Aku membungkuk dan memberi hormat pada Nyonya Chang dan Bibi Li. Pada awalnya mereka terdiam karena terkejut tapi Bibi Li dengan cepat mengetahui situasinya.
"Oh Ya Tuhan..........Apa kalian tidak bisa mencari tempat yang lebih tertutup?" Aku malu sekali. Pak Chang mengambil kaus yang dilemparnya dan memakainya. Nyonya Chang yang baru saja menyadari apa yang terjadi menutup mulutnya dan memandang kami dengan berbeda.
"Apa yang kalian lakukan disini?" Pak Chang mencoba mengalihkan pembicaraan. Aku mencari jas dan mantelku yang dilempar Pak Chang tadi. Bibi Li membantuku dan melirikku manja.
"Ibu diberitahu Hwan Li kalau berita kalian akan keluar besok. Ibu takut Jin Ae akan ketakutan dan tidak makan. Karena itu ibu kesini dan membawa Soon Bok kemari untuk melawan para penggemar yang akan mencelakai Jin Ae nanti. Tapi sepertinya Ibu tidak perlu khawatir tentang itu"
"Kami baik-baik saja. Dan aku ada disini untuk melindunginya" Pak Chang mendekatiku dan menyerahkan jas yang terlempar sampai ke bawah meja makan.
"Kalau kami tahu, kami tidak akan datang dan mengganggu kalian" Bibi Li terus menggodaku. Aku melarikan diri ke arah kamar mandi untuk membetulkan bajuku yang berantakan.